Jumat, 05 Agustus 2011

Hakikat Meninggalkan dan Ditinggalkan


Saya hanya ingin belajar mengungkapkan pendapat, tidak ada maksud menyindir atau pun menyinggung.  Tulisan ini juga sekedar mengingatkan saya untuk tidak menjadi pribadi yang egois dan kaku.  Sebuah tulisan yang hanya mencoba menembus ruang pemikiran-pemikiran orang tentang keputusan penting dalam hidupnya, tentang sebuah keputusan menyikapi sebuah hakikat kehidupan dalam pengambilan keputusan yang mungkin didasari oleh dua pemikiran cinta dan logika.

Hidup nampaknya seperti sebuah bom waktu yang kapan saja siap meledak.  Sebuah cerita yang awalnya dimulai dengan proses kelahiran anak manusia yang kemudian perlahan menapaki hidup dan pada akhirnya pergi dalam waktu yang tak satu pun orang tahu.  Yaah begitulah hidup, sebuah hakikat meninggalkan dan ditinggalkan.

Berbicara tentang meninggalkan dan ditinggalkan saya jadi berpikir jauh untuk menerobos kehidupan orang lain di sekeliling saya yang memilih berbagai keputusan ekstrim pasca ditinggalkan pasangannya, khususnya di dalam sebuah pernikahan.

Bukan maksud menghakimi keputusan mereka, toh hidup mereka adalah mereka yang mengetahui apa yang baik dan yang tidak, tentu juga keputusan mereka adalah keputusan yang didasari atas kehendak Tuhan.

Keputusan apa yang saya maksud??

Keputusan untuk menikah lagi atau tidak setelah ditinggalkan pasangan.

Jika ada seorang istri yang ditinggalkan suaminya keputusan menikah lagi tentu didasari oleh logika dalam pemikiran utama mereka.  Saya berani berpikir demikian karena saya menemui banyak istri yang sudah ditinggal mati suaminya dan mengataskan logika untuk memutuskan menikah kembali ketimbang mengataskan cinta.

Seorang istri yang kemudian terlahir sebagai ibu setelah ditinggal mati suaminya pasti akan berpikir "hendak jadi apa kehidupan anak saya kelak???  bagaiamana saya bisa bertahan hidup tanpa ada seorang suami yang bisa menafkahi saya dan anak-anak saya? Bagaimana dan bagaimana!"

Logika seorang ibu menyertai anaknya.  Saya rasa tidak salah jika memang hal utama memutuskan menikah kembali karena kepentingan masa depan anaknya.  Toh seorang ibu tidak akan sampai hati melihat masa depan anaknya suram.  Mereka tidak hanya butuh kasih sayang, tetapi juga materi.  Lumrah jika keputusan awalnya adalah sebuah logika yang dikedepankan, toh pada akhirnya seiiringnya waktu berjalan akan ada cinta yang jauh lebih dikedepankan ketimbang logika.

Berbeda dengan istri berbeda pula dengan suami.  Suami juga mengedepankan logika, namun mungkin cenderung agak egois.  Wajar saya rasa, karena lelaki terlahir dengan nafsu yang lebih kuat.  Suami akan cenderung berpikir bagaimana bisa dia hidup tanpa belaian seorang wanita.  Lebih baik menikah lagi ketimbang harus mencari alternatif "Jajan", atau jika logika sehat mereka berjalan mereka akan sedikit berpikir "Siapa yang akan merawat anak-anak saya kelak sementara kodrat saya adalah mencari nafkah."

Keputusan kedua adalah keputusan yang mengedepankan Cinta.  Saya sangat salut dengan orang yang masih bertahan setelah kematian pasangannya tanpa adanya pernikahan lagi setelahnya.  CInta bermain dengan keihlasan dan keyakinan bahwa dia bisa berjalan sendiri, ada ataupun tanpa pasangannya.  Toh jasad memang terkubur, tapi raga tetap ada.

Entah akan jadi seperti apa saya kelak ketika dihadapkan dalam drama hidup seperti itu.  Saya menyadari bahwa kehidupan itu adalah menerima kepergian setelahnya.  Saat ini saya hanya berdoa, kelak Tuhan melahirkan saya dalam dua fase lagi, yakni menjadi istri dan ibu, tolong lahirkan saya sekali seumur hidup.  Artinya biarkan saya menikmati menjadi seorang istri hanya sekali sampai saya tua, izinkan saya dan suami saya hidup sampai kakek nenek, paling tidak sampai kami benar-benar siap meninggalkan satu sama lain dalam keadaan anak-anak kami sudah cukup merasakan kasih sayang kami, dan sudah cukup kuat untuk kami tinggalkan.  Izinkan pula saya menjadi seorang ibu yang sel telurnya dibuahi hanya dari sel jantan lelaki yang sama seumur hidup saya.  Kalo pun Allah berkehendak lain, jadikana keputusan saya seimbang, logika menerima cinta, dan cinta menyertai logika.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting