Kamis, 27 Februari 2014

Menikah, Menyegerakan atau Kejar Setoran ?

Enjoy this post

Saya kembali tertarik menulis topik tentang "Menikah" setelah membaca postingan  dua tahun silam tentang "Menikah muda itu enak".  Dari dulu saya memang menginkan untuk bisa menikah muda, maksimal 24 tahun, itupun kalau Allah mengizinkan.


Belakangan saya dikasih kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah lebih banyak.  Untuk pertama kalinya kami berbicara serius mengenai pernikahan.  Pertama adalah ketika saya yang belakangan ini sedang disibukan dengan rencana melanjutkan studi di salah satu universitas di Bandung, jika memang jalannya dan Allah memberikan kepercayaan kembali untuk saya Aamiin Ya Rabbalalamin, rencananya selama 2 tahun saya akan lebih sering tinggal disana dan tentu jauh dari orangtua.  Atas nama kasih sayang dan kekhawatirannya ayah memberikan saya nasihat untuk kuliah sambil nikah, alasannya biar ada yang menjaga saya dan memang sudah kewajiban seorang ayah untuk menikahkan putrinya yang akil baligh sesegera mungkin (Hadits 5 hal yang harus disegerakan : Shalat, Taubat, Membayar Hutang, Mengubur Jenazah, Menikahi Anak Perempuan yang sudah cukup)


Kontan saya kaget, karena saya paham betul ke dua orang tua saya bukan tipe orang yang terobsesi untuk menikahkan anaknya apalagi ibu saya.  Dulu zaman saya kuliah beberapa orang dekat ayah saya sudah ada yang mencoba melamarkan anaknya untuk saya, namun dengan sangat halus dan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat itu ayah menolaknya.  Saya bingung karena beberapa tahunn  ini sudah ada orang yang dengan setia menemani saya, meski belum ada ikatan yang mendekati kata pernikahan alias lamaran.  Pasangan manapun pasti memiliki keinginan untuk bersama, termasuk kami.  Tapi disisi lain, saya hanya seorang anak perempuan yang masih punya kewajiban untuk mengabdi kepada kedua orangtua, toh gak ada yang salah memang dari perjodohan, karena saya sendiri anak hasil perjodohan dan justru menyaksikan keromantisan dan keharmonisan yang luar biasa dari orangtua saya.

Setelah perbincangan mengenai nasehat ayah untuk segera menikah, dua hari kemudian saya menemani beliau bertemu dengan temannya semasa menjadi santri di salah satu pesantren di bilangan Jakarta Selatan.  Entah menyindir atau apa, siang itu mereka sedang bernostalgia saat menjadi santri.  Mereka punya salah satu teman yang terpaksa meninggalkan pujaan hatinya karena tidak bisa bersabar menunggu untuk dipinang.  Saya ingat betul kalimat ayah yang memang sangat menohok (sepertinya memang sedang menyindir)

"Problema anak gadis kan dari dulu sama, kebelet kawin tapi yang diajak kawin belom siap, didesek terus lah lama-lama laki bosen jenuh digituin, ditinggalin katanya dianggap gak serius, cuma mainin anak orang, padahal kan kita jadi laki pengen ngasih yang terbaik.  Nih kaya anak gue dibilangin susah, disuruh cari laki yang umurnya, pengalamannya, pendapatannya, dan pasti agamannya yang lebih mateng, biar kapan pun disuruh ijab qabul udah siap.  Tapi kalo udah cinta susah emang, bikin orang jadi dableg."

Emmm saya cuma bisa nyengir saat itu.  Saya gak punya hak buat nuntut terlalu jauh untuk segera dinikahi oleh pasangan saya, saya gak mau jadi beban untuk dia, gak mau menjadi orang yang mematahkan mimpinya, kalau saya harus milih saya tetap ingin menjadi wanita di balik layar kesuksesannya, dipinang tanpa harus mematahkan apa yang telah diperjuangkan.  Toh saya memang belum siap untuk menikah, kalo ditanya kepingin, saya jawab IYA, tapi menikah itu gak cuma butuh modal KEPINGIN tapi butuh modal yang disebut dengan KESIAPAN.   


Seperti sedang mengalami efek domino, malam harinya saya kembali dinasehati oleh teman saya yang akan menikah beberapa bulan lagi.  Dia memberikan nasihat kepada saya untuk segera menikah, menuruti apa yang diharapkan ayah.  "Makanya gak usah pacaran, jodoh kita kan udah disiapin".  Jleeeeeb.  Ibarat nasi sudah jadi bubur, ya tinggal dikasih pelengkap aja biar rasanya tidak anyeb.  Jadikan pelajaran untuk anak saya kelak.  Saya hanya bisa menjawab nasihatnya sambil senyum-senyum, terbesit iri karena dia sudah sangat siap untuk menikah, itu yang belum ada di dalam diri saya.





" Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)"



Sebagai umat islam saya percaya Firman Allah di atas.  Tapi sekali lagi prihal baik buruknya manusia yang tahu hanyalah Allah, Allah pula yang berhak untuk menilai.   Jika kita sering berkata bahwa yang baik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah, seharusnya kalimat itu juga berlaku untuk menafsirkan ayat ini, bukan lantas selalu  bagaimana dengan fenomena wanita yang baik justru mendapat yang buruk, atau sebaliknya.  Sekali lagi kita juga perlu mempelajari asbabunuzul (sebab-sebab turunya Al-Quran) disinilah pentingnya memahami ayat demi ayat, agar kita tidak tersesat pada kesombongan untuk menghakimi orang lain dengan memberikan penilaian yang sebenarnya bukan hak kita.  Tugas kita kaum muslimin yang masih dalam tahap pencarian adalah, berdoa dan berusaha untuk menjadi wanita/laki-laki yang termasuk kedalam golongan baik di mata Allah.  Biar perkara rizki, jodoh, dan maut Allah yang bekerja, toh memantaskan diri jauh lebih berharga daripada meratapi diri karena belum bertemu jodoh.

Meskipun perkara nikah adalah ibadah, belum menikah bukan berarti tidak bisa beribadah bukan?  Masih banyak yang bisa kita lakukan, ibadah bukan semata-mata hanya menikah, sambil menunggu terwujudnya pernikahan, kita masih bisa beribadah yang lebih banyak.  Berzikir tanpa harus diresahkan dengan lelahnya mengurus anak, shalat malam tanpa harus diganggu dengan "urusan ranjang", puasa sunnah tanpa harus izin dulu sama suami, menginfakan pendapatan lebih banyak karna tidak harus memikirkan pengeluaran untuk keperluan susu anak lah, sekolah anak dll.  Untuk yang masih single belum punya pacar, mumpung terlanjur belum punya pacar lebih baik ikuti nasihat teman saya tadi, dan bagi yang sudah tetapi masih dirasa sulit untuk bersatu entah karena kesiapan atau apa (termasuk saya) yuk mulai meluruskan niat, apakah kita menikah memang untuk ibadah, ikut-ikutan trend, atau "tuntutan" (Naudzubillah).

Saya yang masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih baik

Lovelill2014




0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting