Kamis, 25 November 2010

GALAU

Enjoy this post

Mau dimulai darimana untuk menggambarkan kegalauan yang saat ini aku alami.  Aku pun tak tahu bagaimana ini bisa terjadi, yang aku tahu sudah hampir sepekan ini aku merasakan ada hal yang berbeda jauh di dalam relung hati dan pikiranku.  Entahlah terlalu berlebihan jika aku mengungkapkannya semua, mungkin satu kata singkat yang bisa aku sebut yakni GALAU.

Sepekan sudah kegalauan mengalir di saraf-sarafku.  Tidak seperti biasa aku mengalami perasaan yang begitu menyakitkan terhadap lelaki.  Aku pun hanya bisa terdiam di ruang kecil yang saat ini melindungiku, bertanya apa yang sebenarnya aku rasakan.

Ya,

Lelaki !
Sudah lama aku tidak menata hatiku untuk seorang lelaki, dan saat ini aku kembali memujinya.  Terlalu berat bagiku menyadarkan hati bahwa ada rasa yang tak biasa yang mulai aku rasa.  Aku pun belum belajar dan tahu banyak tentang dia, tapi entah mengapa keyakinan mengantarkan aku pada jurang kegalauan yang membuat hidupku sepekan ini hampir mati suri.


Aku pun kemudian mengingat pesan bijak dari ayahku.
Jika aku tidak mendapatkan kepastian atas perasaan yang aku kira ada dari lelaki yang sedang aku puja, maka berikanlah kepastian untuk hati dan perasaan dari diriku sendiri.  Hati, perasaan dan pikiran memiliki hak untuk tidak terus didzalimi.  Jika kepastian itu tak kunjung menghampiri, maka satu kepastian yang harus aku beri atas diriku adalah berhenti atau tidak mengikuti ketidakpastian ini.

Saat ini, ingin rasanya aku mengakhiri semua kegalauan yang aku rasa.  Menutup mata, menghela nafas dan berkata "Ya Rabb, izinkan perasaanku tenang jauh sebelum aku mengenalnya".  Namu aku mendapatkan hatiku menangis terengah-engah, terperosok jauh ke dalam kegalauan yang terus mengejar.  Ingin rasanya aku bertanya, salah jika aku memilikinya?

Aku tidak memaksakan-Mu Ya Rabb untuk memberikan dia padaku, karena sungguh Engkau yang lebih tahu perihal yang terbaik untukku, tapi izinkan aku sedikit membaca apa yang dia rasa.  Perasaan yang jujur yang tidak ditutupi karena gengsinya, atau karena perbedaan yang kami punya.

Dan mungkin aku cukupi kegalauan ini, dengan berkata cukup bagiku mengenalmu dengan singkat tanpa kepastian, dan aku berdiri sebagai aku dan memandangmu sebagai dirimu yang aku kenal dulu.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting