Senin, 23 November 2015

Good bye Shasimi

Genap 14 hari sudah saya melawan virus yang membuat tumbang tubuh dari ujung kepala hingga kaki sampai harus menikmati indahnya bermalam selama 8 hari di Rumah Sakit.

Dokter memfonis saya menderita gejala ****** akibat virus yang membuat pembuluh darah saya pecah.  Entah tipe apa karena sampai saat ini pun saya masih belum bisa mempelajarinya secara dalam dengan hasil media yang lengkap.  Intinya virus itu sudah lama ada di dalam pembuluh darah, sistem imun sudah tidak mampu mengadang, lalu pecahlah pembuluh darah yang rusak tadi.

Alhamdulillah pembuluh darah yang pecah bukan terdapat di organ vital seperti selaput pembuluh darah yang ada di otak.  Mekanisme virus ini terjangkit melalui makanan mentah sejenis shasimi.  Yes, I am sashimi addicted.  

Ini bukan kali pertama saya terserang penyakit akibat mengkonsumsi sashimi, tapi kali ini yang terparah dan Insya Allah membuat saya jera untuk mengkonsumsinya.

Terapi obat oral sudah tidak sanggup untuk melawan ribuan virus yang hidup asik di dalam pembuluh darah saya. 

Berikut kronologi singkat yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat  (foto yang saya lampirkan murni untuk keperluan informasi, mohon maaf jika dianggap tidak senonoh)

Hari ke-1, 8 November 2015

Saya sudah menyadari adanya bintik merah,  gatel di beberapa bagian seperti paha dan ketiak.  Seharian terasa gerah dan panas sampai 4 x mandi masih dirasa kurang.  Sensasi ini saya rasakan selama 3 hari.

Hari ke-3, 11 November 2015



Badan terasa dingin, mual, gatal-gatal dan muntah.  Virus mulai tersulut pasca saya mengkonsumsi olahan ikan salem yang saya beli di warung makan dekat rumah, ini kali pertama saya mengkonsumsi ikan tersebut.  Diagnosis awal saya "KERACUNAN".

Hari ke-4, 12 November 2015

Dokter pertama yang saya datangi adalah dokter umum dekat rumah yang track recordnya sudah dikenal sebagai "dokter spesialis kulit", dulu saat saya terkena herpes ringan 2 kali minum obatnya sudah sembuh, bintik merahnya pun sudah hilang.

Hari ke-5, 13 November 2015

Bintik merah semakin banyak disertai rasa ngilu disekujur tubuh, badan terasa gatal meski saya masih bisa beraktifitas.

Hari ke-6, 14 November 2015

Bintik merah semakin menyebar tidak hanya di bagian badan, sudah merambat ke bagian tangan dan kaki.  

Hari ke-7, 15 November 2015

Saya pergi ke salah satu rumah sakit dengan harapan dokter bisa merujuk untuk cek lab, tapi diagnosis masih sama "ALERGI".

Hari ke-8, 16 November 2015 (Hari ke-1 dirawat)

Badan semakin lemas, panas, ngilu dan muntah-muntah.  Saya kembali pergi menuju rumah sakit.  Dokter UGD mendiagnosis bahwa ini bukan alergi, keracunan, campak, maupun herpes.  Saya langsung dirujuk ke spesialis penyakit kulit.

Dari dokter spesialis penyakit kulit, saya langsung dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.  Muntah, demam dengan suhu tubuh 38drajat celcius akhirnya saya resmi menyandang status "PASIEN RAWAT INAP".

Hari ke-9, 17 November 2015

Bintik merah semakin banyak dan menebal, hitam ditandai dengan beberapa bagian kulit yang seperti terbakar.  Kondisi ini berangsur selama 3 hari.  Sejak saat itu saya terus disuntikan obat peradangan dengan dosis 165 ml/ suntikan dengan 3 obat yang berbeda + obat anti mual.

Sehari 5 kali, 4 obat ini harus disuntikan.  4 hari berturut-turut setiap pagi dan dan sore saya harus cek darah.  Istilah medisnya tes kultur darah untuk memastikan jumlah virus yang terdapat di dalam pembuluh darah sudah berkurang atau belum.  Pemeriksaan urin dan veses pun dilakukan untuk memastikan selain virus tidak ada bakteri maupun jamur.

Obat perangsang dengan dosis yang besar membuat organ penunjang lainnya terganggu,  saya baru bisa buang besar di hari ke-5, itu pun harus dirangsang dengan obat pencahar sebanyak 200ml yang dimasukan dari lubang anus ( see mau boker ajaa rempooong) ! 

Merasa ada hal aneh di dalam lambung, dokter pun kembali menyutikan obat peradangan untuk lambung dengan dosis yang cukup tinggi, dengan pertimbangan karena saya merasa kejang di sekitar lambung.  Namun ini tidar berlangsung lama, karena tubuh saya menolak respon obat tersebut.

Sampai saya memposting tulisan ini, saya masih harus merasakan nyerinya tulang saat obat-obatan itu masuk ke dalam pembuluh darah, menggigil tak karuan.  Banyaknya infus yang masuk pun bisa dilihat dari perubahan badan yang semakin besar seperti sapi gelonggongan.  

Mudah-mudahan hari ini saya bisa pulang, memulai hidup sehat, dan menghargai setiap rejeki yang Allah beri dengan cara terbaik.

Good bye shashimi
Good bye telor ceplok setengah matang

Alhamdulillah untuk pelajaran mahal ini Ya Rabb,

Thanks ayah ibu yang udah sabar bangeeeeet nemenin, mandiin, nghibur, dengerin keluh kesah anaknya yang cengeng,

My superb team doctor & nurses 409,
Capten Dr. Yusalena. SpPd.DR
Dr. Agni. SpKK


Doa & kunjungan dari semua pihak yang gak bisa saya sebutin satu persatu.




Lovelill 2015.





Rabu, 18 November 2015

18 November 2015

18 November 2015

Badan saya lemas, bahkan mengingat tanggal berapa sekarang saja harus membuka kalender di handphone dulu.

3 hari sudah, di ruangan 409 di sebuah rumah sakit di pinggir Tol Bekasi.  Saya pastikan malam ini pikiran akan meliar, nafsu tidur mungkin tidak akan sebesar nafsu makan saya beberapa hari ini.

Ya Allah Ya Rabb,
Hamba salah hamba tahu salah, ada banyak salah yang cukuplah selama ini Engkau yang menjadi saksinya.  Ketidakpastiaan akan penyakit apa ini sungguh sangat menyiksa.  Rasanya ingin mengamuk, apalagi melihat ayah dan ibu yang harus tidur berlaskan selimut persis di kolong tempat tidur saya.


Jika ada beban sakit yang timbul setelah ini, kiatkan saya menerima takdirmu.  Jelaskan bahwa ini takdirmu Ya Allah iya takdirmu bukan sekelumit pembalasan dari-Mu atas segala dosa yang saya perbuat.  Mungkin ah bahkan iya ada sombong, lalai, gerakan-gerakan doaa lainnya yang tertimbun.

Semoga Hamba masih bisa memperbaiki kesalahan yang ada dengan kondisi lebih baik.  Bantu hamba Ya Allah, beri hamba kesembuhan.  

Ya Rabbb 😥😥😥

Rabu, 09 September 2015

How to Survive from ....

Trauma
Yaaa mungkin itu satu kata yang bisa mendeskripsikan perasaan saya saat ini. Ada banyak hal di masa lalu yang belakangan mulai kembali tayang di otak.  Hal-hal yang justru membuat saya menjadi mahluk cupu dan berujung pada TRAUMA.

Well, bagaimana harus bertahan di tengah kondisi traumatik namun disisi lain hidup harus tetap berjalan ?

Minggu, 23 Agustus 2015

Cinta Mati , Antara Menikah dan Kematian

Pagi ini masih sendu, bukan karena lagi galau, tapi karena lampu kamar masih saya padamkan dan cuma saya seorang diri di rumah.

Bangun-bangun saya melihat chat yang isinya sharingan saya tadi malam dengan teman SMP sesama penganut status "Anak Tunggal".  Belakangan saya memang sedang kepingin untuk rajin-rajin sharing tentang kehidupan dan rencana-rencana masa depan para anak tunggal. Well sampai pagi ini saya masih setia depan hape membalas chat demi chat.

Memasuki kepala 2 itu memang unik, permasalahannya juga pelik.  Terutama masalah cinta, tsaaah.  Buat saya yang sudah 5tahun pacaran terus pada akhirnya memutuskan untuk putus bisa menjadi pukulan berat di usia saya yang ke 22 ini, dan sempat berpikir mungkin akan terlihat sulit melewati hari-hari setelahnya.  Tapi ternyata, Alhamdulillah saya bisa melewati masa-masa galau dan sedikit drama nangis bombay cuma sepersekian hari.


Saya sudah sangat ikhlas merelakan apa yang sudah menjadi keputusan saya, hal yang membuat saya kuat mungkin karena niat saya untuk memperbaiki diri sebagai manusia beragama sekaligus ingin hidup tanpa beban.  Hal ini juga bisa dikatakan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap setiap keputusan yang saya ambil.

Bersyukur kehidupan percintaan selama 5 tahun ini berjalan dengan sangat baik dalam bentangan jarak yang cukup jauh, intensitas bertemu yang sangat jarang sehingga probabilitas kami untuk berbuat hal-hal yang negatif sangat kecil.  Pacaran saja memang hal negatif, apalagi sudah menjalani.  Tidak dapat dipingkiri sebagai manusia normal yang punya syahwat sedikit pegangan atau sekedar cium kening saat berjumpa pasti menjadi bumbu sendiri sebagai bagian "pemanis" sebuah hubungan, and we did it also.  

Belakangan saya sering teringat akan satu nasihat, bukankah kita tidak pernah tahu mana duluan yang akan meminang kita, jodoh atau kematian? Dari situ saya berpikir keras,kita tidak pernah tahu warna daun kebidupan kita di Lauhul Mahfudz, seberapa sudah menguning dan rapuhnya dia.  Jujur saya takut mati, takut kehidupan setelah kematian, kesempitan, kegelapan dan kesendirian di alam baqa, ketakutan yang wajar menurut saya.

Bukannya saya mau sok alim, tapi sudah sewajarnya dalam kehidupan manusia di kepala 2 dia akan melewati tahap pematangan diri secara aqidah.  Baik jodoh maupun kematian saya rasa adalah takdir yang mutlak, tapi pernah kah kita bayangkan bahwa kematian itu takdir yang sangat pasti kedatangannya.

Dari ketakutan itu saya belajar memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, toh menggantungkan diri pada manusia juga akan sangat melelahkan.  Saya tahu diri untuk mengakui bahwa saya juga belum siap menikah.  Terlebih jujur saya punya traumatik sendiri terhadap pernikahan.  Saya mencoba berhenti mengeluh tentang pernikahan, atau bersikap seperti beberapa teman saya yang sudah "ngebet" nikah tapi pasangannya belum siap.

Saya gak mau seperti wanita murahan yang menuntut pasangan untuk buru-buru dilamar, tidak ingin membatasi mimpi seseorang yang mungkin mau lebih banyak berkarya untuk kekuarganya sebelum memiliki keluarga kecilnya sendiri.  So, mengejar kematian dulu jauh lebih baik bukan?  Toh kalau persiapan diri kita terhadap kematian sudah cukup baik bukankah persiapan akan pernikahan juga akan berjalan beriringan?

Kalau posisinya saat ini saya sendiri, karena memang sudah menjadi keharusan saya untuk sendiri.  Saya harus bisa menjaga diri karena belum siap untuk menikah.  Tidak ini memberikan fitnah untuk orangtua karena omongan-omongan tetangga "Udah pacaran lama, kapan nikah?", lebih baik saya sendiri tetap dengan pertanyaan "Kapan Nikah?" Tanpa ada embel-embel selentingan negatif seputar pacaran.

Toh jodoh sudah ada yang mengatur, nikmati saja hidup yang sudah terlanjur tersaji, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup sendirian kok, kan sudah jelas dalam QS. Ar-rum yang sering kita baca di kertas undangan bahwa Allah telah menciptakan setiap mahluk-Nya berpasangan.  Lebih baik memperbaiki diri dulu untuk menyiapkan kematian, jangan menikah hanya karena "bosan kondangan", tapi jangan juga terlalu merasa nyaman di zona kesendirian.

Untukmu jodohku,
Temui aku mungkin 2 tahun lagi
Karena aku ingin bernafas tanpa beban
Karena aku ingin terlebih dulu berjalan sendirian ...
Pintaku, semoga kamu dulu yang menjemputku
Bukan kematianku

Untuk orang-orang di masa laluku, kamu baik tapi mungkin belum menjadi yang terbaik.  Tanpa kamu, dan sederetan cerita kita, aku mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana harus menjadi manusia yang lebih baik dalam ketaatan.


Ulilupil 2015

Senin, 06 Juli 2015

Terimakasih Drh. Irwan

 Udah  lama banget gak nulis, dan sekalinya nulis tulisan saya kali ini bakal panjang dan sedikit melancoli.

Bekasi, 4 Juli 2015

Pagi itu saya berniat untuk memandikan kucing-kucing di rumah.  Masih pagi, matahari juga masih malas untuk keluar dari persembunyiannya.  Satu persatu saya keluarkan kucing kesayangan saya dari kandangnya, Piye dan Arba.  Tapi saat itu Wahid kucing paling disayang di rumah karena paling aktif terkapar lemas seperti kucing setengah mati.  Badannya lemas tidak bisa digerakan, bahkan bersuara pun tidak.  Saya periksa perutnya ada benjolan keras, saya panik dan langsung memutuskan untuk membawa dia ke klinik hewan dekat rumah.

Sesampainya disana, dokternya langsung bertanya kenapa kucingnya, saya jelaskan lumpuh dok gak bisa jalan, awalnya dokter tersebut mengira Wahid hanya shock, namun seperti saya pagi itu dokter pun sangat terkejut melihat benjolan yang ada di perut Wahid.

"Oke ini harus langsung kita tanganin, kita udah gak punya waktu satu menit kita telat dia gak bakal selamat. " terang dokter tadi sambil cekatan mengambil beberapa obat dan alat untuk menangani Wahid.

"Tapi dok, berapa dulu biayanya saya takut gak bisa bayar" (semua orang tahu kalau perawatan hewan peliharaan sekelas kucing itu jauh lebib mahal dari perawatan batuk pileknya manusia, terlebih mereka gak punya BPJS.

"Ok kita bicara estimasi, pemasangan kateter 600rb, infus 150rb/botol, antibiotik 150rb/botol, biaya anastesi, biaya rawat inap bla dan bla .... " pokonya total 1juta lebih.

"Tapi saya gak ada uang dok sebanyak itu? Saya boleh cicil? Paling gak saya jual kucing saya dulu."  THR memang baru turun tapi sudah saya alokasikan untuk pendaftaran kuliah semester yang harus saya ikuti semester depan.  Pikiran saya mulai kacau, sebodoh itu saya membiarkan kucing yang katanya paling saya sayang menahan sakit karena kebodohan saya sendiri.  Saya yang suka males ngasih dia minum, atau saya yang bodoh termakan omongan penjual makanan kucing langganan saya bahwa produk yang sekarang saya berikan adalah produk baik.

FYI, makanan kucing yang baik itu gak cuma liat dari cocok gaknya di perut dan bulu, tapi juga di ginjal.  Layaknya manusia ginjal kucing itu sangat penting, bahkan sangat sensitif.  Inilah penyebab benjolan besar yang ada di perutnya Wahid.

Dokter bilang, ini penyakit berkaitan dengan penyumbatan saluran urin akibat kristal yang menumpuk dari hasil makanan yang banyak mengandung kalsium dan magnesium (nama penyakit ilmiahnya lupa karena terlalu panjang dan keren).  Singkat cerita, sari-sari makanan yang dibawa darah dan dibuang melalui urin tidak bisa dikeluarkan karena sudah tersumbat, alhasil perlu penanganan berupa pemasangan kateter pada alat kelamin Wahid.

Oke, balik ke cerita penangangan Wahid.
Muka saya mungkin sudah pucat pasi, air mata sudah tidak bisa dibendung, pusing bukan kepalang memikirkan biaya dan kondisi Wahid saat itu.  Dokter mulai memasang selang infus, seperi anak bayi yang sedang sakit Wahid hanya tergeletak lunglai di meja operasi, saya bisa merasakan tatapannya yang berbicara "Sakit mom".  Saya ajak Wahid berbicara tatapannya masih kosong, tidak memberontak meski jarum menusuk ke pembuluh darah kaki depannya. Sampai pada penyuntikan bius oleh sang dokter agara Wahid tidaj merasakan sakitnya saat selang kateter dipasang.

Perlahan selang tersebut masuk ke dalam saluran urin, dokter sibuk mengelurkan darah segar yang menggumpal di perutnya, Subhanallah bau amisnya bukan kepalang, lebih amis dari darah saat Piye melahirkan dia.

Selesai dengan tindakan pemasangan kateter, dokter pun langsung mengajak saya berbincang masalah penyakit yang sedang dihadapi oleh Wahid, dan juga biaya yang harus saya keluarkan.

"Mba, gini ya saya sudah nolong Wahid & Mba. Kalau mba gak ada uang itu urusan emba, yang penting saya udah berusaha kuat bantu Wahid. Sekarang mba punya uang berapa saya terima, saya ikhlas, masalah sama mas yang punya petshopnya biar saya yang ngomong. Saya nolong mba karena tanggung jawab, saya bisa cari uang dimana aja, saya nolong orang karena saya tahu suatu saat saya pasti ada di posisi mba."

Kalimat super panjang yang langsung terekam di pikiran bahkan hati saya.  Kalimat yang rasanya jarang saya dengar bahkan dari mulut seorang dokter yang biasa menangani manusia.  Betapa tidak, disaat seorang dokter hewan begitu sangat peduli terhadap nyawa hewan kecil yang mungkin kita anggap remeh, tapi di luar sana begitu banyak dokter manusia yang sama sekali tidak ada prikemanusiaannya.  Dokter itu adalah drh.Irwan.

Bekasi, 5 Juli 2015

Minggu pagi dengan rutinitas yang tidak seperti biasanya.  Saya pergi ke beberapa petshop untuk menawarkan kucing saya yang lain. Sunggu hal yang membuat saya sangat sedih, bukan karena akan kehilangan mereka tapi karena cara saya mencari keluarga untuk mereka dengan cara dijual adalah cara yang paling menyedihkan.

Setelah putus asa karena penolakan beberapa petshop, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah.  Siang yang terik saya pergi untuk menjenguk Wahid yang masih harus ditarik urinnya.  Siang itu pasien drh. Iwan sedang membludak.  Saya perhatikan cara beliau menangani satu persatu kliennya, begitu telaten dan rapih.  Bahkan bisa dibilang ini adalah klinik hewan terapih yang pernah saya temui.  Saya juga sempat berbincang dengan beberapa kliennya yang ternyata sudah sering kesini.  Mereka bilang beliau adalag dokter yang telaten dan murah hati.  Meski sekilas tampangnya tengil tapi beliau punya track record yang baik.  Terbukti satu haru dari pukul 11 pagi - 9 malam bahkan lebih beliau bisa menangani 10 pasien baik penyakit ringan maupun berat.

Yang saya juga suka beliau selalu mengucapkan Bismillah disetiap hendak melakukan tindakan, sangat sabar memberikan penjelasan, bahkan sebelum beliau pulang kampung untuk lebaran dan menikah, beliau tidak segan-segan untuk mengajari saya ilmu tindakan medis yang harus saya lakukan untuk perawatan Wahid di rumah.  Untuk urusan memegang anjing, beliau juga sudah menyiapkan tanah untuk membasuh badannya jika terkena liur anjing yang beliau tangani.

Terimakasih dok atas kebaikan, dan kemurahan hatinya.  Semoga Allah senantiasa melapangkan rizki dokter, dan deket dgn Rasulullah SAW di syurga kelak karena cinta kasih dokter terhadap hewan kesayangan beliau.

Alamat praktek Drh. Iwan

Petshop perwira, 
Ruko panorama Bekasi.
Sebrang perumahan Alinda Kencana

Bekasi, 6 Juli 2015
Lovelill

Minggu, 28 Juni 2015

Manisnya Manisan Carica

Manisan Carica.  Sebagian orang mungkin belum tahu apasih manisan carica.  Manisan carica adalah manisan buah pepaya gunung, buah pepaya ini hanya tumbuh di 2 tempat yakni di Dataran Tinggi Dieng dan Dataran Tinggi yang ada di Amerika (lupa apa namanya).    Kalau penjelasan saya kurang, silahkan ketik saja Manisan Carica, di Google ada jutaan artikel mengenai manisan ini.

Saya suka banget sama rasa manisan ini, alhasil saya dan partner saya mencoba usaha ini beberapa bulan yang lalu.  Dari sini lah tercetus online shop kami bernama "Sarana Kuliner".

Tema bisnis ini sebenarnya fokus pada penjualan oleh-oleh daerah khas Nusantara yang jarang ditemuin di Jakarta.  Awalnya yang pesan cuma teman kantor, tapi Alhamdulillah produk yang kami tawarkan sudah berhasil menembus padar Surabaya bahkan padang.

Yes, berawal dari manisnya si manisan carica.  Allah memperlancar usaha ini, bahkan Ramadhan ini sangat keteter dengan orderan yang tidak seimbang dengan produk yang juga habis dari pusatnya.

Semoga ini bisa jafi langkah awal saya mengikuti jejak Khadijah R.A sebagai wanita karir setelah menikah, wanita karir di rumah yang bekerja sambil berumah tangga hehe..

Rabu, 18 Maret 2015

Emmm ....

Gak tau harus dimulai dari mana.  Belakangan pikiran lagi kusut, mungkin saya masih terlalu dibuat pusing oleh target hidup yang belum banyak saya raih di umur kepala 2 ini.

Ahhh...
Ya Allah bukan saya tidak bersyukur, tapi rasanya saya ingin hidup seperti orang lain yang bebas lepas tanpa embel embel target hidup.

Ngomongin masalah target hidup, entah harus bersyukur atau was was karena sekarang orang tua sudah mulai terbuka dengan pembahasan seputar menikah.  Jujur dulu pembahasan ini menjadi pembahasan paling anti untuk mereka.

Merasa ada yang salah dalam hubungan yang sudah saya jalanin bersama dia selama lebih dari 4 tahun membuat saya ragu untuk meneruskan ke jenjang uang lebih serius.  Ditambah ada banyak hal pembeda yang rasanya ngeri jika harus dipaksakan untuk terus bersama-sama.

Emmmmmmmmmmm

Jumat, 06 Maret 2015

Esensi Bekerja

Enjoy this post

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa bekerja bukan sekedar mencari uang, bukan sekedar menghitung berapa banyak uang yang kita dapat, bukan sekedar "memanjakan" passion yang ada di dalam diri kita.

Bekerja berarti belajar untuk ikhlas menerima takdir. Bekerja sangat berkaitan erat dengan takdir kita terhadap rizki. Semua orang butuh uang, banyak sarjana yang pada akhirnya bekerja di luar gelarnya, bekerja di luar pikiran idealisme mereka, dan bahkan bekerja di luar passion mereka.
Menurut saya passion pada dasarnya suatu hal yang bisa diciptakan sendiri. Pernah dengar bahwa proses mencintai sesuatu bukan muncul tiba-tiba karna pandangan pertama, melainkan karena seringnya kita berinteraksi. Bekerja pun demikian, meski akan menemukan titik jenuh jika setiap hari kita berkutat dengan hal yang sama meski pada awalnya bukan passion kita, tapi cepat atau lambat akan muncul perasaan untuk mencintai pekerjaan tersebut

Jadiesensi bekerja adalah ???

Menggali terus ilmu yang ada di dunia untuk memanjakan hidup kita di akhirat ...

Senin, 02 Maret 2015

Miss You

Ini tentang kerinduan.
Dimana saya rindu beberapa momen yang pernah saya nikmati di kehidupan sebelumnya tetapi, tidak pernah saya nikmati di kehidupan saya saat ini.

Bangun pagi jauh sebelum matahari bangun ...
Hiruk pikuk dunia event ...
Canda tawa teman-teman semasa kuliah ...

Intinya segala hal yang ada di masa lalu ...
I miss you ...

Lovelill2015

Jumat, 09 Januari 2015

JAKARTA

Enjoy this post

Jakarta, ada ribuan bahkan jutaan tulisan yang tersimpan apik di data base milik google tentang Jakarta.  Sudah lama saya ingin menulis ini, namun apa daya baru sempat lebih tepatnya baru ada semangat untuk memijit huruf demi huruf di papan keyboard saya.

Kali ini saya mau membahas Jakarta dari sisi lahan mata pencaharian.  Bukan jadi rahasia umum lagi kalau setiap tahun arus urbanisasi ke Jakarta semakin meningkat.  Pemberitaan tentang kejamnya Ibu Kota Negara Indonesia tidak memadamkan niat warga di luar daerah Jakarta untuk berbondong-bondong hijrah dan mengadu nasip ke Jakarta.

I feel like a drama.  Ya, setahun yang lalu tepatnya saat saya diterima di sebuah perusahaan perkapalan harus dengan ikhlas meewati kesempatan emas tersebut dengan satu sebab karena saya harus melewati masa probation 3 bulan lamanya di Kalimantan (belum lulus juga sih) hahah.  Well sebagai anak perempuan satu-satunya di rumah, sekaligus anak Betawi Aseli (gak maksud rasis) tentu orang tua saya menolak mentah-mentah keinginan saya untuk bekerja disana.  Saat itu kalimat yang diungkapkan oleh ayah saya sama persis dengan kalimat yang diungkapkan oleh Babeh Sabenih (alm. H. Benyamin Sueb) ke anaknya Si Doel dalam drama Si Doel Anak Betawi “ Ngapain jauh-jauh di tengah laut Cuma buat kerja, orang daerah aja pada lari ke Jakarta ngapain kita lari ke daerah.”

Lalu apa korelasinya antara pengalaman saya tadi dengan tulisan ini?

Kalu dipikir-pikir memang ada betulnya juga ucapan ayah saya, tapi gak betul-betul banget karena sesungguhnya daerah-daerah yang penduduknya hijrah ke Jakarta sangat membutuhkan mereka untuk membangun daerah asalnya.  Banyak tenaga ahli yang bekerja di Jakarta berasal dari daerah-daerah yang sebenarnya tertinggal karena kurangnya SDM yang bisa membangun.  

Tinggal di Jakarta gak butuh skill level expert,  kecerdasan level professor, yang dibutuhkan Cuma keberanian dan kemauan untuk bertahan hidup dan memperbaiki kualitas hidup level Hercules,  untuk bisa bertahan dengan segala aturan-aturan dan kekejaman Jakarta itu sendiri.  Kenapa saya bilang gak harus punya skill dan kecerdasan level tinggi?  Coba kita ingat-ingat saat media gencar memberitakan urbanisasi di Jakarta menjelang arus balik pemudik di lebaran, setiap orang yang memutuskan untuk hijrah ke Jakarta saat diwawancarai pasti jawabannya “Karena mau kaya, mau sukses, mau punya banyak uang” intinya adalah KARENA UANG.

Saya pribadi lebih senang menyebut Jakarta sebagai ladang uang, tempat yang tepat untuk mencari uang.  Gak percaya?  Cobalah sekali-kali makan di deretan kaki lima di sekitar perkantoran yang berjajar apik sepanjang Sudirman-Thamrin, atau Kuningan-Tebet, anda akan menemui bakwan dengan diameter kurang dari 10 cm dengan harga 2000-3000/ buah.  Ironisnya bakwan itu hanya di jual di emperan jalan dengan rasa yang sedikit tercampur debu-debu yang bertebaran di sekelilingnya.

Tapi gak jarang mereka yang hanya punya modal nekat, tanpa ada tekad yang kuat untuk hidup di Jakarta dengan cara yang lebih baik dan terhormat justru lebih memilih hidup dengan menjual belas kasihan alias mengemis.  Menemukan pengemis di Jakarta sangat mudah, yang susah adalah menemukan pengemis yang jujur yang memang tidak ada pilihan lain untuk mereka.


Lovelill, 2015
 

Sabtu, 19 Juli 2014

Kepala 2, problematika dan pencariannya . . .

Enjoy this post

Enjoy this post

Jika anda tidak punya ketertarikan dan waktu untuk membaca, silahkan tekan tombol “CLOSE” karena postingan kali ini akan cukup panjang hehehehe.

Kata orang memasuki usia 20 tahun adalah fase tersulit bagi siapa pun, pria maupun wanita.  Ternyata betul, di usia saya yang belum genap 22 tahun ini saya merasakan fase tersulit itu.  Bukan karena tanggung jawab yang semakin berat, bukan karena pertanyaan yang semakin banyak (kapan nikah, kapan bekerja, kapan lanjut kuliah, kapan punya anak blah dan blah)  fase tersulit disini adalah bagaimana saya menemukan titik balik dalam hidup tentang pecarian jati diri dan kepercayaan terhadap Tuhan.

Sulit dijelaskan bagaimana saya harus bergejolak dengan batin yang seolah-olah dirasuki rasa keraguan terhadap keyakinan yang saya pegang.  Perlahan saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya selama ini, dua tahun bukan waktu yang singkat dan mudah untuk menemukannya.  Rasa kecewa yang muncul dari kegagalan yang selalu saya peroleh menambah keraguan saya.  Sulit, bahkan sangat sulit.  Sampai saya pun bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa saya shalat? untuk apa saya beribadah? untuk apa saya berbuat kebaikan dan menghindari keburukan? Untuk apa, kalo saya sendiri pun masih meragukan.

Sampai suatu hari saya lelah dengan keadaan yang sulit ini, saya mulai mencari apa yang salah dalam diri saya.  Ternyata yang salah selama ini adalah, saya belum menjadikan agama saya sebagai kebutuhan dasar.  Saya mulai menyadari bahwa apa yang saya lakukan sebagai umat beragama selama ini hanya sebuah kewajiban, disitu saya mengerti bahwa keikhlasan adalah kunci utama untuk menjadikan agama sebagai kebutuhan bukan kewajiban.

Tidak bermaksud untuk ria.  Sejak saat itu saya mulai sering merenung kesalahan apa yang selama ini telah diperbuat, mulai meyakini bahwa kegagalan yang saya alami bukan karena Allah tidak sayang.  Satu persatu pikiran dan perasaan saya mulai bekerja, rasanya seperti dipukul algojo bertubi-tubi jika mengingat satu persatu kesalahan yang pernah saya buat.  Hingga disatu titik saya tersadar bahwa, tidak ada doa yang tidak terkabul, hanya ada doa yang tertangguhkan pengabulannya untuk waktu, peristiwa, dan orang yang lebih tepat.  

Benar sebuah nasihat ringan yang sering saya dengar melalui alunan lagu milik Opick, obat hati itu hanya ada 5 perkara: 
  
Membaca Al-Quran dan maknanya 

Inilah salah satu peranan terbesar yang mengantarkan saya pada titik balik kehidupan beragama yang selama ini saya pertanyakan.  Saya mulai mencari tahu kebesaran Sang Rabbi dengan membaca terjemahan demi terjemahan Kalam-Nya. Kesalahan saya yang dulu adalah,tidak membaca makna yang terkandung di dalam Al-Quran, padahal kandungannya jauh lebih indah ketimbang kita hanya membaca huruf Arabnya saja, tidak ada kata lain selain mengucap Subhannallah, dan maha benar Allah dengan segala firmannya (Saya akan menulis d postingan selanjutnya tentang ayat-ayat yang membuat saya semakin percaya tentang islam sebagai agama yang saya anut, percayai, dan butuhkan). 
  
Perbanyaklah Puasa

Ada stu hadits yang mengatakan bahwa belum terkabulnya perkara doa karena terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh.  Saya rasa begitu banyak artikel yang sudah menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan jasmani maupun rohani, entah itu puasa wajib di bulan Ramadhan atau puasa sunnah.
     
           Shalat Malam Dirikanlah

Terdengar sulit memang untuk mendirikan shalat malam, tapi ternyata betul adanya waktu terdekat manusia dengan Rabbnya untuk berkomunikasi dan mengeluarkan peluh yang ada adalah tengah malah.  Saya mulai belajar tegas terhadap diri saya untuk paling tidak minimal seminggu dua kali berkomunikasi dengan Allah di waktu tengah malam.  Sampai suatu hari saya mulai berada di titik “INILAH YANG SELAMA INI SAYA CARI: KETENANGAN BATIN & KEYAKINAN”.  Saya mulai dihadapkan dengan kenangan masa kecil saya tentang betapa teganya ayah ibu saya mendidik saya dalam urusan agama, badan saya terasa menggigil saat saya kembali mengingat guyuran air yang sering ayah ibu siramkan kalau saya tidak mau shalat dan mengaji, dan titik balik ini seolah-olah membuat saya lebih paham seberapa sayangnya mereka terhadap kehidupan saya, bukan hanya kehidupan dunia tetapi juga akhirat. 
      
      Perbanyak dzikir malam

Mungkin yang selama ini kurang saya lakukan ada berdzikir di malam hari, saya jarang berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam waktu dan intensitas yang lebih lama.  Benar firman Allah bahwa, Tidak akan berubah nasip suatu kaum jika tidak dia sendiri yang merubahnya.  Pencarian saya saat ini membenarkan bahwa hidayah itu tidak datang dengan sendirinya tapi harus dicari.  Dalam pencarian panjang ini, tiba-tiba saat saya sedang melalui sebuah rumah yang sedang mengadakanpengajian entah mengapa saya tergerak untuk melajukan kendaraan saya dengan kecepatan sangat pelan, saat itu saya mendengar ustadz tersebut sedang memerikan tausiah tentang manfaat Qiyamul Lail (Ibadah Malam) salah satunya adalah Shalat Sunnah Tasbih.  Tiba-tiba saya kembali teringat cerita guru ngaji saya saat umur 7 tahun “Kerjakanlah Shalat Sunnah Tasbih, jika tidak sanggup setiap hari, seminggu sekali, jika tidak sanggup sebulan sekali, tidak sanggup juga setahun sekali, tetapi jika tidak sanggup SEUMUR HIDUP SEKALI”.  Kalimat SEUMUR HIDUP SEKALI itu yang membuat saya tergerak untuk kembali bertanya, “Sepersekian detik kemudian saya masih bisa gak ya Shalat Sunnah Tasbih?”.  Pertama kali saya melakukan itu, saya pun bingung apakah shalat saya sah atau tidak karena saya terus menerus menangis dari satu gerakan ke gerakan yang lain, dan baru kali itu saya merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
          
      Berkumpulah dengan orang shaleh

Jika kita berteman dengan tukang minyak wangi, kita pun akan demikian.  Ternyata betul karena pergaulan mempengaruhi pembentukan karakter.  Saya juga semakin percaya bahwa setiap pertemuan ada maksud yang hendak disampaikan oleh Allah.  Disini saya mulai sadar bahwa betapa sayangnya Allah terhadap saya karena saya pernah mengenal teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) saat kuliah dulu.  Sebuah organisasi yang awalnya saya ikuti hanya karna ingin memenuhi lembaran pengalaman, teman-teman yang sering saya anggap terlalu kolot padahal mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang mempertahankan kebenaran dan ketaatan mereka terhadap agama.  Saya mulai mengingat-ingat bagaimana teman perempuan muslim saya berpakaian, kesantunan dan ketaatan mereka dalam beragama.

Jujur titik balik ini mambuat saya takut untuk melewati ujian keimanan dari Allah berupa kesenangan, bukan saya tidak ingin senang tapi saya takut saat kesenangan itu datang keimanan ini kembali melemah.  Tapi saya yakin, selama Anak Adam masih bernafas selama itu pula keimanan ini akan diuji, dengan kesenangan maupun kesusahan.  Semoga saya dan kita semua termasuk di dalam golongan orang-orang yang beristiqomah dijalan-Nya.  Aamiin Ya Rabbalalamin.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Lovelill



Senin, 30 Juni 2014

Pemilu 2014, Democracy or Democrazy ?

Enjoy this post


Dua periode sudah Indonesia menikmati rasanya dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat pasca reformasi 1998.  Tinggal menghitung hari bagi kita untuk menentukan siapa pemimpin kita kelak.  Tulisan ini saya buat hanya untuk sekedar menampung aspirasi saya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, bukan untuk berkampanye membela si 1 atau si 2, bukan pula untuk memperkeruh keadaan yang semakin ruwet yang keburu beredar di sosial media, koreksilah jika tulisan saya kali ini dianggap keliru, mari kita belajar menjadi pemilih yang cerdas, terutama saya yang baru tahun ini bisa merasakan pest demokrasi yang sesungguhnya.

Berbicara menganai pemilihan umum, mari kita kaji dalam dua aspek yakni pemilu legislative (DPR, DPRD, DPD) mereka semua adalah wakil rakyat yang akan menjalankan konstitusi penuh terhadap NKRI, mereka pemegang amanat terpenting  dimana segala peraturan perundang-undangan yang menjadi penentu hidup dan matinya rakyat Indonesia selama satu periode kedepan bahkan lebih karena kita tahu bahwa undang-undang bersifat kekal selama tidak ada amandemen yang menggantikan bahkan menghapuskan undang-undang tersebut, yang mengatur keungangan bangsa dalam APBN, dan penentu iya atau tidaknya keputusan yang dibuat oleh presiden. selengkapnya tentang sistem politik Indonesia

Jujur saya menyesal karena di pemilu legislatif kemarin belum menggunakan hak pilih saya secara bijak.  Mungkin ini permasalahan hampir semua rakyat Indonesia, 500 kursi itu tidak sedikit, artinya sebagai rakyat kita juga merasa kesulitan untuk mengenal siapa dan bagaima para calon pemimpin kita.  Tapi sudahlah, anggap saja ini pelajaran bagi saya jika kelak masih bisa memilih pemimpin berikutnya.

Pemilihan kedua adalah pemilihan presiden yang akan dilaksanakan 9 Juli 2014.  Politik itu ibarat kita sedang jatuh cinta, dibutakan dengan segala penilaian yang pada dasarnya belum tentu 100% kita tahu.  Kita gerah dengan pemberitaan negative yang saling menjatuhkan masing-masing calon presiden, padahal salah satu diantara mereka adalah calon pemimpin kita, dan tidak sepatutnya pula kita membuka aib orang lain, dengan maksud dan tujuan apa pun itu.  

Sebagai seorang umat islam saya percaya Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 247:

Dan Nabi mereka pula berkata kepada mereka:"Bahawasanya Allah melantik Tholut menjadi raja bagi kamu. Mereka menjawab: "Bagaimana dia mendapat kuasa memerintah kami, sedang Kami lebih berhak dengan kuasa pemerintahan itu daripadanya, dan ia pula tidak diberi keluasan harta kekayaan?" Nabi mereka berkata:" Sesungguhnya Allah memilihnya (Tholut) menjadi pemerintah kamu, dan mengurniakannya kelebihan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan". Dan (ingatlah), Allah jualah Yang memberikan kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (RahmatNya dan PengurniaanNya), lagi meliputi ilmuNya."

Notes: Raja Tholut adalah seorang raja yang dipilih oleh dalam peperangan melawana pasukan Jalut untuk memperebutkan tanah Palestin, dimana Bani Israel merasa Tholut tidak pantas menjadi seorang raja karena beliau hanyalah seorang petani yang miskin.
Perlu digaris bawahi bahwasanya Allah yang berkehendak atas siapa saja yang akan diberikan amanat dalam pemerintahan.  Biarkan segala perkara setelahnya menjadi urusan Allah SWT, tugas kita sebagai anak bangsa adalah memilih calon ulil amri yang akan menjadi pemimpin kita kelak  

QS. An-Nisa ayat 58:
 (Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil, sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat).

Dan mentaati keputusan yang sudah dibuat adalah keputusan sesudah para pemimpin itu terpilih, 
QS. An-Nisa ayat 59:  
Wahai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan RasulNya dan ulil amri di antara kamu …

Layaknya cinta yang sedang mencari pasangan, tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk para pemimpin kita kelak. Pemilihan Umum 2014 ini adalah forum demokrasi, bukan democrazy, dimana setiap orang berhak memilih yang menurutnya baik, tidak ada yang salah, yang salah adalah orang yang bersikap acuh terhadap bangsanya.

Lovelill
Bekasi, 30 Juni 2014
 

Sumber:

  1. Al-Quranul Karim http://quran-terjemah.org/
  2. http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2013/07/ketatanegaraan-indonesia-struktur-pemerintahan-amandemen-lembaga-negara.html
  3. http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-quran-dan-hadist/kisah-talut-dan-jalut.html 


 

Template by Best Web Hosting