Rabu, 15 April 2015

Pengalaman Bekerja di Perusahaan Trading

Sembilan sudah saya bekerja di salah satu perusahaan trading di Indonesia.  Bahkan perusahaan trading terbesar di Indonesia.  Besar karena mendompleng nama salah satu perusahaan mobil terbesar di Indonesia, bahkan pasar dunia.  

Perusahaan besar ini berasal dari Jepang, murni sebagai perusahaan trading.  Saya sendiri bingung kalau ditanya apasih perusahaan trading?  Fungsinya apa?  Singkat cerita, perusahaan trading itu makelar alias calo alias orang ketiga, istilah kasarnya kita ini parasut.  Penengah di antara supplier dengan customer.  Artinya, customer tidak membeli langsung ke supplier apalagi maker.

Sejauh saya kerja disini susah senangnya pasti ada.  Saya mau ngomong yang susahnya ya readers.

Susahnya itu lot kerjanya numpuk, well tiap hari kita harus ngurusin seabrek dokumen, terlebih kalau kita cuma kerja sebagai marketing support, istilahnya mah admin.  Terlebih disini 80% bisnisnya adalah impor.  Buat saya orang yang selengean, 3 bulan masa probiotionnadalah masa paling sulit.  Saya dituntut menjadi orang yang lebih aware terhadap hal sepele, seperti penggunaan titik (.) dan koma (,).

Sisi lain dari sedihnya bekerja disini adalah ketika rasa nasionalis anda mulai diuji.  Jujur saya miris setiap kali melihat tumpukan dokumen impor di meja.  Saat ini saya bekerja di divisi metal, sejauh yang kita tahu Indonesia adalah penghasil bahan metal terbesar di dunia, tapi sekaligus pengimpor terbesar.  Bayangkan di tengah kondisi rupiah yang melemah, pemerintah belum bisa menangani "banjir" impor untuk beberapa barang komoditi.

Faktor regulasi tidaklah cukup, pembinaan dan penyuluhan tentang ekspor saya rasa perlu dilakukan, mengingat banyaknyanya produk domestik yang sebenarnya bisa diekspor tapi sulit terlaksana karena salah satu penyebabnya adalah minim pengetahuan tentang proses ekspor itu sendiri.

Sekarang dari sisi senangnya.  Senangnya karna saya bisa belajar untuk lebih teliti, maklum saya orangnya selebor.  Selain itu ibarat mata uang yang punya dua sisi, bekerja di trading juga bisa memberikan peran ganda bagi pelakunya.  Disatu sisi kita harus bekerja sebagai purchasing alias sisi pembeli dan disiai lain kita harus bekerja sebagai sales.  Sungguh dua posisi yang baik bagi para pemula seperti saya untuk memulai karir di dunia industri.

So?
Inilah sisi lain dari dunia trading, apa pun pekerjaan anda, sejauh apa pun itu dari latar belakang pendidikan anda, selama masih muda tidak ada salahnya menciba hal baru untuk mencari relasi, pengalaman dan pembelajaran baru yang mungkin di bangku pendidikan formal tidak bisa kita penuhi.



Lovelill 2015


Rabu, 18 Maret 2015

Emmm ....

Gak tau harus dimulai dari mana.  Belakangan pikiran lagi kusut, mungkin saya masih terlalu dibuat pusing oleh target hidup yang belum banyak saya raih di umur kepala 2 ini.

Ahhh...
Ya Allah bukan saya tidak bersyukur, tapi rasanya saya ingin hidup seperti orang lain yang bebas lepas tanpa embel embel target hidup.

Ngomongin masalah target hidup, entah harus bersyukur atau was was karena sekarang orang tua sudah mulai terbuka dengan pembahasan seputar menikah.  Jujur dulu pembahasan ini menjadi pembahasan paling anti untuk mereka.

Merasa ada yang salah dalam hubungan yang sudah saya jalanin bersama dia selama lebih dari 4 tahun membuat saya ragu untuk meneruskan ke jenjang uang lebih serius.  Ditambah ada banyak hal pembeda yang rasanya ngeri jika harus dipaksakan untuk terus bersama-sama.

Emmmmmmmmmmm

Jumat, 06 Maret 2015

Esensi Bekerja

Enjoy this post

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa bekerja bukan sekedar mencari uang, bukan sekedar menghitung berapa banyak uang yang kita dapat, bukan sekedar "memanjakan" passion yang ada di dalam diri kita.

Bekerja berarti belajar untuk ikhlas menerima takdir. Bekerja sangat berkaitan erat dengan takdir kita terhadap rizki. Semua orang butuh uang, banyak sarjana yang pada akhirnya bekerja di luar gelarnya, bekerja di luar pikiran idealisme mereka, dan bahkan bekerja di luar passion mereka.
Menurut saya passion pada dasarnya suatu hal yang bisa diciptakan sendiri. Pernah dengar bahwa proses mencintai sesuatu bukan muncul tiba-tiba karna pandangan pertama, melainkan karena seringnya kita berinteraksi. Bekerja pun demikian, meski akan menemukan titik jenuh jika setiap hari kita berkutat dengan hal yang sama meski pada awalnya bukan passion kita, tapi cepat atau lambat akan muncul perasaan untuk mencintai pekerjaan tersebut

Seperti saya, hanya lulusan S-1 Sarjana Event Management yang punya passion di dunia masak, tapi harus bekerja di dunia trading bidang metalurogi. Bayangkan betapa peliknya kehidupan setiap hari yang harus saya jalani. Berkutat dengan tumpukan dokumen, bertemu dengn istilah baru, hidup di tengh atmosper bisnis yang kaku, hanya berbekal pengetahuan sepersekian ujung jari mengenai kepabeanan yang saya dapatkan semasa kuliah, dan pengetahuan umum mengenai permetalan saat SMA dulu. Semua teras berat, tapi hidup harus terus berjalan. Semu karena 2 hal yang sangat saya butuhkan, ilmu yang bermanfaat dan uang untuk menyambung hidup.

Jadiesensi bekerja adalah ???

Menggali terus ilmu yang ada di dunia untuk memanjakan hidup kita di akhirat ...

Senin, 02 Maret 2015

Miss You

Ini tentang kerinduan.
Dimana saya rindu beberapa momen yang pernah saya nikmati di kehidupan sebelumnya tetapi, tidak pernah saya nikmati di kehidupan saya saat ini.

Bangun pagi jauh sebelum matahari bangun ...
Hiruk pikuk dunia event ...
Canda tawa teman-teman semasa kuliah ...

Intinya segala hal yang ada di masa lalu ...
I miss you ...

Lovelill2015

Minggu, 01 Maret 2015

Enjoy this post

Entah berapa lama jari, otak, dan hal lain yang saya butuhkan untuk menulis kembali terpakai.  Kesibukan di kantor yang baru, belajar untuk "memperpanjang nama" dengan 1 gelar lagi, rasanya cukup membuat saya penat dan tanpa sadar sedari tadi air mata meleber ke pipi, dan pada akhirnya ketemu 1 cara bahwa saya memang harus NULIS LAGI.

Segala Puji Bagi Allah yang telah menempatkan saya sampai di titik hari ini.  Rasanya mau mengeluh saya sudah sangat tidak punya nyali untuk mengikari segala nikmat yang sudah Allah beri.  Pekerjaan dengan penghasilan yang mungkin tidak semua kawan lama saya di kampus miliki, keluarga yang begitu harmonis lengkap dengan ayah ibu yang setiap harinya menemani.

LANTAS MENGAPA MALAM INI SAYA HARUS MENANGIS???

Mungkin saya lelah,
Tapi,,,
Ah rasanya kalau ada kata TAPI saya akan jatuh bahkan terjun bebas dari makian yang justru membuat saya menjadi mahluk durhaka terhadap nikmat Tuhannya.

Biarlah,
Allah lebih tahu apa yang tersembunyi di balik air mata yang malam ini jatuh tanpa alasan, ah tidak tidak tidak bukan tanpa alasan, hanya saja sulit diungkapkan.

Semoga saya selalu mendapat kebahagian, ketentraman hati dan kekuatan untuk selalu menjadi mahluk yang pandai bersyukur.

Lovelill2015

Jumat, 09 Januari 2015

JAKARTA

Enjoy this post

Jakarta, ada ribuan bahkan jutaan tulisan yang tersimpan apik di data base milik google tentang Jakarta.  Sudah lama saya ingin menulis ini, namun apa daya baru sempat lebih tepatnya baru ada semangat untuk memijit huruf demi huruf di papan keyboard saya.

Kali ini saya mau membahas Jakarta dari sisi lahan mata pencaharian.  Bukan jadi rahasia umum lagi kalau setiap tahun arus urbanisasi ke Jakarta semakin meningkat.  Pemberitaan tentang kejamnya Ibu Kota Negara Indonesia tidak memadamkan niat warga di luar daerah Jakarta untuk berbondong-bondong hijrah dan mengadu nasip ke Jakarta.

I feel like a drama.  Ya, setahun yang lalu tepatnya saat saya diterima di sebuah perusahaan perkapalan harus dengan ikhlas meewati kesempatan emas tersebut dengan satu sebab karena saya harus melewati masa probation 3 bulan lamanya di Kalimantan.  Well sebagai anak perempuan satu-satunya di rumah, sekaligus anak Betawi Aseli (gak maksud rasis) tentu orang tua saya menolak mentah-mentah keinginan saya untuk bekerja disana.  Saat itu kalimat yang diungkapkan oleh ayah saya sama persis dengan kalimat yang diungkapkan oleh Babeh Sabenih (alm. H. Benyamin Sueb) ke anaknya Si Doel dalam drama Si Doel Anak Betawi “ Ngapain jauh-jauh di tengah laut Cuma buat kerja, orang daerah aja pada lari ke Jakarta ngapain kita lari ke daerah.”

Lalu apa korelasinya antara pengalaman saya tadi dengan tulisan ini?

Kalu dipikir-pikir memang ada betulnya juga ucapan ayah saya, tapi gak betul-betul banget karena sesungguhnya daerah-daerah yang penduduknya hijrah ke Jakarta sangat membutuhkan mereka untuk membangun daerah asalnya.  Banyak tenaga ahli yang bekerja di Jakarta berasal dari daerah-daerah yang sebenarnya tertinggal karena kurangnya SDM yang bisa membangun.  

Tinggal di Jakarta gak butuh skill level expert,  kecerdasan level professor, yang dibutuhkan Cuma keberanian dan kemauan untuk bertahan hidup dan memperbaiki kualitas hidup level Hercules,  untuk bisa bertahan dengan segala aturan-aturan dan kekejaman Jakarta itu sendiri.  Kenapa saya bilang gak harus punya skill dan kecerdasan level tinggi?  Coba kita ingat-ingat saat media gencar memberitakan urbanisasi di Jakarta menjelang arus balik pemudik di lebaran, setiap orang yang memutuskan untuk hijrah ke Jakarta saat diwawancarai pasti jawabannya “Karena mau kaya, mau sukses, mau punya banyak uang” intinya adalah KARENA UANG.

Saya pribadi lebih senang menyebut Jakarta sebagai ladang uang, tempat yang tepat untuk mencari uang.  Gak percaya?  Cobalah sekali-kali makan di deretan kaki lima di sekitar perkantoran yang berjajar apik sepanjang Sudirman-Thamrin, atau Kuningan-Tebet, anda akan menemui bakwan dengan diameter kurang dari 10 cm dengan harga 2000-3000/ buah.  Ironisnya bakwan itu hanya di jual di emperan jalan dengan rasa yang sedikit tercampur debu-debu yang bertebaran di sekelilingnya.

Tapi gak jarang mereka yang hanya punya modal nekat, tanpa ada tekad yang kuat untuk hidup di Jakarta dengan cara yang lebih baik dan terhormat justru lebih memilih hidup dengan menjual belas kasihan alias mengemis.  Menemukan pengemis di Jakarta sangat mudah, yang susah adalah menemukan pengemis yang jujur yang memang tidak ada pilihan lain untuk mereka.


Lovelill, 2015
 

Sabtu, 19 Juli 2014

Kepala 2, problematika dan pencariannya . . .

Enjoy this post

Enjoy this post

Jika anda tidak punya ketertarikan dan waktu untuk membaca, silahkan tekan tombol “CLOSE” karena postingan kali ini akan cukup panjang hehehehe.

Kata orang memasuki usia 20 tahun adalah fase tersulit bagi siapa pun, pria maupun wanita.  Ternyata betul, di usia saya yang belum genap 22 tahun ini saya merasakan fase tersulit itu.  Bukan karena tanggung jawab yang semakin berat, bukan karena pertanyaan yang semakin banyak (kapan nikah, kapan bekerja, kapan lanjut kuliah, kapan punya anak blah dan blah)  fase tersulit disini adalah bagaimana saya menemukan titik balik dalam hidup tentang pecarian jati diri dan kepercayaan terhadap Tuhan.

Sulit dijelaskan bagaimana saya harus bergejolak dengan batin yang seolah-olah dirasuki rasa keraguan terhadap keyakinan yang saya pegang.  Perlahan saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya selama ini, dua tahun bukan waktu yang singkat dan mudah untuk menemukannya.  Rasa kecewa yang muncul dari kegagalan yang selalu saya peroleh menambah keraguan saya.  Sulit, bahkan sangat sulit.  Sampai saya pun bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa saya shalat? untuk apa saya beribadah? untuk apa saya berbuat kebaikan dan menghindari keburukan? Untuk apa, kalo saya sendiri pun masih meragukan.

Sampai suatu hari saya lelah dengan keadaan yang sulit ini, saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya.  Ternyata yang salah selama ini adalah, saya belum menjadikan agama saya sebagai kebutuhan dasar.  Saya mulai menyadari bahwa apa yang saya lakukan sebagai umat beragama selama ini hanya sebuah kewajiban, disitu saya mengerti bahwa keikhlasan adalah kunci utama untuk menjadikan agama sebagai kebutuhan bukan kewajiban.

Tidak bermaksud untuk ria.  Sejak saat itu saya mulai sering merenung kesalahan apa yang selama ini telah diperbuat, mulai meyakini bahwa kegagalan yang saya alami bukan karena Allah tidak sayang.  Satu persatu pikiran dan perasaan saya mulai bekerja, rasanya seperti dipukul algojo bertubi-tubi jika mengingat satu persatu kesalahan yang pernah saya buat.  Hingga disatu titik saya tersadar bahwa, tidak ada doa yang tidak terkabul, hanya ada doa yang tertangguhkan pengabulannya untuk waktu, peristiwa, dan orang yang lebih tepat.  

Benar sebuah nasihat ringan yang sering saya dengar melalui alunan lagu milik Opick, obat hati itu hanya ada 5 perkara: 
  
Membaca Al-Quran dan maknanya 

Inilah salah satu peranan terbesar yang mengantarkan saya pada titik balik kehidupan beragama yang selama ini saya pertanyakan.  Saya mulai mencari tahu kebesaran Sang Rabbi dengan membaca terjemahan demi terjemahan Kalam-Nya. Kesalahan saya yang dulu adalah,tidak membaca makna yang terkandung di dalam Al-Quran, padahal kandungannya jauh lebih indah ketimbang kita hanya membaca huruf Arabnya saja, tidak ada kata lain selain mengucap Subhannallah, dan maha benar Allah dengan segala firmannya (Saya akan menulis d postingan selanjutnya tentang ayat-ayat yang membuat saya semakin percaya tentang islam sebagai agama yang saya anut, percayai, dan butuhkan). 
  
Perbanyaklah Puasa

Ada stu hadits yang mengatakan bahwa belum terkabulnya perkara doa karena terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh.  Saya rasa begitu banyak artikel yang sudah menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan jasmani maupun rohani, entah itu puasa wajib di bulan Ramadhan atau puasa sunnah.
     
           Shalat Malam Dirikanlah

Terdengar sulit memang untuk mendirikan shalat malam, tapi ternyata betul adanya waktu terdekat manusia dengan Rabbnya untuk berkomunikasi dan mengeluarkan peluh yang ada adalah tengah malah.  Saya mulai belajar tegas terhadap diri saya untuk paling tidak minimal seminggu dua kali berkomunikasi dengan Allah di waktu tengah malam.  Sampai suatu hari saya mulai berada di titik “INILAH YANG SELAMA INI SAYA CARI: KETENANGAN BATIN & KEYAKINAN”.  Saya mulai dihadapkan dengan kenangan masa kecil saya tentang betapa teganya ayah ibu saya mendidik saya dalam urusan agama, badan saya terasa menggigil saat saya kembali mengingat guyuran air yang sering ayah ibu siramkan kalau saya tidak mau shalat dan mengaji, dan titik balik ini seolah-olah membuat saya lebih paham seberapa sayangnya mereka terhadap kehidupan saya, bukan hanya kehidupan dunia tetapi juga akhirat. 
      
      Perbanyak dzikir malam

Mungkin yang selama ini kurang saya lakukan ada berdzikir di malam hari, saya jarang berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam waktu dan intensitas yang lebih lama.  Benar firman Allah bahwa, Tidak akan berubah nasip suatu kaum jika tidak dia sendiri yang merubahnya.  Pencarian saya saat ini membenarkan bahwa hidayah itu tidak datang dengan sendirinya tapi harus dicari.  Dalam pencarian panjang ini, tiba-tiba saat saya sedang melalui sebuah rumah yang sedang mengadakanpengajian entah mengapa saya tergerak untuk melajukan kendaraan saya dengan kecepatan sangat pelan, saat itu saya mendengar ustadz tersebut sedang memerikan tausiah tentang manfaat Qiyamul Lail (Ibadah Malam) salah satunya adalah Shalat Sunnah Tasbih.  Tiba-tiba saya kembali teringat cerita guru ngaji saya saat umur 7 tahun “Kerjakanlah Shalat Sunnah Tasbih, jika tidak sanggup setiap hari, seminggu sekali, jika tidak sanggup sebulan sekali, tidak sanggup juga setahun sekali, tetapi jika tidak sanggup SEUMUR HIDUP SEKALI”.  Kalimat SEUMUR HIDUP SEKALI itu yang membuat saya tergerak untuk kembali bertanya, “Sepersekian detik kemudian saya masih bisa gak ya Shalat Sunnah Tasbih?”.  Pertama kali saya melakukan itu, saya pun bingung apakah shalat saya sah atau tidak karena saya terus menerus menangis dari satu gerakan ke gerakan yang lain, dan baru kali itu saya merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
          
      Berkumpulah dengan orang shaleh

Jika kita berteman dengan tukang minyak wangi, kita pun akan demikian.  Ternyata betul karena pergaulan mempengaruhi pembentukan karakter.  Saya juga semakin percaya bahwa setiap pertemuan ada maksud yang hendak disampaikan oleh Allah.  Disini saya mulai sadar bahwa betapa sayangnya Allah terhadap saya karena saya pernah mengenal teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) saat kuliah dulu.  Sebuah organisasi yang awalnya saya ikuti hanya karna ingin memenuhi lembaran pengalaman, teman-teman yang sering saya anggap terlalu kolot padahal mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang mempertahankan kebenaran dan ketaatan mereka terhadap agama.  Saya mulai mengingat-ingat bagaimana teman perempuan muslim saya berpakaian, kesantunan dan ketaatan mereka dalam beragama.

Jujur titik balik ini mambuat saya takut untuk melewati ujian keimanan dari Allah berupa kesenangan, bukan saya tidak ingin senang tapi saya takut saat kesenangan itu datang keimanan ini kembali melemah.  Tapi saya yakin, selama Anak Adam masih bernafas selama itu pula keimanan ini akan diuji, dengan kesenangan maupun kesusahan.  Semoga saya dan kita semua termasuk di dalam golongan orang-orang yang beristiqomah dijalan-Nya.  Aamiin Ya Rabbalalamin.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Lovelill



Senin, 30 Juni 2014

Pemilu 2014, Democracy or Democrazy ?

Enjoy this post


Dua periode sudah Indonesia menikmati rasanya dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat pasca reformasi 1998.  Tinggal menghitung hari bagi kita untuk menentukan siapa pemimpin kita kelak.  Tulisan ini saya buat hanya untuk sekedar menampung aspirasi saya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, bukan untuk berkampanye membela si 1 atau si 2, bukan pula untuk memperkeruh keadaan yang semakin ruwet yang keburu beredar di sosial media, koreksilah jika tulisan saya kali ini dianggap keliru, mari kita belajar menjadi pemilih yang cerdas, terutama saya yang baru tahun ini bisa merasakan pest demokrasi yang sesungguhnya.

Berbicara menganai pemilihan umum, mari kita kaji dalam dua aspek yakni pemilu legislative (DPR, DPRD, DPD) mereka semua adalah wakil rakyat yang akan menjalankan konstitusi penuh terhadap NKRI, mereka pemegang amanat terpenting  dimana segala peraturan perundang-undangan yang menjadi penentu hidup dan matinya rakyat Indonesia selama satu periode kedepan bahkan lebih karena kita tahu bahwa undang-undang bersifat kekal selama tidak ada amandemen yang menggantikan bahkan menghapuskan undang-undang tersebut, yang mengatur keungangan bangsa dalam APBN, dan penentu iya atau tidaknya keputusan yang dibuat oleh presiden. selengkapnya tentang sistem politik Indonesia

Jujur saya menyesal karena di pemilu legislatif kemarin belum menggunakan hak pilih saya secara bijak.  Mungkin ini permasalahan hampir semua rakyat Indonesia, 500 kursi itu tidak sedikit, artinya sebagai rakyat kita juga merasa kesulitan untuk mengenal siapa dan bagaima para calon pemimpin kita.  Tapi sudahlah, anggap saja ini pelajaran bagi saya jika kelak masih bisa memilih pemimpin berikutnya.

Pemilihan kedua adalah pemilihan presiden yang akan dilaksanakan 9 Juli 2014.  Politik itu ibarat kita sedang jatuh cinta, dibutakan dengan segala penilaian yang pada dasarnya belum tentu 100% kita tahu.  Kita gerah dengan pemberitaan negative yang saling menjatuhkan masing-masing calon presiden, padahal salah satu diantara mereka adalah calon pemimpin kita, dan tidak sepatutnya pula kita membuka aib orang lain, dengan maksud dan tujuan apa pun itu.  

Sebagai seorang umat islam saya percaya Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 247:

Dan Nabi mereka pula berkata kepada mereka:"Bahawasanya Allah melantik Tholut menjadi raja bagi kamu. Mereka menjawab: "Bagaimana dia mendapat kuasa memerintah kami, sedang Kami lebih berhak dengan kuasa pemerintahan itu daripadanya, dan ia pula tidak diberi keluasan harta kekayaan?" Nabi mereka berkata:" Sesungguhnya Allah memilihnya (Tholut) menjadi pemerintah kamu, dan mengurniakannya kelebihan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan". Dan (ingatlah), Allah jualah Yang memberikan kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (RahmatNya dan PengurniaanNya), lagi meliputi ilmuNya."

Notes: Raja Tholut adalah seorang raja yang dipilih oleh dalam peperangan melawana pasukan Jalut untuk memperebutkan tanah Palestin, dimana Bani Israel merasa Tholut tidak pantas menjadi seorang raja karena beliau hanyalah seorang petani yang miskin.
Perlu digaris bawahi bahwasanya Allah yang berkehendak atas siapa saja yang akan diberikan amanat dalam pemerintahan.  Biarkan segala perkara setelahnya menjadi urusan Allah SWT, tugas kita sebagai anak bangsa adalah memilih calon ulil amri yang akan menjadi pemimpin kita kelak  

QS. An-Nisa ayat 58:
 (Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil, sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat).

Dan mentaati keputusan yang sudah dibuat adalah keputusan sesudah para pemimpin itu terpilih, 
QS. An-Nisa ayat 59:  
Wahai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan RasulNya dan ulil amri di antara kamu …

Layaknya cinta yang sedang mencari pasangan, tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk para pemimpin kita kelak. Pemilihan Umum 2014 ini adalah forum demokrasi, bukan democrazy, dimana setiap orang berhak memilih yang menurutnya baik, tidak ada yang salah, yang salah adalah orang yang bersikap acuh terhadap bangsanya.

Lovelill
Bekasi, 30 Juni 2014
 

Sumber:

  1. Al-Quranul Karim http://quran-terjemah.org/
  2. http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2013/07/ketatanegaraan-indonesia-struktur-pemerintahan-amandemen-lembaga-negara.html
  3. http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-quran-dan-hadist/kisah-talut-dan-jalut.html 


Minggu, 18 Mei 2014

Bukan Drama FTV

Enjoy this post

FTV (Film Televisi) yang ceritanya kadang bikin kita kepingin untuk punya cerita yang sama.  Masalah yang pelik tapi endingnya bahagia, meski gak jarang endingnya sedih sesedih pacarnya yang meninggal karna kecelakaan lah, sakitlah, dibunuh, bahkan bunu diri.

Seseorang pernah berkata kepada saya "Dalam hidup kita harus tegas memutuskan bagian mana yang harus ditolerir dan tidak supaya kita gak sakit hati terus".  Well, postingan ini mungkin postingan sampah dimana sebenarnya saya sedang melakukan proses treatment, sekali lagi blog ini adalah media saya untuk menstimulasi pikiran dan hati saya dalam keadaan senang maupun sedih, jadi kalau dirasa blog saya kurang berbobot, itu sangat benar heheheh.

"Dalam hidup kita harus tegas memutuskan bagian mana yang harus ditolerir dan tidak supaya kita gak sakit hati terus".  Kalimat itu yang sekarang menjalar ke seluruh saraf di kepala saya.  Bukan prihal percintaan saja yang butuh batasan untuk bisa ditolerir, semuanya entah itu pekerjaan, keluarga, dan pertemanan.  Kita harus punya batas yang disebut dengan prinsip, ngomong emang gampang tapi ngejalaninnya susah.  Kadang kita merasa udah terlanjur nyemplung lah, sayang lah udah bertahun-tahun bla dan bla.  Tapi apa kita bisa bertahan dengan kondisi yang justru mendzolimi diri kita sendiri?  Pikiran dan tenaga yang bersatu menjadi satu kesatuan hidup juga punya hak untuk tidak meneruskan sesuatu yang dianggap sudah jauh menyakiti si empunyanya.

Ibarat kita makan cotton candy yang dibuat dari gula pengawet, rasanya begitu ringan dan manis di mulut, tapi pahit di tenggorokan.  Sekali lagi hidup kita bukan drama FTV dimana untuk mengakhiri ceritanya hanya butuh satu dua babak permasalahan dan bisa selesai dengan akhir yang bahagia.  Hidup itu lebih kompleks, dan kita gak pernah tahu seberapa lama Tuhan memberikan kita jatah hidup, kalau kita dipercaya punya umur panjang, tidak mungkin kita berada dalam satu jaring permasalahan yang sama dengan waktu yang lama.  Senang dan sedih ada masannya, lama pendeknya kita yang menjaga, dan Tuhan yang memberi.

Kamis, 24 April 2014

Peran Ayah dalam Dunia Parenting

Enjoy this post

Wiiih berat ya kayanya judulnya, padahal saya sendiri belum berkeluarga.  Belum berkeluarga bukan berarti saya gak punya keluarga, Alhamdulillah saya dititipkan di tengah keluarga yang harmonis dengan ayah dan ibu yang Insya Allah amanat dalam menjaga saya.

Berbicara mengenai parenting belakangan bulu kuduk saya dibuat merinding dengan pemberitaan seputar pelecehan seksual, gak hanya di media massa tapi kejadian serupa juga menghampiri salah satu murid taman kanak-kanak tidak jauh dari kediaman orang tua saya saat ini.  Saya mencoba menulis ini setelah sharing dan membaca berbagai literatur tentang parenting, kalo boleh jujur aslinya sih saya lagi bingung gimana nanti kalau saya jadi orang tua harus mendidik, menjaga, dan mengasuh anak saya.
Ini juga pelajaran buat saya sebelum mengakhiri masa lajang yang entah akan terjadi kapan dan dengan siapa.  Terkadang sebagai perempuan single kita sering lupa bahwa hakikat mencari pasangan juga bukan perkara teman hidup untuk menjadikan kita nyaman seumur hidup bersama dia, padahal perkara setelahnya itu jauh lebih penting, perkara iya atau tidak kita akan melahirkan nantinya kita juga butuh seorang pasangan yang bisa memaikan peran yang lebih dari sekedar pasangan idaman yakni ayah idaman untuk anak-anak kelak.

Suami idaman belum tentu bisa menjadi ayah idaman untuk anaknya, artinya adalah anak tidak bisa memilih dengan siapa dia akan dititipkan oleh pencipta-Nya, sekarang ini banyak suami idaman para wanita yang berhasil dimiliki, dengan kriteria mapan secara materi, enak diajak berkeluh kesah dan dengan sedikit bonus ketampanan, tapi mungkin setelah punya anak dia berubah menjadi sosok ayah yang hanya sibuk dengan membahagiakan anaknya hanya melalui materi dan lebih memilih membela diri dengan istilah "Tugas suami kan mencari nafkah, ya tugas istri dong yang mendidik anak."

Halooooo rasanya kalau ada seorang ayah yang ngomong begitu saya pengen banget teriak di hadapannya sambil bilang "Halooooo kan bikinnya sama-sama masa ngedidiknya gak mau sama-sama".  Anak itu butuh panutan, dan panutan utama adalah kedua orang tuannya.  Banyak yang bilang perempuan itu harus cerdas, karena dia madrasah utama bagi anaknya, tapi kadang kita lupa sebuah madrasah (sekolah) pasti punya kepala sekolah, siapa sosok kepala sekolahnya?  Ya pastinya ayahnya.

Kalau dalam rumah tangga sosok suami, dan ayah hanya berperan sebagai pelindung, tukang ngebenerin genteng yang bocor, dan pencari nafkah untuk anaknya itu artinya dia belum menjalani tugasnya sebagai kepala sekolah, hanya menjalani perannya sebagai penjaga sekolah. Seorang ayah sebagai kepala sekolah di dalam pendidikan anaknya adalah penentu visi bagi pendidikan anaknya kelak, kemudian menetapakan dan menjalankan misi bersama istrinya. Ibarat pesawat dia harus punya dua sayap untuk membawa penumpangnya selamat sampai tujuan (ke jenjang pernikahan anaknya kelak) dan kembali melakukan penerbangan yang baik dan bahkan semakin baik.

Sebagai contoh sederhana, ketika seorang anak tumbuh dan memasuki tahap Akil Baligh, bagi anak perempuan mungkin kita bisa dengan mudah mengetahui oh anak perempuan kita sudah akil baligh karena dia sudah mens dan setiap bulan kita juga bisa dengan mudah mengecek siklus menstruasinya, tapi apakah pernah bahkan saya kira hampir semua orang tua tidak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mengalami mimpi basah yang artinya itu adalah salah satu tanda bahwa dia sudah akil baligh dan sudah dewasa, sudah memiliki kewajiban penuh untuk beribadah (ini dalam perpsektif saya sebagai umat muslim), kalau kita gak pernah tahu kapan anak kita pertama kali mimpi basah, kita gak akan pernah sadar kalau anak lelaki kita sudah dewasa, dan kita gak bisa marah-marah begitu saja ketika dia tidak mau shalat subuh karna mungkin malamnya dia mimpi basah.  Saat kita tahu pertama kali anak kita mengalami pubertas, kita juga bisa meminimalisir kejadian yang gak diharapkan dari anak kita, semacem pacaran yang berlebihan yang justru mengarah kepada tindakan seks pra nikah (petting maupun making love).

Seks edukasi pada anak saya rasa sekarang butuh, yang mengkomunikasikan yang tentu orang tua, dimana ibu mencoba mengkomunikasinnya pada anak perempuannya, dan ayah pun demikian kepada anak lelakinya, memberitahu dengan bahasa yang sederhana namun dapat dimengerti tentang bagian mana dalam dirinya yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh orang asing dan lain sebagainnya.

Di agama saya, islam pun mengajarkan dalam kita Al-Quran bahwa seorang ayah lah yang berperan penting dalam pembentukan mental dan pola pikir anak, terbukti dengan tokoh Lukman di surat Lukman, yang saya ketahui dari asbabunnuzul surat ini (sebab-sebab turunya Al-Quran) Lukman memang bukan Nabi, tapi terpilihnya nama Lukman dalam Al-Quran karena kepatuhan, dan keshalihan beliau dalam mendidik anaknya, bahkan Nabi Ibrahim a.s. beliau adalah seorang ayah yang sangat sibuk, dan suka berpergian jauh tapi beliau masih bisa mendidik anaknya dengan kasih sayang dan perhatian sehingga anaknya berhasil menjadi seorang nabi pula.

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menemuimu hanya untuk urusan materi,
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah berbadan dua 
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah menodai anak gadis orang lain
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa anakmu jauh darimu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak dia berkeluh kesah dengan kelakuan anakmu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa dia lebih memahami anakmu dibandingkan kamu
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Mari belajar menjadi sosok ayah yang bukan hanya panggilan di dalam keluarga, tapi menjadi seorang ayah yang hangat, menjadi seorang ayah yang menjadi satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah bagi anak-anaknya, jadilah sosok teman hidup bagi istrimu kelak yang kiranya bisa diajak menjalankan satu visi yang sama membangun madrasah pertama bagi titipanmu kelak.

Lovelill2014

Minggu, 20 April 2014

Dangdut is the Music of My Country

Enjoy this post

"Dangdut is the Music of My Country".  Yaa, dari judulnya aja udah keliatan apa yang bakal saya bahas kali ini.  Dangdut, apsih yang ada di benak kalian kalau denger kata dangdut?  Norak? Alay? Kampungan?  Menurut saya, seenggak suka apa pun orang sama dangdut, pasti ada aja lagu dangdut yang dia apal, minimal tahu nadanya.

Saya setuju banget sama judul lagu project pop yang sekaligus menginspirasikan saya buat ngebahas ini di tulisan.  Bicara masalah dangdut, dari kecil saya udah dicekokin banget sama genre musik ini.  Ayah saya fanatik banget sama dangdut, apalagi sama Mansyur S. Dari kecil setiap jalan pasti nyetel lagu-lagunya, kadang di rumah juga gitu, terus punya tetangga juga hobi banget sama dangdut, percaya atau enggak kalo udah dengerin lagu dangdut beeeh tetangga saya nyetel dengan volume suara ala-ala orang mau hajatan.

Belakangan ini yang ngaku fans setia dangdut pasti banget salah satu program ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di salah satu stasiun TV swasta.  Saya hampir tiap malem nonton ini, ya awalnya sih karena udah males berebutan remote TV sama ibu, tapi pas diikutin acara ini bagus juga.  Saya salut sama pemilihan dewan juri dan pembawa acaranya yang berhasil ngedongkrak acara ini jadi lebih berkelas.  Saya juga setuju banget sama salah satu jurinya yakni si Ivan Gunawan yang selalu ngasih masukan ke peserta bahkan secara gak langsung ke penyanyi dangdut lainnya buat terlihat lebih classy dan mahal, gak kayak penyanyi dangdut yang joget gak karuan dengan pakain ala-ala perempuan nakal di pengkolan.

Setuju gak sih kalau saya bilang lagu jaman sekarang (dangdut maupun genre lainnya) kurang bagus di banding yang dulu?  Kalau sekarang lirik ya cuma lirik, ngasal yang penting enak didenger, dan gampang diinget, beda sama dulu yang liriknya lebih ke arah syair yang puitis dan punya makna yang jauh lebih dalam. Kalau gak percaya coba aja bandingin lagu patah hati jaman sekarang sama jaman dulu bagus mana.

Balik lagi yuk ke Dangdut is the Music of My Country.

Dangdut itu lagu universal, seperti yang tadi saya bilang seenggak suka apa pun orang sama genre lagu ini minimal ada satu lagu yang dia tahu.  Ya gimana gak mau tahu, dimana-mana pasti ada aja orang yang dengerin genre lagu ini.  Di pengkolan jalan, pasti ada aja tukang ojek yang nyetel lagu ini, di kondangan mau itu yang hajatan suku Jawa, Sunda, Batak bahkan Papua.

Nah salah satu lirik yang saya suka banget dari salah satu lagu dangdut ciptaan H.Rhoma Irama yang berjudul Roda Kehidupan "Lain orang lain cobaan, itulah keadialan Tuhan".

Lovelill2014

Jumat, 18 April 2014

Your 1st Salary Determine Your Rejeki

Enjoy this post

Sebenernya udah lama banget kepingin nulis ini disini, tapi apa daya baru kali ini saya punya cukup tenaga buat ngetik dan mikir apa yang mau saya kembangkan di postingan ini.

"Your 1st Salary Determine Your Rejeki"

Apasih maksudnya judul di atas?

Kalo diartiin kedalam bahasa Indonesia sih "Gaji Pertamamu Mencerminkan Rejekimmu".  Kalau kalian seseorang yang akan bekerja atau sudah bekerja dan akan mendapatkan gaji pertama mungkin postingan ini akan sangat berguna (haaahahaha pede).

Saya dapet kalimat itu dari ayah saya.  Sekarang pertanyaan saya adalah, saat kalian dapat gaji pertama dari hasil kalian bekerja, kemanakah uang itu mengalir?  Kalau jawabannya ke tangan kedua orang tua kalian, bersyukurlah karena Insya Allah rejeki kalian selanjutnya akan dipermudah.

Sedikit mengorek pengalaman pertama saya ketika mendapatkan gaji pertama hasil kerja sendiri (Tahun 2010, saya bekerja part time sebagai event freelancer) saat itu gaji saya hanya Rp 525.000,- untuk 3 hari kerja.  Gak seberapa sih, tapi puas banget rasanya, saat itu saya masih duduk di bangku semester 2.  Meskipun cuma seiprit dengan rasa takut saya memberikan uang itu untuk ibu, wiih pasti ibu saya bertanya-tanya dapet uang dari mana sebesar itu dalam waktu seminggu, padahal uang mingguan saya saat itu juga gak sebesar itu, akhirnya saya jelaskan asal usul uang tersebut yang Insya Allah HALAL.  Tiga tahun kemudian tepatnya saat saya sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan, saya kembali melakukan hal yang sama, dengan tulus dan ikhlas tanpa diminta oleh orang tua, saya pun kembali memberikan gaji pertama saya yang saya dapat setelah lulus kuliah.  Dari semester dua saya memang sudah bekerja paruh waktu, demi pengalaman tambahan sekaligus uang jajan tambahan untuk traveling (hahaha).

Sebulan kemudian saya berbincang dengan Empok (panggilan untuk asisten di rumah), saya merinding dan cuma bisa membiarkan mata saya membendung air mata saat si Empok bilang ibu pernah nangis saat cerita sama dia kalau barusan ibu dikasih uang dari gaji pertama saya.  Saya gak nyangka ibu bisa sebegitu senengnya padahal pas saya kasih eksperesinya datar dan cuma bilang "Buat Ibu?" (Ibu saya emang punya gengsi akut buat bersikap romantis ke saya).

Orang tua sampe kapan pun gak akan pernah minta dari anaknya barang sepeser sekalipun dalam keadaan kepepet.  Saya tahu banget perjuangan orang tua saya sampai saya bisa menjadi seorang sarjana itu besarnya gak akan sebanding dengan uang yang saya kasih ke mereka.  Saya inget saat ayah saya cerita tentang anugrah limpahan rejeki dari Allah sebagai jawaban atas kegigihan dan kepatuhannya terhadap orang tua.  Ayah saya dulu yatim, Ama (Kakek) saya meninggal saat ayah masih kecil.  Dulu hidupnya sengsara, singkat cerita beliau menghidupkan diri beliau sendiri, dan saat umur 7 tahun beliau sudah bekerja sebagai "Pengajar Ulung", dulu beliau ngajarin temen-temennya yang kesulitan buat ngerjain PR, karna beliau punya otak di atas rata-rata anak umur 7 tahun, beliaupun bekerja sebagai "Pengajar Ulung", seperak dua perak beliau simpan untuk dikasih ke Nenek, untuk beli beras yang akan mereka santap menjadi bubur bersama denga keenam saudaranya yang lain.  Beliau juga tidak pernah lupa menyisihkan seperak uang untuk disedekahkan atas nama almarhum ama.  Dari gaji pertamanya yang cuma seperak itu, Alhamdulillah Allah melapangkan rejekinya, kehidupan beliau semakin kesini semakin membaik, dan Alhamdulillah kebaikannya itu juga saya rasakan sampai hati ini hehehe.

"Kalau gaji pertama kita udah kita kasih dengan ikhlas ke orang tua kita, Insya Allah rejeki kita selanjutnya bakal lancar.  Your 1st Salary Determine Your Rejeki.  Orang tua emang gak minta, tapi mereka gak akan pernah ngeliat sebesar apa yang dikasih, mereka cuma mau liat hasil didikan mereka buat ngejadiin anaknya mandiri udah berhasil.  Kalau orang tuanya meninggal,kasih haknya lewat sedekah, karna 3 hal yang gak akan pernah keputus saat anak adam mati: Ilmu yang bermanfaat, amal ibadah dan doa anak shaleh."

Yaa kira-kira itu yang ayah saya sampaikan, kurang lebih yang bisa saya ingat seperti itu.  Saya bersyukur punya ayah yang bisa berperan menjadi apa pun yang baik untuk saya.  Bukan sekedar seorang ayah yang statusnya memang berkewajiban sebagai ayah, bekerja dan menafkahinya saja.  Ayah saya partner terhebat, beliau bisa jadi guru, ustadz, sahabat, pacar, bahkan musuh (hahaha musuh main ledek-ledekan).

Oh iya kira-kira dua minggu lalu juga saya ngobrol santai dengan teman saya semasa kuliah dulu, namanya Ijal (gue berharap rejeki lo di pesiar ya jal biar gue bisa traveling gratis), yang bilang kalau mau sukses dikerjaan juga kita harus punya link, link itu penting, kalo gak ada link kita gak akan sukses, apalagi linknya sama yang di atas, sama Allah.  Saya cuma bisa ketawa karena saya baru mudeng sepersekian menit, iya juga sih.  Jadi saya semacem nemuin formala hebat untuk mempersiapkan masa depan saya yang hebat pula, yaitu kalau mau sukses kita harus bersikap baik terhadap orang tua dan tetap membangun link yang kuat dengan Allah, karena gak akan ada artinya kalau gaji besar tapi yang kita bangun hanya urusan dunia.

Mungkin ada juga sih yang ngerasa bahwa ini kan hasil kerja gue, ya gue lah yang lebih berhak buat ngatur semua.  Sebagai fresh graduate saya tau banget rasanya "KAGET" megang uang banyak dari gaji sendiri, kalap mau beli ini itu apalagi dengan sistem online shop yang merebak dimana-mana, tapi kalau saya pribadi saya lebih seneng ngasih semua gaji saya ke ibu saya, karena uang kita bakal diputer sama beliau.  Ibu-ibu itu manager keungan paling handal, tapi saya mohon maaf kepada para pembaca yang mungkin ibunya sudah tidak ada, tapi tidak ada bukan berarti tidak ada yang bisa kita jadikan panutan kan?  Yuk kita coba-coba mengingat bagaimana selama masa hidupnya beliau menjadi pengaturn keuangan terbaik di keluarga, kita contoh yang baik dari beliau dan kita perbaiki yang buruknya.

Gak akan pernah ada rejeki yang sia-sia saat kita kasih untuk keluarga terutama orang tua.  Jangan pernah bangga kalau hari ini kita bisa hura-hura dengan uang orang tua, tapi banggalah ketika kita sudah bisa menjamin masa tuanya akan jauh lebih bahagia dari masa muda yang pernah mereka beri untuk kita.  Uang gak akan seberapa tapi doa dan sikap baik kita itu akan jauh lebih berharga, karena orang tua gak cuma butuh bahagia di dunia, tapi juga disana di akhirat.



Lovelill2014



Rabu, 16 April 2014

Humanity Problem

Enjoy this post

Sepagian path saya diwarnai postingan yang agak sedikit beda dari biasaya yang biasanya cuma isian dumelan semerautnya jalanan ibu kota.  Sebelumnya saya mohon maaf kepada, ehem Mbak Dinda yang hari ini mulai populer dengan hujatan di sosial media.  Baiklah perlu diketahui tulisan ini bukan untuk ikutan menghakimi Mbak Dinda dan membela ibu hamil, apalagi untuk ikutan mendongkrak "kepopuleritasan" Mbak Dinda (hahahah gak banget lah yah), ini cuma sekelumit pendapat pribada saya, si ANKER (Anak Kereta) yang kurang lebih 4 tahun menjadi pengguna sekaligus pengamat perkeretaapian di ibu kota (tsaaaah gayak).

Kurang lebih 4 tahun saya memilih Commuter Line (CL) yang dinaungi oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia) sebagai sarana transportasi untuk pulang pergi Rumah-Kampus (Bekasi-Depok), mulai dari kereta ketek (kereta ekonomi) yang harganya 2000 perak, sampai kereta Pakuan yang harganya 16.000, terus kereta ketek mulai ditiadakan, dan harga CL melambung bak harga cabai sampe akhirnya turun lagi kaya harga cabe-cabean, semuanya sudah saya alamin, ya istilahnya pait, getir, manis, naik CL udah saya telen lah.

Mbak Dinda mungkin bukan cuma 1 dari 1.000.000 pengguna CL yang "ngedumel" tentang gak enaknya naik CL apalagi sampai ada tragedi rebut-rebutan bangku.  Saya juga kadang jengkel sama orang yang asal nyerobot aja tempat duduk yang udah lama saya incar, paitnya ya gitu kalo yang ngincer justru orang-orang yang berstatus PRIORITAS (Anak kecil, Ibu hamil, Lansia, dan Orang Berkebutuhan Khusus) yang gak kebagian tempat duduk karna emang nasip udah gak kebagian, atau karna hak mereka di rebut sama orang yang "MAU BANGET" diprioritasin.  Kadang orang Indonesia juga susah dibilangin, banyak banget yang duduk di kursi prioritas padahal tandanya udah segede gajah hamil, malah saya pernah sengaja ngejambak mas-mas yang dengan pulesnya tidur disini.  Ya kalo udah ada tanda tolong banget sih pengertiannya mau kereta penuh atau kosong ya jangan dipake, sadar diri aja kalo kita bukan termasuk golongan prioritas.

Oke buat yang gak tau suasana di CL saat pergi dan pulang kantor, saya bakal bantu mendeskripsikannya.  Satu rangkaian CL terdiri dari 8 gerbong, 2 gerbong khusus wanita yang ada di setiap ujung rangkaian, dan sisanya gerbong campuran.  Kapasitasnya sekitar 120-170 orang dimana terdiri dari 16 untuk duduk di kursi prioritas dan 28-30 untuk duduk di kursi non prioritas sisanya ngatung.  Tapi itu normalnya, gak normalnya di mulai saat jam sibuk dimana buat goyangin panta* aja gak bisa, aroma ketek dari yang asem kecut, asem seger, bau kambing dan lain-lain juga bakal dengan sangat mudah terendus.  Sekedar informasi dulu jamannya tiket CL masih 8500 rupiah untuk Jakarta-Bekasi, kereta Bekasi gak separah kereta tujuan Bogor, tapi karna semakin murah akhirnya ya gak ada bedanya.

Oke balik lagi ke Mbak Dinda.

Mbak, saya, bahkan jutaan pengguna lainnya punya masalah yang sama, "Kelelahan dan Kestressan" yang berbeda hanyalah kadarnya.  Tapi perlu dipahami bahwa ibu hamil punya tingkat kelelahan dan kesetressan yang jauh lebih tinggi dari wanita normal pada umumnya.  Kadang saya juga heran sama ibu hamil yang masih maksain diri naik ke gerbong yang jangankan untuk perut datar atau buncit karna kekanyangan aja susah naik tapi masih maksa naik.   Ini sebenernya bagian dari dilema saya juga saat nanti saya menikah dan dipercaya untuk hamil (aamiin), disisi lain saya harus tetap bekerja, tapi disisi lain keselamatan saya dan calon bayi di rahim terancam.  Mau naik kendaraan roda dua atau roda empat milik pribadi atau angkutan umum juga gak ngejamin bakal bebas dari kelelahan dan kesetresan, pasalnya di kota urban seperti Jakarta dan Bekasi CL masih menjadi saran transportasi pilihan. (Pleassee jadiin saya orang kaya melebihi Syahrini biar ke Emol di Jakarta aja bisa naik Jet, oke labai).

Saya juga kadang sedih kalau lagi ada di gerbong khusus wanita.  Wanita semua loh isinya, kadang dengan egoisnya ada aja penumpang yang pura-pura tidur, pura-pura gak denger karna jedak jeduk musik di headsetnya.  Pernah ada bahkan sering kejadian seorang ibu yang lagi hamil muda saking dia takut mau minta haknya di kursi prioritas dengan keadaan hamil tapi perut belum melembung, sampai akhirnya ibu itu pingsan.  Atau kadang ada nenek-nenek yang emang sih keliatannya masih gagah tapi pas diperhatiin 10-15 menit beliau berdiri mukannya udah pucet.

Buat siapa pun yang menggunakan transportasi massal, mau itu kereta, bus, andong, dokar dll ini bukan prihal siapa yang lebih lelah, siapa yang kuat, dan siapa yang lebih dulu dateng tapi ini masalah solidaritas, kemanusiaan.  Anggep ajalah kita nabung kebaikan buat orang lain, nih contoh deh cowok anak muda kalau ada ibu-ibu yang tolong diangkat badannya, kasih duduk, ya bukan masalah gender juga tapi udah masalah kemanusiawian dan etika.  Kita bermain peran lah, coba bayangin kalau kita hamil rasanya gimana, kalau ibu atau nenek kita diacuhin saat mereka lagi di kereta.  Yuk belajar untu menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap kesusahan orang lain, dan saling menghargai hak orang lain.  Ibu hamil kalau keadaan gerbong udah gak memungkinkan untuk dinaikin (dengan indikasi pintu sudah gak bisa ditutup dengan mudah) yuk bersabar tunggu yang lebih memungkinkan, ada hak anak yang mesti kita jaga sekalipun dia belum lahir.  Yang bukan termasuk golangan penumpang prioritas, ada baiknya kita mengalah kalau yang termasuk golongan prioritas ini tidak mendapatkan haknya secara langsung, tapi kita bisa jadi perantara rizkinya sekalipun hanya sekecil memberi tempat duduk.

Sekali lagi tulisan ini hanya pendapat sederhana saya saja sesuai pengalaman kurang lebih 4 tahun menjadi anak kereta, mohon maaf kalau ada perbedaan perspesi antara saya dan para pembaca.

Lovelill2014






 

Template by Best Web Hosting