Sabtu, 19 Juli 2014

Kepala 2, problematika dan pencariannya . . .

Enjoy this post

Enjoy this post

Jika anda tidak punya ketertarikan dan waktu untuk membaca, silahkan tekan tombol “CLOSE” karena postingan kali ini akan cukup panjang hehehehe.

Kata orang memasuki usia 20 tahun adalah fase tersulit bagi siapa pun, pria maupun wanita.  Ternyata betul, di usia saya yang belum genap 22 tahun ini saya merasakan fase tersulit itu.  Bukan karena tanggung jawab yang semakin berat, bukan karena pertanyaan yang semakin banyak (kapan nikah, kapan bekerja, kapan lanjut kuliah, kapan punya anak blah dan blah)  fase tersulit disini adalah bagaimana saya menemukan titik balik dalam hidup tentang pecarian jati diri dan kepercayaan terhadap Tuhan.

Sulit dijelaskan bagaimana saya harus bergejolak dengan batin yang seolah-olah dirasuki rasa keraguan terhadap keyakinan yang saya pegang.  Perlahan saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya selama ini, dua tahun bukan waktu yang singkat dan mudah untuk menemukannya.  Rasa kecewa yang muncul dari kegagalan yang selalu saya peroleh menambah keraguan saya.  Sulit, bahkan sangat sulit.  Sampai saya pun bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa saya shalat? untuk apa saya beribadah? untuk apa saya berbuat kebaikan dan menghindari keburukan? Untuk apa, kalo saya sendiri pun masih meragukan.

Sampai suatu hari saya lelah dengan keadaan yang sulit ini, saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya.  Ternyata yang salah selama ini adalah, saya belum menjadikan agama saya sebagai kebutuhan dasar.  Saya mulai menyadari bahwa apa yang saya lakukan sebagai umat beragama selama ini hanya sebuah kewajiban, disitu saya mengerti bahwa keikhlasan adalah kunci utama untuk menjadikan agama sebagai kebutuhan bukan kewajiban.

Tidak bermaksud untuk ria.  Sejak saat itu saya mulai sering merenung kesalahan apa yang selama ini telah diperbuat, mulai meyakini bahwa kegagalan yang saya alami bukan karena Allah tidak sayang.  Satu persatu pikiran dan perasaan saya mulai bekerja, rasanya seperti dipukul algojo bertubi-tubi jika mengingat satu persatu kesalahan yang pernah saya buat.  Hingga disatu titik saya tersadar bahwa, tidak ada doa yang tidak terkabul, hanya ada doa yang tertangguhkan pengabulannya untuk waktu, peristiwa, dan orang yang lebih tepat.  

Benar sebuah nasihat ringan yang sering saya dengar melalui alunan lagu milik Opick, obat hati itu hanya ada 5 perkara: 
  
Membaca Al-Quran dan maknanya 

Inilah salah satu peranan terbesar yang mengantarkan saya pada titik balik kehidupan beragama yang selama ini saya pertanyakan.  Saya mulai mencari tahu kebesaran Sang Rabbi dengan membaca terjemahan demi terjemahan Kalam-Nya. Kesalahan saya yang dulu adalah,tidak membaca makna yang terkandung di dalam Al-Quran, padahal kandungannya jauh lebih indah ketimbang kita hanya membaca huruf Arabnya saja, tidak ada kata lain selain mengucap Subhannallah, dan maha benar Allah dengan segala firmannya (Saya akan menulis d postingan selanjutnya tentang ayat-ayat yang membuat saya semakin percaya tentang islam sebagai agama yang saya anut, percayai, dan butuhkan). 
  
Perbanyaklah Puasa

Ada stu hadits yang mengatakan bahwa belum terkabulnya perkara doa karena terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh.  Saya rasa begitu banyak artikel yang sudah menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan jasmani maupun rohani, entah itu puasa wajib di bulan Ramadhan atau puasa sunnah.
     
           Shalat Malam Dirikanlah

Terdengar sulit memang untuk mendirikan shalat malam, tapi ternyata betul adanya waktu terdekat manusia dengan Rabbnya untuk berkomunikasi dan mengeluarkan peluh yang ada adalah tengah malah.  Saya mulai belajar tegas terhadap diri saya untuk paling tidak minimal seminggu dua kali berkomunikasi dengan Allah di waktu tengah malam.  Sampai suatu hari saya mulai berada di titik “INILAH YANG SELAMA INI SAYA CARI: KETENANGAN BATIN & KEYAKINAN”.  Saya mulai dihadapkan dengan kenangan masa kecil saya tentang betapa teganya ayah ibu saya mendidik saya dalam urusan agama, badan saya terasa menggigil saat saya kembali mengingat guyuran air yang sering ayah ibu siramkan kalau saya tidak mau shalat dan mengaji, dan titik balik ini seolah-olah membuat saya lebih paham seberapa sayangnya mereka terhadap kehidupan saya, bukan hanya kehidupan dunia tetapi juga akhirat. 
      
      Perbanyak dzikir malam

Mungkin yang selama ini kurang saya lakukan ada berdzikir di malam hari, saya jarang berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam waktu dan intensitas yang lebih lama.  Benar firman Allah bahwa, Tidak akan berubah nasip suatu kaum jika tidak dia sendiri yang merubahnya.  Pencarian saya saat ini membenarkan bahwa hidayah itu tidak datang dengan sendirinya tapi harus dicari.  Dalam pencarian panjang ini, tiba-tiba saat saya sedang melalui sebuah rumah yang sedang mengadakanpengajian entah mengapa saya tergerak untuk melajukan kendaraan saya dengan kecepatan sangat pelan, saat itu saya mendengar ustadz tersebut sedang memerikan tausiah tentang manfaat Qiyamul Lail (Ibadah Malam) salah satunya adalah Shalat Sunnah Tasbih.  Tiba-tiba saya kembali teringat cerita guru ngaji saya saat umur 7 tahun “Kerjakanlah Shalat Sunnah Tasbih, jika tidak sanggup setiap hari, seminggu sekali, jika tidak sanggup sebulan sekali, tidak sanggup juga setahun sekali, tetapi jika tidak sanggup SEUMUR HIDUP SEKALI”.  Kalimat SEUMUR HIDUP SEKALI itu yang membuat saya tergerak untuk kembali bertanya, “Sepersekian detik kemudian saya masih bisa gak ya Shalat Sunnah Tasbih?”.  Pertama kali saya melakukan itu, saya pun bingung apakah shalat saya sah atau tidak karena saya terus menerus menangis dari satu gerakan ke gerakan yang lain, dan baru kali itu saya merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
          
      Berkumpulah dengan orang shaleh

Jika kita berteman dengan tukang minyak wangi, kita pun akan demikian.  Ternyata betul karena pergaulan mempengaruhi pembentukan karakter.  Saya juga semakin percaya bahwa setiap pertemuan ada maksud yang hendak disampaikan oleh Allah.  Disini saya mulai sadar bahwa betapa sayangnya Allah terhadap saya karena saya pernah mengenal teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) saat kuliah dulu.  Sebuah organisasi yang awalnya saya ikuti hanya karna ingin memenuhi lembaran pengalaman, teman-teman yang sering saya anggap terlalu kolot padahal mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang mempertahankan kebenaran dan ketaatan mereka terhadap agama.  Saya mulai mengingat-ingat bagaimana teman perempuan muslim saya berpakaian, kesantunan dan ketaatan mereka dalam beragama.

Jujur titik balik ini mambuat saya takut untuk melewati ujian keimanan dari Allah berupa kesenangan, bukan saya tidak ingin senang tapi saya takut saat kesenangan itu datang keimanan ini kembali melemah.  Tapi saya yakin, selama Anak Adam masih bernafas selama itu pula keimanan ini akan diuji, dengan kesenangan maupun kesusahan.  Semoga saya dan kita semua termasuk di dalam golongan orang-orang yang beristiqomah dijalan-Nya.  Aamiin Ya Rabbalalamin.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Lovelill



Senin, 30 Juni 2014

Pemilu 2014, Democracy or Democrazy ?

Enjoy this post


Dua periode sudah Indonesia menikmati rasanya dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat pasca reformasi 1998.  Tinggal menghitung hari bagi kita untuk menentukan siapa pemimpin kita kelak.  Tulisan ini saya buat hanya untuk sekedar menampung aspirasi saya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, bukan untuk berkampanye membela si 1 atau si 2, bukan pula untuk memperkeruh keadaan yang semakin ruwet yang keburu beredar di sosial media, koreksilah jika tulisan saya kali ini dianggap keliru, mari kita belajar menjadi pemilih yang cerdas, terutama saya yang baru tahun ini bisa merasakan pest demokrasi yang sesungguhnya.

Berbicara menganai pemilihan umum, mari kita kaji dalam dua aspek yakni pemilu legislative (DPR, DPRD, DPD) mereka semua adalah wakil rakyat yang akan menjalankan konstitusi penuh terhadap NKRI, mereka pemegang amanat terpenting  dimana segala peraturan perundang-undangan yang menjadi penentu hidup dan matinya rakyat Indonesia selama satu periode kedepan bahkan lebih karena kita tahu bahwa undang-undang bersifat kekal selama tidak ada amandemen yang menggantikan bahkan menghapuskan undang-undang tersebut, yang mengatur keungangan bangsa dalam APBN, dan penentu iya atau tidaknya keputusan yang dibuat oleh presiden. selengkapnya tentang sistem politik Indonesia

Jujur saya menyesal karena di pemilu legislatif kemarin belum menggunakan hak pilih saya secara bijak.  Mungkin ini permasalahan hampir semua rakyat Indonesia, 500 kursi itu tidak sedikit, artinya sebagai rakyat kita juga merasa kesulitan untuk mengenal siapa dan bagaima para calon pemimpin kita.  Tapi sudahlah, anggap saja ini pelajaran bagi saya jika kelak masih bisa memilih pemimpin berikutnya.

Pemilihan kedua adalah pemilihan presiden yang akan dilaksanakan 9 Juli 2014.  Politik itu ibarat kita sedang jatuh cinta, dibutakan dengan segala penilaian yang pada dasarnya belum tentu 100% kita tahu.  Kita gerah dengan pemberitaan negative yang saling menjatuhkan masing-masing calon presiden, padahal salah satu diantara mereka adalah calon pemimpin kita, dan tidak sepatutnya pula kita membuka aib orang lain, dengan maksud dan tujuan apa pun itu.  

Sebagai seorang umat islam saya percaya Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 247:

Dan Nabi mereka pula berkata kepada mereka:"Bahawasanya Allah melantik Tholut menjadi raja bagi kamu. Mereka menjawab: "Bagaimana dia mendapat kuasa memerintah kami, sedang Kami lebih berhak dengan kuasa pemerintahan itu daripadanya, dan ia pula tidak diberi keluasan harta kekayaan?" Nabi mereka berkata:" Sesungguhnya Allah memilihnya (Tholut) menjadi pemerintah kamu, dan mengurniakannya kelebihan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan". Dan (ingatlah), Allah jualah Yang memberikan kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (RahmatNya dan PengurniaanNya), lagi meliputi ilmuNya."

Notes: Raja Tholut adalah seorang raja yang dipilih oleh dalam peperangan melawana pasukan Jalut untuk memperebutkan tanah Palestin, dimana Bani Israel merasa Tholut tidak pantas menjadi seorang raja karena beliau hanyalah seorang petani yang miskin.
Perlu digaris bawahi bahwasanya Allah yang berkehendak atas siapa saja yang akan diberikan amanat dalam pemerintahan.  Biarkan segala perkara setelahnya menjadi urusan Allah SWT, tugas kita sebagai anak bangsa adalah memilih calon ulil amri yang akan menjadi pemimpin kita kelak  

QS. An-Nisa ayat 58:
 (Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil, sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat).

Dan mentaati keputusan yang sudah dibuat adalah keputusan sesudah para pemimpin itu terpilih, 
QS. An-Nisa ayat 59:  
Wahai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan RasulNya dan ulil amri di antara kamu …

Layaknya cinta yang sedang mencari pasangan, tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk para pemimpin kita kelak. Pemilihan Umum 2014 ini adalah forum demokrasi, bukan democrazy, dimana setiap orang berhak memilih yang menurutnya baik, tidak ada yang salah, yang salah adalah orang yang bersikap acuh terhadap bangsanya.

Lovelill
Bekasi, 30 Juni 2014
 

Sumber:

  1. Al-Quranul Karim http://quran-terjemah.org/
  2. http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2013/07/ketatanegaraan-indonesia-struktur-pemerintahan-amandemen-lembaga-negara.html
  3. http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-quran-dan-hadist/kisah-talut-dan-jalut.html 


Minggu, 18 Mei 2014

Bukan Drama FTV

Enjoy this post

FTV (Film Televisi) yang ceritanya kadang bikin kita kepingin untuk punya cerita yang sama.  Masalah yang pelik tapi endingnya bahagia, meski gak jarang endingnya sedih sesedih pacarnya yang meninggal karna kecelakaan lah, sakitlah, dibunuh, bahkan bunu diri.

Seseorang pernah berkata kepada saya "Dalam hidup kita harus tegas memutuskan bagian mana yang harus ditolerir dan tidak supaya kita gak sakit hati terus".  Well, postingan ini mungkin postingan sampah dimana sebenarnya saya sedang melakukan proses treatment, sekali lagi blog ini adalah media saya untuk menstimulasi pikiran dan hati saya dalam keadaan senang maupun sedih, jadi kalau dirasa blog saya kurang berbobot, itu sangat benar heheheh.

"Dalam hidup kita harus tegas memutuskan bagian mana yang harus ditolerir dan tidak supaya kita gak sakit hati terus".  Kalimat itu yang sekarang menjalar ke seluruh saraf di kepala saya.  Bukan prihal percintaan saja yang butuh batasan untuk bisa ditolerir, semuanya entah itu pekerjaan, keluarga, dan pertemanan.  Kita harus punya batas yang disebut dengan prinsip, ngomong emang gampang tapi ngejalaninnya susah.  Kadang kita merasa udah terlanjur nyemplung lah, sayang lah udah bertahun-tahun bla dan bla.  Tapi apa kita bisa bertahan dengan kondisi yang justru mendzolimi diri kita sendiri?  Pikiran dan tenaga yang bersatu menjadi satu kesatuan hidup juga punya hak untuk tidak meneruskan sesuatu yang dianggap sudah jauh menyakiti si empunyanya.

Ibarat kita makan cotton candy yang dibuat dari gula pengawet, rasanya begitu ringan dan manis di mulut, tapi pahit di tenggorokan.  Sekali lagi hidup kita bukan drama FTV dimana untuk mengakhiri ceritanya hanya butuh satu dua babak permasalahan dan bisa selesai dengan akhir yang bahagia.  Hidup itu lebih kompleks, dan kita gak pernah tahu seberapa lama Tuhan memberikan kita jatah hidup, kalau kita dipercaya punya umur panjang, tidak mungkin kita berada dalam satu jaring permasalahan yang sama dengan waktu yang lama.  Senang dan sedih ada masannya, lama pendeknya kita yang menjaga, dan Tuhan yang memberi.

Kamis, 24 April 2014

Peran Ayah dalam Dunia Parenting

Enjoy this post

Wiiih berat ya kayanya judulnya, padahal saya sendiri belum berkeluarga.  Belum berkeluarga bukan berarti saya gak punya keluarga, Alhamdulillah saya dititipkan di tengah keluarga yang harmonis dengan ayah dan ibu yang Insya Allah amanat dalam menjaga saya.

Berbicara mengenai parenting belakangan bulu kuduk saya dibuat merinding dengan pemberitaan seputar pelecehan seksual, gak hanya di media massa tapi kejadian serupa juga menghampiri salah satu murid taman kanak-kanak tidak jauh dari kediaman orang tua saya saat ini.  Saya mencoba menulis ini setelah sharing dan membaca berbagai literatur tentang parenting, kalo boleh jujur aslinya sih saya lagi bingung gimana nanti kalau saya jadi orang tua harus mendidik, menjaga, dan mengasuh anak saya.
Ini juga pelajaran buat saya sebelum mengakhiri masa lajang yang entah akan terjadi kapan dan dengan siapa.  Terkadang sebagai perempuan single kita sering lupa bahwa hakikat mencari pasangan juga bukan perkara teman hidup untuk menjadikan kita nyaman seumur hidup bersama dia, padahal perkara setelahnya itu jauh lebih penting, perkara iya atau tidak kita akan melahirkan nantinya kita juga butuh seorang pasangan yang bisa memaikan peran yang lebih dari sekedar pasangan idaman yakni ayah idaman untuk anak-anak kelak.

Suami idaman belum tentu bisa menjadi ayah idaman untuk anaknya, artinya adalah anak tidak bisa memilih dengan siapa dia akan dititipkan oleh pencipta-Nya, sekarang ini banyak suami idaman para wanita yang berhasil dimiliki, dengan kriteria mapan secara materi, enak diajak berkeluh kesah dan dengan sedikit bonus ketampanan, tapi mungkin setelah punya anak dia berubah menjadi sosok ayah yang hanya sibuk dengan membahagiakan anaknya hanya melalui materi dan lebih memilih membela diri dengan istilah "Tugas suami kan mencari nafkah, ya tugas istri dong yang mendidik anak."

Halooooo rasanya kalau ada seorang ayah yang ngomong begitu saya pengen banget teriak di hadapannya sambil bilang "Halooooo kan bikinnya sama-sama masa ngedidiknya gak mau sama-sama".  Anak itu butuh panutan, dan panutan utama adalah kedua orang tuannya.  Banyak yang bilang perempuan itu harus cerdas, karena dia madrasah utama bagi anaknya, tapi kadang kita lupa sebuah madrasah (sekolah) pasti punya kepala sekolah, siapa sosok kepala sekolahnya?  Ya pastinya ayahnya.

Kalau dalam rumah tangga sosok suami, dan ayah hanya berperan sebagai pelindung, tukang ngebenerin genteng yang bocor, dan pencari nafkah untuk anaknya itu artinya dia belum menjalani tugasnya sebagai kepala sekolah, hanya menjalani perannya sebagai penjaga sekolah. Seorang ayah sebagai kepala sekolah di dalam pendidikan anaknya adalah penentu visi bagi pendidikan anaknya kelak, kemudian menetapakan dan menjalankan misi bersama istrinya. Ibarat pesawat dia harus punya dua sayap untuk membawa penumpangnya selamat sampai tujuan (ke jenjang pernikahan anaknya kelak) dan kembali melakukan penerbangan yang baik dan bahkan semakin baik.

Sebagai contoh sederhana, ketika seorang anak tumbuh dan memasuki tahap Akil Baligh, bagi anak perempuan mungkin kita bisa dengan mudah mengetahui oh anak perempuan kita sudah akil baligh karena dia sudah mens dan setiap bulan kita juga bisa dengan mudah mengecek siklus menstruasinya, tapi apakah pernah bahkan saya kira hampir semua orang tua tidak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mengalami mimpi basah yang artinya itu adalah salah satu tanda bahwa dia sudah akil baligh dan sudah dewasa, sudah memiliki kewajiban penuh untuk beribadah (ini dalam perpsektif saya sebagai umat muslim), kalau kita gak pernah tahu kapan anak kita pertama kali mimpi basah, kita gak akan pernah sadar kalau anak lelaki kita sudah dewasa, dan kita gak bisa marah-marah begitu saja ketika dia tidak mau shalat subuh karna mungkin malamnya dia mimpi basah.  Saat kita tahu pertama kali anak kita mengalami pubertas, kita juga bisa meminimalisir kejadian yang gak diharapkan dari anak kita, semacem pacaran yang berlebihan yang justru mengarah kepada tindakan seks pra nikah (petting maupun making love).

Seks edukasi pada anak saya rasa sekarang butuh, yang mengkomunikasikan yang tentu orang tua, dimana ibu mencoba mengkomunikasinnya pada anak perempuannya, dan ayah pun demikian kepada anak lelakinya, memberitahu dengan bahasa yang sederhana namun dapat dimengerti tentang bagian mana dalam dirinya yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh orang asing dan lain sebagainnya.

Di agama saya, islam pun mengajarkan dalam kita Al-Quran bahwa seorang ayah lah yang berperan penting dalam pembentukan mental dan pola pikir anak, terbukti dengan tokoh Lukman di surat Lukman, yang saya ketahui dari asbabunnuzul surat ini (sebab-sebab turunya Al-Quran) Lukman memang bukan Nabi, tapi terpilihnya nama Lukman dalam Al-Quran karena kepatuhan, dan keshalihan beliau dalam mendidik anaknya, bahkan Nabi Ibrahim a.s. beliau adalah seorang ayah yang sangat sibuk, dan suka berpergian jauh tapi beliau masih bisa mendidik anaknya dengan kasih sayang dan perhatian sehingga anaknya berhasil menjadi seorang nabi pula.

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menemuimu hanya untuk urusan materi,
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah berbadan dua 
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah menodai anak gadis orang lain
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa anakmu jauh darimu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak dia berkeluh kesah dengan kelakuan anakmu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa dia lebih memahami anakmu dibandingkan kamu
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Mari belajar menjadi sosok ayah yang bukan hanya panggilan di dalam keluarga, tapi menjadi seorang ayah yang hangat, menjadi seorang ayah yang menjadi satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah bagi anak-anaknya, jadilah sosok teman hidup bagi istrimu kelak yang kiranya bisa diajak menjalankan satu visi yang sama membangun madrasah pertama bagi titipanmu kelak.

Lovelill2014

Minggu, 20 April 2014

Dangdut is the Music of My Country

Enjoy this post

"Dangdut is the Music of My Country".  Yaa, dari judulnya aja udah keliatan apa yang bakal saya bahas kali ini.  Dangdut, apsih yang ada di benak kalian kalau denger kata dangdut?  Norak? Alay? Kampungan?  Menurut saya, seenggak suka apa pun orang sama dangdut, pasti ada aja lagu dangdut yang dia apal, minimal tahu nadanya.

Saya setuju banget sama judul lagu project pop yang sekaligus menginspirasikan saya buat ngebahas ini di tulisan.  Bicara masalah dangdut, dari kecil saya udah dicekokin banget sama genre musik ini.  Ayah saya fanatik banget sama dangdut, apalagi sama Mansyur S. Dari kecil setiap jalan pasti nyetel lagu-lagunya, kadang di rumah juga gitu, terus punya tetangga juga hobi banget sama dangdut, percaya atau enggak kalo udah dengerin lagu dangdut beeeh tetangga saya nyetel dengan volume suara ala-ala orang mau hajatan.

Belakangan ini yang ngaku fans setia dangdut pasti banget salah satu program ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di salah satu stasiun TV swasta.  Saya hampir tiap malem nonton ini, ya awalnya sih karena udah males berebutan remote TV sama ibu, tapi pas diikutin acara ini bagus juga.  Saya salut sama pemilihan dewan juri dan pembawa acaranya yang berhasil ngedongkrak acara ini jadi lebih berkelas.  Saya juga setuju banget sama salah satu jurinya yakni si Ivan Gunawan yang selalu ngasih masukan ke peserta bahkan secara gak langsung ke penyanyi dangdut lainnya buat terlihat lebih classy dan mahal, gak kayak penyanyi dangdut yang joget gak karuan dengan pakain ala-ala perempuan nakal di pengkolan.

Setuju gak sih kalau saya bilang lagu jaman sekarang (dangdut maupun genre lainnya) kurang bagus di banding yang dulu?  Kalau sekarang lirik ya cuma lirik, ngasal yang penting enak didenger, dan gampang diinget, beda sama dulu yang liriknya lebih ke arah syair yang puitis dan punya makna yang jauh lebih dalam. Kalau gak percaya coba aja bandingin lagu patah hati jaman sekarang sama jaman dulu bagus mana.

Balik lagi yuk ke Dangdut is the Music of My Country.

Dangdut itu lagu universal, seperti yang tadi saya bilang seenggak suka apa pun orang sama genre lagu ini minimal ada satu lagu yang dia tahu.  Ya gimana gak mau tahu, dimana-mana pasti ada aja orang yang dengerin genre lagu ini.  Di pengkolan jalan, pasti ada aja tukang ojek yang nyetel lagu ini, di kondangan mau itu yang hajatan suku Jawa, Sunda, Batak bahkan Papua.

Nah salah satu lirik yang saya suka banget dari salah satu lagu dangdut ciptaan H.Rhoma Irama yang berjudul Roda Kehidupan "Lain orang lain cobaan, itulah keadialan Tuhan".

Lovelill2014

Jumat, 18 April 2014

Your 1st Salary Determine Your Rejeki

Enjoy this post

Sebenernya udah lama banget kepingin nulis ini disini, tapi apa daya baru kali ini saya punya cukup tenaga buat ngetik dan mikir apa yang mau saya kembangkan di postingan ini.

"Your 1st Salary Determine Your Rejeki"

Apasih maksudnya judul di atas?

Kalo diartiin kedalam bahasa Indonesia sih "Gaji Pertamamu Mencerminkan Rejekimmu".  Kalau kalian seseorang yang akan bekerja atau sudah bekerja dan akan mendapatkan gaji pertama mungkin postingan ini akan sangat berguna (haaahahaha pede).

Saya dapet kalimat itu dari ayah saya.  Sekarang pertanyaan saya adalah, saat kalian dapat gaji pertama dari hasil kalian bekerja, kemanakah uang itu mengalir?  Kalau jawabannya ke tangan kedua orang tua kalian, bersyukurlah karena Insya Allah rejeki kalian selanjutnya akan dipermudah.

Sedikit mengorek pengalaman pertama saya ketika mendapatkan gaji pertama hasil kerja sendiri (Tahun 2010, saya bekerja part time sebagai event freelancer) saat itu gaji saya hanya Rp 525.000,- untuk 3 hari kerja.  Gak seberapa sih, tapi puas banget rasanya, saat itu saya masih duduk di bangku semester 2.  Meskipun cuma seiprit dengan rasa takut saya memberikan uang itu untuk ibu, wiih pasti ibu saya bertanya-tanya dapet uang dari mana sebesar itu dalam waktu seminggu, padahal uang mingguan saya saat itu juga gak sebesar itu, akhirnya saya jelaskan asal usul uang tersebut yang Insya Allah HALAL.  Tiga tahun kemudian tepatnya saat saya sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan, saya kembali melakukan hal yang sama, dengan tulus dan ikhlas tanpa diminta oleh orang tua, saya pun kembali memberikan gaji pertama saya yang saya dapat setelah lulus kuliah.  Dari semester dua saya memang sudah bekerja paruh waktu, demi pengalaman tambahan sekaligus uang jajan tambahan untuk traveling (hahaha).

Sebulan kemudian saya berbincang dengan Empok (panggilan untuk asisten di rumah), saya merinding dan cuma bisa membiarkan mata saya membendung air mata saat si Empok bilang ibu pernah nangis saat cerita sama dia kalau barusan ibu dikasih uang dari gaji pertama saya.  Saya gak nyangka ibu bisa sebegitu senengnya padahal pas saya kasih eksperesinya datar dan cuma bilang "Buat Ibu?" (Ibu saya emang punya gengsi akut buat bersikap romantis ke saya).

Orang tua sampe kapan pun gak akan pernah minta dari anaknya barang sepeser sekalipun dalam keadaan kepepet.  Saya tahu banget perjuangan orang tua saya sampai saya bisa menjadi seorang sarjana itu besarnya gak akan sebanding dengan uang yang saya kasih ke mereka.  Saya inget saat ayah saya cerita tentang anugrah limpahan rejeki dari Allah sebagai jawaban atas kegigihan dan kepatuhannya terhadap orang tua.  Ayah saya dulu yatim, Ama (Kakek) saya meninggal saat ayah masih kecil.  Dulu hidupnya sengsara, singkat cerita beliau menghidupkan diri beliau sendiri, dan saat umur 7 tahun beliau sudah bekerja sebagai "Pengajar Ulung", dulu beliau ngajarin temen-temennya yang kesulitan buat ngerjain PR, karna beliau punya otak di atas rata-rata anak umur 7 tahun, beliaupun bekerja sebagai "Pengajar Ulung", seperak dua perak beliau simpan untuk dikasih ke Nenek, untuk beli beras yang akan mereka santap menjadi bubur bersama denga keenam saudaranya yang lain.  Beliau juga tidak pernah lupa menyisihkan seperak uang untuk disedekahkan atas nama almarhum ama.  Dari gaji pertamanya yang cuma seperak itu, Alhamdulillah Allah melapangkan rejekinya, kehidupan beliau semakin kesini semakin membaik, dan Alhamdulillah kebaikannya itu juga saya rasakan sampai hati ini hehehe.

"Kalau gaji pertama kita udah kita kasih dengan ikhlas ke orang tua kita, Insya Allah rejeki kita selanjutnya bakal lancar.  Your 1st Salary Determine Your Rejeki.  Orang tua emang gak minta, tapi mereka gak akan pernah ngeliat sebesar apa yang dikasih, mereka cuma mau liat hasil didikan mereka buat ngejadiin anaknya mandiri udah berhasil.  Kalau orang tuanya meninggal,kasih haknya lewat sedekah, karna 3 hal yang gak akan pernah keputus saat anak adam mati: Ilmu yang bermanfaat, amal ibadah dan doa anak shaleh."

Yaa kira-kira itu yang ayah saya sampaikan, kurang lebih yang bisa saya ingat seperti itu.  Saya bersyukur punya ayah yang bisa berperan menjadi apa pun yang baik untuk saya.  Bukan sekedar seorang ayah yang statusnya memang berkewajiban sebagai ayah, bekerja dan menafkahinya saja.  Ayah saya partner terhebat, beliau bisa jadi guru, ustadz, sahabat, pacar, bahkan musuh (hahaha musuh main ledek-ledekan).

Oh iya kira-kira dua minggu lalu juga saya ngobrol santai dengan teman saya semasa kuliah dulu, namanya Ijal (gue berharap rejeki lo di pesiar ya jal biar gue bisa traveling gratis), yang bilang kalau mau sukses dikerjaan juga kita harus punya link, link itu penting, kalo gak ada link kita gak akan sukses, apalagi linknya sama yang di atas, sama Allah.  Saya cuma bisa ketawa karena saya baru mudeng sepersekian menit, iya juga sih.  Jadi saya semacem nemuin formala hebat untuk mempersiapkan masa depan saya yang hebat pula, yaitu kalau mau sukses kita harus bersikap baik terhadap orang tua dan tetap membangun link yang kuat dengan Allah, karena gak akan ada artinya kalau gaji besar tapi yang kita bangun hanya urusan dunia.

Mungkin ada juga sih yang ngerasa bahwa ini kan hasil kerja gue, ya gue lah yang lebih berhak buat ngatur semua.  Sebagai fresh graduate saya tau banget rasanya "KAGET" megang uang banyak dari gaji sendiri, kalap mau beli ini itu apalagi dengan sistem online shop yang merebak dimana-mana, tapi kalau saya pribadi saya lebih seneng ngasih semua gaji saya ke ibu saya, karena uang kita bakal diputer sama beliau.  Ibu-ibu itu manager keungan paling handal, tapi saya mohon maaf kepada para pembaca yang mungkin ibunya sudah tidak ada, tapi tidak ada bukan berarti tidak ada yang bisa kita jadikan panutan kan?  Yuk kita coba-coba mengingat bagaimana selama masa hidupnya beliau menjadi pengaturn keuangan terbaik di keluarga, kita contoh yang baik dari beliau dan kita perbaiki yang buruknya.

Gak akan pernah ada rejeki yang sia-sia saat kita kasih untuk keluarga terutama orang tua.  Jangan pernah bangga kalau hari ini kita bisa hura-hura dengan uang orang tua, tapi banggalah ketika kita sudah bisa menjamin masa tuanya akan jauh lebih bahagia dari masa muda yang pernah mereka beri untuk kita.  Uang gak akan seberapa tapi doa dan sikap baik kita itu akan jauh lebih berharga, karena orang tua gak cuma butuh bahagia di dunia, tapi juga disana di akhirat.



Lovelill2014



Rabu, 16 April 2014

Humanity Problem

Enjoy this post

Sepagian path saya diwarnai postingan yang agak sedikit beda dari biasaya yang biasanya cuma isian dumelan semerautnya jalanan ibu kota.  Sebelumnya saya mohon maaf kepada, ehem Mbak Dinda yang hari ini mulai populer dengan hujatan di sosial media.  Baiklah perlu diketahui tulisan ini bukan untuk ikutan menghakimi Mbak Dinda dan membela ibu hamil, apalagi untuk ikutan mendongkrak "kepopuleritasan" Mbak Dinda (hahahah gak banget lah yah), ini cuma sekelumit pendapat pribada saya, si ANKER (Anak Kereta) yang kurang lebih 4 tahun menjadi pengguna sekaligus pengamat perkeretaapian di ibu kota (tsaaaah gayak).

