Senin, 23 November 2015

Good bye Shasimi

Genap 14 hari sudah saya melawan virus yang membuat tumbang tubuh dari ujung kepala hingga kaki sampai harus menikmati indahnya bermalam selama 8 hari di Rumah Sakit.

Dokter memfonis saya menderita gejala ****** akibat virus yang membuat pembuluh darah saya pecah.  Entah tipe apa karena sampai saat ini pun saya masih belum bisa mempelajarinya secara dalam dengan hasil media yang lengkap.  Intinya virus itu sudah lama ada di dalam pembuluh darah, sistem imun sudah tidak mampu mengadang, lalu pecahlah pembuluh darah yang rusak tadi.

Alhamdulillah pembuluh darah yang pecah bukan terdapat di organ vital seperti selaput pembuluh darah yang ada di otak.  Mekanisme virus ini terjangkit melalui makanan mentah sejenis shasimi.  Yes, I am sashimi addicted.  

Ini bukan kali pertama saya terserang penyakit akibat mengkonsumsi sashimi, tapi kali ini yang terparah dan Insya Allah membuat saya jera untuk mengkonsumsinya.

Terapi obat oral sudah tidak sanggup untuk melawan ribuan virus yang hidup asik di dalam pembuluh darah saya. 

Berikut kronologi singkat yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat  (foto yang saya lampirkan murni untuk keperluan informasi, mohon maaf jika dianggap tidak senonoh)

Hari ke-1, 8 November 2015

Saya sudah menyadari adanya bintik merah,  gatel di beberapa bagian seperti paha dan ketiak.  Seharian terasa gerah dan panas sampai 4 x mandi masih dirasa kurang.  Sensasi ini saya rasakan selama 3 hari.

Hari ke-3, 11 November 2015



Badan terasa dingin, mual, gatal-gatal dan muntah.  Virus mulai tersulut pasca saya mengkonsumsi olahan ikan salem yang saya beli di warung makan dekat rumah, ini kali pertama saya mengkonsumsi ikan tersebut.  Diagnosis awal saya "KERACUNAN".

Hari ke-4, 12 November 2015

Dokter pertama yang saya datangi adalah dokter umum dekat rumah yang track recordnya sudah dikenal sebagai "dokter spesialis kulit", dulu saat saya terkena herpes ringan 2 kali minum obatnya sudah sembuh, bintik merahnya pun sudah hilang.

Hari ke-5, 13 November 2015

Bintik merah semakin banyak disertai rasa ngilu disekujur tubuh, badan terasa gatal meski saya masih bisa beraktifitas.

Hari ke-6, 14 November 2015

Bintik merah semakin menyebar tidak hanya di bagian badan, sudah merambat ke bagian tangan dan kaki.  

Hari ke-7, 15 November 2015

Saya pergi ke salah satu rumah sakit dengan harapan dokter bisa merujuk untuk cek lab, tapi diagnosis masih sama "ALERGI".

Hari ke-8, 16 November 2015 (Hari ke-1 dirawat)

Badan semakin lemas, panas, ngilu dan muntah-muntah.  Saya kembali pergi menuju rumah sakit.  Dokter UGD mendiagnosis bahwa ini bukan alergi, keracunan, campak, maupun herpes.  Saya langsung dirujuk ke spesialis penyakit kulit.

Dari dokter spesialis penyakit kulit, saya langsung dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.  Muntah, demam dengan suhu tubuh 38drajat celcius akhirnya saya resmi menyandang status "PASIEN RAWAT INAP".

Hari ke-9, 17 November 2015

Bintik merah semakin banyak dan menebal, hitam ditandai dengan beberapa bagian kulit yang seperti terbakar.  Kondisi ini berangsur selama 3 hari.  Sejak saat itu saya terus disuntikan obat peradangan dengan dosis 165 ml/ suntikan dengan 3 obat yang berbeda + obat anti mual.

Sehari 5 kali, 4 obat ini harus disuntikan.  4 hari berturut-turut setiap pagi dan dan sore saya harus cek darah.  Istilah medisnya tes kultur darah untuk memastikan jumlah virus yang terdapat di dalam pembuluh darah sudah berkurang atau belum.  Pemeriksaan urin dan veses pun dilakukan untuk memastikan selain virus tidak ada bakteri maupun jamur.

Obat perangsang dengan dosis yang besar membuat organ penunjang lainnya terganggu,  saya baru bisa buang besar di hari ke-5, itu pun harus dirangsang dengan obat pencahar sebanyak 200ml yang dimasukan dari lubang anus ( see mau boker ajaa rempooong) ! 

Merasa ada hal aneh di dalam lambung, dokter pun kembali menyutikan obat peradangan untuk lambung dengan dosis yang cukup tinggi, dengan pertimbangan karena saya merasa kejang di sekitar lambung.  Namun ini tidar berlangsung lama, karena tubuh saya menolak respon obat tersebut.

Sampai saya memposting tulisan ini, saya masih harus merasakan nyerinya tulang saat obat-obatan itu masuk ke dalam pembuluh darah, menggigil tak karuan.  Banyaknya infus yang masuk pun bisa dilihat dari perubahan badan yang semakin besar seperti sapi gelonggongan.  

Mudah-mudahan hari ini saya bisa pulang, memulai hidup sehat, dan menghargai setiap rejeki yang Allah beri dengan cara terbaik.

Good bye shashimi
Good bye telor ceplok setengah matang

Alhamdulillah untuk pelajaran mahal ini Ya Rabb,

Thanks ayah ibu yang udah sabar bangeeeeet nemenin, mandiin, nghibur, dengerin keluh kesah anaknya yang cengeng,

My superb team doctor & nurses 409,
Capten Dr. Yusalena. SpPd.DR
Dr. Agni. SpKK


Doa & kunjungan dari semua pihak yang gak bisa saya sebutin satu persatu.




Lovelill 2015.





0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting