Jumat, 09 Januari 2015

JAKARTA

Enjoy this post

Jakarta, ada ribuan bahkan jutaan tulisan yang tersimpan apik di data base milik google tentang Jakarta.  Sudah lama saya ingin menulis ini, namun apa daya baru sempat lebih tepatnya baru ada semangat untuk memijit huruf demi huruf di papan keyboard saya.

Kali ini saya mau membahas Jakarta dari sisi lahan mata pencaharian.  Bukan jadi rahasia umum lagi kalau setiap tahun arus urbanisasi ke Jakarta semakin meningkat.  Pemberitaan tentang kejamnya Ibu Kota Negara Indonesia tidak memadamkan niat warga di luar daerah Jakarta untuk berbondong-bondong hijrah dan mengadu nasip ke Jakarta.

I feel like a drama.  Ya, setahun yang lalu tepatnya saat saya diterima di sebuah perusahaan perkapalan harus dengan ikhlas meewati kesempatan emas tersebut dengan satu sebab karena saya harus melewati masa probation 3 bulan lamanya di Kalimantan (belum lulus juga sih) hahah.  Well sebagai anak perempuan satu-satunya di rumah, sekaligus anak Betawi Aseli (gak maksud rasis) tentu orang tua saya menolak mentah-mentah keinginan saya untuk bekerja disana.  Saat itu kalimat yang diungkapkan oleh ayah saya sama persis dengan kalimat yang diungkapkan oleh Babeh Sabenih (alm. H. Benyamin Sueb) ke anaknya Si Doel dalam drama Si Doel Anak Betawi “ Ngapain jauh-jauh di tengah laut Cuma buat kerja, orang daerah aja pada lari ke Jakarta ngapain kita lari ke daerah.”

Lalu apa korelasinya antara pengalaman saya tadi dengan tulisan ini?

Kalu dipikir-pikir memang ada betulnya juga ucapan ayah saya, tapi gak betul-betul banget karena sesungguhnya daerah-daerah yang penduduknya hijrah ke Jakarta sangat membutuhkan mereka untuk membangun daerah asalnya.  Banyak tenaga ahli yang bekerja di Jakarta berasal dari daerah-daerah yang sebenarnya tertinggal karena kurangnya SDM yang bisa membangun.  

Tinggal di Jakarta gak butuh skill level expert,  kecerdasan level professor, yang dibutuhkan Cuma keberanian dan kemauan untuk bertahan hidup dan memperbaiki kualitas hidup level Hercules,  untuk bisa bertahan dengan segala aturan-aturan dan kekejaman Jakarta itu sendiri.  Kenapa saya bilang gak harus punya skill dan kecerdasan level tinggi?  Coba kita ingat-ingat saat media gencar memberitakan urbanisasi di Jakarta menjelang arus balik pemudik di lebaran, setiap orang yang memutuskan untuk hijrah ke Jakarta saat diwawancarai pasti jawabannya “Karena mau kaya, mau sukses, mau punya banyak uang” intinya adalah KARENA UANG.

Saya pribadi lebih senang menyebut Jakarta sebagai ladang uang, tempat yang tepat untuk mencari uang.  Gak percaya?  Cobalah sekali-kali makan di deretan kaki lima di sekitar perkantoran yang berjajar apik sepanjang Sudirman-Thamrin, atau Kuningan-Tebet, anda akan menemui bakwan dengan diameter kurang dari 10 cm dengan harga 2000-3000/ buah.  Ironisnya bakwan itu hanya di jual di emperan jalan dengan rasa yang sedikit tercampur debu-debu yang bertebaran di sekelilingnya.

Tapi gak jarang mereka yang hanya punya modal nekat, tanpa ada tekad yang kuat untuk hidup di Jakarta dengan cara yang lebih baik dan terhormat justru lebih memilih hidup dengan menjual belas kasihan alias mengemis.  Menemukan pengemis di Jakarta sangat mudah, yang susah adalah menemukan pengemis yang jujur yang memang tidak ada pilihan lain untuk mereka.


Lovelill, 2015
 

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting