Jumat, 31 Desember 2010

AKU, bahkan KAMU lebih beruntung dari MEREKA !

Enjoy this post

Kemarin setelah lama kaki ini tak melangkahkan kaki keluar rumah akhirnya melangkah juga menuju satu kota kecil di perbatasan selatan Jakarta yakni Depok.

Seperti biasa aku lebih memilih menggunakan KRL ketimbang harus diantar atau naik bus.  Ku pilih KRL ekonomi express AC untuk mengantarkanku menuju stasiun Gondangdia untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Depok.  Ya, beruntung sekali aku mendapatkan kereta ekonomi non AC untuk mengantarkanku ke Depok.

Ku naiki satu persatu anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan peron 2 di stasiun Gondangdia.  Larak-lirik di sepanjang peron, berharap ada kursi kosong untuk melemaskan kakiku yang rupanya mengencang karena tak biasa menaiki anak tangga sebegitu banyak.  Ah, beruntunglah aku ada sedikit sela paling tidak untuk pantatku menempel.

Di sampingku ada bapak tua yang masih gagah.  Berbincanglah kami dengan awal perbincangan menanyakan hendak kemana aku.  Dari kejauhan klakson kereta terdengar panjang, itulah kereta yang akan mengantarkanku dan para penumpang lainnya ke stasiun-satasiun tujuan mereka masing-masing.

Ku lihat gerbongnya masih lenggang, bahkan beberapa kursi masih terlihat kosong.  Ah syukurlah, aku mendapat tempat duduk, dan tak disangka bapak tua itu duduk di samping kiriku.  Ku pandangi wajahnya yang mulai dipenuhi dengan kriput, rambutnya pun sudah jarang yang hitam.  Pikiranku kembali menerka-nerka berapa umur beliau, ya mungkin 10 tahun lebih tua dari ayahku atau tepatnya 60 tahunan.  Tapi badannya masih sangat gagah untuk ukuran umur 60 tahun.

Rupanya perjalananku kali ini dengan kereta ekonomi tidak ada yang berbeda.  Suara riuh pedagang masih memantul di sudut-sudut gerbong, dangdut sebagai nyanian rakyat pun masih terdengar merdu dari radio usang para pengamen.  Hey bung ini Jakarta, lengah sedikit hilang sudah ingatku pada kalimat yang pernah ku dengar dari mulut Almarhum Om Dono Warkop di salah satu filmnya.  Aku pun sedikit waspada karena aku mulai merasakan ketidak nyamanan saat kaki mulai digoyang-goyangkan oleh pemuda yang kiranya suumuran denganku.  Tatapan memaksa, dan menyeramkan itu membuatku takut.  Dia memaksa untuk diberi sedikit uangku.

Aku tak mau memberi karena ku rasa dia masih mampu bekerja selain mengemis.  Dia bisa bekerja lebih dari itu dengan tubuhnya yang masih lengkap, dan sehat.   Baiklah karena aku takut ku beri uang seribu rupiah yang sudah terlihat lusuh.  Setelah itu otakku berpikir tentang satu hal yang kuberi label LEBIH BERUNTUNG.

Setelah tatapan meyeramkan lagi sangar itu enyah dari hadapanku, mataku tertuju pada sosok nenek tua renta yang jalan dengan penuh penghayatan seolah-olah beliau memang lumpuh tak bisa jalan.  Kakinya dibalut kain perca kusam di sana-sini.  Mungkin ini yang di sebut parodi rakyat jelata di atas gerbong.  Dimana terkadang lumpuh, koreng, buta, menjadi senjata ampuh untuk mengais rejeki.

Ku keluarkan selmbar uang lima ribu yang nampak dekil yang ku peroleh dari kembalian pembelian tiket.  Ku letakkan di atas mangkok si nenek tua yang berisi beberapa logaman.  Si nenek pun enyah dari hadapanku dan hijrah ke gerbong lain.  Bapak tua di sampingku pun berkata " Tidak terlalu besar dek memberikan uang segitu banyak?  Asal kamu tahu dia hanya pura-pura.  Pasti baru kali pertama naik kereta? Bapak sih tiap hari, jadi tahu akal-akalan pengemis di sini."

Tersenyum ku pada bapak tua itu dan berkata "Iyah pak saya tahu.  Tapi gak apa-apa, niat saya kan hanya ingin memberi.  Masalah saya dibohongi atau tidak, biarlah pak.  Yang saya tahu Saya LEBIH BERUNTUNG dari nenek itu Pak, karena masih bisa berbagi."  Bapak itu hanya diam.  Menyadari kediamannya perasaan tak enak menyeruak seketika di hatiku, takut jikalau kata-kataku tadi terkesan tidak sopan dan menggurui.

Pandanganku tertoreh pada pengamen kecil yang wajahnya tak asing bagiku.  Entahlah ini pertemuan keberapa setelah aku resmi menyandang predikat ANKER (Anak Kereta).  Tapi kali ini pengamen kecil itu tidak sendiri.  Di belakangnya ada wanita paruh baya, ku terka kembali umurnya.  Mungkin sekitar 40 tahunan.  Seibu pun menggendong anak kecil yang terlihat sangat kotor, wajahnya penuh dengan corengan tanah atau apalah.  Karena kesal tak ada yang memberi, si ibu lantas mendorong pengamen kecil itu.

"Aku LEBIH BERUNTUNG dari pengamen itu Ya Rabb!"  ucapku dengan helaan nafas panjang.  Meski dulu ketika kecil aku begitu banyak melewatkan waktu tanpa ayah, dan kerasnya kehidupan berdua dengan ibu, tapi ibuku tidak pernah mendorongku untuk mencari nafkah di usia yang masih terlalu kecil.

Perjalananku masih jauh menuju stasiun pemberhentian.  Ku rebahkan leherku di atas kursi orange yang tidak empuk tapi cukup nyaman ketimbang harus berdiri, ku pejamkan mata sebentar, menghela nafas panjang, dan menggambar imajinasiku pada wajah cantik ibu yang sudah hampi 3 hari tidak ku lihat.  Setelah wajah itu tergambar, dan hatiku beujar aku rindu ibu, ke buka kembali.

Entah sudah berapa lama bapak ini berdiri di depanku, mungkin sejak mataku terpejam untuk beberapa saat.  Badannya yang kurus namun berotot memikul dagangan yang berisi gunting, lup, dan beberapa dagangan lainnya.  Ototnya keluar karena mungkin pikulan yang nampak sangat berat itu setiap hari harus dia pikul, dibawanya mengelilingi gerbong demi gerbong, bahkan mungkin adakalanya bapak itu mengelilingi di antara gang-gang kecil.  Pikiranku sok tahu, bisa dengan mudahnya aku berpikir demikian.

Aku terus memandangi bapak itu, dielapnya keringat yang jatuh meluncur dari keningnya.  Nampaknya sudah sangat letih sekali bapak itu, padahal mentari belum lama singgah di langit biru di pagi itu.  Ah hatiu terenyuh, kembali teringat ayah.  Ayahku LEBIH BERUNTUNG dari bapak ini.  Meski ayah tak beruntung karena tak punya banyak waktu bagiku dan ibu, tapi ayah tidak harus berkeringat di pagi hari dan merasakan lelah yang teramat.  Tak harus memikul perasaan takut setiap harinya karena tak bisa membawakan uang meski sedikit untuk makan anak istrnya.

Tak lama duduk di hadapanku wanita dengan perawakan kecil, kurus, kulit kecokelatan, dan bibir bekas jahitan akibat sumbing.  Parasnya bagiku tak jelek, karena sesungguhnya kodrat wanita itu memang cantik.  Tapi lagi-lagi aku merasa aku LEBIH BERUNTUNG.  Meski parasku tak secantik Risty Tagor, badanku tak semolek Syahrini, dan fisikku tak sempurna Miss Universe, paling tidak aku memiliki fisik yang sempurna yang Allah ciptakan untukku.  Hidung yang tak terlalu mancung masih tetap aku syukuri, karena faktanya tidak ada yang cacat dalam tubuhku secara fisik.

Nampaknya stasiun pemberhentianku sudah dekat.  Aku pun kembali bersyukur, meski tak ada mobil mewah yang mengatarkanku tiap hari menuju majelis untuk belajar, tapi aku LEBIH BERUNTUNG masih memiliki keyakinan bahwa inilah mahasiswa sejati.  Harus berjuang berjubal di antara para petualang hanya untuk satu tujuan menuntut ilmu.

Kereta ku pun berhenti di stasiun tujuanku.  Ku lepaskan senyum perpisahan pada bapak tua di sampingku sambil sedikit membungkukkan badan sebagai salah satu tradisi menghormati orang yang lebih tua "Mari Pak, Saya duluan.", Bapak itu pun tersenyum dan menitipkan satu pesan perpisahan "Iyah nak, hati-hati!" lalu ku jawab dengan sigap "Terimakasih Pak."

Dari kejauhan ku lihat bus reot yang masih sanggup berjalan dan setia mengantarkan aku dan mahasiswa lainnya.  Dengan nafas terengah-engah akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat duduk, rasanya seperti pemenang karena aku berhasil mendapatkan satu tempat duduk yang masih kosong.  Aku duduk persisi di samping pintu keluar.  Angin yang sepoi-sepoi menemani perjalanan singkatku menuju kampus.

Di pinggir jalan, sosok lelaki dengan pakaian compang camping berhasil membuat leherku berputar ke belekang memperhatikannya.  Lelekai itu tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, baiklah ku terka kembali berapa umurnya, mungkin sekitar 30 tahunan.  Dia Gila, ah tidak-tidak terlalu jahat jika aku menyebutnya gila.  Lebih tepatnya aku masih LEBIH BERUNTUNG dari dia.

Kembali ku ingat beban-beban berat yang pernah ku pikul, beban berat yang dengan umur semuda ini pernah ku alami.  Beban berat yang seharusnya tak layak untuk dipikul oleh ku saat usiaku masih selayaknya bermain, tertawa, dan menikmati keindahan hidup.

Aku menyebut diriku LEBIH BERUNTUNG karena aku bisa melewati tahapan terpait dalam hidupku dengan baik dan tidak sampai membuat nasipku sama seperti lelaki itu, tidak sampai membuat keimananku goyah, jauh dari Allah, frustasi dan berkahir pada penampakan wujud yang 180 derajat berubah sampai-sampai mungkin tak akan ada satu orang pun yang bisa menerimanya.

Kejadian-kejadian tersebut membuatku merasa aku LEBIH BERUNTUNG.  Membuatku seolah-olah tertampar dengan realita kehidupan bahwa selain ada awan yang lebih atas ketimbang awan di bawahnya, ternya masih ada lubang yang lebih dalam dari lubang sebelumnya.

Kawan, aku bahkan kamu LEBIH BERUNTUNG ketimbang mereka, maka aku teringat satu ayat dalam kitab suci Al-Quran "  Maka Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?"

Terimakasih Allah telah membuatku menjadi orang yang lebih beruntung.

Aku yang selalu berusaha untuk bersyukur,


Bekasi, 30 Desember 2010

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting