Senin, 03 Januari 2011

Jangan Gunakan Kata Autis

Enjoy this post


Sindrom Asperger (bahasa InggrisAsperger syndromeAsperger's syndromeAsperger's disorderAsperger's atau AS) adalah salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima. Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger pada tahun 1944. Sindrom Asperger dibedakan dengan gejala autisme lainnya dilihat dari kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata (ini berarti sebagian besar penderita sindrom Asperger bisa hidup secara mandiri, tidak seperti autisme lainnya). Sindrom Asperger juga bukanlah sebuah penyakit mental.
Ketika orang berbicara, umumnya mereka menggunakan bahasa tubuh seperti senyuman dan komunikasi nonverbal lainnya, dan juga kata-kata yang dikeluarkan oleh mereka cenderung memiliki lebih dari satu buah makna. Seorang penderita sindrom Asperger memiliki kesulitan untuk memahami bentuk-bentuk komunikasi non-verbal serta kata-kata yang memiliki banyak arti seperti itu, dan mereka hanya memahami apa arti kata tersebut, seperti yang ia pahami di dalam kamus. Para penderita sindrom Asperger tidak mengetahui bagaimana memahami ironisarkasme, dan penggunaan bahasa slang, apalagi memahami mimik muka/eskpersi orang lain. Mereka juga tidak tahu bagaimana caranya untukbersosialisasi dengan orang lain dan cenderung menjadi pemalu.
Para dokter melihat sindrom Asperger sebagai sebuah bentuk autisme. Seringnya, disebut sebagai "autisme yang memiliki banyak fungsi/high-functioning autism". Hal ini berarti setiap penderita sindrom Asperger terlihat seperti halnya bukan seorang autis, tetapi ketika dilihat, otak mereka bekerja secara berbeda dari orang lain. Para dokter juga sering mengambil kesimpulan yang salah mengenai sindrom Asperger setelah mendiagnosis penderitanya, dan memvonisnya sebagai pengidap skizofreniaADHDsindrom Tourette ataukelainan mental lainnya.
Bagian otak yang memiliki kaitan untuk melakukan hubungan sosial dengan orang lain juga sebenarnya mengontrol bagaimana tubuh bergerak dan juga keseimbangan tubuh. Karena itu, seorang penderita sindrom Asperger mungkin mengalami masalah yang melibatkan pergerakan tubuh, seperti halnya olah raga, atau bahkan jalan kaki, yang kadang-kadang sering terpeleset. Mereka juga memiliki kebiasaan grogi/nervous.
Para penderita sindrom Asperger cenderung lebih baik dibandingkan orang-orang lain dalam beberapa hal seperti matematika dan hitung-hitungan, tulisan serta pemrograman komputer. Banyak Penderita sindrom Asperger memiliki cara penulisan yang lebih baik dibandingkan dengan cara mereka berbicara dengan orang lain. Mereka juga memiliki sebuah minat yang khusus yang mereka tekuni dan bahkan mereka menekuninya sangat detail, serta mereka justru menemukan hal-hal kecil yang orang lain sering melewatkannya.  (Sumber www.wikipedia.com)

Nah setelah kalian belajar dan tahu apa itu sindrome autis, pasti kalian bertanya-tanya mengapa saya memberi judul jangan gunakan kata autis.  Sedikit cerita beberapa bula lalu sepulang saya les bersama dua teman saya yang lain menggunakan transportasi andalan rakyat yakni angkot.  Kedua teman saya terus berceri banyak hal sambil sesekali tertawa lepas.  Dinda teman saya saat itu berkata pada Risty dengan suara yang cukup kencang "Autis lo Ti!".  Kemudian seorang ibu muda yang duduk persis di samping saya langsung menyambar ucapan Dinda tadi.

"Apa mulut kamu gak pernah diajarin buat ngomong sopan ke temen?  Apa kamu gak tahu autis itu apa?  Belajar dong, percuma kamu normal tapi kamu gak tahu autis apa!"  Ucap ibu tersebut dengan sedikit geram.  Kami bertiga hanya terdiam, untung hanya ada kami bertiga, ibu itu, dan supir di depan, jadi teman saya tidak merasa sangat dipermalukan.  Melihat kami yang hanya terdiam ibu tersebut kembali melanjutkan ucapannya seolah-olah ingin memaki Dinda habis-habisan.

"Pernah gak kamu ngerasain sakitnya jadi seorang ibu yang punya anak autis?  Kamu enak aja ngatain temen kamu autis!  Ada yang salah emang sama anak autis?"

Kami pun masih terdiam tanpa kata, saya pun akhirnya hanya bisa berkata "Maafin yah bu, teman saya mungkin gak bermaksud apa-apa!"  Lalu ibu itu menjawab "Becandanya kelewatan!  Parah sih orang Indonesia, gak bisa nggunain kata!"  Ibu tersebut pun akhirnya turun.  Saya hanya bisa terdiam, dan menelaah ucapan ibu tersebut.  Sementara Dinda dan Risty mereka sibuk memaki ibu tersebut seturunya.  Dari kaca spion pun abang angkotnya hanya tersenyum seraya meledek pada kedua teman saya.

Saya bisa merasakan bagaimana tekanan yang harus dihadapi ibu tersebut, dan beberapa ibu yang memiliki beban yang sama sepertinya.  Namun bagi saya, anak dengan sindrom seperti ini terkadang lebih hebat, dan lebih bisa menghargai hidup mereka.  Ucapan ibu itu pun ada benarnya bahwa kita harus bisa menggunakan bahasa yang tepat, dan jangan memanggil orang dengan kata-kata yang tidak pantas.

Benar-benar seorang ibu yang inspiratif.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting