Minggu, 15 Agustus 2010

Mimpiku Mentok di Mesir



selamat membaca

LOMBA BLOG DEPOK 17 Juli-17 September 2010

Terlahir dari keluarga yang religius dan kental agama membuat saya menjadi orang yang dihinggapi rasa keberuntungan tapi di sisi lain menjadi beban. Ibu saya terlahir dari seorang alim ulama, begitupula dengan ayah.  Mungkin ayah tidak seberuntung ibu, tapi aku sering menyebut ayah dengan sebutan "LELAKI PALING BERUNTUNG SEANTERO BUMI".

Ibu terlahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup secara financial, kakek saya dengan modal tekat dan keyakinan bisa menyekolahkan seluruh anaknya yang berjumlah 17 orang sampai lulus sarjana, tapi tidak dengan ibu yang lebih memilih untuk mengalah dan mementingkan adik-adiknya.  Ibu memilih dijodohkan dengan ayah.  Dan ayah sendiri juga terlahir dari keluarga alim ulama namun tidak seberuntung ibu, ayah harus mati-matian bertahan hidup karena ayah telah menjadi yatim sejak usianya baru beranjak delapan tahun.

Saya paling rocker diantara 37 cucu yang dimiliki oleh kakek saya.  Saya bukan lulusan pesantren, bukan penghapal Al-Quran, bahkan untuk menggunakan kerudung saja saya baru belajar setahun yang lalu.  Ayah memiliki pandangan berbeda tentang wanita berkerudung, bagi ayah yang terpenting mengkrudungkan hati.  Setelah hati terkerudung kesadarn untuk mengkrudungi fisik pasti akan berjalan secara tidak langsung.  Sopan, tidak terbuka, tidak mempertunjukan lekuk tubuh, dan bisa menjaga diri dari syahwat lelaki itu yang terpenting bagi ayah.

Siapa yang sudah pernah nonton film perempuan berkalung sorban? kalo belum saya ulas sedikit.  Film yang berceritakan tentang kekolotan di sebuah pesantren yang melarang santri wanitanya untuk belajar di luar pesantren.  Jelas sekali kalo pemikiran ini berbanding terbalik dengan ajaran islam.  Islam menganjurkan untuk siapa saja termasuk wanita untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi selama masih dibatas ambang kewajaran.  Bersyukur memiliki seorang kakek yang tidak seperti tokoh kiyai yang ada di dalam film ini.


Terlahir dari seorang juragan tanah pada masanya, membuat kakek saya beruntung bisa kuliah di Al-Azhar Chairo.  Dengan basic bahasa arab yang fasih beliau terbang ke negeri Firuan tersebut.  Yah Chairo, negara yang sangat diagungkan oleh keluarga saya.  Nasib beruntung pun didapatkan oleh ayah, memang tidak perlu kaya untuk sekolah ke luar negeri cukup dengan tekat dan keyakinan pasti bisa.  Beasiswa itu bukan untuk orang cerdas tapi untuk orang yang mau berusaha lebih, kecerdasan super luar biasa yang dimiliki ayah menjadikannya orang paling beruntung.  Bisa mencicipi segarnya udara negeri sakura saja bagi sebagian orang sudah lebih dari cukup apalagi bisa bersekolah di sana.

Latar belakang keluarga pesantren tidak membuat ayah memaksakan saya untuk masuk pesantren.  Ayah punya pemikiran berbeda, pandangannya mengenai pendidikan sangat luas.  Masih teringat saat saya merengek minta dimasukan ke pesantren gontor, saat itu basic membaca Al-Quran saya sudah sangat baik bagi anak seumuran saya yang masih duduk di banku kelas 6 SD.  Ayah tidak mengizinkan, saat itu yang ayah katakan adalah "Jangan pernah melebihi batas kemampuan untuk mencapai mimpi yang kamu tau itu jauh dari keyakinan kamu" ah sial, rupanya ayah tahu niat saya masuk pesantren karena saya iri dengan saudara saya dan teman-teman saya di TK yang sudah berangkat ke Al-Azhar Chairo di usia mereka yang masih sangat muda MySpace.

Entahlah keindahan macam apa yang disuguhkan Mesir terlebih Al-Azhar ChairoMySpace , yang saya tangkap dari cerita orang-orang terdekat saya yang pernah tinggal di sana bahwa Chairo adalah kota yang indah dengan peradaban yang luar biasa.  Tidak sulit memang untuk saya bisa berangkat sendiri ke Chairo, pasalnya biaya pendidikan di sana jauh lebih murah ketimbang pendidikan yang saat ini saya geluti bahkan beberapa orang yang sekolah di Indonesia , tapi sangat sulit bagi saya yang tidak memiliki basic hapalan Al-Quran yang kuat MySpace.  Entahlah buat saya, bisa menghapal ayat demi ayat, surat demi surat dalam Al-Quran adalah suatu berkah bukan kebisaan seperti kita menghapal teks lainnya.


Di ubun-ubun saya Chairo menjadi satu diantara 5 negara yang saya ingin kunjungi diantaranya MySpace  Arab Saudi, Jepang , Swiss, Perancis, dan Turki.  Selalu ingat ucapan ayah kesungguhan akan menghantarkanmu pada perjalan panjang untuk mencapai segala mimpimu.  Jika ayah yang terlahir dari keterbatasan sebagai seorang anak meski hanya sekedar untuk menuntut ilmu bisa mencapai puncak gunung Fujiyama di Jepang , mengapa saya tidak bisa?  Mungkin mimpi beserkolah di Al-Azhar Chairo sudah mentok, tapi kemungkinan belajar di negeri lain masih terbuka lebar.  Wanita terlahir dengan kekuatan berupa kesabaran, saya harus sabar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak agar kelak saya bisa melihat indahnya Chairo, dan ke lima negara impian saya lainnya, membangun sebuah mimpi bahwa wanita bisa menjadi yang lebih diantara pemikiran kolot yang menganggap remeh wanita MySpace.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting