Selasa, 07 Desember 2010

Pesan Seorang Ayah

Enjoy this post

Hari ini tepat tanggal 1 Muharam.  Hari baru dalam kalender hijriyah sekaligus libur nasional.  Liburan yang hanya sehari ini aku manfaatkan untuk memanjakan diri di kamar kecil di kostan.  Seharian di dalam kamar, keluar hanya untuk buang air atu berwudhu ketika kewajiban datang padaku.  Tidur, di depan komputer, membaca buku, dan kembali tidur.

Pukul 13:00 mataku kembali mengantuk pasca membaca beberapa lembar materi untuk UAS Marketing.  Ku putuskan untuk menarik selimut dan tertidur.  Pukul 16:00 aku terbangun saat menyadari hujan turun, ku buka mata dan bergegas untuk melaksanakan kewajiban shalat Ashar.  

Setelah selesai shalat ashar aku terdiam sendiri di kamar, dan ku dengar dari teras kostan beberapa temanku sedang tertawa geli menonton film Kiamat Sudah Dekat.  Piranku pun lansung berjalan menysuri kejadian yang berkaitan dengan film itu, kejadian yang aku alami bersama ayahku saat kami nonton film tersebut di bioskop.

Saat itu ayah belum sesibuk sekarang.  Ayah masih punya waktu di Sabtu-Minggu atau di hari-hari lain pun kami masih sempat bertemu di rumah, dan mengobrol banyak hal.  Ayah yang kebetulan penganggum Deddy Mizwar mengajakku untuk menonton film ini.  Awalnya ayah hanya ingin mengantarku untuk cek mata di salah satu Optik langgananku yang terletak di pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Utara.  Setelah selesai niatnya kami makan siang, namun tiba-tiba ayah mengajakku untuk menonton film.  Setelah sampai di Bioskop kami memutuskan untuk menonton film Kiamat Sudah Dekat garapan Deddy Mizwar.

Awalnya ada kebosanan yang melanda diriku, pikirku saat itu adalah filmnya norak, dan terlalu berlebihan karena mengangkat gaya rock and roll yang.  Akan tetapi di tengah pemutaran film, sangat terasa pesan yang ingin diangkat.  Sampai-sampai aku meneteskan air mata saat menjelang scene terakhir.

Film pun berakhir, kemudian kami menuju food court yang terletak satu lantai di bawahnya.  Saat kami sedang menikmati makanan yang kami pesan, tiba-tiba ayah berkata "Kalo nanti kamu mau nikah, ayah juga pasti ngelakuin hal yang sama kayak film tadi."  Aku pun langsung bertanya dengan penasaran "Kenapa??  Mau ikutan Pak Deddy ya yah??"  Lalu ayah menjawab " Jauh sebelum film ini ada, kakek kamu udah ngelakuin kebiasaan kayak gitu setiap ada yang ngelamar anak gadisnya! Contohnya pas ayah ngelamar ibu kamu, ayah dites dulu tuh kayak gitu!"  Jelas ayahku penuh semangat.

Aku pun terdiam dan kembali bertanya dengan penasaran " Kok kayak gitu yah, emang kenapa??"  sambil mencubit hidungku ayah berkata " Dasar anak polos!!  Begini, nikah itu bukan perkara sejam dua jam.  Nikah juga bukan perkara banyak atau gaknya duit suami.  Tapi nikah itu saling melengkapi antara imam dan makmum."  Sambil menggigit sedotan aku menjawab "Heh gak ngerti yah!!"

Dengan sabar ayahku pun menjelaskannya lebih dalam " Agama adalah hal terpenting dalam pondasi keluarga.  Ayah gak nuntut calon suami kamu nanti orang kayak yang mapan.  Yang ayah tuntut cuma 4.  Agama, Cinta, Ilmu, dan Pekerjaan yang tetap.  Agama yang terpenting.  Suami kamu imam buat kamu, yang bakal ngebimbing kamu.  Kalo agamanya udah kuat Insya Allah dia bakal sadar tanggung jawab buat ngebahagiain kamu dunia akhirat.  Kamu cewek satu-satunya di keluarga, kalo gak ada ayah ibu siapa lagi yang mau ngejaga kamu.  Ayah bakal tenang nyerahin kamu ke cowok yang memang sudah mapan agamanya, mapan secara materi masih bisa kalian bangun sama-sama.  Cari suami yang paling tidak paham agama, paham bagaimana dia harus memperlakukan wanita."  


Aku pun mulai menelaah kata demi kata yang ayay keluarkan untukku.  Saat itupun aku masih menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang sifatnya mirip dengan tokoh Fandi yang diperankan oleh Andre Taulani.  Seketika pikiranku tertuju padanya, berpikir penuh tanya apakah dia mampu menaklukan hati ayahku nanti ??

"Kok diem sayang?" tanya ayahku
"Hehe, gak apa-apa kok yah!"
"Udah jangan terlalu dipikirin, yang penting sekarang belajar yang bener!"
"Tunggu deh yah, kalo misal nanti aku punya calon suami, ayah bakal ngetes dia ngaji sama shalat juga???"
"Iyalah!! Kan gak lucu dong kalo entar kalian punya anak, anak kalian minta ajarin ngaji sama shalat tapi gak bisa, atau bacaannya gak bener!"  jelas ayahku dengan sigap.

Rasa cemas pun menghampiriku, saat aku menyadari bahwa pasanganku saat itu benar-benar bukan seorang yang taat beribadah dengan kata lain islamnya islam KTP.  Bahkan ketika aku menyuruhnya untuk shalat, 1001 alasan dia keluarkan, padahal umurnya 5 tahun lebih tua dariku seharusnya dia lebih bisa membimbingku dalam segala hal pikirku saat itu.

Lalu ayah memegang tanganku dan kembali berkata
"Jangan pernah main belakan sama ayah yah sayang! Kalo suatu saat kamu udah netapin pilihan, bawa cowok itu ke rumah.  Biar ayah liat, dia baik atau enggak buat kamu.  Ayah cuma gak mau anak ayah jatuh ke tangan orang yang salah."  Jelasnya dengan sorot mata yang seolah-olah memintaku penuh harap.

Mungkin dulu aku tidak paham dan acuh terhadap pesan ayah saat itu, tapi saat ini aku benar-benar paham makna dari semua pesan itu.  Menjaga, dan melaksanakannya kelak saat aku benar-benar telah cukup dewasa dan siap untuk menjadi seorang makmum yang diridhoi oleh Allah SWT karena Keridhoan ayah ibuku.

Thanks for the advice my dad !

Semoga saat ada lelaki yang meminangku, engkau masih sempat menjadi wali bagiku, menjadi pembimbingku untuk menemukan yang terbaik yang akan menggantikan kewajibanmu atas diriku.



0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting