Senin, 26 Juli 2010

Tangis Pertama Yang Hilang

selamat membaca

Malam itu, 25 Juli 2010 suasana masih seperti biasa, aku masih dengan santai memencet tuts keyboard laptopku, memainkan jemariku untu sekedar bercengkrama di dunia maya.  Sejak pagi ibuku memang mengeluh sakit di perutnya, ibuku menganggapnya itu wajar.  Pukul 23:00 dari kamar ibuku terdengar rintihan, ada sedikit darah yang keluar dari kemaluannya.  Aku panik bukan kepalang, aku langkahkan kakiku berlari tersandung kerikil menuju rumah tetanggaku.

Beberapa tetangga membantu membopong ibuku yang sudah merintih kesakitan, menembus dinginnya malam aku dan beberapa tetanggaku menuju salah satu rumah sakit tempat biasa ibuku memeriksakan kandungannya.  Tanganku terus memegang erat tangan ibuku, meski sesekali ibu meremas pundakku, aku tahu ibu sangat merasa kesakitan, bahkan sakit yang ku rasa saat menstruasipun tidak bisa menandingi sakitnya ibuku saat itu.  Ibukupun dibawa ke UGD sesampainya di sana, aku menghampiri suzter jaga di rumah sakit itu, suzter itu berkata bahwa ibu tidak dapat ditangani sebelum mengurus administrasi. 

Aku berlari menuju bagian administrasi, dengan nafas terengah-engah aku memohon agar proses administrasi awal bisa segera diselesaikan.  Suzter itu menatapku dengan pandangan sinis manakala aku berkata aku lupa membawa uang apalagi ATM.  Tampang sinis suzter itu bukan main manakala melihatku dengan telanjang kaki, hanya menggunakan kaos pokemon kesukaanku sejak kecil yang masih pas dibadan, dan celana pendek.  Rasanya saat itu aku ingin memaki bahkan menonjok wajah suzter itu.  Aku teringat paginya ibu menyuruhku menelpon dokter yang biasa menangani ibuku yang memang tim dokter rumah saki tersebut, akhirnya setelah dokter itu berbicara pada suternya ibuku baru ditangani oleh beberapa tim dokter.

Pukul 00:00 dokter memberikan dua opsi.  Menyelamatkan ibu atau adikku.  Kontan aku langsung berkata mengapa tidak keduannya.  Saat itu dokter menjelaskan alasannya, kondisi ibu tidak cukup baik untuk melakukan proses penyelamatan bagi sang bayi, kalopun harus diselamatkan resikonya operasi tetap berjalan dengan kondisi ibu yang masih sangat lemah dan kemungkinan untuk ibu bertahan hanya sekitar 30%.  Baiklah akhirnya saya lebih memilih selamatkan ibu, tetapi dokter kemudian bertanya kemana ayah saya, saya pun baru sadar saat itu ayah sedang tidak ada.  Operasi tidak bisa dilakukan tanpa izin tertulis suami, saya langsung menelpon ayah dan ayahpun meyetujuinya.  Akhirnya operasipun dilakukan menunggu semua keadaan stabil, dokter menyuntikan bahan ke dalam tubuh ibuku, entah apa itu mungkin penahan rasa sakit karena setelah menerimanya ibu pun berhenti kesakitan.

Pukul 1:30 setelah semua normal dan semua tim dokter berkumpul ibu dimasukan ke ruang operasi, tersirat jelas di mata ibu saat itu adalah selamatkan anak saya.  Saya menelpon beberapa keluarga saya, tepat pukul 2:00 kakek dan beberapa tante saya datang.  Kakek langsung memeluk saya dan berkata

"Yang sabar ya neng, doain ibu dan adeknya selamat".

Berat rasanya saya menjelaskan opsi apa yang saya ambil terlebih saya ingat kata-kata beliau sebulan yang lalu saat beliau sakit

" Abi belum mau mati dulu ah sebelum maen sama cucu yang abi udah harapin"

Sungguh pedih saat itu saya rasa, air mata di ujung pelupuk mataku pun akhirnya jatuh.  Aku ingat apa ini jawaban atas kata-kataku yang sempat berkata aku tidak ingin punya adik saat aku tahu ibu hamil.  Ampuni aku, ampuni aku.

Sudah hampir dua setengah jam ibu berada di ruangan itu, menunggu ibu sadar tim dokter baru mengeluarkan ibu dari ruang operasi.  Dokter Mila memanggilku, dan memelukku sangat erat, beliau paham betul apa yang aku rasakan.  Beliau memang sangat akrab, sebagai dokter beliau tahu betul bahwa kehadiran adikku ini sangat dinanti-nanti.

" Sabar yah Ziah, mau lihat adeknya?"
Dengan nafas terengah-engah dan tangis yang hampir menghentikan nafasku, aku melihat seonggok bayi-bayi mungil itu.  Keluaga mencoba menguatkan aku, aku urusi semua permasalahan kepulangan adikku, keluarga mengurus semua, meski bagaimanapun dia harus diperlakukan sama selayaknya umat islam meninggal dunia.

Setelah beres semua, aku masuk ke bangsal tempat ibuku dirawat.  Ibu langsung memelukku, aku tahu pedih rasanya, namun inilah ibuku sangat kuat.  Ibu masih sempat menghiburku dengan kata-kata yang sebenarnya justru sangat membuatku sesak

" Sabar yah kak, semua udah ada di lauful mahfuz sekalipun mahluk itu masih kecil, kalo ibu aja bisa ikhlas menerima kepergian adik kamu, kamu harus lebih ikhlas.  Kamu hebat, cuma kamu yang kuat bertahan sampai 18 tahun ini di samping ibu"
Sungguh sesak sangat sesak, rasanya aku ingin berteriak dan meraung sekencang-kencangnya.  Tapi sudahlah, itu tidak akan membalikan keadaan.  Ibu seharian ini memang sudah agak baikan, dokterpun sudah memperbolehkan ibu pulang hari Rabu.  Ibu memang kuat, fisiknya bisa pulih begitu cepat, tapi aku yakin batin ibu sangat sakit bahkan butuh waktu lama untuk memulihkannya. 

Sore tadi tepat pukul 18:12 ayah baru tiba di ruangan tempat ibu di rawat.  Ayah langsung memeluk ibu, drama sedihpun dimulai, aku jelas dapat membaca mata ayah yang sangat merasa kehilangan, mungkin ayah ingin berkata maaf karena tidak ada di samping mu mah, atau apalah kata-kata bersalah yang bisa ayah katakan.  Ayah shalat sejenak, di luar kami mengobrol sebentar.  Aku masuk ke dalam untuk mengamilkan segelas kopi untuk ayah, sempat aku lihat ayah menghapus air matanya, hal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.  Entah tidak ingin disebut cengeng, atau tidak ingin melemahkan aku kembali sebab ayah menghapus air matanya segera.

Ayah dan ibu menyuruhku pulang untuk beristirahat, mereka paham aku memang tidak bisa lama di rumah sakit.  Ibu sempat berguyon ketika aku tidak ingin pulang

"Ya udah neng pulang ibu gak apa-apa, entar yang ada kamu sakit pergi lagi ninggalin ibu. hehe (sambil tertawa kecil)"
Aku pun pulang ke rumah diantar saudarku.  Hanya tulisan ini yang bisa membantuku meluapkan isak tangisku yang tertahan menggumpal sejak tadi pagi.  Entah, aku memang belum pantas menjadi kakak, bahkan calon kakak pun aku belum pantas.

" Adikku yang terkasih, meski tak sempat engkau membaca kuatnya mata ibumu untuk menghadirkanmu, percayalah ibumu sangat menyayangimu."

"Adikku yang tercinta, meski tak sempat engkau merasakan adanya ayahmu disaat engkau berjuang, percayalah ayahmu lebih menginginkan bersamamu disetiap nafasmu."

"Adikku yang tersayang, meski engkau tak sempat meyapaku dengan celotehan, percayalah bahwa sesalku dan sayangku saat ini berbaur menjadi satu berharap kelak kita bersama"

Dimalam nisfu ini, ku tundukan wajahku Ya Rabb, mengharap ampunan dan kekuatan, berikan syafaat kelak pada orangtua kami.  Persatukan kami di Yaumul Kiyamah, Jadikan hamba anak yang kelak bisa membawakan syurga bagi orangtua hamba.  Amin

 I LOVE YOU MOM, NOW I KNOW THAT YOU ARE STRONG EVEN VERY STRONG
I KNOW THAT BE COME A MOM ISN'T EASY,
AND I WANNA BECOME YOUR CHILD

Hargai ibumu sebelum terlambat,
Cintai ibumu sebelum cinta itu pergi menjemputmu,

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting