Selasa, 02 November 2010

Kejutan terakhir untuk ayah

Air mata itu jatuh membasahi bingkai kecil dari keluarga kecil yang bahagia.  Air mata yang jatuh dari pelupuk mata seorang wanita cantik, berparas ayu, Laras.  Saat itu dia mulai mengingat kembali memori yang pernah ada bersama lelaki yang ada di foto tersebut.  Lelaki yang telah berhasil membuat hatinya luluh, lelaki yang telah memberikannya satu orang peri kecil yang cantik yang sudah berumur tiga tahun, Azkha nama putrinya.

Angin malam bertiup cukup kencang, masuk hingga ke  tulang rusuk, bersembunyi di dalam terpaan rerumputan yang bergoyang dan berhasil lolos memauki kamar kecil Laras.  Kamar kecil yang hanya berukuran 5 m x 5 m.  Laras kembali menepis ingatannya, solah-olah ingin membuang jauh memori yang sempat singgah, namun tak berhasil karena memori itu terlalu indah, saking indahnya sampai membuat air matanya yang telah lama membeku kembali mencair dan mengalir bak air bah yang tak terbendung.

7 tahun silam di Jogjakarta,

Laras adalah wanita yang banyak diidamkan oleh lelaki. Bagaimana tidak, dengan postur tubuhnya yang ideal tinggi 167 cm dengan berat badan 50 kg,  Laras nampak ideal.  Lesung pipinya yang tajam, ditambah bibir mungilnya yang memerah membuat siapa saja yang melihat senyumnya akan berdecak kagum.  Keluarganya yang berlatar belakang seorang pengajar dan perwira tinggi di kepolisian membuat Laras semakin sempurna di mata orang.  Bagaimana tidak, sudah dia nugerahi paras yang cantik, keturunan yang baik, kecukupan ekonomi, ditambah dengan kebaikan budi pekerti.

Di sisi lain ternyata ada lelaki yang diam-diam mengagguminya sangat dalam, meski banyak lelaki yang naksir Laras, tetapi lelaki ini sangat berbeda dalam mengagumi Laras.  Kholidi namanya.  Dia senior Laras setahun lebih tua, sama-sama mengambil kuliah dibidang Fisika .  Odi panggilan akrab Kholidi sudah mulai mengaggumi sosok Laras setelah mereka sama-sama aktif di Himpunan Kemahasiswaan Jurusan tempat mereka bernaung.  Odi yang memang paham betul bagaimana karakter Laras, lebih memilih mengagguminya diam-diam.

Tanpa sepengetahun Odi, ternyata Laras pun memiliki perasaan yang sama terhadap Odi.  Namun keterbatasannya sebagai seorang wanita muslimah, dia hanya dapat memendam perasaannya dalam hati.  Memendam semua rasa yang dia miliki dan lebih memilih berbagi semua rasanya dengan Sang Khalik.

Siang itu seluruh mahasiswa tingkat 3 di Fakultas MIPA tempat Laras dan Odi bernaung sedang sibuk merapihkan dirinya masing-masing menjelang wisuda mahasiswa tingkat akhir yang di dalamnya terdapat Odi.  Odi sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya.  Namun jauh dalam hati Odi masih ada yang belum dia selesaikan, yakni masalah hatinya terhadap Laras.  Di sisi lain Laras hanya bisa menahan tangisnya, sesak sungguh menghujam hati Laras manakala dia tahu bahwa pujaan hatinya akan pergi meninggalkannya, bahkan kabarnya Odi akan melanjutan kuliah S2 nya di negara Kangguru untuk beberapa tahun, sampai pendidikannya selesai.

Di depan teras gedung pertemuan tempat wisuda berlangsung…

“ Kenapa Laras?” Tanya Dinda sahabat dekatnya,
“Ah gak apa-apa Din!” Jawab Laras sambil berusaha menghapus air matanya.
“Astaghfirullah Ras, kamu nangis?” Tanya Dinda sambil memegang punggung Laras.

Laras hanya terdiam, tertunduk tanpa sadar air matanya kembali jatuh membasahi pangkuannya.  Dinda pun kontan memeluk Laras mencoba menenangkannya.

“ Aku telah dzolim terhadap diriku, bagaimana tidak saat aku tersadar aku mulai menyanjung Mas Odi, aku sering menangis tidak jelas.  Hatiku sering sesak karena sungguh aku tidak mampu mengungkapakan semua.  Dosa betul rasanya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!! Anugerah erasaan ini sungguh sangat menyiksaku!!”

  Jelas Laras dengan tersendat-sendat, karena sesak mulai menghampiri lerung dadanya.

“ Aku mengerti betul Ras perasaanmu, tapi alangkah baiknya kamu terus terang kepasa Mas Odi.  Toh dia paham betul siapa kamu.  Siapa tahu Mas Odi juga punya perasaan yang sama kayak kamu.”
“ Aku ini wanita Din, berkerudung! Apa kata orang jika aku mengungkapkan perasaaku duluan.”
“ Bukankah Khadijah Ra yang memulai melamar Rasull?
“Tapi aku bukan Khadijah Din!!”

Perdebatan pun terhenti saat ada suara yang tidak asing terdengar di telinga mereka

“Bagaimana bisa aku membiarkanm bertanya mengenai kepastian hati yang jelas akan kau dapatkan Laras.  Aku pun memiliki perasaan yang sama, sungguh, perasaan ini menhujam seluruh aliran darahku.  Perlahan menyiksa karena aku tak lebih dari seoarang penyamun yang pengecut, yang gak pernah bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan.  Sungguh Allah memberikanku kesempatan untuk mencintai wanita sesempurna dirimu.  Dan sekarang aku pun tahu apa yang menimpa diriku juga menimpa dirimu.”

Jelas Odi sambil menghampiri Laras dan Dinda, pandangnnya hanya memandang lurus ke arah halaman kampus.  Pandangannya tak sampai hati kea rah Laras, karena dia paham betul bagaimana seharusnya bersikap.

Laras dan Dinda masih terdiam, solah-olah tak percaya bahwa yang ada di hadapan mereka adalah Kholidi, lelaki yang amat dicintai Laras.

“Maukah kamu menjadi permaisuriku dunia akhirat Laras? Aku akan menunggu sampai Engkau benar-benar siap.  Aku akan menunggumu sampai kamu selesai kuliah.  Dan aku akan melamarmu setahun lagi, setelah aku selesai S2 dan bekerja.”

Tanpa pikir panjang Laras menerima lamaran lelaki yang sudah ia yakini akan menjadi imam yang baik baginya kelak.  Dua tahun berlalu dan janji itu ditepati oleh Kholidi.  Mereka akhirnya menikah, namun Laras dan Kholidi masih tingal satu atap bersama orangtua Kholidi di kawasan pemukiman padat penduduk di wilayah Jogjakarta.

Tahun pertama pernikahan mereka cukup bahagia, namun memasuki tahun kedua pernikahan mereka mulai diuji.  Laras belum bisa memberikan keterunan pada suaminya, ibunya Odi mulai menunjukan sikap dingin pada Laras.  Sampai puncaknya, Laras memilih meninggalkan rumah Odi, karena Laras menganggap suaminya terlalu memihak ibunya.  Perasaan Laras saat itu hancur berkeping-keping, manakala ibunya memberikan cap bahwa dia memantu yang tidak baik, menantu yang mandul.

Laras kembali pada orangtuanya.  Berhari-hari menunggu suaminya datang menjemputnya, sampai ada satu pesan singkat yang masuk ke dalam telepon genggamnya.  Pesannya itu berasal dari suaminya.

Cantik,

Masih marah padaku?
Bagiku engkau tetap calon ibu bagi anak-anakku kelak.
Mungkin kita belum dikasih amanat karena aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak usah dihiraukan kata-kata Mamah.
Jika tiba saatnya kamu sudah bisa memaafkan aku, bilang yah cantik.  Setiap saat aku akan menjemputmu.  Dan nanti kita akan tinggal di rumah baru yang sudah aku beli siang ini.
Jaga kesehatan yah, meski jauh aku tetap sayang padamu!

Membaca pesan itu Laras kembali luluh, merasakan bahwa suaminya telah kembali.  Posisi Laras saat itu sedang berada di rumah sakit.  Sungguh hari itu menjadi hari keberuntungan Laras, betapa tidak jawaban atas ketakutannya selama dua tahun terjawab.  Laras divonis mengandung.  Dia ingat pesan ibunya bahwa tidak baik marah terlalu lama apalagi terhadap suaminya sendiri.
Laras segera membalas pesan suaminya
Ayah,
Maaf untuk keegoisan yang hampir meluluhlantahkan perahu kita,
Jemput Bunda sekarang, dan bawa bunda untuk menempati istana kecil kita,

Laras tidak ingin kabar gembira itu sampai ke tangan suaminya., dia ingin kabar gembira itu menjadi kejutan bagi suaminya.

Handphone Odi pun kembali berdering, dia baca pesan dari istrinya, saking senang membaca isi pesan yang menandakan kembalinya Larasm Odi yang saat itu mengemudi tidak sadar di depannya ada truck besar.  Mobil Odi pun terhempas, remuk tertabrak truck besar pengangkut sapi.

Odi terbaring lemas di ICU, di sampingnya duduk dengan setia istrinya.  Sambil melantunkan ayat-ayat Al-Quran.  Mata Odi terbuka, namun tak berkata apa pun.  Laras mulai membisikan kata-kata yang dia harap dapat memberikan semangat bagi suaminya.

“Ayah,
Ayah cepet sembuh,
Di rahim bunda aka nada makmum ayah, aka nada peri kecil yang akan menemani kita di istana kecil kita ayah,
Ayah haru bangun kembali, harus ada di samping bunda.”



Tidak ada jawaban saat itu, mata Odi perlahan tertutup, seketika tangis Laras pecah dalam kesunyiaan, bagaimana tidak, kejutan itu menjadi kejutan terakhir bagi suaminya.  Kejutan terakhir bagi seorang ayah.  Laras mencoba menegarkan dirinya,  berharap suaminya kembali namun itu semua mustahil.

Dibalik pintu terdengar celotehan lembut dari peri kecil.  Itu Azka putrinya tercinta, putrid yang tak sempat dipandang oleh ayahnya.  Namun Ada keyakianan dalam diri Laras, sejauh apa pun posisi ayahnya, dia akan tetap ada mengalir dalam keseharinnya.

“Eh Azkha sini nak!”
Panggil Laras dan memangku anaknya

“Nda, ayah! Nda kangen ayah?”
“Iyah sayang, bunda kangen ayah.  Ayo angkat tangannya Nak, kita doakan untuk ayah ya!”

Doa dua perempuan itu menutup memori Laras saat-saat kepergian suaminya.  Tidak terasa ini tahun ketiga suaminya meninggal, dan tahun ketiga mereka menempati istana kecil, dan tahun ketiga setelah Kejutan Terakhir untuk Ayah.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting