Selasa, 21 Desember 2010

Analisa Kebijakan Sektor MICE di Indonesia

Enjoy this post


Indonesia memiliki lingkungan fisik dan warisan social budaya yang sekaligus berperan sebagai daya tarik wisata yang harus dilestarikan.  Manfaat ekonomi yang dihasilkan dan investasi yang dilatar belakangi kekayaan dan potensi wisata yang besar ini bisa berkeinambungan di masa yang akan datang.  Lingkungan adalah tiang dasar dari produk industry pariwisata yang harus disikapi secara tanggap oleh berbagai pihak yang berkecimpung di dalamnya, baik dari ruang lingkup nasional, maupun internasional.

Industry MICE berbeda tetapi tetap satu kesatuan yang sama dengan industry pariwisata lainnya yang patut diperhatikan pembangunannya secara berkesinambungan guna melestarikan alam agar bumi tetap terjaga seiring dengan perkembangannya.  Industry MICE memang belum sepopuler industry pariwisata lainnya, namun prediksi berkembangnya MICE secara global, jelas membutuhkan seseorang yang ahli dibidangnya yang tidak hanya memikirkan bagaimana MICE itu berkembang akan tetapi bagaimana perkembangan kelesatarian lingkungan seiring dengan perkembangan MICE itu sendiri.

Industry MICE yang mayoritas pelaksanaan kegiatannya berada di dalam ruangan jelas membutuhkan banyak ide dan pemikiran yang berwawaskan pada kelesatarian lingkungan.  Selain dasar pemikiran bagaimana kelestarian lingkungan itu terjaga, ide dan pemikiran ini juga dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik terhadap penciptaan ide kreatif disetiap penyelenggaran MICE agar wisatawan yang masuk kedalam tipografi wisatawan MICE tidak jenuh dengan pengadaan konsep yang ada.

Bagaimana seharusnya keberadaan, dan bentuk  infrastruktur (gedung) MICE yang ideal ?

Hampir semua pakar planologi mengetahui bahwa tata ruang Indonesia semeraut.  Tidak ada praktek secara jelas dalam pembangunannya, penetapan zona hanya sebagai teori tanpa adanya kebijakan yang tegas dari pemerintah mengenai penempatan bangunan-bangunan secara berzona.  Oleh sebab itu, belajar dari kesalahan yang ada dan kemungkinan yang keci untuk merubah sistem pembangunan di Indonesia, pembanguan infrastruktur MICE seperti gedung-gedung konvensi sebaiknya diletakkan di kawasan pemanfaatan yang masih ada yang berada di pusat kota dan perbeisnisan tanpa mengganggu daerah resapan atau pemukiman penduduk yang ada.  Karena selain faktor lingkungan, yang perlu diperhatikan adalah faktor social.  Jangan sampai ada penggusuran pemukiman warga hanya untuk membangun infrastruktur MICE.

World Travel and Tourism Council (WTTC) bekerjasama dengan World Tourism Organization sebagai lembaga tertinggi kepariwisataan dan travel di bawah naungan bendera PBB, sudah membuat peraturan mengenai kebijakan pariwisata global yang menitik beratkan pada konsep Green World.  Konsep yang dibuat dengan cara memberikan insentif untuk setiap industry yang peduli lingkungan, dan sangsi bagi setiap industry yang mengabaiknnya jelas patut diikuti oleh pelaku dibidang industry MICE.

Issue pemanasan global menjadi issue terpenting yang tidak hanya menjadi pembicaraan hangat diberbagai kalangan, namun menjadi bahan acuan bagi setiap industry bisnis untuk mau turut serta dalam pelestarian bumi.  Oleh sebab itu, industry MICE yang dekenal sebagai industry yang lebih sering memanfaatkan ruangan untuk pengadaan kegiatan MICE, penggunaan kertas yang berlebih, serta pengguanaan energy yang berlebih patut memikirkan bentuk bangunan yang ideal dan pengelolaan limbah yang dihasilkan sesudahnya.

Bentuk bangunan yang ideal**

Dunia arsitektur sekarang sedang berpikir tidak hanya membangun suatu gedung yang kokoh dengan interior yang megah nan mewah, namun juga sedang berpikir bagaimana menciptakan suatu bangunan yang dapat menyuplai sirkulasi udara yang cukup dan menyejukan serta penambahan intensitas cahaya yang cukup membantu penggunaan lampu yang juga mengandung bahan perusak ozon.  Penyiasatan ini dapat dilakukan dengan cara memperbanyak ventilasi di hall, serta membuat desain bangunan yang tinggi sehingga sirkulasi dapat keluar masuk dengan teratur, selain itu penggunaan bahan marmer yang dapat memberikan kesan sejuk patut untuk dicoba dipakai, penempatan air terjun buatan dan taman indoor dapat juga membantu proses masuknya oksigen tambahan.  Hal di atas selain untuk proses sirkulasi udara, juga dapat digunakan sebagai aksen untuk mempercantik dan membuat desain hall yang berbeda.

Konsep green pada tahapan pembangunan sebaiknya dicanangkan jauh sebelumnya.  Hal demikian dilakukan dengan tujuan di halaman gedung terdapat taman dengan tumbuhan hijau yang sengaja dibuat agar pembentukan oksegin terjadi secara maksimal dan dapat masuk ke dalam hall yang dibuat.  Pemakaian Air Conditioner (AC) dapat disubtitusi dengan kipas uap yang cukup sejuk jika dibandingkan dengan AC, pensubtitusian ini dapat mengurangi gas CFC yang merupakan penyumbang terbesar gas perusak lapisan ozon yang dihasilkan dari bahan freon sebagai bahan pendingin AC, meskipun dunia telah mengganti bahan freon dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan, tapi ingat tidak ada satu mesin pun yang tidak memiliki pembuangan, jadi seminimum apa pun kandungan CFC dalam AC tetap menjadi penyumbang besar gas rumah kaca, apalagi dalam hal ini pasti membutuhkan jumlah AC yang cukup banyak.

Penggunaan kertas yang diperkecil juga tidak bisa diungkiri menimbulkan permasalahan baru.  Mau tidak mau pasti akan kembali pada pemanfaatan teknologi berupa penggunaan media computer, atau computer jinjing yang kita ketahui membutuhkan tenaga listrik yang lebih banyak.  Jika hal ini terjadi, Indonesia sebagai negara berkembang dengan kebutuhan listrik yang cukup banyak namun sumber energy yang tidak mencukupi akan menimbulkan permasalahan berupa krisis energy.  Kesimpangsiuran dan kontrofersi yang terjadi terhadap usaha pemerintah membuat PLTN (Pembangit Listrik Tenaga Nuklir), belum dapat dipastikan dapat membantu sector indusri MICE dalam penggunaan media elektronik.  Oleh sebab itu, industry MICE yang dikenal memiliki dampak multiplier effect yang cukup besar, seharusnya dapat bekerjasama dengan industry lain yakni industry pengolahan limbah baik, limbah padat maupun limbah cair.

Penggunaan kertas, dan bahan kering lainnya dapat dimanfatkan kembali setelah didaurulang.  Kertas yang tidak terpakai yang bukan merupakan dokumen penting dapat didaurulang kembali menjadi kertas baru, yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan yang membutuhkan kertas juga.  Bahan lain yang digunakan selain kertas, dapat juga didaur ulang menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis.

Pengadaan kegiatan MICE yang kurang lazim (tidak di dalam gedung) seperti di tepi pantai, di atas tebing yang sudah bisa dijangkau, di tengah taman, dapat menjadi alternative untuk memperkecil pengunaan energy listrik, dengan catatan seorang perencang kegiatan tersebut harus benar-benar memikirkan dampak yang terjadi setelahnya seminimum mungkin.

Pembangunan industry MICE berkesinambungan juga harus dilihat dari segi social dan budaya, seperti yang diterangkan di atas.  Konsep pembangun yang berkesinambuangan yang memperhatikan segi social budaya adalah konsep bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat bersaing sehingga dapat mendukung pertumbuhan industry MICE khususnya di Indonesia.

Penempatan sepuluh destinasi MICE dan tiga destinasi MICE yang dianggap potensial memberikan peluang usaha untuk meminimalisirkan angka pengangguran.  Yang harus dilakukakan oleh destinasi tersebut adalah menyiapkan sumber daya manusia baik yang terdidik maupun terlatih, agar tercapai suatu kesatuan sumberdaya manusia yang sadar wisata.  Berikan kesempatan bagi institusi pendidikan untuk membuka program study yang memang mendukung industry MICE, serta rangkulah mereka para anggota baru di industry MICE unuk mengembangkan MICE disetiapdestinasi secara ersama.

MICE juga membutuhkan tenaga diluar sumber daya diluar MICE.  Maksudnya adaaha, peluang lapangan kerja yang besar dari berbagai sector ketika MICE berkembang menjadikan MICE sebagai satu dari sekian banyak potensi untuk menggantikan sector-sektor yang saat ini dianggap dominan seperti sector pajak, maupun sector Migas.  Dengan adanya otonomi daerah, daerah dapat mengatur sendiri sitem daerahnya.  Itu artinya daerah dapat memberikan izin kepada siapa saja yang mau membuka usaha dibidang apa pun yang dapat mendorong perkembangan Industri MICE selama masih berada dalam koridornya.

Setelah penyadaran sadar wisata disetiap destinasi MICE, destinasi-destinasi tadi harus saling membantu untuk menopang kebutuhan sumber daya manusia satu sama lain.  Artinya ketika satudestinasi kekurangan sumber daya manusia, meeka bisa bertukar sumber daya manusia yang mereka miliki, hal ini juga lebih membuka peluang tenaga ahli yang ada dapat lebih profeisonal dan memiliki banyak pengalaman.  Setelah sesame destinasi saling membantu, destinasi yang ada juga harus membantu beberapa wiyah di Indonesia yang berpotensi sebagai destinasi MICE, namun belum terjamak sedikit pun.

Bagaimanapun konsep pembangunan MICE yang berkesinambungan, tujuan akhirnya tetap sama yanni mengembangkan sayap industry MICE dengan tetap meletarikan sumber daya yang ada baik sumber daya alam, maupun sumber daya manusia.

  

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting