Kamis, 24 April 2014

Peran Ayah dalam Dunia Parenting

Enjoy this post

Wiiih berat ya kayanya judulnya, padahal saya sendiri belum berkeluarga.  Belum berkeluarga bukan berarti saya gak punya keluarga, Alhamdulillah saya dititipkan di tengah keluarga yang harmonis dengan ayah dan ibu yang Insya Allah amanat dalam menjaga saya.

Berbicara mengenai parenting belakangan bulu kuduk saya dibuat merinding dengan pemberitaan seputar pelecehan seksual, gak hanya di media massa tapi kejadian serupa juga menghampiri salah satu murid taman kanak-kanak tidak jauh dari kediaman orang tua saya saat ini.  Saya mencoba menulis ini setelah sharing dan membaca berbagai literatur tentang parenting, kalo boleh jujur aslinya sih saya lagi bingung gimana nanti kalau saya jadi orang tua harus mendidik, menjaga, dan mengasuh anak saya.
Ini juga pelajaran buat saya sebelum mengakhiri masa lajang yang entah akan terjadi kapan dan dengan siapa.  Terkadang sebagai perempuan single kita sering lupa bahwa hakikat mencari pasangan juga bukan perkara teman hidup untuk menjadikan kita nyaman seumur hidup bersama dia, padahal perkara setelahnya itu jauh lebih penting, perkara iya atau tidak kita akan melahirkan nantinya kita juga butuh seorang pasangan yang bisa memaikan peran yang lebih dari sekedar pasangan idaman yakni ayah idaman untuk anak-anak kelak.

Suami idaman belum tentu bisa menjadi ayah idaman untuk anaknya, artinya adalah anak tidak bisa memilih dengan siapa dia akan dititipkan oleh pencipta-Nya, sekarang ini banyak suami idaman para wanita yang berhasil dimiliki, dengan kriteria mapan secara materi, enak diajak berkeluh kesah dan dengan sedikit bonus ketampanan, tapi mungkin setelah punya anak dia berubah menjadi sosok ayah yang hanya sibuk dengan membahagiakan anaknya hanya melalui materi dan lebih memilih membela diri dengan istilah "Tugas suami kan mencari nafkah, ya tugas istri dong yang mendidik anak."

Halooooo rasanya kalau ada seorang ayah yang ngomong begitu saya pengen banget teriak di hadapannya sambil bilang "Halooooo kan bikinnya sama-sama masa ngedidiknya gak mau sama-sama".  Anak itu butuh panutan, dan panutan utama adalah kedua orang tuannya.  Banyak yang bilang perempuan itu harus cerdas, karena dia madrasah utama bagi anaknya, tapi kadang kita lupa sebuah madrasah (sekolah) pasti punya kepala sekolah, siapa sosok kepala sekolahnya?  Ya pastinya ayahnya.

Kalau dalam rumah tangga sosok suami, dan ayah hanya berperan sebagai pelindung, tukang ngebenerin genteng yang bocor, dan pencari nafkah untuk anaknya itu artinya dia belum menjalani tugasnya sebagai kepala sekolah, hanya menjalani perannya sebagai penjaga sekolah. Seorang ayah sebagai kepala sekolah di dalam pendidikan anaknya adalah penentu visi bagi pendidikan anaknya kelak, kemudian menetapakan dan menjalankan misi bersama istrinya. Ibarat pesawat dia harus punya dua sayap untuk membawa penumpangnya selamat sampai tujuan (ke jenjang pernikahan anaknya kelak) dan kembali melakukan penerbangan yang baik dan bahkan semakin baik.

Sebagai contoh sederhana, ketika seorang anak tumbuh dan memasuki tahap Akil Baligh, bagi anak perempuan mungkin kita bisa dengan mudah mengetahui oh anak perempuan kita sudah akil baligh karena dia sudah mens dan setiap bulan kita juga bisa dengan mudah mengecek siklus menstruasinya, tapi apakah pernah bahkan saya kira hampir semua orang tua tidak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mengalami mimpi basah yang artinya itu adalah salah satu tanda bahwa dia sudah akil baligh dan sudah dewasa, sudah memiliki kewajiban penuh untuk beribadah (ini dalam perpsektif saya sebagai umat muslim), kalau kita gak pernah tahu kapan anak kita pertama kali mimpi basah, kita gak akan pernah sadar kalau anak lelaki kita sudah dewasa, dan kita gak bisa marah-marah begitu saja ketika dia tidak mau shalat subuh karna mungkin malamnya dia mimpi basah.  Saat kita tahu pertama kali anak kita mengalami pubertas, kita juga bisa meminimalisir kejadian yang gak diharapkan dari anak kita, semacem pacaran yang berlebihan yang justru mengarah kepada tindakan seks pra nikah (petting maupun making love).

Seks edukasi pada anak saya rasa sekarang butuh, yang mengkomunikasikan yang tentu orang tua, dimana ibu mencoba mengkomunikasinnya pada anak perempuannya, dan ayah pun demikian kepada anak lelakinya, memberitahu dengan bahasa yang sederhana namun dapat dimengerti tentang bagian mana dalam dirinya yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh orang asing dan lain sebagainnya.

Di agama saya, islam pun mengajarkan dalam kita Al-Quran bahwa seorang ayah lah yang berperan penting dalam pembentukan mental dan pola pikir anak, terbukti dengan tokoh Lukman di surat Lukman, yang saya ketahui dari asbabunnuzul surat ini (sebab-sebab turunya Al-Quran) Lukman memang bukan Nabi, tapi terpilihnya nama Lukman dalam Al-Quran karena kepatuhan, dan keshalihan beliau dalam mendidik anaknya, bahkan Nabi Ibrahim a.s. beliau adalah seorang ayah yang sangat sibuk, dan suka berpergian jauh tapi beliau masih bisa mendidik anaknya dengan kasih sayang dan perhatian sehingga anaknya berhasil menjadi seorang nabi pula.

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menemuimu hanya untuk urusan materi,
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah berbadan dua 
Jangan pernah salahkan anakmu ketika dia menenemui karena dia sudah menodai anak gadis orang lain
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Untukmu calon, dan kaum ayah
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa anakmu jauh darimu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak dia berkeluh kesah dengan kelakuan anakmu
Jangan pernah salahkan istrimu jika kelak kamu merasa dia lebih memahami anakmu dibandingkan kamu
Tapi salahkan peranmu yang terlalu menjaga jarak dengan anakmu

Mari belajar menjadi sosok ayah yang bukan hanya panggilan di dalam keluarga, tapi menjadi seorang ayah yang hangat, menjadi seorang ayah yang menjadi satu-satunya tempat untuk berkeluh kesah bagi anak-anaknya, jadilah sosok teman hidup bagi istrimu kelak yang kiranya bisa diajak menjalankan satu visi yang sama membangun madrasah pertama bagi titipanmu kelak.

Lovelill2014

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting