Jumat, 25 Februari 2011

Saya dan Rokok

Enjoy this post

Saya dan rokok.  Saya dan rokok punya cerita banyak yang saya hasilkan dari pengalaman saya sebagai seorang perokok pasif, ya perokok pasif karena saya bukan perokok aktif yang menghisap racun-acun yang dilinting dan kemudian mengeluarkannya dalam bentuk asap yang mengepul.

Semua orang tau rokok.  Saya rasa semua tahu rokok, tahu baik secara dalam maupun mengenalnya.  Entahlah, bagi saya nampaknya rokok sudah menjadi kebutuhan hidup di negara ini.  Setiap hari setiap langkah, kanan kiri selalu nampak segumpalan asap tipis dengan bau yang kurang enak bagi saya. Semua orang mengetahui rokok secara leluasa tanpa makna terkadang.

Begitu banyak obsesi saya yang hadir karna rokok.  Mulai obsesi positif maupun negatif.  Saya mengenal rokok dengan kegelisahan, kesedihan, kebencian, harapan, dan pertanyaan.  Saya bukan yang kontra dan bukan juga yang pro dengan keberadaan rokok di negeri ini.

Saya, rokok, dan kegelisahan.  Saya gelisah saat saya melihat begitu banyak perokok aktif yang saya temui di mana pun saya berada.  Mulai dari aki-aki yang bau tanah, anak muda, bahkan anak ingusan sekali pun, lelaki dan wanita juga nampaknya tak malu memperlihatkan wibawanya sebagai seorang perokok aktif.  Kegelisahan saya menyeruak layaknya seekor tikus yang diintai ular di balik semak belukar di tengah malam yang mencekam.  Saya sangat gelisah miris tak terelakkan ketika saya melihat kepulan asap dengan bau yang menyesakkan keluar dari mulut seorang anak ingusan.  Ah, entah karena mereka memang mengikuti kodrat orangtuanya sebagai seorang perokok atau pun salah jalan, yang jelas saya gelisah.  

Sebagai seorang calon ibu dikehidupan yang akan datang saya gelisah memikirkan akan seperti apa anak saya menyaksikan ulah para perokok muda jaman sekarang.  Apa yang harus saya katakan kepada anak saya jika dia bertanya mengapa aku tak mengizinkannya merokok padahal di sekelilingnya banyak perokok yang dia temui???  

Saya, rokok, dan kesedihan.  Kemarin sore saya hendak pulang ke rumah saya di daerah Bekasi dengan menggunakan transportasi kereta ekonomi.  Suasananya saat itu tidak terlau kisruh karena memang kereta ekonomi Bekasi jauh lebih tertib ketimbang ekonomi Bogor.  Persis di hadapan saya seorang ayah dengan memegang pikulan dagangannya duduk di depan pintu kereta, disampingnya berdiri dengan sangat manja anak perempuannya, usianya jika diterka mungkin sekitar 3 tahunan.  Tak lama si anak meilhat tukang mainan duduk di persis dihadapannya, tak ayal anak itu pun langsung merengek minta dibelikan mainan yang harganya Rp 5000,-.  Sang ayah justru berkata " Udahlah gak usah beli mainan, bapak gak punya duit."  Si penjual pun langsung pergi, dan tak lama kemudian datang seorang pedagang rokok.  Mata si anak belum berpaling dari si tukang penjual mainan itu, masih berharap dia kembali datang dan ayahnya mau mebelikannya.  Bukannya membelikan si anak mainan, sanga ayah malah memanggil si penjual rokok, dan membeli empat batang rokok.  Harganya sedengar saya sekitar Rp 4000.

Saya sedih, saya terpukul bahkan sangat terpukul.  Bagaimana tidak, saya pernah berada di posisi anak itu, merengek dengan kepolosan berharap bisa dibelikan mainan, tapi apa? sang ayah justru dengan piciknya berkata tidak punya cukup uang untuk membeli mainan seharga LIMA RIBU, tapi mampu mebeli 4 batang rokok seharga EMPAT RIBU.  Hey Pak, dimana otak anda, dimana hati nurani anda!! Ah, sedih miris saya menyaksikan kejadian ini, sungguh benar-benar kejadian di luar akal sehat.

Saya, rokok, dan kebencian.  Jika ada hari dimana membunuh itu diperbolehkan, saya pasti akan membunuh para perokok aktif yang saya temui.  Kebiasaan saya menggunakan transportasi kereta ekonomi terkadang membuat saya merasa sangat terganggu jika saya harus duduk atau berdiri persis di dekat orang yang sedang merokok.  Pikiran liar saya pun mulai beraksi, jika saja membunuh itu diperbolehkan saya akan membunuh mereka dengan tidak segan mendorong mereka ke rel, ahh tapi sudahlah, toh mereka pun sudah membunuh diri mereka secara perlahan dengan rokok yang mereka hisap tidak sesekali bahkan berkali-kali.

Saya, rokok, dan harapan.  Seperti kebanyakan orang pasti mereka memiliki harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dengan bayaran yang paling tidak mencukupi kebutuahan hidup mereka.  Jika melihat strategi pemasaran sebuah produk rokok, rupanya saat ini mereka lebih memilih mempromosikan produk mereka melalui sebuah event, berhubung saya adalah orang yang sedang menggeluti perkuliahan dibidang event Manegement tepatnya Program Study D IV MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) Politeknik Negeri Jakarta, saya sangat berharap bisa bekerja di salah satu  perusahan rokok di Indonesia di divisi event.

Saya, rokok, dan pertanyaan.  Begitu banyak pertanyaan di otak saya mengenai rokok.  Tapi satu pertanyan besar saat ini dalam otak saya adalah, apakah saya harus mengikuti keidealismean saya bahwa ternyata dalam hati saya jelas mengatakan tidak untuk rokok, atau saya memang harus menikmati manisnya uang ketika saya bekerja di perusahaan rokok?  Uang yang dihasilkan dari orang-orang yang nyaris mati karena ketololan mereka sendiri??? Ahhh pertanyaan ini sungguh menyiksa saya.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting