Kamis, 09 Februari 2012

Justifikasi yang Salah !

Enjoy this post

Apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain prasangka buruk orang-orang tentang kita yang justru menjadi fitnah??? 

Saya hanya bisa mengelus dada saat banyak anggapan miring terlontar dari mulut orang tentang hubungan saya dan Radhit.  Mulai dari rumor miring dia hanya bahan pelarian saya, teman selingkuh, sampai hanya karena harta.

Kalo ada anggapan rumput tetangga jauh lebih hijau mungkin itu hanya pribahasa kolosal, tapi tidak ada dalam benak saya.  Toh pada akhirnya satu tahun bukan waktu yang singkat untuk menjadikan hubungan ini sekedar sebagai teman selingkuh, bukan hal yang mudah untuk menjadikan hubungan ini sebagai bahan pelarian.  Kalo pun ada anggapan demikian, itu datangnya pasti dari orang bodoh yang hanya memandang satu sisi sebuah hubungan, karena faktanya selingkuh itu bukan hal yang mudah.

Harta???  Cukup ketawa saja kalo ada orang yang mikir saya menjalani hubungan ini karena harta.  Saya memang kenal dia sejak SD, tapi saya kenal dia karena kesederhanaannya.  Sekalipun  sekarang saya sudah tahu dia anak orang kaya itu bukan jadi alasan untuk saya sayang sama dia.  Dia adalah dia yang berdiri sendiri bukan atas nama orangtuanya.  Tidak peduli dia anak presiden sekalipun.  Toh saya sudah merasa sangat tercukupi dengan apa yang diberikan Allah melalui ayah saya, kasih sayang dan materi yang tidak semua orang bisa miliki dengan seimbang.

Bagaimanapun alasan miring yang beredar tentang saya dan hubungan ini, saya hanya bisa berpikir bahwa hidup terlalu singkat untuk sekedar menanggapi hal yang tidak ada kebenarannya meski pada kenyataannya sedikit banyak membuat engap hati.  

Saya tidak pernah melandasi hubungan yang saya jalani dengan siapa pun hanya dengan alasan-alasan picik daripada alasan hati.  Perasaan tidak bisa dimanipulasi, sekalipun sembunyi di balik celana dalam usang, perasaan tidak pernah bisa dinilai dari alasan picik yang tak bertanggungjawab.

Tolong siapa pun yang mengenal saya dan Radhit pahami bagaimana kami saling melengkapi kemarin, saat ini dan yang akan datang.  Saya tidak ingin bermuluk-muluk ria berharap pada satu hal yang belum pasti kepastiannya, tapi ada satu keinginan berat dalam harapan tulus bahwa kelak kami bisa bersatu, dengan atau tanpa alasan-alasan picik tersebut.


0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting