Kamis, 24 April 2014

Peran Ayah dalam Dunia Parenting

Enjoy this post

Wiiih berat ya kayanya judulnya, padahal saya sendiri belum berkeluarga.  Belum berkeluarga bukan berarti saya gak punya keluarga, Alhamdulillah saya dititipkan di tengah keluarga yang harmonis dengan ayah dan ibu yang Insya Allah amanat dalam menjaga saya.

Berbicara mengenai parenting belakangan bulu kuduk saya dibuat merinding dengan pemberitaan seputar pelecehan seksual, gak hanya di media massa tapi kejadian serupa juga menghampiri salah satu murid taman kanak-kanak tidak jauh dari kediaman orang tua saya saat ini.  Saya mencoba menulis ini setelah sharing dan membaca berbagai literatur tentang parenting, kalo boleh jujur aslinya sih saya lagi bingung gimana nanti kalau saya jadi orang tua harus mendidik, menjaga, dan mengasuh anak saya.
Ini juga pelajaran buat saya sebelum mengakhiri masa lajang yang entah akan terjadi kapan dan dengan siapa.  Terkadang sebagai perempuan single kita sering lupa bahwa hakikat mencari pasangan juga bukan perkara teman hidup untuk menjadikan kita nyaman seumur hidup bersama dia, padahal perkara setelahnya itu jauh lebih penting, perkara iya atau tidak kita akan melahirkan nantinya kita juga butuh seorang pasangan yang bisa memaikan peran yang lebih dari sekedar pasangan idaman yakni ayah idaman untuk anak-anak kelak.

Suami idaman belum tentu bisa menjadi ayah idaman untuk anaknya, artinya adalah anak tidak bisa memilih dengan siapa dia akan dititipkan oleh pencipta-Nya, sekarang ini banyak suami idaman para wanita yang berhasil dimiliki, dengan kriteria mapan secara materi, enak diajak berkeluh kesah dan dengan sedikit bonus ketampanan, tapi mungkin setelah punya anak dia berubah menjadi sosok ayah yang hanya sibuk dengan membahagiakan anaknya hanya melalui materi dan lebih memilih membela diri dengan istilah "Tugas suami kan mencari nafkah, ya tugas istri dong yang mendidik anak."

Halooooo rasanya kalau ada seorang ayah yang ngomong begitu saya pengen banget teriak di hadapannya sambil bilang "Halooooo kan bikinnya sama-sama masa ngedidiknya gak mau sama-sama".  Anak itu butuh panutan, dan panutan utama adalah kedua orang tuannya.  Banyak yang bilang perempuan itu harus cerdas, karena dia madrasah utama bagi anaknya, tapi kadang kita lupa sebuah madrasah (sekolah) pasti punya kepala sekolah, siapa sosok kepala sekolahnya?  Ya pastinya ayahnya.

Kalau dalam rumah tangga sosok suami, dan ayah hanya berperan sebagai pelindung, tukang ngebenerin genteng yang bocor, dan pencari nafkah untuk anaknya itu artinya dia belum menjalani tugasnya sebagai kepala sekolah, hanya menjalani perannya sebagai penjaga sekolah. Seorang ayah sebagai kepala sekolah di dalam pendidikan anaknya adalah penentu visi bagi pendidikan anaknya kelak, kemudian menetapakan dan menjalankan misi bersama istrinya. Ibarat pesawat dia harus punya dua sayap untuk membawa penumpangnya selamat sampai tujuan (ke jenjang pernikahan anaknya kelak) dan kembali melakukan penerbangan yang baik dan bahkan semakin baik.

Sebagai contoh sederhana, ketika seorang anak tumbuh dan memasuki tahap Akil Baligh, bagi anak perempuan mungkin kita bisa dengan mudah mengetahui oh anak perempuan kita sudah akil baligh karena dia sudah mens dan setiap bulan kita juga bisa dengan mudah mengecek siklus menstruasinya, tapi apakah pernah bahkan saya kira hampir semua orang tua tidak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mengalami mimpi basah yang artinya itu adalah salah satu tanda bahwa dia sudah akil baligh dan sudah dewasa, sudah memiliki kewajiban penuh untuk beribadah (ini dalam perpsektif saya sebagai umat muslim), kalau kita gak pernah tahu kapan anak kita pertama kali mimpi basah, kita gak akan pernah sadar kalau anak lelaki kita sudah dewasa, dan kita gak bisa marah-marah begitu saja ketika dia tidak mau shalat subuh karna mungkin malamnya dia mimpi basah.  Saat kita tahu pertama kali anak kita mengalami pubertas, kita juga bisa meminimalisir kejadian yang gak diharapkan dari anak kita, semacem pacaran yang berlebihan yang justru mengarah kepada tindakan seks pra nikah (petting maupun making love).

Seks edukasi pada anak saya rasa sekarang butuh, yang mengkomunikasikan yang tentu orang tua, dimana ibu mencoba mengkomunikasinnya pada anak perempuannya, dan ayah pun demikian kepada anak lelakinya, memberitahu dengan bahasa yang sederhana namun dapat dimengerti tentang bagian mana dalam dirinya yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh orang asing dan lain sebagainnya.

Di agama saya, islam pun mengajarkan dalam kita Al-Quran bahwa seorang ayah lah yang berperan penting dalam pembentukan mental dan pola pikir anak, terbukti dengan tokoh Lukman di surat Lukman, yang saya ketahui dari asbabunnuzul surat ini (sebab-sebab turunya Al-Quran) Lukman memang bukan Nabi, tapi terpilihnya nama Lukman dalam Al-Quran karena kepatuhan, dan keshalihan beliau dalam mendidik anaknya, bahkan Nabi Ibrahim a.s. beliau adalah seorang ayah yang sangat sibuk, dan suka berpergian jauh tapi beliau masih bisa mendidik anaknya dengan kasih sayang dan perhatian sehingga anaknya berhasil menjadi seorang nabi pula.

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menemuimu hanya untuk urusan materi,
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah berbadan dua 
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah menodai anak gadis orang lain
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa anakmu jauh darimu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak dia berkeluh kesah dengan kelakuan anakmu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa dia lebih memahami anakmu dibandingkan kamu
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Mari belajar menjadi sosok ayah yang bukan hanya panggilan di dalam keluarga, tapi menjadi seorang ayah yang hangat, menjadi seorang ayah yang menjadi satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah bagi anak-anaknya, jadilah sosok teman hidup bagi istrimu kelak yang kiranya bisa diajak menjalankan satu visi yang sama membangun madrasah pertama bagi titipanmu kelak.

Lovelill2014

Minggu, 20 April 2014

Dangdut is the Music of My Country

Enjoy this post

"Dangdut is the Music of My Country".  Yaa, dari judulnya aja udah keliatan apa yang bakal saya bahas kali ini.  Dangdut, apsih yang ada di benak kalian kalau denger kata dangdut?  Norak? Alay? Kampungan?  Menurut saya, seenggak suka apa pun orang sama dangdut, pasti ada aja lagu dangdut yang dia apal, minimal tahu nadanya.

Saya setuju banget sama judul lagu project pop yang sekaligus menginspirasikan saya buat ngebahas ini di tulisan.  Bicara masalah dangdut, dari kecil saya udah dicekokin banget sama genre musik ini.  Ayah saya fanatik banget sama dangdut, apalagi sama Mansyur S. Dari kecil setiap jalan pasti nyetel lagu-lagunya, kadang di rumah juga gitu, terus punya tetangga juga hobi banget sama dangdut, percaya atau enggak kalo udah dengerin lagu dangdut beeeh tetangga saya nyetel dengan volume suara ala-ala orang mau hajatan.

Belakangan ini yang ngaku fans setia dangdut pasti banget salah satu program ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di salah satu stasiun TV swasta.  Saya hampir tiap malem nonton ini, ya awalnya sih karena udah males berebutan remote TV sama ibu, tapi pas diikutin acara ini bagus juga.  Saya salut sama pemilihan dewan juri dan pembawa acaranya yang berhasil ngedongkrak acara ini jadi lebih berkelas.  Saya juga setuju banget sama salah satu jurinya yakni si Ivan Gunawan yang selalu ngasih masukan ke peserta bahkan secara gak langsung ke penyanyi dangdut lainnya buat terlihat lebih classy dan mahal, gak kayak penyanyi dangdut yang joget gak karuan dengan pakain ala-ala perempuan nakal di pengkolan.

Setuju gak sih kalau saya bilang lagu jaman sekarang (dangdut maupun genre lainnya) kurang bagus di banding yang dulu?  Kalau sekarang lirik ya cuma lirik, ngasal yang penting enak didenger, dan gampang diinget, beda sama dulu yang liriknya lebih ke arah syair yang puitis dan punya makna yang jauh lebih dalam. Kalau gak percaya coba aja bandingin lagu patah hati jaman sekarang sama jaman dulu bagus mana.

Balik lagi yuk ke Dangdut is the Music of My Country.

Dangdut itu lagu universal, seperti yang tadi saya bilang seenggak suka apa pun orang sama genre lagu ini minimal ada satu lagu yang dia tahu.  Ya gimana gak mau tahu, dimana-mana pasti ada aja orang yang dengerin genre lagu ini.  Di pengkolan jalan, pasti ada aja tukang ojek yang nyetel lagu ini, di kondangan mau itu yang hajatan suku Jawa, Sunda, Batak bahkan Papua.

Nah salah satu lirik yang saya suka banget dari salah satu lagu dangdut ciptaan H.Rhoma Irama yang berjudul Roda Kehidupan "Lain orang lain cobaan, itulah keadialan Tuhan".

Lovelill2014

Jumat, 18 April 2014

Your 1st Salary Determine Your Rejeki

Enjoy this post

Sebenernya udah lama banget kepingin nulis ini disini, tapi apa daya baru kali ini saya punya cukup tenaga buat ngetik dan mikir apa yang mau saya kembangkan di postingan ini.

"Your 1st Salary Determine Your Rejeki"

Apasih maksudnya judul di atas?

Kalo diartiin kedalam bahasa Indonesia sih "Gaji Pertamamu Mencerminkan Rejekimmu".  Kalau kalian seseorang yang akan bekerja atau sudah bekerja dan akan mendapatkan gaji pertama mungkin postingan ini akan sangat berguna (haaahahaha pede).

Saya dapet kalimat itu dari ayah saya.  Sekarang pertanyaan saya adalah, saat kalian dapat gaji pertama dari hasil kalian bekerja, kemanakah uang itu mengalir?  Kalau jawabannya ke tangan kedua orang tua kalian, bersyukurlah karena Insya Allah rejeki kalian selanjutnya akan dipermudah.

Sedikit mengorek pengalaman pertama saya ketika mendapatkan gaji pertama hasil kerja sendiri (Tahun 2010, saya bekerja part time sebagai event freelancer) saat itu gaji saya hanya Rp 525.000,- untuk 3 hari kerja.  Gak seberapa sih, tapi puas banget rasanya, saat itu saya masih duduk di bangku semester 2.  Meskipun cuma seiprit dengan rasa takut saya memberikan uang itu untuk ibu, wiih pasti ibu saya bertanya-tanya dapet uang dari mana sebesar itu dalam waktu seminggu, padahal uang mingguan saya saat itu juga gak sebesar itu, akhirnya saya jelaskan asal usul uang tersebut yang Insya Allah HALAL.  Tiga tahun kemudian tepatnya saat saya sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan, saya kembali melakukan hal yang sama, dengan tulus dan ikhlas tanpa diminta oleh orang tua, saya pun kembali memberikan gaji pertama saya yang saya dapat setelah lulus kuliah.  Dari semester dua saya memang sudah bekerja paruh waktu, demi pengalaman tambahan sekaligus uang jajan tambahan untuk traveling (hahaha).

Sebulan kemudian saya berbincang dengan Empok (panggilan untuk asisten di rumah), saya merinding dan cuma bisa membiarkan mata saya membendung air mata saat si Empok bilang ibu pernah nangis saat cerita sama dia kalau barusan ibu dikasih uang dari gaji pertama saya.  Saya gak nyangka ibu bisa sebegitu senengnya padahal pas saya kasih eksperesinya datar dan cuma bilang "Buat Ibu?" (Ibu saya emang punya gengsi akut buat bersikap romantis ke saya).

Orang tua sampe kapan pun gak akan pernah minta dari anaknya barang sepeser sekalipun dalam keadaan kepepet.  Saya tahu banget perjuangan orang tua saya sampai saya bisa menjadi seorang sarjana itu besarnya gak akan sebanding dengan uang yang saya kasih ke mereka.  Saya inget saat ayah saya cerita tentang anugrah limpahan rejeki dari Allah sebagai jawaban atas kegigihan dan kepatuhannya terhadap orang tua.  Ayah saya dulu yatim, Ama (Kakek) saya meninggal saat ayah masih kecil.  Dulu hidupnya sengsara, singkat cerita beliau menghidupkan diri beliau sendiri, dan saat umur 7 tahun beliau sudah bekerja sebagai "Pengajar Ulung", dulu beliau ngajarin temen-temennya yang kesulitan buat ngerjain PR, karna beliau punya otak di atas rata-rata anak umur 7 tahun, beliaupun bekerja sebagai "Pengajar Ulung", seperak dua perak beliau simpan untuk dikasih ke Nenek, untuk beli beras yang akan mereka santap menjadi bubur bersama denga keenam saudaranya yang lain.  Beliau juga tidak pernah lupa menyisihkan seperak uang untuk disedekahkan atas nama almarhum ama.  Dari gaji pertamanya yang cuma seperak itu, Alhamdulillah Allah melapangkan rejekinya, kehidupan beliau semakin kesini semakin membaik, dan Alhamdulillah kebaikannya itu juga saya rasakan sampai hati ini hehehe.

"Kalau gaji pertama kita udah kita kasih dengan ikhlas ke orang tua kita, Insya Allah rejeki kita selanjutnya bakal lancar.  Your 1st Salary Determine Your Rejeki.  Orang tua emang gak minta, tapi mereka gak akan pernah ngeliat sebesar apa yang dikasih, mereka cuma mau liat hasil didikan mereka buat ngejadiin anaknya mandiri udah berhasil.  Kalau orang tuanya meninggal,kasih haknya lewat sedekah, karna 3 hal yang gak akan pernah keputus saat anak adam mati: Ilmu yang bermanfaat, amal ibadah dan doa anak shaleh."

Yaa kira-kira itu yang ayah saya sampaikan, kurang lebih yang bisa saya ingat seperti itu.  Saya bersyukur punya ayah yang bisa berperan menjadi apa pun yang baik untuk saya.  Bukan sekedar seorang ayah yang statusnya memang berkewajiban sebagai ayah, bekerja dan menafkahinya saja.  Ayah saya partner terhebat, beliau bisa jadi guru, ustadz, sahabat, pacar, bahkan musuh (hahaha musuh main ledek-ledekan).

Oh iya kira-kira dua minggu lalu juga saya ngobrol santai dengan teman saya semasa kuliah dulu, namanya Ijal (gue berharap rejeki lo di pesiar ya jal biar gue bisa traveling gratis), yang bilang kalau mau sukses dikerjaan juga kita harus punya link, link itu penting, kalo gak ada link kita gak akan sukses, apalagi linknya sama yang di atas, sama Allah.  Saya cuma bisa ketawa karena saya baru mudeng sepersekian menit, iya juga sih.  Jadi saya semacem nemuin formala hebat untuk mempersiapkan masa depan saya yang hebat pula, yaitu kalau mau sukses kita harus bersikap baik terhadap orang tua dan tetap membangun link yang kuat dengan Allah, karena gak akan ada artinya kalau gaji besar tapi yang kita bangun hanya urusan dunia.

Mungkin ada juga sih yang ngerasa bahwa ini kan hasil kerja gue, ya gue lah yang lebih berhak buat ngatur semua.  Sebagai fresh graduate saya tau banget rasanya "KAGET" megang uang banyak dari gaji sendiri, kalap mau beli ini itu apalagi dengan sistem online shop yang merebak dimana-mana, tapi kalau saya pribadi saya lebih seneng ngasih semua gaji saya ke ibu saya, karena uang kita bakal diputer sama beliau.  Ibu-ibu itu manager keungan paling handal, tapi saya mohon maaf kepada para pembaca yang mungkin ibunya sudah tidak ada, tapi tidak ada bukan berarti tidak ada yang bisa kita jadikan panutan kan?  Yuk kita coba-coba mengingat bagaimana selama masa hidupnya beliau menjadi pengaturn keuangan terbaik di keluarga, kita contoh yang baik dari beliau dan kita perbaiki yang buruknya.

Gak akan pernah ada rejeki yang sia-sia saat kita kasih untuk keluarga terutama orang tua.  Jangan pernah bangga kalau hari ini kita bisa hura-hura dengan uang orang tua, tapi banggalah ketika kita sudah bisa menjamin masa tuanya akan jauh lebih bahagia dari masa muda yang pernah mereka beri untuk kita.  Uang gak akan seberapa tapi doa dan sikap baik kita itu akan jauh lebih berharga, karena orang tua gak cuma butuh bahagia di dunia, tapi juga disana di akhirat.



Lovelill2014



Rabu, 16 April 2014

Humanity Problem

Enjoy this post

Sepagian path saya diwarnai postingan yang agak sedikit beda dari biasaya yang biasanya cuma isian dumelan semerautnya jalanan ibu kota.  Sebelumnya saya mohon maaf kepada, ehem Mbak Dinda yang hari ini mulai populer dengan hujatan di sosial media.  Baiklah perlu diketahui tulisan ini bukan untuk ikutan menghakimi Mbak Dinda dan membela ibu hamil, apalagi untuk ikutan mendongkrak "kepopuleritasan" Mbak Dinda (hahahah gak banget lah yah), ini cuma sekelumit pendapat pribada saya, si ANKER (Anak Kereta) yang kurang lebih 4 tahun menjadi pengguna sekaligus pengamat perkeretaapian di ibu kota (tsaaaah gayak).

Kurang lebih 4 tahun saya memilih Commuter Line (CL) yang dinaungi oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia) sebagai sarana transportasi untuk pulang pergi Rumah-Kampus (Bekasi-Depok), mulai dari kereta ketek (kereta ekonomi) yang harganya 2000 perak, sampai kereta Pakuan yang harganya 16.000, terus kereta ketek mulai ditiadakan, dan harga CL melambung bak harga cabai sampe akhirnya turun lagi kaya harga cabe-cabean, semuanya sudah saya alamin, ya istilahnya pait, getir, manis, naik CL udah saya telen lah.

Mbak Dinda mungkin bukan cuma 1 dari 1.000.000 pengguna CL yang "ngedumel" tentang gak enaknya naik CL apalagi sampai ada tragedi rebut-rebutan bangku.  Saya juga kadang jengkel sama orang yang asal nyerobot aja tempat duduk yang udah lama saya incar, paitnya ya gitu kalo yang ngincer justru orang-orang yang berstatus PRIORITAS (Anak kecil, Ibu hamil, Lansia, dan Orang Berkebutuhan Khusus) yang gak kebagian tempat duduk karna emang nasip udah gak kebagian, atau karna hak mereka di rebut sama orang yang "MAU BANGET" diprioritasin.  Kadang orang Indonesia juga susah dibilangin, banyak banget yang duduk di kursi prioritas padahal tandanya udah segede gajah hamil, malah saya pernah sengaja ngejambak mas-mas yang dengan pulesnya tidur disini.  Ya kalo udah ada tanda tolong banget sih pengertiannya mau kereta penuh atau kosong ya jangan dipake, sadar diri aja kalo kita bukan termasuk golongan prioritas.

Oke buat yang gak tau suasana di CL saat pergi dan pulang kantor, saya bakal bantu mendeskripsikannya.  Satu rangkaian CL terdiri dari 8 gerbong, 2 gerbong khusus wanita yang ada di setiap ujung rangkaian, dan sisanya gerbong campuran.  Kapasitasnya sekitar 120-170 orang dimana terdiri dari 16 untuk duduk di kursi prioritas dan 28-30 untuk duduk di kursi non prioritas sisanya ngatung.  Tapi itu normalnya, gak normalnya di mulai saat jam sibuk dimana buat goyangin panta* aja gak bisa, aroma ketek dari yang asem kecut, asem seger, bau kambing dan lain-lain juga bakal dengan sangat mudah terendus.  Sekedar informasi dulu jamannya tiket CL masih 8500 rupiah untuk Jakarta-Bekasi, kereta Bekasi gak separah kereta tujuan Bogor, tapi karna semakin murah akhirnya ya gak ada bedanya.

Oke balik lagi ke Mbak Dinda.

Mbak, saya, bahkan jutaan pengguna lainnya punya masalah yang sama, "Kelelahan dan Kestressan" yang berbeda hanyalah kadarnya.  Tapi perlu dipahami bahwa ibu hamil punya tingkat kelelahan dan kesetressan yang jauh lebih tinggi dari wanita normal pada umumnya.  Kadang saya juga heran sama ibu hamil yang masih maksain diri naik ke gerbong yang jangankan untuk perut datar atau buncit karna kekanyangan aja susah naik tapi masih maksa naik.   Ini sebenernya bagian dari dilema saya juga saat nanti saya menikah dan dipercaya untuk hamil (aamiin), disisi lain saya harus tetap bekerja, tapi disisi lain keselamatan saya dan calon bayi di rahim terancam.  Mau naik kendaraan roda dua atau roda empat milik pribadi atau angkutan umum juga gak ngejamin bakal bebas dari kelelahan dan kesetresan, pasalnya di kota urban seperti Jakarta dan Bekasi CL masih menjadi saran transportasi pilihan. (Pleassee jadiin saya orang kaya melebihi Syahrini biar ke Emol di Jakarta aja bisa naik Jet, oke labai).

Saya juga kadang sedih kalau lagi ada di gerbong khusus wanita.  Wanita semua loh isinya, kadang dengan egoisnya ada aja penumpang yang pura-pura tidur, pura-pura gak denger karna jedak jeduk musik di headsetnya.  Pernah ada bahkan sering kejadian seorang ibu yang lagi hamil muda saking dia takut mau minta haknya di kursi prioritas dengan keadaan hamil tapi perut belum melembung, sampai akhirnya ibu itu pingsan.  Atau kadang ada nenek-nenek yang emang sih keliatannya masih gagah tapi pas diperhatiin 10-15 menit beliau berdiri mukannya udah pucet.

Buat siapa pun yang menggunakan transportasi massal, mau itu kereta, bus, andong, dokar dll ini bukan prihal siapa yang lebih lelah, siapa yang kuat, dan siapa yang lebih dulu dateng tapi ini masalah solidaritas, kemanusiaan.  Anggep ajalah kita nabung kebaikan buat orang lain, nih contoh deh cowok anak muda kalau ada ibu-ibu yang tolong diangkat badannya, kasih duduk, ya bukan masalah gender juga tapi udah masalah kemanusiawian dan etika.  Kita bermain peran lah, coba bayangin kalau kita hamil rasanya gimana, kalau ibu atau nenek kita diacuhin saat mereka lagi di kereta.  Yuk belajar untu menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap kesusahan orang lain, dan saling menghargai hak orang lain.  Ibu hamil kalau keadaan gerbong udah gak memungkinkan untuk dinaikin (dengan indikasi pintu sudah gak bisa ditutup dengan mudah) yuk bersabar tunggu yang lebih memungkinkan, ada hak anak yang mesti kita jaga sekalipun dia belum lahir.  Yang bukan termasuk golangan penumpang prioritas, ada baiknya kita mengalah kalau yang termasuk golongan prioritas ini tidak mendapatkan haknya secara langsung, tapi kita bisa jadi perantara rizkinya sekalipun hanya sekecil memberi tempat duduk.

Sekali lagi tulisan ini hanya pendapat sederhana saya saja sesuai pengalaman kurang lebih 4 tahun menjadi anak kereta, mohon maaf kalau ada perbedaan perspesi antara saya dan para pembaca.

Lovelill2014






Jumat, 14 Maret 2014

Enjoy this post

Perempuan baik-baik gak akan ngegoda lelaki duluan
Perempuan baik-baik juga gak akan ngedekatin pasangan orang lain, kepikiran buat ngambil aja enggak
Dan perempuan baik-baik ngejaga pasangannya dari perempuan mana pun yang punya niat gak baik

Lelaki itu meski dia setia setengah mati sama pasangannya, bakal ada saat dimana dia jenuh, itu dia kenapa lelaki gak akan pernah bisa hidup hanya dengan satu orang wanita dalam hidupnya meski cuma untuk sesaat. Tugas kita cuma berdoa dan bersabar.

Ibu dalam nasihatnya.

Senin, 10 Maret 2014

When Your Life Just Can Be

Enjoy this post

Kalimat di atas emang belum sempurna, sesempurna memori yang ada jaman "Pra Sarjana" yang pernah ada.

Your Life Just Can be Replayed as Memory, but Can't be Repeated as ...

Mungkin itu yang mau saya lengkapi dari judul yang ada.  Belakangan saya suka kangen sama orang-orang di masa lalu saya.  Entah itu sahabat, temen, guru, mantan pacar, bahkan tukang cilok yang dulu saya beli juga saya kangenin.

Kadang suka ngerasa gak adil sama diri sendiri, bukannya sombong atau gimana ya, seiring banyaknya pertanyaan yang muncul dari orang-orang belakangan ini tentang bagaimana bisa saya menikmati hidup yang semestinya belum harus saya jalanin, ahhh ribet, simpelnya gini "Lo lulus kuliah di umur lo yang muda banget yang seharusnya lo masih di semester 6 seneng-seneng sama temen kuliah tapi lo malah udah ngacir duluan, udah disibukin sama kerjaan ini itulah emang lo enjoy?"  Dan jawaban terjujur saya adalah YA SAYA ENJOY bahkan kalo ada kata di atas kata enjoy, saya bakal lebih milih itu.  Toh saya bukan 1 dari manusia "abnormal"lainnya kan? 

Bukan perkara saya lulus terlalu cepet yang sekarang saya sesalin, tapi perkara cerita yang menurut saya masih terlalu minim.  Masa kuliah S-1 saya dulu abis gitu aja, buat ha ha hi hi yang kebanyakan gak ada juntrungannya.  Percaya atau gak, mahasiswa itu status paling "MAHA", dimana kebebasan,kepercayaan, dan kekuatan yang ada di diri kita bakal dinilai almost 100% perfect lah.  Suka ngerasa iri sama mahasiswa yang mereka punya kesempatan buat ikutan fellowship, atau sekedar summer course, dulu jaman kuliah saya cuma bisa jadi delegasi yang ngewakilin kampus di ajang Nasional, atau mentok-mentok delegasi Internasional rasa Nasional (blaaah bagaimana pulaitu !).

Jaman kuliah rutinitas saya ya gitu,semester 1-2 masih jadi Kupu-Kupu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang).  Bersyukur saya punya temen satu kost yang udah kayak keluarga sendiri, kita juga bukan tipe anak kost yang hobi ngelayab, 11:12 lah sama saya.  Di kostan paling ya masak, nonton TV yang meski udah era 2000-an tapi rasa 90-an, atau ngegosip sambil nyuci baju di belakang.  Menginjak semester 3 (udah jadi senior muda ceritanya), mulai ada kehidupan yang lebih "Berasa", saya dan teman seangkatan di MICE 2009 memang semacem mahasiswa yang lumayan beruntunglah karena kita diharusin nyemplung di dunia "Event Management" yang memang notabene jurusan kita langsung ke industri perevenan.  Ngerasain susahnya nyari duit, jam 12 malem masih di stasiun,nyicipin beli ini itu pake duit sendiri, mualnya makan menu hotel yang terlalu modern di lidah berhari-hari, ya begitulah intinya menikmati hiruk pikuk dunia kerja.

Ngerasa di CV masih kosong melompong dan ngerasa belum cukup banyak temen dan pengalaman, saya pun memilih langkah nasionalis untuk ikutan organisasi kampus, mulai dari UKM sampai BEM.  Serunya ngajar anak-anak sederhana di sekitar kampus, dicengin temen yang beda aliran (aliran anti organisasi), sampe diketawain kuntilanak karena kemaleman rapat.  Disini saya belajar buat mematangkan diri, meredam ego, memperkuat iman, dan terpenting "BERHENTI JADI ORANG MENGELUH".  Saya suka orang-orang di lingkungan organisasi, mereka begitu kekeluargaan, sederhana jauh dari hirukpikuk ha ha hi hi yang berlebih, istilah keilmuaannya "Hedonisme".

Semester 7 yang istilah mahasiswanya "Dedengkot Kampus" rasa-rasa kangen kaya gini udah mulai ada.  Dimana kita mahasiswa MICE 2009 yang sisa 57 ekoran lah karena banyak yang "Dadah Dadah" di tengah jalan. udah mulai sibuk dengan urusan Job Training (Kerja Praktek/KP) selama 6 bulan, 4 bulan masa kerja 2 bulan masa persiapan sidang.  Dan akhirnya semester 8 , semester dimana kita cuma kuliah 3 bulan kurang dan sisanya sibuk dengan TA (Tugas Akhir).  Di semester 8 ini sih yang paling saya sesalin, eh gak boleh nyesel deh entar kesannya malah gak bersyukur.  Semester ini saya udah gak ngekost, pulang pergi Bekasi-Depok, agak gak fokus sama TA karena udah kecapean duluan di jalan, di tambah les tambahan yang o'onnya baru saya ambil di detik-detik meninggalkan jaman Pra Sarjana, jadilah hasil sidang saya gak cakep-cakep banget.  Momen paling gak bisa saya lupain sepanjang semester 1-8 adalah, momen dimana saya selalu nginep di rumah atau kostan temen cuma buat nyelesain tugas, atau ngungsi karena takut sendirian di kostan ahhh itu indah banget lah pokonya.

Duhh kalo diterusin kepanjangan dan entar malah bikin mewek, intinya saya lagi kangen aja.  Kangen lah pokonya !


Lovelill2014

Minggu, 02 Maret 2014

Bagaimana Dunia Kerja Berbicara ?

Enjoy this post

24 Agustus 2009-12 Juli 2013
Menyelesaikan satu babak dalam sejarah hidup
Menjadi sarjana di usia 20 tahun
Dengan IPK pas-pasan
Mengakhiri dengan penyesalan
Tapi harus mengawali dengan PERUBAHAN

Teringat nasehat salah seorang senior di tahun 2009, di acara makrab untuk angkatan saya saat itu "IPK bukan segalanya, tapi segalanya butuh IPK".  Mencoba meresapi kalimat itu, tapi yang namanya saya mahasiswa dablek sehabis diresapi ya dibuang begitu saja, akhirnya sekarang menyesal pun tiada arti.

Tertarik banget buat nulis itu di sini.  Mengkombinasikan dengan fakta yang ada setelah berjuang menjadi seorang fresh graduate yang gak mau jadi sampah keluarga apalagi sampah masyarakat (re: PENGANGGURAN).  

"IPK bukan segalanya, tapi segalanya butuh IPK".

Kita mulai dari kalimat "Segalanya Butuh IPK".

 Ketika kita menjadi seorang fresh graduate yang nasipnya gak bagus-bagus banget (Lulus kuliah bisa ngelanjutin usaha orang tua, atau lulus kuliah nikah muda dengan pasangan kaya raya) alternatifnya ya cuma 2 Kerja atau Kuliah.  Kedua hal ini gak bisa dipisahin dari IPK.  Sempet nyesel karena IPK saya cuma IPK pas-pasan.  Cumlaude enggak, jelek juga enggak.  Tapi saya seneng sekaligus bangga, karena IPK yang saya dapet Alhamdulillah murni pertarungan selama empat tahun jadi mahasiswa idealis.  Saya yang tiap ujian mungkin disebelin temen seangkatan karena gak pernah mau ikutan nyontek, bikin kebetan, usaha sana-sani kalau otak udah buntu, atau seing dianggap pelit karena milih tidur ketika ujian dan keluar dengan kertas jawaban yang padahal gak ada isian (alias KOSONG).  Selepas SMA saya punya tekat untuk berhenti dari kebiasaan buruk saya, FYI jaman sekolah dulu saya termasuk jago buat urusan contek menyontek.  Bahkan saya pencetus ide untuk bikin kebetan di tisu, alih-alih make tisue itu buat ngelap keringet atau buang ingus, tapi sebenernya di balik putihnya tisu ada noda kumpulan rumus atau catatan penting buat dikebet saat ujian, itulah alasan saya mengapa menjadi mahasiswa yang idealis saat ujian.

Kembali kepersoalan IPK.  Sejak awal kuliah ayah selalu bilang "Kalau kamu gak bisa dapet IPK cumlaude atau nama kamu gak dipanggil pas wisuda sebagai lulusan terbaik, minimal IPK kamu bisa buat kamu dipanggil perusahaan buat bekerja."  Bekerja ataupun membuka usaha buat saya itu sama saja, intinya bekerja.  Cuma bedanya bekerja untuk siapa.  Salah satu kesempatan terbesar bagi saya adalah ketika bisa berbincang langsung dengan seorang petinggi di bagian HR (Human Resources) Chevron Indonesia.  Saat itu yang pertama kali beliau tanya adalah berapa IPK saya.  Dengan sedikit malu saya menyebutkan IPK, dan kontan Bapak itu menjawab "Kamu kan perempuan seharusnya bisa dapet IPK yang lebih tinggi dari itu."  

Hampir setengah jam kami mengobrol tentang budaya kerja disana.  Siapa sih yang gak mau kerja di Chevron???  Usut punya usut inti dari pembicaraan kami saat itu adalah, perusahaan ini sangat mengedepankan IPK.  Pertama kali yang dibaca oleh sistem penerimaan online perusahaan ini adalah IPK.  IPK yang kecil akan secara otomatis tergeser dengan IPK yang besar, sampai terlihat kandidat mana yang setelah lolos seleksi IPK juga memenuhi standar kerja yang ada.  Jadi saya sudah pasrah kalau lamaran saya ditolak di sini.

Sebulan yang lalu tepatnya setelah penantian panjang menunggu jawaban dari oil and gass company asal Prancis yang namanya sudah termasyhur saya berkesempatan mengikuti tes meski akhirnya harus FAILED alias GAGAL.  Saya ingat betul ketika sang pewawancara menanyai kekurangan dan kelebihan yang saya miliki, belum selesai menjawab beliau kembali bertanya "it's why You can't get a higher GPA, isn't it?"  emm saya cuma bisa beralibi blah blah and blah.

Dari dua pengalaman ini, saya selalu bilang ke pasangan saya yang saat ini masih menjadi seorang mahasiswa dan punya keinginan besar untuk nyemplung ke dunia offshore, oil and gass "Gak usah buru-buru lulus kalo IPK kamu belum bisa ngejamin kamu diterima di perusahaan impian kamu.  Minimal untuk mata kuliah yang kamu anggap itu krusial bagi industri."  Saya termasuk pasangan yang saklek untuk urusan pendidikan, termasuk pasangan yang galak kalau dia udah melempem sama tugasnya sebagai mahasiswa.  Mungkin karena saya di besarkan dalam sejarah orang-orang yang sulit untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi di jamannya.  Makanya saya gak suka kalau ada orang yang begitu aja nyia-nyiain kesempatan untuk sekolah.

Yang kedua adalah kalimat "IPK bukan segalanya".

 Ini berlaku saat kita udah masuk ke dalam kategori fresh graduate yang beruntung karena udah dapet pekerjaan.  Saya termasuk yang percaya "Your Attitude Determine Your Aptitude" karena sudah membuktikannya.  Di dunia kerja IPK 4. 01 pun ibaratnya gak akan ada artinya kalau gak ada soft skills yang menunjang.  Selain soft skills kita juga dituntut punya keahliaan lain yang mendukung kinerja di perusahaan.  Seperti kemampuan berbahasa asing minimal Inggris, kemampuan komputer di luar sistem operasi MS Office, kemampuan lobbying dan lain-lain.  Itu lah yang menjadi alasan kenapa setiap Minggu saya rela bangun subuh ngejar bus buat berangkat ke tempat les yang jaraknya 2 jam dari rumah, atau tengah malem masih berkutik dengan coding untuk latihan bikin web design.

Sedikit cerita tentang serunya hidup baru saya masuk ke dalam dunia per-HRD-an (Human Resource Development).  Gak perlu saya jelasin lagi apasih HRD itu.  Bersyukur karena saya ditempatin di posisi ini, di posisi yang bisa membuat saya belajar banyak hal untuk menjadi professional worker.  Saya jadi tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan dari perusahaan.  Pekerjaannya memang terlihat simpel tapi tanggung jawab morilnya besar, tim HRD di sebuah perusahaan adalah tombak keberhasilan perusahaan, bukan berarti divisi lain gak penting.  Maksud saya disini adalah, kita punya tugas moril untuk bisa memacu karyawan bekerja lebih giat bersama membangun perusahaan menjadi lebih maju.

Setiap hari harus merekap absen karyawan yang jumlahnya gak cuma seratus dua ratus orang, tapi ribuan (meski gak sendiri sih), melakukan survey secara tidak langsung tentang prilaku karyawan buat dilaporin ke bagian pengembangan yang isinya psikolog-psikolog handal, mikirin konsep pelatihan yang sesuai dengan isue dan memang dibutuhin perusahaan, sampai urusan perut karyawan pun dipikirin.  Mereview menu catering (untuk sarapan dan makan siang) setiap bulannya supaya karyawan gak bosen, konsultasi gizi dengan ahli gizi yang sudah ada supaya karyawan semangat kerja dan gak cacingan hihihihi.

Bisa dibilang saya cukup beruntung karna ada di posisi ini. Seperti yang saya katakan tadi, saya belajar banyak hal untuk jadi professional worker.  Banyak banget kasus yang bisa saya ambil disini, kaya anak yang keliatannya klemer-klemer gak ada motivasi kerja ternyata malah ulet, anak yang IPK-nya tinggi tapi gak punya attitude kerja karna menilai dirinya pinter, atau yang kerjanya males-malesan karna emang dia ngerasa bukan passionnya.  Di sini juga saya bisa mikir lebih bijak kalau bekerja itu bukan semata melulu tentang gaji, meski gak munafik duit itu menggoda banget.  Apa mungkin saya sekarang lagi beruntung karena kerja di tempat yang "fair", dalam artian kerja lo bagus gaji lo juga bagus.  Saya belajar bahwa pencapain tertinggi dalam hidup itu diukur dari kemampuan mengatasi tanggung jawab, termasuk dalam hal pekerjaan.  Your responsibilities will give you higher even highest salary, itu mutlak artinya gaji kita bakal ngikutin tanggung jawab dan performa kita dalam bekerja.  Banyak kok di kapal sana kuli yang gajinya 9.000.000 ke atas, tapi posisinya kuli yang mungkin tanggung jawabnya gak sebesar ketika kita harus membuat satu keputusan penting bagi perusahaan.  Kita bakal punya kepuasan tersendiri saat kita udah dipercaya buat megang tanggung jawab besar, itulah yang saya sebut sebagai pencapaian tertinggi dalam bekerja.

Oke balik lagi ke IPK, Pendidikan itu penting.   Di era pasar persaingan terbuka, AFTA (Asean Free Trade Area) yang mulai masuk ke negera kita, gelar di belakang nama itu penting, apalagi buat negara semacam Indonesia yang mayoritas orangnya gila pangkat.  Buat nyaleg aja minimal ada gelar S (Sarjana) di belakang nama.  Saya juga termasuk orang yang percaya kalau "Allah akan mengangkat drajat hamba-Nya yang berilmu".  Jadi gak akan sia-sia dari yang namanya belajar.  Mumpung ada kesempatan, perbaikin deh kualitas skill kita, kita hidup di jaman yang semakin gila sikut-sikutannya.  Kalau kita yang gak bisa jahat sama diri kita sendiri, kita yang bakal mati dijahatin sama orang lain.  Belajar juga gak harus di bangku pendidikan formal kok, dengan banyak membaca, dengerin keluh kesah orang dan membantu mereka mencarikan solusi itu juga udah belajar (jangan minta dibeliin helikopter aja)

Be person with attitude 
Lovelill 2014

Kamis, 27 Februari 2014

Menikah, Menyegerakan atau Kejar Setoran ?

Enjoy this post

Saya kembali tertarik menulis topik tentang "Menikah" setelah membaca postingan  dua tahun silam tentang "Menikah muda itu enak".  Dari dulu saya memang menginkan untuk bisa menikah muda, maksimal 24 tahun, itupun kalau Allah mengizinkan.


Belakangan saya dikasih kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah lebih banyak.  Untuk pertama kalinya kami berbicara serius mengenai pernikahan.  Pertama adalah ketika saya yang belakangan ini sedang disibukan dengan rencana melanjutkan studi di salah satu universitas di Bandung, jika memang jalannya dan Allah memberikan kepercayaan kembali untuk saya Aamiin Ya Rabbalalamin, rencananya selama 2 tahun saya akan lebih sering tinggal disana dan tentu jauh dari orangtua.  Atas nama kasih sayang dan kekhawatirannya ayah memberikan saya nasihat untuk kuliah sambil nikah, alasannya biar ada yang menjaga saya dan memang sudah kewajiban seorang ayah untuk menikahkan putrinya yang akil baligh sesegera mungkin (Hadits 5 hal yang harus disegerakan : Shalat, Taubat, Membayar Hutang, Mengubur Jenazah, Menikahi Anak Perempuan yang sudah cukup)


Kontan saya kaget, karena saya paham betul ke dua orang tua saya bukan tipe orang yang terobsesi untuk menikahkan anaknya apalagi ibu saya.  Dulu zaman saya kuliah beberapa orang dekat ayah saya sudah ada yang mencoba melamarkan anaknya untuk saya, namun dengan sangat halus dan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat itu ayah menolaknya.  Saya bingung karena beberapa tahunn  ini sudah ada orang yang dengan setia menemani saya, meski belum ada ikatan yang mendekati kata pernikahan alias lamaran.  Pasangan manapun pasti memiliki keinginan untuk bersama, termasuk kami.  Tapi disisi lain, saya hanya seorang anak perempuan yang masih punya kewajiban untuk mengabdi kepada kedua orangtua, toh gak ada yang salah memang dari perjodohan, karena saya sendiri anak hasil perjodohan dan justru menyaksikan keromantisan dan keharmonisan yang luar biasa dari orangtua saya.

Setelah perbincangan mengenai nasehat ayah untuk segera menikah, dua hari kemudian saya menemani beliau bertemu dengan temannya semasa menjadi santri di salah satu pesantren di bilangan Jakarta Selatan.  Entah menyindir atau apa, siang itu mereka sedang bernostalgia saat menjadi santri.  Mereka punya salah satu teman yang terpaksa meninggalkan pujaan hatinya karena tidak bisa bersabar menunggu untuk dipinang.  Saya ingat betul kalimat ayah yang memang sangat menohok (sepertinya memang sedang menyindir)

"Problema anak gadis kan dari dulu sama, kebelet kawin tapi yang diajak kawin belom siap, didesek terus lah lama-lama laki bosen jenuh digituin, ditinggalin katanya dianggap gak serius, cuma mainin anak orang, padahal kan kita jadi laki pengen ngasih yang terbaik.  Nih kaya anak gue dibilangin susah, disuruh cari laki yang umurnya, pengalamannya, pendapatannya, dan pasti agamannya yang lebih mateng, biar kapan pun disuruh ijab qabul udah siap.  Tapi kalo udah cinta susah emang, bikin orang jadi dableg."

Emmm saya cuma bisa nyengir saat itu.  Saya gak punya hak buat nuntut terlalu jauh untuk segera dinikahi oleh pasangan saya, saya gak mau jadi beban untuk dia, gak mau menjadi orang yang mematahkan mimpinya, kalau saya harus milih saya tetap ingin menjadi wanita di balik layar kesuksesannya, dipinang tanpa harus mematahkan apa yang telah diperjuangkan.  Toh saya memang belum siap untuk menikah, kalo ditanya kepingin, saya jawab IYA, tapi menikah itu gak cuma butuh modal KEPINGIN tapi butuh modal yang disebut dengan KESIAPAN.   


Seperti sedang mengalami efek domino, malam harinya saya kembali dinasehati oleh teman saya yang akan menikah beberapa bulan lagi.  Dia memberikan nasihat kepada saya untuk segera menikah, menuruti apa yang diharapkan ayah.  "Makanya gak usah pacaran, jodoh kita kan udah disiapin".  Jleeeeeb.  Ibarat nasi sudah jadi bubur, ya tinggal dikasih pelengkap aja biar rasanya tidak anyeb.  Jadikan pelajaran untuk anak saya kelak.  Saya hanya bisa menjawab nasihatnya sambil senyum-senyum, terbesit iri karena dia sudah sangat siap untuk menikah, itu yang belum ada di dalam diri saya.





" Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)"



Sebagai umat islam saya percaya Firman Allah di atas.  Tapi sekali lagi prihal baik buruknya manusia yang tahu hanyalah Allah, Allah pula yang berhak untuk menilai.   Jika kita sering berkata bahwa yang baik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah, seharusnya kalimat itu juga berlaku untuk menafsirkan ayat ini, bukan lantas selalu  bagaimana dengan fenomena wanita yang baik justru mendapat yang buruk, atau sebaliknya.  Sekali lagi kita juga perlu mempelajari asbabunuzul (sebab-sebab turunya Al-Quran) disinilah pentingnya memahami ayat demi ayat, agar kita tidak tersesat pada kesombongan untuk menghakimi orang lain dengan memberikan penilaian yang sebenarnya bukan hak kita.  Tugas kita kaum muslimin yang masih dalam tahap pencarian adalah, berdoa dan berusaha untuk menjadi wanita/laki-laki yang termasuk kedalam golongan baik di mata Allah.  Biar perkara rizki, jodoh, dan maut Allah yang bekerja, toh memantaskan diri jauh lebih berharga daripada meratapi diri karena belum bertemu jodoh.

Meskipun perkara nikah adalah ibadah, belum menikah bukan berarti tidak bisa beribadah bukan?  Masih banyak yang bisa kita lakukan, ibadah bukan semata-mata hanya menikah, sambil menunggu terwujudnya pernikahan, kita masih bisa beribadah yang lebih banyak.  Berzikir tanpa harus diresahkan dengan lelahnya mengurus anak, shalat malam tanpa harus diganggu dengan "urusan ranjang", puasa sunnah tanpa harus izin dulu sama suami, menginfakan pendapatan lebih banyak karna tidak harus memikirkan pengeluaran untuk keperluan susu anak lah, sekolah anak dll.  Untuk yang masih single belum punya pacar, mumpung terlanjur belum punya pacar lebih baik ikuti nasihat teman saya tadi, dan bagi yang sudah tetapi masih dirasa sulit untuk bersatu entah karena kesiapan atau apa (termasuk saya) yuk mulai meluruskan niat, apakah kita menikah memang untuk ibadah, ikut-ikutan trend, atau "tuntutan" (Naudzubillah).

Saya yang masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih baik

Lovelill2014




Selasa, 25 Februari 2014

Ada anak bertanya pada bapaknya

Enjoy this post

Terimakasih untuk setiap jalinan kebersamaan ya ada
Saat dulu hati membangkang segala pernyataan benar
Dan kehidupan perlahan membenarkannya


2009 . . .

Tahun pertama memasuki dunia perkuliahan yangvkatanya masa paling bebas dari masa yangvada. Dimana semua dianggapntelah dewasa, tapi tidak bagi saya yang saat itu masih berusia lima belas tahun setengah.  Pemandangan wanita dengan asap mengepul yabg kelar dari barang makruh yang merka hisap apalagi kalau bukan rokok, menjadi pemandangan yang aneh buat saya saat itu, maklum saya lukus dari sekolah islam alias MAN (Madrasah Aliyah Negeri).

Saat itu saya belum mengkost, masih hidup menumpang di rumah kakak tertuanya ayah, percaya atau tidak ayah ibu saya juga turut mebemani saya sampai sebulan masa adaptasi.

Saat saya berkesempatan melewati malam bersama ayah untuk sekedar jajan di pinggir jalan, saya mengutarakan fenomena yang saya lihat di kampus sekaligus mengeluarkan hasrat keibgin tahuan saya tentang dunia malam.

Seminggu setelahnya ayah mengajak saya pergi ke tengah hiruk pikuk Kota Jakarta yang semakin malam semakin menggila. Dulu saya masih labil untuk berhijab, seperti biasa dengan celana pendek dan kaos lengan pendek saya mulai diajak masuk oleh ayah. Wooow betapa mau lingsannya saya karna jantung mendadak melemas mendengar dentuman musik yabg begitu keras.  Para kalong malam asik berjoget ala-ala ibu PKK yang sedang pemanasan (versi lebih hits).

Beberapa menit kemudian ayah mengajak sata duduk di meja bar yang selama itu saya hanya bisa lihat di sinetron-sinetron. Entah apa yang ayah pesan malam itu, tenggorakan sayabyang tadibya haus mendadak meringis karna bau yang lebih mirip dengan spirtus yang seribgvsayabgunakan untuk praktek kimia dan biologi.

Tidak mau mati melemas karna jantung yang gak karuan akhirnya saya minta untuk keluar meninggalkan dunia malamnya kaum urban. Diperjalan kami bercakap-cakap layaknya ayah dan anak.

"Gimana seru gak dunia malem"
"Apanya yang seru yah, mending main games di rumah atau tidur"
"Ya begitu deh dunia ajep-ajep. Tadi minumannya gak diminum? Itu mahal loh"
"Idih bensin gitu baunya. Itu namanya wine ya?"
"Bisa dibilang. Ayah kasih tau ya, ayah gak pernah ngelarang km mau mabok, ngerokok, ajeo-ajep asal jgn di belakang ayah. Ayah cuma ngelarang km buat ngeseks, langsung arau gak langsung. Ibaratnya kalo km udah kena itu sm aja kaya km pake narkoba. Kalo km udh pengen bilang aja biar langsung ayah nikahin jadi kamu gak penasaran." Sejak saat itu saya jadi nambah gk suka dengan dunia malam, meski hanya sekedar ha ha hi hi ringan di cafe.  Entahlah saya memang tidak cocok untuk itu, biar kata orang kuper yang penting say sudah bertindak udah sebagaimana mestinya seorang anak perempuan yang masih menjadi tanggung jawab orang tua bertindak.  Every each person has their own decision, mau jadi mahluk noktunal atau tidak.

Emmmm saat itu saya hanya diam, mencoba memasukinya dalam dalam. Ayah memang tipe orang tua yang memberikan pelajaran langsung, bykan teori. Mungkin karna beliau tau babyak tebttang ilmu kejiwaan jadi tau cara yang tepat untuk mengajari dan mendidik saya.

Saya kangen masa-masa bebas bersama ayah, masa dimana saya bisa tertawa, marah, nangis di pangkuan ayah tanpa ada embel-embel risih.

I miss every single moment ayah. Semoga masih babyak waktu yang bisa kita habiskan meaki hanya dengan segelas mie gelas.

Jumat, 21 Februari 2014

Memelihara Kucing Persia, kenapa enggak !

Enjoy this post

Banyak yang bilang ngapain sih memelihara kucing persia, apalagi cewek, gak takut tokson ini itu blah blah blah.  Oke dari dulu suka aja memelihara binatang apalagi kucing dan ular (sayang sampai sekarang belum berhasil ngebujuk orang rumah buat punya ular).  Dari Almarhumah kucing kampung saya bernama Cia yang harus mati karna keracunan kotoran ikan yang dia makan saat main di rumah tetangga, sampai kucing anggora yang meski bagus tapi nakalnya gak kalah nakal dari kucing kampung.

Saya lebih suka kucing jenis persia, lebih kalem dan terlihat anggun.  Memelihara kucing persia susah-susah gampang.  Intinya sih harus sabar, kalau saya punya prinsip dikasih kepercayaan ngurus binatang aja gak bisa apalagi nanti ngurus anak, makanya saya bener-bener ngerawat kucing-kucing di rumah yang sekarang sisa dua ekor.

Untuk makanannya saya kasih mereka Royal Canin (bukan mau promo ya) atas masukan dari temen, dan beberapa forum tentang kucing yang bilang makanan merk ini gak diragukan lagi.  Seiring dengan bertambahnya usia kedua kucing saya dan makin paham apa yang mereka butuhkan, akhirnya saya ganti ke Eukanuba.  Pemilihan makanan saya kembalikan lagi pada niat awal kita memeliharanya, kalau tujuannya punya bulu yang panjang dan cantik, Royal Canin memang masternya untuk kelas premium yang gak terlalu nguras kantong.  Kalau saya pribadi gak ada niat apa-apa, yang penting mereka tumbuh dengan sehat.

Eukanuba saya pilih karena kandungan gizinya lebih lengkap.  Gak cuma buat bulu, tapi buat gigi, tulang, dan yang penting hati biar gak galau eh salah biar kucingnya sehat karena masalah terbesar kucing itu adalah hatinya sensitif, bukan karena percintaan bukan tapi hati kucing sangat sensitif dengan kandunga zat di dalam makanan.  Seminggu sekali saya kasih kuning telur setengah matang yang dicampur madu 1ml (madu 1 ml mana ngaruh) buat mannusia emang gak ngaruh tapi buat kucing ngaruh banget.  Seminggu dua kali saya kasih minum susu, susu khusus buat kucing ya tapi.  Kalau kucing sudah memasuki usia junior (7 bulan) biasanya ada yang mau ada juga yang tidak mau minum susu, tapi dasar punya kucing bossy jadi doyan banget sama susu.

"SAYA GAK PERNAH MANDIIIN KUCING DI PET SHOP".  Ngirit banget Mbak!! Bukan masalh ngirit, tapi masalah kepercayaan.  Saya gak bisa 100% mempercayai kucing saya dimandiin orang lain, kita kan gak tau handuk kucingnya bekas kucing atau bahkan anjing yang mana, telinganya ditutup atau enggak pas mandi.  Lagian kalau kita mandiin + grooming kucing kita sendiri itu lebih baik, dia lebih nurut sama kita.  Alhamdulillah dua kucing saya malah hobi banget mandi, kalau udah ditaro di bak pasti diem aja anteng gak mau bangun.

P3K untuk kucing.  Ini juga yang harus diperhatikan.  Minimal di rumah saya punya obat buat diare, rumput hair ball, betadin, tetes kuping, obat cacing, vitamin, obat mual, obat & salap jamur.  Perhatikan juga jenis obatnya, karna gak semua obat manusia bisa dikasih ke kucing, jenis obat dengan kandungan paracetamol salah satunya, jangan pernah kasih ini kalau masih mau lihat kucingnya hidup.  Beberapa obat ini saya dapat berdarkan pengalam saya dari dokter hewan ketika kucing saya sakit dan butuh pertolongan pertama.

Diare: Guenestrip (obat manusia)
Mual: Promagh (obat Manusia)
Telinga: Otollin (obat tetes khusus kucing)
Obat Cacing: Drontal (obat cacing khusus kucing)
Jamur: Griseofulvin 250 mg (obat manusia), Ketaconozole (salap manusia)
Vitamin: Biolisin (vitamib manusia)

Notes: Kasih sesuai berat badan & usia kucing ya.  Kucing baru boleh diminumin obat macem-macem kalau umurnya sudah 3 bulan dengan takaran 0,5 ml per sekali minum. 

Rata-rata Drh bakal ngasih obat anak buat penangan ke kucing kita selain suntikan -suntikan khusus yang dikasih ke kucing (ini pengalaman saya saat Owi anggora gembrot kesayangan terkena radang telinga, dan saat Piye demam).

Segini dulu kali ya, nanti saya share juga mendeteksi demam dan penyakit lainnya pada kucing persia.

lovelill2014

IRI vs BERSYUKUR

Enjoy this post

Akhirnya punya waktu dan niat juga untuk nuangin ide lagi disini, bukan ide sih semacem #selnotes.  Salah satu tujuan saya bikin blog ini biar saat senewen saya kumat dengan hal yang sebenernya pernah terjadi dan sempet saya tulis disini, saya bisa bangkit lagi dan ngerasa malu kalo gak meraktekin apa yang pernah ditulis.

Belakangan memang sedang jenuh dengan rutinitas ini itu, tapi bersyukur rutinitasnya sekarang lebih berbobot ketimbang jaman nganggur beberapa bulan lalu yang cuma makan, tidur, main hape, makan lagi, tidur lagi, begitu aja terus sampe besok, besok, dan besoknnya.

Ngomongin masalah bersyukur gak bisa dipisahin dari sifat satu ini nih "IRI".  Loh kok nyambungnya ke iri? Menurut Calon Prof. DR. Lily Fauziah., S.ST., M.Si (aamin) ketidak bersyukuran orang terhadap hidupnya ya karena dia masih punya perasaan iri terhadap hidup orang lai, yang ngebedainnya cuma kadar keiriannya sebesar apa.  Sering banget kan kita kalo ngeluh selalu aja ada nama si Pulan yang kita sebut-sebut, misal "Enak ya si A pacarnya tajir dibeliin apa aja." atau "Ihh pengen banget jadi Pak B biar kemana-mana pake ajudan"  bra bra and bra (perempuaan lainnya), padahal belum tentu buat ngedapetin itu semua dia bener-bener enak ngejalaninnya.

Semua orang pasti setuju dalam fase kehidupan manusia, dia bakal ngerasain sisi jahat dan sisi buruknya masing-masing, tinggal sekali lagi kapan dan seberapa besar kadarnya.  Gak mau munafik saya pernah ada di fase terjahat dalam hidup saya karen terbakar yang namanya "IRI".  Berawal dari persahabatan yang saya bina dengan seorang teman SMP selama bertahun-tahun harus hancur karena dia lebih milih ceweknya dibanding persahabatan kita, padahal 100000% saya bisa jamin sampe detik ini pun saya gak ada perasaan, gak pernah, dan gak akan pernah punya perasaan ke dia lebih dari sahabat.

Saya iri liat ceweknya yang selalu diperhatiin (ya eyalah pacarnya), padahal dulu kita bisa ngobrol semaleman suntuk kalo ketemu.  Iri karena ceweknya cantik (secara dia juga ganteng), iri iri dan iri bukan cemburu loh bukan.  Saya gak bakal iri kalau ceweknya gak nyuruh dia buat berhenti temenan sama saya, bahkan akses komunikasi kami pun diputus gitu aja.  Ceweknya nyuruh dia ganti nomer lah, media sosial juga diawasin, lama-lama ya capek juga toh.

Oke balik ke iri. 

Karena iri tadi, saya mulai punya profesi baru "Stalker" dan sok-sok perhatian kayak nanya kabar cuma buat basa-basi, padahal saya tipe orang yang ngelakuin ya emang karena saya mau lakuin bukan sekedar basa-basi. Nyari tau ini itu padahal apa yang dia lakuin juga gak ngerugiin saya pribadi, mulai nyindir-nyidir tapi yang kesindir bukan dia malah orang lain (capeeek deh).  Lama kelamaan kok ya nyiksa batin banget, akhirnya saya mulai mencari solusinya buat keluar dari permasalahan iri.

Bersyukur hal ini terjadi saat saya masih kuliah.  Jaman saya kuliah, setiap pulang ke rumah setelah lima haridalam seminggu jadi anak kost, ayah masih memfasilitasi saya seorang ustadz untuk mengaji setiap Sabtu malam.  Saya punya kegiatan dan orang yang lebih bisa membawa saya ke hal yang baik.  Karena Alhamdulillah saya sudah lancar membaca Al-Quran, pengajiannya lebih diisi dengan Problem Solving mengenai Fiqih, Sejarah Islam, Bedah Tafsir Quran.  Problem solving ini ternyata ampuh banget buat ngilangin iri hati yang Alhamdulillah belum terlanjur membusuk di hati.  

Saya tulis semua yang saya iriin dari dia, setelah itu saya tulis apa yang saya punya tapi gak dia punya (kamu kamu pasti setuju dong saat kita iri, seketika kita bakal jadi haters yang profesional, yang bakal nyari tau apa pun tentang dia atau istilah singkatnya "STALKER").  Setelah itu saya introspeksi, lebih sering baca artikel tenttang memperbaiki diri, terlebih saya islam dan percaya semua permasalahan sudah ada jawabannya di Al-Quran, saya baca terjemahannya, dan kalau ada yang ragu saya tanyakan kepada Pak Ustadz tadi.

Alhamdulillah hilang.  Kuncinya adalah ikhlas dan berhusnudzon dengan ketetapan Allah.  Saya jadi malu, ngapain coba saya iri sampe sebgitunya sama pacar sahabat sendiri.  Padahal dari situ kan Allah secara gak langsung lagi nunjukin ke saya mana sahabat beneran mana yang bukan.  FYI selama saya ada di dalam bayangan si iri saya ngerasa banget kalo rejeki saya mulai rada seret, prestasi di kampus nurun, kualitas diri juga jadi kampungan banget karena emosi sampe saya juga gak abis pikir bisa ya saya begitu, apa yang dia dapetin gak bisa saya dapetin padahal yang dia dapetin itu simpel banget dan saya juga bisa dapetin dengan mudah tapi saat itu jadi dipersulit banget. 

"Kalau kamu benci seseorang tanpa alasan waspada, karena sebenernya kamu lagi iri sama dia cuma gengsi aja buat ngakuin.  Benci tanpa alasan salah satu ciri kamu sedang dirasukin si iri secara diam-diam"  ibu saya yang bilang gitu.

Ngapain juga sih ya kalo dipikir-pikir kita iri sama orang.  Toh kadar susah-senengnya orang kan udah ada gilirannya.  Tinggal gimana kita yang harus pandai bersyukur.  Seperti yang saya katakan tadi, iri membakar rejeki yang ada.  Bersyukur saja, karena belum tentu apa yang kita lihat di dia bahagia benar-benar bisa membuat dia bahagia, atau kalau yang kita anggap bahagia di dia belum tentu bisa bahagia saat ada di kita.  Berhenti memusihi dan dimushi karena iri.  Kita hidup sekali di dunia yang sempit, gak pernah tau kapan kita bakal dipertemukan lagi sama orang yang kita musuhin karna kita ngiriin dia, atau ketemu sama orang yang musuhin kita karna gak suka sama sikap kita yang mendadak jahat kalo udah terbakar api iri (Baaah ribet kali aku ini ngejelasinnya).

So, berhentilah berpura-pura peduli terhadap orang lain kalau tujuannya hanya ingin terlihat kamu baik-baik saja ke dia.  Kalau ada yang asli mengapa harus yang palsu kan?  Beryukur bener deh, semakin banyak bersyukur rejeki, teman, apresiasi, kecantikan, semua akan datang dengan sendirinya kok.  Hati jadi lebih tenang, rejeki makin lancar. Kalo ngikutin hawa nafsu aja gak bakal ada habisnya, yang ada hati kita jadi busuk karena digerogotin rasa iri dan ujung-ujungnya jadi gak beryukur.

"Allah jika di dalam hati saya masih tersimpan iri, ria, dengki, dan takabur, tundalah untuk setiap apa yang saya pinta sampai hati saya benar-benar atau paling tidak mendekati kata bersih"  Doa itu yang selalu jadi motivasi saya buat istighfar dan merubah pribadi saya jadi lebih baik.

Orang yang pernah terseok-seok karna IRI, dan tersadar karna BERSYUKUR
 lovelill 2014



Sabtu, 01 Februari 2014

Sarjana ???

Enjoy this post

Heho yang baru banget lulus dan icip icip rasanya jadi sarjana.  Selamat datang di dunia kerja, dunianya sikut menyikut antar pencari nafkah, buat yang mutusin untuk.buka usaha atau kejar beasiswa monggo selamat datang juga.

Hampir setengah tahun menyandang gelar sarjana masih belum nemuin tempat yang sreg buat nyari nafkah, nolak sana sini, pindah sana sinisampe akhirnya nelen ludaj sendiri buat gak kerja di tempat orang tua.

Jadi sarjana memang tidak semanis es teh manis yang sering kita minum di kantin jamannya kuliah dan lagi pengen menghemat tapi masih tetep bisa minum minuman yang berwarna.  Sukur-sukur kalo kita termasuk ke dalam golomgam sarjana zona makmur, yang udah sreg di tempat yang bisa bikin kita nyaman, entah dalam hal pekerjaan atau pun perjodohan (kawin sama konglomerat).

Kaya saya 6 bulan ngerasain susahnya jadi sarjana baru aka "Fresh Graduate", mau nyari kerjaan yang labgsung dapet gaji gede juga ibarat kaya mau makan duren tapi masih harus ngambil di pohonnya sendiri. Dapet panggilan kerja di 3 bulan pertama nganggur aja udah bersyykur, apalagi disaat dompet mulai kering kerontang, peduli apa dengan yang namanya prinsip kalau kerja maunya yang begini begitu.

Bolak balik laptop cuma buat bikin CV yang berbeda untuk setiap lamaran yang mau dilamar, foto copy ini itu, lempar lamaran kesana kemari buntutnya cuma beberapa yang manggil itupun harus kandas di tengah jalan entah karna proses yang gagal atau memang senfaja menggagalkan diri karna lain dan sebagainya.

Belum lagi sekarang yang harus banyak-banyak istighfar karna denger dari ibu salah satu anak tetangga di rumah lulusan SMA bisa dapet gaji 8.000.000 lebih/bulan yang ...... kali lipat dari gaji saya sebagai seorang sarjana.

Beruntung ada ayah yang melapangkan hati saya, bahwa di dunia kerja nilai dan jenjang pendidikan bukanlah satu-satunya jalan untuk sukses di dunia kerja.  Your attitude determine your.altitude.  Kalo saya masih ada pikiran kenapa saya kalah dari orang yang hanya lulusan SMA artinya saya masih kurang punya attitude dalam bekerja (jleb sih) tapi emang bener.

Kebanyakan kita kaum sarjana yang gagal dalam urusan pekerjaan karna kita terlalu petantang petenteng dengan gelar kita, emang sih kita pasti mikir "gila gue udah kuliah 4 th mahal-mahal, susah payah bahkan ada yang lebih dari 4 tahun masa gaji cuma segitu, kerjaannya cuma begitu", terus nih kalo udah kerja adang kita juga suka ngeluh misal "kok gue sarjana kerjaannya cuma nginput data? Ngerapihin invoice, arau pait-paitnya bawain tasnya si bos kalo lagi dinas luar kantor", padahal semua kerjaan yang menurut kita rendah itu salah satu bagian dari proses posisi atas kita.

So?

Jadilah sarjana yang bermartabat, cukup main-mainnya di bangku sarjana aja. Rubah minset untuk adi pekerja profesional, karna saat kita bekerja gak ada remedial kalau hasil kita jelek, opsinya cuma dua didamprat atasan atau di depak.perusahaan.

Rasa Sayang

Enjoy this post

Terimakasih untuk gombalan kecilnya, tapi sejenak saya pikirkan kembali apakah itu gombalan atau kenyataan:

S: Kamu sayang saya Kang ?
R: Gak !
S: Iya sih ketauan kamu mana pernah sayang saya !
R: Sayang kan bukan cuma ucapan doang kali.
S: Tali kelakuan km jg gak nunjukin kamu sayang saya !
R: Nah !
S: Terus kenapa masih dipertahanin?
R: Itu dia rasa sayang, memlertahankan.
S: -____-"

Imajinasi, Korelasi dan Intuisi

Enjoy this post

Zonk !!! Jam menunjukan pukul 1 pagi lewat 52 menit atau sama saja arrinya dengan pukul 2 pagi, tapi saya masih terjaga disini.  Well daripada saya grasak grusuk gak karuan, lebih baik saya kesini menulis apa yang bisa saya tulis.

Sepersekian menit yang lalu tiba-tiba saya mengingat kembali masa kecil tepatnya saat SD. Menyadari kekurangan saya di bidang seni terutama melukis, saya jadi teringat lukisan apa yang sering saya buat kalau pelajaran KTK (sekarang seni rupa) sedang memasuki zona menggambar.

Gunung, dengan matahari di tengah, sedikit aksen perspektif sawah dengan jalan berhias pohon atau tiang listrik dan di sampingnya ada rumah gubuk kecil.  Ya mungkin anda akan menjawab itu, karna hampir 100% anak-anak akan menggambar itu untuk tugas melukisnya, tapi sayang sekali lagi darah seni saya sangat langka mengalir di tubuh ini.

Lalu apa yang saya gambar?

Saya lebih senang menggambar sebuah kapal yang sebenarnya lebih tepat disebut perahu.  Saya sangat suka menggambar sebuah kapal lengkap dengan tumpukan deknya, lalu dengan tiang pancang untuk menyematkan bendera Belanda, lalu di antara garis gelombang sebagai perwujudan ombak saya selipkan sketsa beberapa ekor ikan yang sedang berenang, lalu tak lupa matahari dan burung saya sematkan di bagian atas gambar.

Cukup sederhana bukan imajinasi saya?

Entah mengapa saya sangat suka menggambar kapal dengan bendera Belandanya.  Kalau dulu mungkin jawabannya simpel, karna gambar kapal satu-satunya gambar simpel yang bisa saya buat, dan bendera Belanda karna saya suka warna benderannya, biru merah dan putih.

Lantas apa korelasi antara imajinasi saya dengan intuisi saya saat ini ???

Saya sangat percaya firman Allah SWT "Bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, selain atas izin-Nya".  Mungkin dulu imajinasi saya hanya bentuk dari penyelamatan diri agar saya bisa segera terbebas dari tugas menggambar yang memang tidak pernah saya sukai, dan pilihan bendera Belanda karna alasan sederhana bahwa mata saya sangat suka memandangi unsur warna yang menyusun bendera teraebut.  Tapi sekarang intuisi saya seolah-olah berjalan, bukan ingin kurang ajar karna terkesan kepedean dan mendahului takdir-Nya tapi saya hanya ingin membuat pengandaian dan memberikan fakta bahwa memang tidak ada yang kebutulan di dunia ini.

Kok muter-muter gini?

Oke to the point !

Saya merasa imajinasi saya di masa lalu berimbas pada bagaimana saya saat ini.  Saya yabg suka menggambar kapal sekarang malah dipertemukan dengan orang yang juga suka menggamar kapal, tentu gambar dia bukan imajinasi semata tapi lebih rinci dengan detail ukperhitungan yang hanya dia dan manusia kapal lainnya yang mengerti.  Ya dia seorang calon sarjana teknik perkapalan yang masih menjadi intuisi saya tentang jodoh.  Dan bendera Belanda menjadi salah satu mimpi besar saya untuk bisa kuliah disana selain di Australia.

Sekali lagi, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua berjalan berdasarkan kehendak-Nya. Tidak ada yang berjalan sendiri antar ceritanya, semua saling berkorelasi sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa seluruh rangkain yang ada memang terjadi atas dasar saling menjawab satu sama lain, termasuk menjawab keyakinan kita bahwa "Tidak ada kebetulan di dunia ini".

Kamis, 12 Desember 2013

Yang Tertunda

Enjoy this post

" Allah jika memang di hati ini masih terselip ria, iri, dengki, dan kesombongan maka tundalah"

Kalimat singkat itu saya temui di halaman pertama buku milik sahabat saya Hana Ulinnuha (Gak tau deh dia nganggep sahabat apa bukan).

Sebulanan dibuat dek-dekan dengan hasil tes beasiswa dikti yang saya ikuti.  Singkat cerita saya sudah sampai tahap Tes Potensi Akademik (TPA), dan hari ini saya dinyatakan GAGAL untuk mengikuti tahap selanjutnya.

Mungkin di hati saya masih ada hal-hal yang ditulis oleh teman saya tadi
Mungkin perjuangan saya masih kurang gigih
Mungkin saya terlalu banyak mengeluh
Mungkin ibu saya memang belum ikhlas kalau saya harus terbang ke Belanda
Mungkin saya harus lebih berbenah terhadap kesalahan yang ada
Mungkin
Mungkin
dan Mungkin

Mungkin memang hati saya harus lebih berlapang, pikiran saya harus lebih bersih, untuk satu keihlasan dalam bersikap "Berhusnudzon pada-Nya".

Untuk hal yang tertunda, hamba mohon diperlancar untuk mendekatkan diri pada hal-hal terbai di depan hamba Ya Rabb.

Lovelill

Minggu, 10 November 2013

Leave Your Comfort Zone

Enjoy this post

Terhitung 10 hari sejak tanggal 28 Oktober - 6 November kaki ini pergi mencari hal baru yang mungkin tidak akan saya temui kalau tidak ada keberanian untuk meninggalkan rasa nyaman.

Bekasi, 28 Oktober 2013 Pukul 11.00 WIB

Setelah berpamitan dengan ibu dan ayah, saya langsung bergegas menuju Stasiun Bekasi untuk bertemu dengan kedua "Guards" saya Ikhwan dan AA.  Satu tas jinjing, dan tas ransel di pundak, diantar oleh Pak Ojek sambil sesekali meyakinkan diri untuk benar-benar mengikuti trip ini atau tidak, maklum ini trip pertama saya yang terlama, dan mungkin yang paling "sengsara".

Sesampainya di stasiun Bekasi saya bertemu dengan AA, dia kakak sepupu saya yang sudah seperti kakak kandung sendiri, mata kami memanjang menunggu sosok cungkring bernama Ikhwan Setio Nugroho, setelah hampir sejam menunggu akhirnya sosok yang kami tunggu-tunggu datang juga.  Kami bergegas menuju loket KRL untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pasar Senen, karena darisinilah perjalanan ini dimulai.

Stasiun Pasar Senen, 28 Oktober 2013 Pukul 12.30 WIB

Sesampainya di Stasiun kami harus berjalan menunu loket penukaran tiket, lumayan uang Rp 15.000,- dari ketiga tiket jaminan yang kita beli bisa untuk beli beberapa botol air putih.  Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke dalam petualangan 10 hari, Ikhwan tak segan-segan membuka lapak makanan alias bekal yang sudah dimasak oleh ibunya.  Jujur saya merindukan momen makan nasi bungkus beramai-ramai, sejak berkerudung ini momen pertama saya makan di tempat umum ala "Ngemper", kalau dulu saya cuek, saat camping di masa SMP bersama Pandawa 5 (julukan Pramuka SMPN 5 Bekasi), atau selepas tanding footsal bersama teman tim footsal MAN 8 Jakarta, tetapi melihat ikhwan dan AA yang lahap, saya pun langsung tertarik untuk merasakan sensasi makan nasi bungkus di tengah kerumunan Stasiun Pasar Senen.  Setelah makan, kami bergegas memasuki ruang tunggu karna waktu sudah menunjukan pukul 13.00 lewat sedikit, kami bergegas mencari Mushola untuk melaksanakan kebutuhan kami kepada Sang Khalik.

KA Matramaja tujuan Stasiun Kota Malang Baru dari kejauhan mulai memasuki jalurnya.  Saya langsung bergegas mengambil telpon genggam di dalam saku jaket, saya telpon ayah dan ibu untuk memberitahukan bahwa beberapa saat lagi saya akan berangkat, menitipkan segala rindu untuk mereka di Bekasi untuk sejenak membuang penat di timurnya Pulau Jawa.

Perjalanan ini masih sangat lama, 16 jam menulusuri 3 zona sepanjang Pulau Jawa.  Dan seluruh petualangan yang ada akan saya tuangkan disini, di dunia dalam kata yang sejak 2007 sudah saya buat untuk tempat sampah saat saya merasa penat dengan sekeliling.

- Wisata Alam
- Wisata Kuliner
- Wisata Spiritual

Semua wisata yang merubah kehidupan saya untuk lebih bersyukur dengan-Nya akan saya tuangkan disini .

To be continue . . . 

Lovelill

Kamis, 29 Agustus 2013

Siapa yang diincar kemudian ?

Enjoy this post

Postingan saya kali ini mungkin akan sedikit berat, bukan sekedar curcolan sehari-hari lagi melainkan saya ingin mengembangkan pemikiran - pemikiran pasca mengamati perkembangan politik dunia khususnya di negara-negara islam.

Belum setahun insiden berdarah penggelontoran rezim Khadafi, kini Mesir kembali berdarah pasca kudeta militer terhadap presiden terpilihnya Mursi.  Sebelumnya, keadaan Syuriah sudah parah lebih dahulu, bahkan sepekan ini muncul berita bahwa AS dan sekutunya sedang bersiap-siap untuk melakukan agresi militer ke Syuriah.

Bukan hal yang baru jika di balik semua konflik negara Timur Tengah adalah skenario bangsa Yahudi yang mayoritas hidup di Israel dan AS.  Yahudi dan negara Barat lainnya bersekutu untuk menghancurkan negara-negara islam khususnya di Timur Tengah.

Perhatikan peta sasaran bangsa Yahudi yang bisa kita katakan adalah Israel:
gambar: voa-indonesia

Setelah menggerogoti hampir dari luas wilayah Palestina sejak berabad-abad silam, gambar di atas adalah negara-negara yang menjadi target kebengisan Yahudi dan Barat selanjutnya.  Jika dalam kasus Mesir kita bisa berbicara bahwa tidak sepatutnya sebuah negara dipimpin oleh seorang pemimpin fanatik agama seperti Mursi, jawabannya memang tidak dapat disalahkan, namun dalam hal ini Israel dan AS seudah memiliki skenario setelah mengetahui bahwa betapa berpengaruhnya Mursi terhadap kebijakan di Mesir yang justru merugikan mereka.

Dibukannya jalur perdagangan terusan Suez, Impor produk ke Palestina sudah dibebaskan, dan hal hal lain yang membuat Israel merasa terancam.  Israel adalah boneka kekuatan AS di kawasan Timur Tengah, sedangkan AS adalah boneka Israel di mata dunia.  Jika dianologikan, apabila Israel ingin tetap menguasai negara-negara di atas dengan kekuatan penuh baik dari segi pengakuan maupun infrastruktur perang, dia harus menuruti apa pun yang diperintah AS, dan sebaliknya demikian AS akan memberikan apa pun yang di minta Israel jika kekayaan yang dikeruk terutama minyak dan uranium yang banyak tersebar di negara Timur Tengah bisa dengan leluasa dinikmati.  Untuk diketahui, jumlah uang yang digelontorkan oleh AS untuk Israel adalah sama dengan uang yang digelontorkan AS untuk membantu negara-negara di kawasan Benua Afrika, artinya porsi untuk banyak negara hanya digunakan untuk 1 negara.

Negara-negara di atas adalah negara yang menjadi pusat peradaban islam sejak nabi Ibrahim a.s sebagai pembawa garis keturunan Bani Israil, selain menjadi pusat peradaban kita ketahui negara Timur Tengah adalah negara kaya yang dikarunia limpahan minyak dan pertambangan lainnya, dan teritorial negara-negara teratas khusunya Mesir adalah jalur strategis perekonomian dunia melalui terusan Sueznya.

Jika syuriah difitnah dengan isu pengguanaan senjata kimia, Iraq difitnah dengan isu senjata nuklir yang disebut-sebut untuk menyerang AS, Mesir difitnah melalui strategi pemberian senjata kepada militernya dan justru dibuat untuk mengkudeta pemimpinnya, dan Palestina difitnah dengan pihak oposisi hisbutahrir (padahal Israel takut karena 3500 anak Palestin sejak di dalam kandungan sudah dididik untuk menjadi seorang tahfidz Quran yang artinya mereka memiliki kekuatan baik secara IQ dan keberanian, itulah mengapa di Palestin anak adalah target utama Israel), lantas negara islam lainnya akan difitnah dengan strategi apa?

Saya kira dari sekian banyak tragedi yang kita saksikan, bisa saja negara kita Indonesia yang menjadi incaran selanjutnya.  Mengapa?  Karena kita ketahui selain Indonesia adalah negara Islam terbesar di Asia, negara ini juga punya banyak limpahan kekayaan yang sekarang masih sangat mudah mereka nikmati, yang menjadi incarannya sekarang selain sektor minyak, gas, dan pertambangan, adalah pengeksploitasian uranium di Mamaju, Sulawesi Barat yang merupakan uranium dengan kualitas terbaik di dunia.  Jika ini menjadi aset yang bisa dimanfaatkan sendiri oleh kita, seperti Iraq yang memanfaatkan uraniumnnya sendiri tanpa dibagi-bagikan ke bangsa lain, jelas kita bisa saja menjadi target fitnah bangsa Yahudi dan sekutunya, mengapa tidak???  Kalau sekarang kita masih aman meskipun kita berteriak di tingkat Internasional mengenai tragedi kemanusiaan di negara Timur Tengah bahkan mengalahi suara bantuan yang seharusnya datang dari negara Liga Arab, itu karena masih terlalu banyak pemimpin kita yang sebenarnya menjadi antek-antek AS dan sekutunya.

B E R S A M B U N G ....
Dengan tulisan persamaan fitnah yang dibuat AS di Mesir, dengan yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998

Lovelill

Referensi:
http://voa-islam.com
http://majalah.hidayatullah.com/?p=2285
http://astrophysicsblogs.blogspot.com/2012_12_22_archive.html

Sabtu, 17 Agustus 2013

KKN ?

Enjoy this post

Malam kesekian bagi saya disiksa insomnia pasca resmi menyandang gelar Sarjana.  Rasanya sudah tidak sabar untuk segera bekerja, tapi apa daya jangankan ijazah surat keterangan yudisium pun belum bisa saya peroleh.

Berbicara masalah pekerjaan, setiap orang pasti mengidamkab pekerjaan yang ramah, baik dari segi tenaga maupun dompet.

Bagi saya bekerja asal didukung dengan iklim kerja yang kondusif, transportasi umum yang mendudukung, dan gaji yang jelas sudah lebih dari cukup. Yaaaa inisih namanya impian semua orang.

Siang tadi saya sibuk membahas masalah KKN yang saat ini sedang melanda salah satu BUMN besar yang bergerak di bidang energi, kami.berdebat sengit mengenai perbedaan gratifikasi dengan tindak KKN.  Saya pun jadi teringat tawaran bekerja di salah satu perusahan otomotif yang bergerak di bidang pembuatan pembuatan interior mobil.  Perusahaan ini cukup besar, gajinya pun cukup menggiurkan.

Tawaran ini datang langsung dari ayah saya.  Beliau salah satu karyawan yang namanya cukup disegeni di perusahaan tersebut.  Meniti karir sebagai seorang office boy sampai Alhamdulillah dengan perjuangan panjang hampir 30 tahun beliau bisa menduduki jabatan yang lumayan berpengaruh dalam perkembangan perusahan ini.

Bekerja secara loyal hampir lebih dari 30 tahun bukanlah perkara mudah.  Beberapa kali pergi menemani beliau tidak ada sedikit pun cerita buruk mengenai beliau baik secara personal maupun profesional kantor.  Rasanya kalau dibandingkan dengan saya kinerja beliau jelas di atas saya. Bukan karna jam terbang tapi karna memang beliau adalah orang yang cerdas, jujur, dan luwes.

Terpikir sejenak salah satu penghambat mengapa saya enggan mengambil kesempatan emas ini.  Bukan ingin sombong atau over confident, kalau saya mau tentu saya bisa dengan mudah masuk sana tanpa harus melewati.seleksi yang begitu keras.  Selain karna saya takut dibandingkan dan malah justru memalukan ayah, saya tidak ingin ajang pencarian nafkah ini ternodai oleh tindakan nepotisme, tetapi sahabat saya berkata ini bukan nepotsme, tapi keberuntungan karna kita punya link yang menjadi batu pijakan.

Semua terasa berkecamuk di dada manakala saya berpikr dari dua perdebatan di atas berkata

"Tidak ada hidup tanpa KKN"

Emmm semoga di HUT RI ke-68 ini semua.biaa.diminimalisir.
Enjoy this post

Minggu, 21 Juli 2013

Merubah Template Blog

Enjoy this post

Itung-itung ngabuburit saya mau memposting tulisan yang mungkin sudah banyak ditulis blogger lainnya, namun saya mau menulis ini dengan cara saya sendiri heheh boleh dong !!!

Langkah I

1. Pilih dulu desain yang kamu mau dari para penyedia jasa template blog, salah satunya bisa kamu ambil Pilih Aja Disini
2. Download template yang sudah kamu pilih, jangan lupa untuk mengingat dimana kamu menyimpan downloadan tadi
3. Setelah itu masuk ke dalam folder penyimpanan file tadi, biasanya file akan berbentuk "rar"
4. Klil kanan pada file tadi, lalu pilih extract here
Sebelum di ekstrak
Folder Setelah di Ekstarak


5. Masuk ke dalam folder ekstrak tadi lalu pilih file template.html, klik kanan lalu pilih open with, lalu pilih lagi notepad atau wordpad

6. Setelah terbuka di notepad atau wordpad, blok semua tulisan lalu copy
Langkah II
1.  Setelah semua di langkah I selesai, sekarang masuk ke blog kamu, lalu pilih template













2. Pilih edit html, kemudia tekan ctrl+a secara bersamaan, dan hapus.

3. Setelah semua terhapus, jangan gunakan klik kanan pada mouse untuk mencari kata paste, tapi langsung tekan ctrl + v, maka kode yang sudah kamu copy di langkah I tadi akan terpaste secara otomatis.

4.  Lihat tampilan pada option preview template

Selamat Mencoba dan semoga berhasil !

Lovelill

 

Template by Best Web Hosting