Kurang lebih 4 tahun saya memilih Commuter Line (CL) yang dinaungi oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia) sebagai sarana transportasi untuk pulang pergi Rumah-Kampus (Bekasi-Depok), mulai dari kereta ketek (kereta ekonomi) yang harganya 2000 perak, sampai kereta Pakuan yang harganya 16.000, terus kereta ketek mulai ditiadakan, dan harga CL melambung bak harga cabai sampe akhirnya turun lagi kaya harga cabe-cabean, semuanya sudah saya alamin, ya istilahnya pait, getir, manis, naik CL udah saya telen lah.

Mbak Dinda mungkin bukan cuma 1 dari 1.000.000 pengguna CL yang "ngedumel" tentang gak enaknya naik CL apalagi sampai ada tragedi rebut-rebutan bangku.  Saya juga kadang jengkel sama orang yang asal nyerobot aja tempat duduk yang udah lama saya incar, paitnya ya gitu kalo yang ngincer justru orang-orang yang berstatus PRIORITAS (Anak kecil, Ibu hamil, Lansia, dan Orang Berkebutuhan Khusus) yang gak kebagian tempat duduk karna emang nasip udah gak kebagian, atau karna hak mereka di rebut sama orang yang "MAU BANGET" diprioritasin.  Kadang orang Indonesia juga susah dibilangin, banyak banget yang duduk di kursi prioritas padahal tandanya udah segede gajah hamil, malah saya pernah sengaja ngejambak mas-mas yang dengan pulesnya tidur disini.  Ya kalo udah ada tanda tolong banget sih pengertiannya mau kereta penuh atau kosong ya jangan dipake, sadar diri aja kalo kita bukan termasuk golongan prioritas.

Oke buat yang gak tau suasana di CL saat pergi dan pulang kantor, saya bakal bantu mendeskripsikannya.  Satu rangkaian CL terdiri dari 8 gerbong, 2 gerbong khusus wanita yang ada di setiap ujung rangkaian, dan sisanya gerbong campuran.  Kapasitasnya sekitar 120-170 orang dimana terdiri dari 16 untuk duduk di kursi prioritas dan 28-30 untuk duduk di kursi non prioritas sisanya ngatung.  Tapi itu normalnya, gak normalnya di mulai saat jam sibuk dimana buat goyangin panta* aja gak bisa, aroma ketek dari yang asem kecut, asem seger, bau kambing dan lain-lain juga bakal dengan sangat mudah terendus.  Sekedar informasi dulu jamannya tiket CL masih 8500 rupiah untuk Jakarta-Bekasi, kereta Bekasi gak separah kereta tujuan Bogor, tapi karna semakin murah akhirnya ya gak ada bedanya.

Oke balik lagi ke Mbak Dinda.

Mbak, saya, bahkan jutaan pengguna lainnya punya masalah yang sama, "Kelelahan dan Kestressan" yang berbeda hanyalah kadarnya.  Tapi perlu dipahami bahwa ibu hamil punya tingkat kelelahan dan kesetressan yang jauh lebih tinggi dari wanita normal pada umumnya.  Kadang saya juga heran sama ibu hamil yang masih maksain diri naik ke gerbong yang jangankan untuk perut datar atau buncit karna kekanyangan aja susah naik tapi masih maksa naik.   Ini sebenernya bagian dari dilema saya juga saat nanti saya menikah dan dipercaya untuk hamil (aamiin), disisi lain saya harus tetap bekerja, tapi disisi lain keselamatan saya dan calon bayi di rahim terancam.  Mau naik kendaraan roda dua atau roda empat milik pribadi atau angkutan umum juga gak ngejamin bakal bebas dari kelelahan dan kesetresan, pasalnya di kota urban seperti Jakarta dan Bekasi CL masih menjadi saran transportasi pilihan. (Pleassee jadiin saya orang kaya melebihi Syahrini biar ke Emol di Jakarta aja bisa naik Jet, oke labai).

Saya juga kadang sedih kalau lagi ada di gerbong khusus wanita.  Wanita semua loh isinya, kadang dengan egoisnya ada aja penumpang yang pura-pura tidur, pura-pura gak denger karna jedak jeduk musik di headsetnya.  Pernah ada bahkan sering kejadian seorang ibu yang lagi hamil muda saking dia takut mau minta haknya di kursi prioritas dengan keadaan hamil tapi perut belum melembung, sampai akhirnya ibu itu pingsan.  Atau kadang ada nenek-nenek yang emang sih keliatannya masih gagah tapi pas diperhatiin 10-15 menit beliau berdiri mukannya udah pucet.

Buat siapa pun yang menggunakan transportasi massal, mau itu kereta, bus, andong, dokar dll ini bukan prihal siapa yang lebih lelah, siapa yang kuat, dan siapa yang lebih dulu dateng tapi ini masalah solidaritas, kemanusiaan.  Anggep ajalah kita nabung kebaikan buat orang lain, nih contoh deh cowok anak muda kalau ada ibu-ibu yang tolong diangkat badannya, kasih duduk, ya bukan masalah gender juga tapi udah masalah kemanusiawian dan etika.  Kita bermain peran lah, coba bayangin kalau kita hamil rasanya gimana, kalau ibu atau nenek kita diacuhin saat mereka lagi di kereta.  Yuk belajar untu menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap kesusahan orang lain, dan saling menghargai hak orang lain.  Ibu hamil kalau keadaan gerbong udah gak memungkinkan untuk dinaikin (dengan indikasi pintu sudah gak bisa ditutup dengan mudah) yuk bersabar tunggu yang lebih memungkinkan, ada hak anak yang mesti kita jaga sekalipun dia belum lahir.  Yang bukan termasuk golangan penumpang prioritas, ada baiknya kita mengalah kalau yang termasuk golongan prioritas ini tidak mendapatkan haknya secara langsung, tapi kita bisa jadi perantara rizkinya sekalipun hanya sekecil memberi tempat duduk.

Sekali lagi tulisan ini hanya pendapat sederhana saya saja sesuai pengalaman kurang lebih 4 tahun menjadi anak kereta, mohon maaf kalau ada perbedaan perspesi antara saya dan para pembaca.

Lovelill2014






Jumat, 14 Maret 2014

Enjoy this post

Perempuan baik-baik gak akan ngegoda lelaki duluan
Perempuan baik-baik juga gak akan ngedekatin pasangan orang lain, kepikiran buat ngambil aja enggak
Dan perempuan baik-baik ngejaga pasangannya dari perempuan mana pun yang punya niat gak baik

Lelaki itu meski dia setia setengah mati sama pasangannya, bakal ada saat dimana dia jenuh, itu dia kenapa lelaki gak akan pernah bisa hidup hanya dengan satu orang wanita dalam hidupnya meski cuma untuk sesaat. Tugas kita cuma berdoa dan bersabar.

Ibu dalam nasihatnya.

Senin, 10 Maret 2014

When Your Life Just Can Be

Enjoy this post

Kalimat di atas emang belum sempurna, sesempurna memori yang ada jaman "Pra Sarjana" yang pernah ada.

Your Life Just Can be Replayed as Memory, but Can't be Repeated as ...

Mungkin itu yang mau saya lengkapi dari judul yang ada.  Belakangan saya suka kangen sama orang-orang di masa lalu saya.  Entah itu sahabat, temen, guru, mantan pacar, bahkan tukang cilok yang dulu saya beli juga saya kangenin.

Kadang suka ngerasa gak adil sama diri sendiri, bukannya sombong atau gimana ya, seiring banyaknya pertanyaan yang muncul dari orang-orang belakangan ini tentang bagaimana bisa saya menikmati hidup yang semestinya belum harus saya jalanin, ahhh ribet, simpelnya gini "Lo lulus kuliah di umur lo yang muda banget yang seharusnya lo masih di semester 6 seneng-seneng sama temen kuliah tapi lo malah udah ngacir duluan, udah disibukin sama kerjaan ini itulah emang lo enjoy?"  Dan jawaban terjujur saya adalah YA SAYA ENJOY bahkan kalo ada kata di atas kata enjoy, saya bakal lebih milih itu.  Toh saya bukan 1 dari manusia "abnormal"lainnya kan? 

Bukan perkara saya lulus terlalu cepet yang sekarang saya sesalin, tapi perkara cerita yang menurut saya masih terlalu minim.  Masa kuliah S-1 saya dulu abis gitu aja, buat ha ha hi hi yang kebanyakan gak ada juntrungannya.  Percaya atau gak, mahasiswa itu status paling "MAHA", dimana kebebasan,kepercayaan, dan kekuatan yang ada di diri kita bakal dinilai almost 100% perfect lah.  Suka ngerasa iri sama mahasiswa yang mereka punya kesempatan buat ikutan fellowship, atau sekedar summer course, dulu jaman kuliah saya cuma bisa jadi delegasi yang ngewakilin kampus di ajang Nasional, atau mentok-mentok delegasi Internasional rasa Nasional (blaaah bagaimana pulaitu !).

Jaman kuliah rutinitas saya ya gitu,semester 1-2 masih jadi Kupu-Kupu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang).  Bersyukur saya punya temen satu kost yang udah kayak keluarga sendiri, kita juga bukan tipe anak kost yang hobi ngelayab, 11:12 lah sama saya.  Di kostan paling ya masak, nonton TV yang meski udah era 2000-an tapi rasa 90-an, atau ngegosip sambil nyuci baju di belakang.  Menginjak semester 3 (udah jadi senior muda ceritanya), mulai ada kehidupan yang lebih "Berasa", saya dan teman seangkatan di MICE 2009 memang semacem mahasiswa yang lumayan beruntunglah karena kita diharusin nyemplung di dunia "Event Management" yang memang notabene jurusan kita langsung ke industri perevenan.  Ngerasain susahnya nyari duit, jam 12 malem masih di stasiun,nyicipin beli ini itu pake duit sendiri, mualnya makan menu hotel yang terlalu modern di lidah berhari-hari, ya begitulah intinya menikmati hiruk pikuk dunia kerja.

Ngerasa di CV masih kosong melompong dan ngerasa belum cukup banyak temen dan pengalaman, saya pun memilih langkah nasionalis untuk ikutan organisasi kampus, mulai dari UKM sampai BEM.  Serunya ngajar anak-anak sederhana di sekitar kampus, dicengin temen yang beda aliran (aliran anti organisasi), sampe diketawain kuntilanak karena kemaleman rapat.  Disini saya belajar buat mematangkan diri, meredam ego, memperkuat iman, dan terpenting "BERHENTI JADI ORANG MENGELUH".  Saya suka orang-orang di lingkungan organisasi, mereka begitu kekeluargaan, sederhana jauh dari hirukpikuk ha ha hi hi yang berlebih, istilah keilmuaannya "Hedonisme".

Semester 7 yang istilah mahasiswanya "Dedengkot Kampus" rasa-rasa kangen kaya gini udah mulai ada.  Dimana kita mahasiswa MICE 2009 yang sisa 57 ekoran lah karena banyak yang "Dadah Dadah" di tengah jalan. udah mulai sibuk dengan urusan Job Training (Kerja Praktek/KP) selama 6 bulan, 4 bulan masa kerja 2 bulan masa persiapan sidang.  Dan akhirnya semester 8 , semester dimana kita cuma kuliah 3 bulan kurang dan sisanya sibuk dengan TA (Tugas Akhir).  Di semester 8 ini sih yang paling saya sesalin, eh gak boleh nyesel deh entar kesannya malah gak bersyukur.  Semester ini saya udah gak ngekost, pulang pergi Bekasi-Depok, agak gak fokus sama TA karena udah kecapean duluan di jalan, di tambah les tambahan yang o'onnya baru saya ambil di detik-detik meninggalkan jaman Pra Sarjana, jadilah hasil sidang saya gak cakep-cakep banget.  Momen paling gak bisa saya lupain sepanjang semester 1-8 adalah, momen dimana saya selalu nginep di rumah atau kostan temen cuma buat nyelesain tugas, atau ngungsi karena takut sendirian di kostan ahhh itu indah banget lah pokonya.

Duhh kalo diterusin kepanjangan dan entar malah bikin mewek, intinya saya lagi kangen aja.  Kangen lah pokonya !


Lovelill2014

Minggu, 02 Maret 2014

Bagaimana Dunia Kerja Berbicara ?

Enjoy this post

24 Agustus 2009-12 Juli 2013
Menyelesaikan satu babak dalam sejarah hidup
Menjadi sarjana di usia 20 tahun
Dengan IPK pas-pasan
Mengakhiri dengan penyesalan
Tapi harus mengawali dengan PERUBAHAN

Teringat nasehat salah seorang senior di tahun 2009, di acara makrab untuk angkatan saya saat itu "IPK bukan segalanya, tapi segalanya butuh IPK".  Mencoba meresapi kalimat itu, tapi yang namanya saya mahasiswa dablek sehabis diresapi ya dibuang begitu saja, akhirnya sekarang menyesal pun tiada arti.

Tertarik banget buat nulis itu di sini.  Mengkombinasikan dengan fakta yang ada setelah berjuang menjadi seorang fresh graduate yang gak mau jadi sampah keluarga apalagi sampah masyarakat (re: PENGANGGURAN).  

"IPK bukan segalanya, tapi segalanya butuh IPK".

Kita mulai dari kalimat "Segalanya Butuh IPK".

 Ketika kita menjadi seorang fresh graduate yang nasipnya gak bagus-bagus banget (Lulus kuliah bisa ngelanjutin usaha orang tua, atau lulus kuliah nikah muda dengan pasangan kaya raya) alternatifnya ya cuma 2 Kerja atau Kuliah.  Kedua hal ini gak bisa dipisahin dari IPK.  Sempet nyesel karena IPK saya cuma IPK pas-pasan.  Cumlaude enggak, jelek juga enggak.  Tapi saya seneng sekaligus bangga, karena IPK yang saya dapet Alhamdulillah murni pertarungan selama empat tahun jadi mahasiswa idealis.  Saya yang tiap ujian mungkin disebelin temen seangkatan karena gak pernah mau ikutan nyontek, bikin kebetan, usaha sana-sani kalau otak udah buntu, atau seing dianggap pelit karena milih tidur ketika ujian dan keluar dengan kertas jawaban yang padahal gak ada isian (alias KOSONG).  Selepas SMA saya punya tekat untuk berhenti dari kebiasaan buruk saya, FYI jaman sekolah dulu saya termasuk jago buat urusan contek menyontek.  Bahkan saya pencetus ide untuk bikin kebetan di tisu, alih-alih make tisue itu buat ngelap keringet atau buang ingus, tapi sebenernya di balik putihnya tisu ada noda kumpulan rumus atau catatan penting buat dikebet saat ujian, itulah alasan saya mengapa menjadi mahasiswa yang idealis saat ujian.

Kembali kepersoalan IPK.  Sejak awal kuliah ayah selalu bilang "Kalau kamu gak bisa dapet IPK cumlaude atau nama kamu gak dipanggil pas wisuda sebagai lulusan terbaik, minimal IPK kamu bisa buat kamu dipanggil perusahaan buat bekerja."  Bekerja ataupun membuka usaha buat saya itu sama saja, intinya bekerja.  Cuma bedanya bekerja untuk siapa.  Salah satu kesempatan terbesar bagi saya adalah ketika bisa berbincang langsung dengan seorang petinggi di bagian HR (Human Resources) Chevron Indonesia.  Saat itu yang pertama kali beliau tanya adalah berapa IPK saya.  Dengan sedikit malu saya menyebutkan IPK, dan kontan Bapak itu menjawab "Kamu kan perempuan seharusnya bisa dapet IPK yang lebih tinggi dari itu."  

Hampir setengah jam kami mengobrol tentang budaya kerja disana.  Siapa sih yang gak mau kerja di Chevron???  Usut punya usut inti dari pembicaraan kami saat itu adalah, perusahaan ini sangat mengedepankan IPK.  Pertama kali yang dibaca oleh sistem penerimaan online perusahaan ini adalah IPK.  IPK yang kecil akan secara otomatis tergeser dengan IPK yang besar, sampai terlihat kandidat mana yang setelah lolos seleksi IPK juga memenuhi standar kerja yang ada.  Jadi saya sudah pasrah kalau lamaran saya ditolak di sini.

Sebulan yang lalu tepatnya setelah penantian panjang menunggu jawaban dari oil and gass company asal Prancis yang namanya sudah termasyhur saya berkesempatan mengikuti tes meski akhirnya harus FAILED alias GAGAL.  Saya ingat betul ketika sang pewawancara menanyai kekurangan dan kelebihan yang saya miliki, belum selesai menjawab beliau kembali bertanya "it's why You can't get a higher GPA, isn't it?"  emm saya cuma bisa beralibi blah blah and blah.

Dari dua pengalaman ini, saya selalu bilang ke pasangan saya yang saat ini masih menjadi seorang mahasiswa dan punya keinginan besar untuk nyemplung ke dunia offshore, oil and gass "Gak usah buru-buru lulus kalo IPK kamu belum bisa ngejamin kamu diterima di perusahaan impian kamu.  Minimal untuk mata kuliah yang kamu anggap itu krusial bagi industri."  Saya termasuk pasangan yang saklek untuk urusan pendidikan, termasuk pasangan yang galak kalau dia udah melempem sama tugasnya sebagai mahasiswa.  Mungkin karena saya di besarkan dalam sejarah orang-orang yang sulit untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi di jamannya.  Makanya saya gak suka kalau ada orang yang begitu aja nyia-nyiain kesempatan untuk sekolah.

Yang kedua adalah kalimat "IPK bukan segalanya".

 Ini berlaku saat kita udah masuk ke dalam kategori fresh graduate yang beruntung karena udah dapet pekerjaan.  Saya termasuk yang percaya "Your Attitude Determine Your Aptitude" karena sudah membuktikannya.  Di dunia kerja IPK 4. 01 pun ibaratnya gak akan ada artinya kalau gak ada soft skills yang menunjang.  Selain soft skills kita juga dituntut punya keahliaan lain yang mendukung kinerja di perusahaan.  Seperti kemampuan berbahasa asing minimal Inggris, kemampuan komputer di luar sistem operasi MS Office, kemampuan lobbying dan lain-lain.  Itu lah yang menjadi alasan kenapa setiap Minggu saya rela bangun subuh ngejar bus buat berangkat ke tempat les yang jaraknya 2 jam dari rumah, atau tengah malem masih berkutik dengan coding untuk latihan bikin web design.

Sedikit cerita tentang serunya hidup baru saya masuk ke dalam dunia per-HRD-an (Human Resource Development).  Gak perlu saya jelasin lagi apasih HRD itu.  Bersyukur karena saya ditempatin di posisi ini, di posisi yang bisa membuat saya belajar banyak hal untuk menjadi professional worker.  Saya jadi tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan dari perusahaan.  Pekerjaannya memang terlihat simpel tapi tanggung jawab morilnya besar, tim HRD di sebuah perusahaan adalah tombak keberhasilan perusahaan, bukan berarti divisi lain gak penting.  Maksud saya disini adalah, kita punya tugas moril untuk bisa memacu karyawan bekerja lebih giat bersama membangun perusahaan menjadi lebih maju.

Setiap hari harus merekap absen karyawan yang jumlahnya gak cuma seratus dua ratus orang, tapi ribuan (meski gak sendiri sih), melakukan survey secara tidak langsung tentang prilaku karyawan buat dilaporin ke bagian pengembangan yang isinya psikolog-psikolog handal, mikirin konsep pelatihan yang sesuai dengan isue dan memang dibutuhin perusahaan, sampai urusan perut karyawan pun dipikirin.  Mereview menu catering (untuk sarapan dan makan siang) setiap bulannya supaya karyawan gak bosen, konsultasi gizi dengan ahli gizi yang sudah ada supaya karyawan semangat kerja dan gak cacingan hihihihi.

Bisa dibilang saya cukup beruntung karna ada di posisi ini. Seperti yang saya katakan tadi, saya belajar banyak hal untuk jadi professional worker.  Banyak banget kasus yang bisa saya ambil disini, kaya anak yang keliatannya klemer-klemer gak ada motivasi kerja ternyata malah ulet, anak yang IPK-nya tinggi tapi gak punya attitude kerja karna menilai dirinya pinter, atau yang kerjanya males-malesan karna emang dia ngerasa bukan passionnya.  Di sini juga saya bisa mikir lebih bijak kalau bekerja itu bukan semata melulu tentang gaji, meski gak munafik duit itu menggoda banget.  Apa mungkin saya sekarang lagi beruntung karena kerja di tempat yang "fair", dalam artian kerja lo bagus gaji lo juga bagus.  Saya belajar bahwa pencapain tertinggi dalam hidup itu diukur dari kemampuan mengatasi tanggung jawab, termasuk dalam hal pekerjaan.  Your responsibilities will give you higher even highest salary, itu mutlak artinya gaji kita bakal ngikutin tanggung jawab dan performa kita dalam bekerja.  Banyak kok di kapal sana kuli yang gajinya 9.000.000 ke atas, tapi posisinya kuli yang mungkin tanggung jawabnya gak sebesar ketika kita harus membuat satu keputusan penting bagi perusahaan.  Kita bakal punya kepuasan tersendiri saat kita udah dipercaya buat megang tanggung jawab besar, itulah yang saya sebut sebagai pencapaian tertinggi dalam bekerja.

Oke balik lagi ke IPK, Pendidikan itu penting.   Di era pasar persaingan terbuka, AFTA (Asean Free Trade Area) yang mulai masuk ke negera kita, gelar di belakang nama itu penting, apalagi buat negara semacam Indonesia yang mayoritas orangnya gila pangkat.  Buat nyaleg aja minimal ada gelar S (Sarjana) di belakang nama.  Saya juga termasuk orang yang percaya kalau "Allah akan mengangkat drajat hamba-Nya yang berilmu".  Jadi gak akan sia-sia dari yang namanya belajar.  Mumpung ada kesempatan, perbaikin deh kualitas skill kita, kita hidup di jaman yang semakin gila sikut-sikutannya.  Kalau kita yang gak bisa jahat sama diri kita sendiri, kita yang bakal mati dijahatin sama orang lain.  Belajar juga gak harus di bangku pendidikan formal kok, dengan banyak membaca, dengerin keluh kesah orang dan membantu mereka mencarikan solusi itu juga udah belajar (jangan minta dibeliin helikopter aja)

Be person with attitude 
Lovelill 2014

Kamis, 27 Februari 2014

Menikah, Menyegerakan atau Kejar Setoran ?

Enjoy this post

Saya kembali tertarik menulis topik tentang "Menikah" setelah membaca postingan  dua tahun silam tentang "Menikah muda itu enak".  Dari dulu saya memang menginkan untuk bisa menikah muda, maksimal 24 tahun, itupun kalau Allah mengizinkan.


Belakangan saya dikasih kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah lebih banyak.  Untuk pertama kalinya kami berbicara serius mengenai pernikahan.  Pertama adalah ketika saya yang belakangan ini sedang disibukan dengan rencana melanjutkan studi di salah satu universitas di Bandung, jika memang jalannya dan Allah memberikan kepercayaan kembali untuk saya Aamiin Ya Rabbalalamin, rencananya selama 2 tahun saya akan lebih sering tinggal disana dan tentu jauh dari orangtua.  Atas nama kasih sayang dan kekhawatirannya ayah memberikan saya nasihat untuk kuliah sambil nikah, alasannya biar ada yang menjaga saya dan memang sudah kewajiban seorang ayah untuk menikahkan putrinya yang akil baligh sesegera mungkin (Hadits 5 hal yang harus disegerakan : Shalat, Taubat, Membayar Hutang, Mengubur Jenazah, Menikahi Anak Perempuan yang sudah cukup)


Kontan saya kaget, karena saya paham betul ke dua orang tua saya bukan tipe orang yang terobsesi untuk menikahkan anaknya apalagi ibu saya.  Dulu zaman saya kuliah beberapa orang dekat ayah saya sudah ada yang mencoba melamarkan anaknya untuk saya, namun dengan sangat halus dan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat itu ayah menolaknya.  Saya bingung karena beberapa tahunn  ini sudah ada orang yang dengan setia menemani saya, meski belum ada ikatan yang mendekati kata pernikahan alias lamaran.  Pasangan manapun pasti memiliki keinginan untuk bersama, termasuk kami.  Tapi disisi lain, saya hanya seorang anak perempuan yang masih punya kewajiban untuk mengabdi kepada kedua orangtua, toh gak ada yang salah memang dari perjodohan, karena saya sendiri anak hasil perjodohan dan justru menyaksikan keromantisan dan keharmonisan yang luar biasa dari orangtua saya.

Setelah perbincangan mengenai nasehat ayah untuk segera menikah, dua hari kemudian saya menemani beliau bertemu dengan temannya semasa menjadi santri di salah satu pesantren di bilangan Jakarta Selatan.  Entah menyindir atau apa, siang itu mereka sedang bernostalgia saat menjadi santri.  Mereka punya salah satu teman yang terpaksa meninggalkan pujaan hatinya karena tidak bisa bersabar menunggu untuk dipinang.  Saya ingat betul kalimat ayah yang memang sangat menohok (sepertinya memang sedang menyindir)

"Problema anak gadis kan dari dulu sama, kebelet kawin tapi yang diajak kawin belom siap, didesek terus lah lama-lama laki bosen jenuh digituin, ditinggalin katanya dianggap gak serius, cuma mainin anak orang, padahal kan kita jadi laki pengen ngasih yang terbaik.  Nih kaya anak gue dibilangin susah, disuruh cari laki yang umurnya, pengalamannya, pendapatannya, dan pasti agamannya yang lebih mateng, biar kapan pun disuruh ijab qabul udah siap.  Tapi kalo udah cinta susah emang, bikin orang jadi dableg."

Emmm saya cuma bisa nyengir saat itu.  Saya gak punya hak buat nuntut terlalu jauh untuk segera dinikahi oleh pasangan saya, saya gak mau jadi beban untuk dia, gak mau menjadi orang yang mematahkan mimpinya, kalau saya harus milih saya tetap ingin menjadi wanita di balik layar kesuksesannya, dipinang tanpa harus mematahkan apa yang telah diperjuangkan.  Toh saya memang belum siap untuk menikah, kalo ditanya kepingin, saya jawab IYA, tapi menikah itu gak cuma butuh modal KEPINGIN tapi butuh modal yang disebut dengan KESIAPAN.   


Seperti sedang mengalami efek domino, malam harinya saya kembali dinasehati oleh teman saya yang akan menikah beberapa bulan lagi.  Dia memberikan nasihat kepada saya untuk segera menikah, menuruti apa yang diharapkan ayah.  "Makanya gak usah pacaran, jodoh kita kan udah disiapin".  Jleeeeeb.  Ibarat nasi sudah jadi bubur, ya tinggal dikasih pelengkap aja biar rasanya tidak anyeb.  Jadikan pelajaran untuk anak saya kelak.  Saya hanya bisa menjawab nasihatnya sambil senyum-senyum, terbesit iri karena dia sudah sangat siap untuk menikah, itu yang belum ada di dalam diri saya.





" Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)"



Sebagai umat islam saya percaya Firman Allah di atas.  Tapi sekali lagi prihal baik buruknya manusia yang tahu hanyalah Allah, Allah pula yang berhak untuk menilai.   Jika kita sering berkata bahwa yang baik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah, seharusnya kalimat itu juga berlaku untuk menafsirkan ayat ini, bukan lantas selalu  bagaimana dengan fenomena wanita yang baik justru mendapat yang buruk, atau sebaliknya.  Sekali lagi kita juga perlu mempelajari asbabunuzul (sebab-sebab turunya Al-Quran) disinilah pentingnya memahami ayat demi ayat, agar kita tidak tersesat pada kesombongan untuk menghakimi orang lain dengan memberikan penilaian yang sebenarnya bukan hak kita.  Tugas kita kaum muslimin yang masih dalam tahap pencarian adalah, berdoa dan berusaha untuk menjadi wanita/laki-laki yang termasuk kedalam golongan baik di mata Allah.  Biar perkara rizki, jodoh, dan maut Allah yang bekerja, toh memantaskan diri jauh lebih berharga daripada meratapi diri karena belum bertemu jodoh.

Meskipun perkara nikah adalah ibadah, belum menikah bukan berarti tidak bisa beribadah bukan?  Masih banyak yang bisa kita lakukan, ibadah bukan semata-mata hanya menikah, sambil menunggu terwujudnya pernikahan, kita masih bisa beribadah yang lebih banyak.  Berzikir tanpa harus diresahkan dengan lelahnya mengurus anak, shalat malam tanpa harus diganggu dengan "urusan ranjang", puasa sunnah tanpa harus izin dulu sama suami, menginfakan pendapatan lebih banyak karna tidak harus memikirkan pengeluaran untuk keperluan susu anak lah, sekolah anak dll.  Untuk yang masih single belum punya pacar, mumpung terlanjur belum punya pacar lebih baik ikuti nasihat teman saya tadi, dan bagi yang sudah tetapi masih dirasa sulit untuk bersatu entah karena kesiapan atau apa (termasuk saya) yuk mulai meluruskan niat, apakah kita menikah memang untuk ibadah, ikut-ikutan trend, atau "tuntutan" (Naudzubillah).

Saya yang masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih baik

Lovelill2014




Selasa, 25 Februari 2014

Ada anak bertanya pada bapaknya

Enjoy this post

Terimakasih untuk setiap jalinan kebersamaan ya ada
Saat dulu hati membangkang segala pernyataan benar
Dan kehidupan perlahan membenarkannya


2009 . . .

Tahun pertama memasuki dunia perkuliahan yangvkatanya masa paling bebas dari masa yangvada. Dimana semua dianggapntelah dewasa, tapi tidak bagi saya yang saat itu masih berusia lima belas tahun setengah.  Pemandangan wanita dengan asap mengepul yabg kelar dari barang makruh yang merka hisap apalagi kalau bukan rokok, menjadi pemandangan yang aneh buat saya saat itu, maklum saya lukus dari sekolah islam alias MAN (Madrasah Aliyah Negeri).

Saat itu saya belum mengkost, masih hidup menumpang di rumah kakak tertuanya ayah, percaya atau tidak ayah ibu saya juga turut mebemani saya sampai sebulan masa adaptasi.

Saat saya berkesempatan melewati malam bersama ayah untuk sekedar jajan di pinggir jalan, saya mengutarakan fenomena yang saya lihat di kampus sekaligus mengeluarkan hasrat keibgin tahuan saya tentang dunia malam.

Seminggu setelahnya ayah mengajak saya pergi ke tengah hiruk pikuk Kota Jakarta yang semakin malam semakin menggila. Dulu saya masih labil untuk berhijab, seperti biasa dengan celana pendek dan kaos lengan pendek saya mulai diajak masuk oleh ayah. Wooow betapa mau lingsannya saya karna jantung mendadak melemas mendengar dentuman musik yabg begitu keras.  Para kalong malam asik berjoget ala-ala ibu PKK yang sedang pemanasan (versi lebih hits).

Beberapa menit kemudian ayah mengajak sata duduk di meja bar yang selama itu saya hanya bisa lihat di sinetron-sinetron. Entah apa yang ayah pesan malam itu, tenggorakan sayabyang tadibya haus mendadak meringis karna bau yang lebih mirip dengan spirtus yang seribgvsayabgunakan untuk praktek kimia dan biologi.

Tidak mau mati melemas karna jantung yang gak karuan akhirnya saya minta untuk keluar meninggalkan dunia malamnya kaum urban. Diperjalan kami bercakap-cakap layaknya ayah dan anak.

"Gimana seru gak dunia malem"
"Apanya yang seru yah, mending main games di rumah atau tidur"
"Ya begitu deh dunia ajep-ajep. Tadi minumannya gak diminum? Itu mahal loh"
"Idih bensin gitu baunya. Itu namanya wine ya?"
"Bisa dibilang. Ayah kasih tau ya, ayah gak pernah ngelarang km mau mabok, ngerokok, ajeo-ajep asal jgn di belakang ayah. Ayah cuma ngelarang km buat ngeseks, langsung arau gak langsung. Ibaratnya kalo km udah kena itu sm aja kaya km pake narkoba. Kalo km udh pengen bilang aja biar langsung ayah nikahin jadi kamu gak penasaran." Sejak saat itu saya jadi nambah gk suka dengan dunia malam, meski hanya sekedar ha ha hi hi ringan di cafe.  Entahlah saya memang tidak cocok untuk itu, biar kata orang kuper yang penting say sudah bertindak udah sebagaimana mestinya seorang anak perempuan yang masih menjadi tanggung jawab orang tua bertindak.  Every each person has their own decision, mau jadi mahluk noktunal atau tidak.

Emmmm saat itu saya hanya diam, mencoba memasukinya dalam dalam. Ayah memang tipe orang tua yang memberikan pelajaran langsung, bykan teori. Mungkin karna beliau tau babyak tebttang ilmu kejiwaan jadi tau cara yang tepat untuk mengajari dan mendidik saya.

Saya kangen masa-masa bebas bersama ayah, masa dimana saya bisa tertawa, marah, nangis di pangkuan ayah tanpa ada embel-embel risih.

I miss every single moment ayah. Semoga masih babyak waktu yang bisa kita habiskan meaki hanya dengan segelas mie gelas.
 

Template by Best Web Hosting