Jumat, 24 Desember 2010

Signing Book Habibie-Ainun

Enjoy this post
Enjoy this post

23 Desember 2010, betapa terkejutnya aku saat Promotor besar sekelas Adrie Subono membalas mentionku di akun pribadi twitter milikku. Mention yang menjawab pertanyaan besarku tentang kebenaran rencana signing book Habibie-Ainun di Gramedia Matraman 24 Desember 2010.

Aku pun bergegas menuju kamar ibu, meminta izin agar diperbolehkan untuk mengikuti acara tersebut. Awalnya ibu mengizinkan asalakan aku berangkat diantar Mang Usen supir keluargaku. Tapi lantaran aku sudah memiliki janji dengan seseorang sebelumnya untuk pergi menghadiri acara tersebut bersama akhirnya aku berkilah. Dengan 1000 jurus kebohongan akhirnya ibu mengizinkaku asal menelpon ayah terlebih dahulu. Izin dari ayah ibu pun sudah ku kantongi.

Keesokan paginya pukul 10:30 aku berangkat menuju toko buku besar yang terletak di perbatasan Jakarta Timur dan Jakarta Pusat yaitu Gramedia Matraman. Hanya 1 jam perjalan menuju lokasi tanpa macet.

Kulihat beberapa petugas sedang sibuk membereskan stage tempat penandatangan buku. Garis antrian pun masih kosong, masih terasa sepi di sekitaran toko buku itu.

Aku menelusuri rak demi rak untuk mencari beberapa buku yang sudah lama aku incar. Ada 5 Buku saat itu yang aku beli, salah satunya adalah buku yang akan ditandatangani nanti yakni Habibie-Ainun. Sebenarnya masih ada satu buku lagi yang juga sangat aku kagumi, yakni perjalanan karir Warkop DKI yang saat ini menjadi buku kedua terlaris di Indonesia. Buku itu sudah aku pesan di tempat lain, makanya ku tinggalkan untuk membelinya.

Mataku pun tertuju pada seorang anak yang sedang asik berbelanja dengan ayahnya. Sungguh saat itu aku iri dan rindu ayah. Biasanya aku berjam-jam di tempat ini, menghabiskan waktu bersama ayah untuk berbelanja buku sampai ibuku pun terkadang menggerutu iri saking banyaknya buku yang kita beli.

Pesan singkat berisi "Ayah aku iri liat orang-orang belanja buku bareng ayahnya. Kapan kita kaya gitu lagi?" namun tak ada jawaban yang ku dapat. Perasaanku pun mendadak melow dan risih. Ku langkahkan kakiku menuju rumah Allah yang seharusnya di agungkan malah ditaruh di basement di ruang terpencil di sudut besar toko buku semegah itu.

Setelah berhasil menenangkan diri ku langkahkan kembali ke lantai 2 tempat berlangsungnya acara. Astaga sudah penuh, pikirku dengan wajah pucat pasi. Antrian sudah panjang seperti layaknya orang yang mengantri tiket pertandingan AFF. Tapi beruntung aku berada di urutan ke-15.

Setelah menunggu hampir 30 menit, sang Revormator pun datang. Bersama cucu-cucu kesayangannya, satu orang pria dengan ciri khas yang sudah tak asing, dan pengawal berbaju hitam gagah setia mendampingi Bapak Habibie.

Disapanya dengan senyum berseri-seri yang menghiasi wajah putih. "Masih sama, wajah seorang ahli surga" ucapku dalam hati. Tiga tahun lalu aku sempat bertemu dengan beliau, namun hanya menatap dari kejauhan dan bergumam "Benar-benar ahli ibadah."

Di saat orang sedang sibuk mengambil gambar, aku hanya memandangi dua orang lelaki yang aku kagumi.

Pak Habibie yang kecerdasannya tidak diragukan, kebapakan, dan rajin beribadah. Membuatku sangat mengagguminya layaknya aku mengagumi ayah dan kakekku.

Om Adrie Subono. Ingin rasanya banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengelola event berkaliber internasional yang sukses. Bagiku karir dan pendidikan yang ku rintis dalam bidang menejemen event harus banyak belajar dari beliau. Selain itu, aku juga harus belajar dari kesetiaan beliau menjadi keponakan yang sudah seperti anak sendiri bagi Pak Habibie.

Oh iya ada satu moment yang sangat membuatku terkesan. Moment disaat aku melihat Om Adrie mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Ah telepon genggamnya sepertinya hanya dari tipe yang sudah sangat jadul kalo menurut anak muda jaman sekarang. Ku perhatikan pula pakaiannya. Tak nampak penampilan yang berlebih. Kaos hitam polos, dan topi, sama persis dengan Om Adrie yang sering ku lihat di TV.  benar-benar sangat sederhana pikirku, padahal dengan kesuksesannya Om Adrie bisa membeli barang mewah sesuka hatinya.

Kembali ke penandatanganan buku. Ku tuliskan namaku dan sedikit testimoni. Begini isinya :
"Teristemewa untuk ziah muharam" Aku inging ucapan teristemewa karena aku ingin berbeda dengan yang lainnya yang selalu menuliskan kata "Spesial". Ku lanjutkan dengan testimoni untuk Pak Habibie "Terimakasih pada Allah Swt yang telah memberikan kesempatan kedua padaku untuk bertemu dengan orang sebaik bapak, selalu ada cinta untuk bapak dan ibu ainun".

Antrian demi antrian pun kulalui. Tubuhku memucat pasi, mendadak dingin membeku, gemetar sampai ingin tumbang rasanya. 

"Om Adrie, makasih yah mentionnya semalem"
Ucapku dengan rasa gugup pada Om Adrie
"Oh itu kamu!" Jawab om Adrie dengan senyum khas yang diiringi dengan lekukan lesung pipi di wajahnya.
"Iya Om!" lanjutku
"Siapa namanya?" Tanya Om Adrie sambil melihat secarik kertas yang ku selipakan di atas buku yang hendak ditandatangani.

Ku beraniakn diri untuk mengambil gambar. Dan aahh, Subhanallah aku diberi kesempatan mencium tangan Sang Guru Besar, Pak Habibie. Bagiku Pak Habibie dengan segala teori diluar politiknya (toeri fisika modern pembuatan pesawat) adalah guru besarku yang sangat mengagumi ilmu pasti dalam hal fisika.

Tangan Pak Habibie begitu halus, sangat wangi. Tangan terwangi yang pernah aku cium selain tangan ayah dan kakekku yang sering memakai wewangian khas bapak-bapak yang sering mereka dapatkan dari saudara kami yang ada di Mesir.

Aku pun berfoto di balik Pak Habibie dan Om Adrie. Setelah itu harus keluar dan mengizinkan pengantri lainnya merasakan kebahagian seperti yang ku rasakan.

Ku buka bukunya, tapi tak kudapi ucapan teristimewa. Hanya ucapan "Salam Untuk Ziah Muharam."

Tidak apa, pikirku hari itu aku sudah menjadi yang teristimewa. Disapa Om Adrie, Testimoniku pun dibaca dengan baik oleh Pak Habibie dan Om Adrie, berfoto di balik Pak Habibie, dan kesempatan emas yang tidak semua pengunjung dapati yakni Mencium tangan beliau.

Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan teramat senang. Ku lihat lelaki yang 3 tahun lebih menemaniku sudah menungguku dengan setia. Ku pegang tangannya dan kukatakan "Hehe,aku grogi banget yah sampe dingin gini." Dan dia hanya menjawab "Tau nih lebay!"

Kesempatan kedua yang terindah.

Bertemu dengan 2 guru besar, dan pergi bersama lelaki yang sampai saat ini masih setia menunggu dan menjagaku.

Thanks for Allah SWT, Info dari Om Adrie, Opi yang sudah berkenan mengantar, dan ayah ibu yang sudah ki bohongi (maafkan aku).

Teristimewa untuk Pak Habibie dan Ibu Ainun yang Insya Allah sudah ada di altar syurga Allah SWT.

*Mohon maaf karena fotonya belum bisa dipublish hari ini










Pengalaman asli milik

Bekasi, 24 Desember 2010

3 comments:

arga mengatakan...

wah pengalaman yang menarik bisa cium tangan sama pak habibie!
Saya salah satu yang ngantri juga lho, di antrian ke empat :D

Ziah Muharam mengatakan...

wah masa sih mas? mungkin karena padet jadi gak engeh yah

Hartinah mengatakan...

haloo...
kalau yg dimakassar minggu depan baru ada..
aduhh saya jd deg-degan menunggu event itu, ingin sekali jg bisa ketemu sama pak Habibie :)

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting