Tampilkan postingan dengan label my creat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my creat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Justifikasi yang Salah !

Enjoy this post

Apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain prasangka buruk orang-orang tentang kita yang justru menjadi fitnah??? 

Saya hanya bisa mengelus dada saat banyak anggapan miring terlontar dari mulut orang tentang hubungan saya dan Radhit.  Mulai dari rumor miring dia hanya bahan pelarian saya, teman selingkuh, sampai hanya karena harta.

Kalo ada anggapan rumput tetangga jauh lebih hijau mungkin itu hanya pribahasa kolosal, tapi tidak ada dalam benak saya.  Toh pada akhirnya satu tahun bukan waktu yang singkat untuk menjadikan hubungan ini sekedar sebagai teman selingkuh, bukan hal yang mudah untuk menjadikan hubungan ini sebagai bahan pelarian.  Kalo pun ada anggapan demikian, itu datangnya pasti dari orang bodoh yang hanya memandang satu sisi sebuah hubungan, karena faktanya selingkuh itu bukan hal yang mudah.

Harta???  Cukup ketawa saja kalo ada orang yang mikir saya menjalani hubungan ini karena harta.  Saya memang kenal dia sejak SD, tapi saya kenal dia karena kesederhanaannya.  Sekalipun  sekarang saya sudah tahu dia anak orang kaya itu bukan jadi alasan untuk saya sayang sama dia.  Dia adalah dia yang berdiri sendiri bukan atas nama orangtuanya.  Tidak peduli dia anak presiden sekalipun.  Toh saya sudah merasa sangat tercukupi dengan apa yang diberikan Allah melalui ayah saya, kasih sayang dan materi yang tidak semua orang bisa miliki dengan seimbang.

Bagaimanapun alasan miring yang beredar tentang saya dan hubungan ini, saya hanya bisa berpikir bahwa hidup terlalu singkat untuk sekedar menanggapi hal yang tidak ada kebenarannya meski pada kenyataannya sedikit banyak membuat engap hati.  

Saya tidak pernah melandasi hubungan yang saya jalani dengan siapa pun hanya dengan alasan-alasan picik daripada alasan hati.  Perasaan tidak bisa dimanipulasi, sekalipun sembunyi di balik celana dalam usang, perasaan tidak pernah bisa dinilai dari alasan picik yang tak bertanggungjawab.

Tolong siapa pun yang mengenal saya dan Radhit pahami bagaimana kami saling melengkapi kemarin, saat ini dan yang akan datang.  Saya tidak ingin bermuluk-muluk ria berharap pada satu hal yang belum pasti kepastiannya, tapi ada satu keinginan berat dalam harapan tulus bahwa kelak kami bisa bersatu, dengan atau tanpa alasan-alasan picik tersebut.


Jumat, 02 September 2011

CARI LAGI



Enjoy this post

"Dicari lagi siapa tahu keselip, cari yang bener!!"

Ujar ibu saya saat saya sedang kesulitan menemukan flash disk.  Sudah hampir seluruh penjuru kamar saya cari. Di sela-sela buku, tas-tas bahkan tumpukan pakaian dalam sekalipun, namun saya terjebak di tengah kalimat dan situasi CARI LAGI.

Hampir setiap hari hidup saya dibayangi kata-kata CARI LAGI.  Jika digambarkan seperti apa saya, nampaknya saya sangat cocok disandarkan dengan Nobita, tokoh dalam kartun Doraemaon.  Selebor, pelupa, bodoh, tukang molor, cengeng, dan pesimisme, atau lebih tepat jika saya di sandingkan dengan tokoh Ipin yang memiliki karakter tidak jauh berbeda dengan Nobita.

CARI LAGI dan CARI LAGI.  Saya belajar banyak dari kalimat sesederhan itu, meski faktanya kalimat tersebut tidak sesederhana setelah kita rasakan.  Cari lagi hampir membuat saya pesimis untuk menjalani hidup, cari lagi dan cari lagi itulah alur hidup manusia.

Apa kata yang pertama yang diungkapkan seseorang untuk menanyakan tujuan hidupnya?  Pasti kata Cari.  Cari apa kamu dalam hidup ini??  atau bisa juga apa yang kamu cari dalam hidup ini???  Yaa... kata cari menjadi sebuah alur cerita dalam kehidupan manusia menemukan tujuan hidupnya.

Saya sangat terjebak dengan kalimat CARI LAGI dalam menentutkan alur hidup saya lima tahun yang akan datang.  Manusia memang perencana paling baik, tapi penentu terbaik hanyalah Sang Khalik.  Sungguh saya sangat terjebak dengan kalimat CARI LAGI.

CARI LAGI.  Kalimat yang pertama kali keluar dari mulut orangtua saya saat pertama kali saya memperkenalkan Radhit enam bulan yang lalu.  Jika diandaikan dalam satu paragraf, kalimat CARI LAGI mungkin diandaikan sebagai kalimat utama uyang kemudian dijabarkan dengan beberapa alasan sebagai kalimat penjelas.

Saya masih sangat terjebak dengan kalimat CARI LAGI.  Nalar saya belum cukup matang untuk memahami segala alasan yang dikemukakan orang tua saya, hasrat muda saya yang masih terlalu mengebu-gebu, dan perasaan saya yang masih terlalu dicampur adukan dengan hawa nafsu.  Entahlah, saya benar-benar terjebak dengan kalimat CARI LAGI dalam perihal jodoh saya, meski kadang jika saya sedang merenungi hendak ingin dengan siapa saya berjodoh, tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat dan sayang saya kepada Radhit, saya mulai berangan-angan mencoba CARI LAGI sosok lelaki dalam dunia hayal saya.

CARI LAGI.  Kalimat pertama yang diungkapkan hati saya saat saya hendak menginginkan diri saya untuk menjadi seorang penulis.  Realita hidup membuat saya memutuskan untuk mencetuskan kalimat CARI LAGI sebagai kalimat yang pertama kali keluar dari hati saya.  Ternyata kebahagian dan kenyamanan hidup secara material tidak bisa berpangku tangan hanya sebagai seorang penulis.  Saya sangat mencintai seni menulis, berharap suatu saat nanti saya bisa hidup dengan kebahagian yang seimbang dari menulis, kebahagian berupa materi dan kebahagian berupa kepuasan jika tulisan saya bisa lebih berarti untuk siapa pun yang membaca.

CARI LAGI dan CARI LAGI.  Saya masih sangat terjebak dengan kalimat tersebut sampai saat ini.  Sampai saat ini dan sampai tiba waktunya saya dipendam di dalam tanah, saya akan terus terjebak dalam kalimat CARI LAGI.  Mencari serpihan kebaikan yang bisa saya kerjakan, serpihan kebaikan yang terececer nyaris tak teraba, mencari makna hidup, dan mencari kunci untuk menjamin saya memberikan surga bagi orangtua saya.

Bekasi, 2 September 2011
21:59



Minggu, 06 Maret 2011

My First Surprise Party


Enjoy this post

Thanks Full For Allah that allowed me to celebrated it!

Saya bukan perempuan romantis, tapi saya belajar untuk memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar romantis.MySpace

Hari ini 6 Maret 2011, tepat 20 tahun usia calon suami saya (amin), hehe lebay yah, yaudah usia orang yang sudah hampir sebulan ini mengisi hati saya (ahelah nambah lebay). Ya apalah pokoknya, intinya hari ini tepat My Radhitya ulang tahun.

Awalnya saya mau pengakuan dosa dulu sama Bung Rhoma (Panggilan saya buat Radhit)

"Dear Bung Rhoma, Bung Neng Rhika minta maaf kalo hampir sebulan Bung Rhoma dongkol gara-gara Neng Rhika sok-sokan gak tahu kapan Bung Rhoma lahir. Maafkan Neng Rhika, sugguh teeerrlaahhlu. Tapi ini semua termasuk ke dalam skenario Neng Rhika untuk menciptakan sebuah drama berjudul MELODI CINTAMySpaceMySpace"

Hampir sebulan saya merencanakan acara ini dengan berkong kalikong ria bersama adiknya yang paling dia sayang seantero jagat raya alam semesta ini yaitu Anindita , yaaa sebut saja dia Dita. Bongkar pasang formasi pun terus dilakukan, mulai dari pemilihan venue yang tadinya di McD, sampai akhirnya memutuskan untuk di KFC Harapan IndahMySpace.

Awalnya saya merencanakan si Dita jalan bareng kakaknya, eh tapi ternyata sungguh terlalu, kakaknya menolak mentah-mentah untuk mengajak adiknya MySpace.

Saya pun sibuk mikir jungkir balik ala Bang Kadir, mau kasih apa yah ke Bung Rhoma emmmm. Bung Rhoma itu melankolis. Selidik punya selidik dia ternyata suka sama DORAEMONMySpace. Baiklah saya mulai mencari ide buat beliin sesuatu yang berhubungan dengan doraemon, tapi bermanfaat.

Bukannya beliin sesuatu yang berbau doraemon, akhirnya saya malah beli binder + buku buat dia saat saya pergi numpang baca ke salah satu toko buku di Depok. Di depan bindernya saya pasang foto-foto kita berdua (baca foto pra wedding, tapi gak tau kapan weddingnya). Tapi kok rada gak lumrah banget, akhirnya saya memutuskan kedua hadiah ini sebagai kado buat satu bulan jadian kita yang jatuh tepat satu hari sebelum Bung Rhoma ulangtahun atau tepatnya tanggal 5 Maret2011.

Akhirnya saya menemukan kado yang pas, cocok, sesuai (apa beda) di H-1, mau tahu??
Emmmm, kasih tahu gak yah??? MySpace

Kadonya adalah ............
Eng ing eng MySpace RAHASIA!

H-5 saya bingung karena saya demam tinggi dan tyfus, sementara kue belum saya beli, dan saya pun tidak tahu apakah saya akan kuat melaksanakan misi ini!  Akhirnya Sabtu sore saya memutuskan untuk late lunch di KFC bersama kakak sepupu saya, lalu lanjut mencarikue sampai pukul 19:00.

Berkat bantuan sepupu saya yang baik hati, lemah lembut, ramah, dan tidak belagu Kakak Bro 1 (Fuzi) , yang sudah rela dan mau berkorban nemenin saya keliling beli nyari kue karena hampir semua toko kue di kawasan Harapan Indah tutup menyambut Hari Raya Saka. Tadinya saya mau ditemenin sama Kakak Bro 2 (Aris) , tapi karena dia lenyap dari peradaban skenario ini akhirnya saya memutuskan besama Kakak Bro 1 saja.

Rencana pun di rubah.  Saya dan Radhit akhirnya memutuskan untuk bertemu di KFC jam 9. Saya pun menginap di rumah kakak bro, agar bisa kabur dari marinir cantik di rumah saya yang tidak lain adalah ibu saya. Paginya saya berangkat pukul 9 lebih dikitlah, tapi namanya Indonesia yaudin yaudah ngaretlah 1 jam!!!

Radhit tiba duluan di KFC, saya dan Fuzi pun panik karena Dhita belum muncul.  Akhirnya setelah menunggu hampir 15 menit, Dhia un tiba.  Saya pun belaga sedang mules di WC agar Radhit tidak curiga.



Kami menyelinap lewat parkiran belakang.  Alamakkkkk!!  Nyalahin lilinya aja hampir meluluh lantahkan kesabaran kami bertiga MySpace. Coba kau bayangkan!! (halah), anginya sepai sepoi dan kita harus nyalahin 20 lilin, satu nyala 3 mati (nah loh gimana tuh), walhasil kuenya jadi nyek nyek karena lilinya beleberan. Nih fotonya, tapi ini lilinya udah dicabutin jadi agak mendingan



Ya emang dasar kita pasangan cuek, si Radhit maen tiup lilin aja tanpa basa basi ngucapin apa gitu, boro-boro ngucapin sepatah dua patah kata, yang namanya make a wish aja enggak MySpace.

Nih fotonya:

Tiup Bung Rhoma sampai Pantura redup.


Oh iyah Radhit juga ngajak adeknya Ridho (eh terpaksa ngajak deh, hehe pisss Ridho hehe)

  heheh, itu Bung Rhoma mukanya Neng Rhika aniyaya pake cokelat yang sudah terkontaminasi lelehan lilin, tapi tetep manis lah dikit!  Eh di foto ini saya gendut yah??  Itu trik kamera tau, sama bajunya!  Saya sengaja pake Jaket Doraemon (minjem) hehe, kepengen hari ini bener-bener saya ada buat Radhit.

Setelah puas ngobrol, ketawa-ketawa, lebih tepatnya ngecengin si Ridho yang lagi naksir 3 gadi sekaligus, cwit cwit, acara ini resmi DITUTUP.  Dan ini pertaa kali saya bikin surprise party, weh sebelumnya udah nyoba tapi GAGAL TERUS.

Hari ini saya sangat senang, saya ngobrol berdua banyak hal bareng Radhit setelah acara ini.  Ngadu Ramen yang ternyata kuahnya malah gak pedes sama sekali, shalat jamaah bareng Radhit meski kita sama-sama jadi makmum, tapi seneng bisa mencium tangan calon suami (amin), terus Radhit bela-belain nganter sampe stasiun kota, karena memang niatnya saya balik Senin jadi kesorean deh.

Tapi saya sedih, sepanjang perjalanan menuju kostan saya cuma bisa sembunyi di balik kerudung nahan tangis karena malam ini dia harus balik ke Semarang nuntut ilmu.  Tapi saya ikhlas, karena Insya Allah ini untuk tabungan masa depan kami, entah nanti Allah mengizinkan tetap sama-sama atau tidak.

Sedari tadi saya belum ngucapin apalagi doa buat dia.  Disaat orang lain berloma buat jadi yang pertama ngucapin, saya ingin jadi yang terakhir.  Semua bukan tanpa alasan.  Alasan pertama saya bukan orang pertama yang pernah ada di hati Radhit, tapi saya berharap saya bisa jadi orang yang terakhir yang bisa singgah di hati dia.  (Amin Ya Allah)

"Happy getting older My Radhitya!  Maaf aku hanya bisa kasih ini ke kamu.  Maaf sudah berbohong.  Aku cuma bisa kasih doa yang terbaik untuk orang sebaik kamu.  20 tahun bukan waktu yang singkat, bukan saatnya kamu bersenang-senang, dan aku ingat kata-kata kamu 20 tahun itu waktunya seseorang disebut dengan DEWASA.  Tapi aku tahu kamu jauh lebih dewasa.  Aku tahu banyak harapan yang kamu punya di setiap sujud yang kamu lakukan, ada doa besar untuk menjadi orang besar di setiap sujudmu, aku memang tidak tahu apa yang kamu panjatkan, tapi aku berharap semua terkabulkan.  Semoga kamu tetep jadi Radhit yang aku kenal sekarang.  Baik-baik di kampung orang meski faktanya Semarang bukan tempat yang asing buat kamu.  Kita sama-sama belajar sayang, belajar untuk sama-sama menggambar senyuman kebanggan untuk keluarga kita masing-masing, dan kita sedang sama-sama belajar untuk mempertahankan apa yang kita punya sekarang, apa yang sama-sama kita mimpikan.  Berlayar dengan kapal pesiar yang kamu buat sendiri, dimana ada 4 peri kecil yang berlari memanggilku  CANDY dengan celotehan manjanya, dan berlari menghampirimu dengan panggilan AYAH" Amin Ya Rabb..  I Love you my Radhitya!


Senyuman yang akan selalu saya rindukanMySpace


I love you my buffalo hubby :)
I will be miss you really miss you my dear..
Depok, 6 Maret 2011
Pukul 22:55 WIB


Sabtu, 19 Februari 2011

Berhasil!!

Enjoy this post

Saya bingung ingin memberi judul apa di postingin ini, akhirnya saya memberi judul BERHASIL.  Ya, saya berhasil membidik gambar dengan susah payah menggunakan teknik pemfokusan.Fajar Anugrah Subhi Setelah sebulan punya Fubi (my SLR) dan belajar dengan susah payah sama teman saya akhirnya saya berhasil mengambil gambar dengn sistem fokus (ngeblur belakang), meski belum bagus-bagus banget hehe MySpace.



Check it out !!MySpace


My 'lill Fayman is using my phone

listening a song from Alm.  Uncle Dono Warkop


kissing me my 'lill Feyman


Dude, it is wrong to wear it !! 


Look at his eyes!!
I wanna cry, He so cute and so smart, but His Mommy never can see his growth!!

With his second mother, hehe She is my lovely mom


She is so coquettish right??


And she is so nice young lady!!

Model :  
1.  Muhammad Luthfi Hasbullah
2.  Nazwa (My mom)
3.  Amalia Rahmani
Photographer: copy right @ by ZIAH MUHARAM
Venue:  My House
Using:  Canon EOS D550

Rabu, 22 Desember 2010

Wajah dalam samarku

Enjoy this post

Ku pejamkan mata
Menghembus nafas secara dalam
dan ku perhatikan apa yang tergambar dalam pejaman singkatku
wajahmu!!

Aku masih mencari seonggok tanah yang menidurkan jasadmu
Masih menanti tatapan panjangku pada nisan kumuh yang terpampang di altar pemakaman
Dan aku masih mencari gambar demi gambar yang tersembunyi selama 16 tahun lamanya

Wajah dalam samarku
dan keihlasan dalam doaku
melepas semua yang hadir di masa laluku
dan terus menjadi keberkahan dalam masa-masaku sampai aku sepertimu
terbaring dalam tidur panjang, dan teronggok kaku di atas tumpukan tanah yang memerah

Sungguh aku merindumu
wajah dalam samarku

Luka yang menganga

Enjoy this post

Seperti apa kau menyanjung sebuah cinta wahai lelaki tak berkuda dan tak betopeng?  Apakah kau memberiku sebuah cinta yang kau ibaratkan seperti celana dalam yang begitu cepat kau campakkan ketika kau anggap sudah tak layak untuk kau kenakan??

Mengapa bisa dengan tega kau memberiku sebuah harapan yang tidak pernah aku pinta?  Dan mengapa bisa dengan tega engkau mentertawakan kepolosanku??  Ah, berlebihan jika aku menyebutnya kepolosan, bukan kepolosan melainkan kebodohan yang teramat.

Bagaimana bisa engkau mentertawakan ku dengan tawa yang begitu menghujam mebahana sampai ke lubang semut sekali pun ?

Dan bagaimana bisa engkau meninggalkanku dengan luka yang menganga seolah diam dan tak tahu pedih yang menghujam dan hampir membuatku tersungkur dan menuliskan namaku di atas nisan yang nista???

Dan untukmu lelaki yang ku puja dengan diam-diam, bisakah engkau tak menyiram air garam di atas luka ku yang menganga dan hampir penuh dengan belatuung ???

Dan akankah kau tersungkur dengan indah di lubang hatiku dan menuliskan dongen indah tentang lelaki berkuda yang membawa kebahagian untuk sang puteri yang tertidur sepanjang penantian cintanya??

Atau engkau hanya akan menuliskan sebuah dongeng panjang tentang seorang puteri kumuh dengan luka yang lebih menganga??


Bekasi,22 Desember 2010

Lily yang memudar

Enjoy this post

Padang putih bergelimang menyeribak bau temaram ketika angin malam menghembuskan keganasannya, dan melambai dengan mesranya lily yang tumbuh di tengahnya.

Angin menyajikan kisah kelelahan kaum-kaum pecinta fatamorgana dunia, membiaskan tabir kehidupan yang tersemai dalam bahtera catatan kecil sang anak adam.

Di pinggir jalan di samping padang putih.  Lubang menganga dalam dengan gemericik air pekat hitam dan berbau.  Dan sari kejauhan segerombolan domba kecil dan sang pengembala berlari dan perlahan mendekati kemudian menyiprati padang putih lalu tercipratlah air hitam pada setangkai bunga lily, dan jadilah dia lily yang memudar.

Bekasi, 22 Desember 2010

Perempuan hina

Enjoy this post

Aku perempuan hina yang meratapi kesendirianku
Aku perempuan hina yang meratapi kepedihanku
dan, Aku perempuan hina yang terperosok dalam ke dalam cinta yang hina

Bagaimana bisa menjadi yang baik di atas yang buruk ?

Bekasi, 22 Desember 2010

Cinta yang Diam-diam

Enjoy this post

Malam suntuk dalam kesepian yang menghujam
Mengingat kembali roman sebulan singkat bersamamu
Entah roman atau balada

Roman cinta antara ak yang mencintaimu diam-diam
Atau...
Balada cinta yang melepaskan cintakuu diam-diam

Wahai penghujam yang telah memporak porandakan hati
Apa sesingkat ini kau bertahta dalam hariku ?
Atau hanya ingin singgah, lalu mempermainkannya?

Laksana etalase dalam kemegahan sebuah toki berlian aku memandangmu,
Menampakkan diriku dan perlahan mundur,
Sesekali aku singgah dan mencari keberadaanmu,
namun kemudian engkau menjauh tanpa ada jawab

Cinta yang diam-diam

Cinta yang diam-diam membuat hariku menjadi tak bermatahari
Cinta yang diam-diam membuat ku memiliki waktu yang tak ada tepi
dan..........
Cinta yang diam-diam membuatku tersayat

Pernahkah kau tahu bahwa ada cemburu dalam hati ketika cinta yang diam-diam melihatmu dalam sebuah frame bersama dia yang ku tahu pernah menjadi bingkisan kecil dalam hidupmu ??

Pernah kau merasa bahwa sungguh aku merasakan ketertarikan yang teramat, ketergilaan yang teramat sampai hampir membuatku mati suri redup tak bercahaya??

Cinta yang diam-diam membuatku mendongeng sebuah kisah palsu hanya untuk meratapi perasaan yang ku tutup dengan kegengsianku,
dan ....
Cinta yang diam-diam membuatku takut tak akan ada waktu dalam 24 jam nafasku untuk melihatmu dan sekedar memberimu cinta yang diam-diam


Bekasi, 22 Desember 2010

Rabu, 08 September 2010

Balada Kematian

Enjoy this post

LOMBA BLOG DEPOK 17 Juli-17 September 2010

Siang itu angin sedang bercengkrama bersama mendung, petir menyibak di kelabunya awan, dan mentari terlelap tak berwujud.  Setapak demi setapak kaki melangkah, menyusuri halaman rumah memasuki pintu ruangan berukuran 4m x 5m.  

Mata sayuku tertuju pada sosok yang tak asing bagiku, sosok yang dengan senang menerima amanat berupa diriku.  Dia Ibuku, sosok kuat yang sedang asik nonton TV.  Aku kembali memasuki ruanganku, ku pandangi sosok yang tergambar di cermin.  Ya dia diriku, aku melihat diriku kusam, pucat membiru.  

Bergegas menyibak kekutanku dengan setetes air wudhu, ku sujudkan diriku pada Sang Khalik, berharap keridhoannya.  Ah badanku lemas tak beraga, sekujur tubuh menggigil, kulafadzkan kalimat yang telah menjadikanku seorang muslim, Laa Illaha Illallah MuhammaddaRasulullah , aku tersibak diam dalam tidur panjang.

Rohku seketika terhempas dalam ruang kosong tak berbatas yang belum pernah ku lihat.  Ah, aku tidak bisa menggapai diriku yang ku lihat sedang tersungkur memucat di altar sajadah.  Ah, matikah aku?  Aku kembali menapaki ruang hampa itu, kulihat ibuku, aku berteriak "Ibu Ibu Ibu" ah tapi mengapa tak ada jawab!! berbeda dimensi? Ya Rabb, matikah aku?

Aku hanya bisa melihat segalanya dari ruang jauh yang sepi tak berpenghuni, perlahan aku melihat tangis ibuku mengoyak badanku, sakit hati ini ku rasa, saat tangis itu datang.  Ya aku mati.  Tapi aku tak bisa tersadar, tak percaya aku telah pergi.

Ku lihat badan lesu ibuku berlumir air mata yang menetes di pipinya, di sampingnya ada sosok lelaki yang teramat mencintaiku dan dirinya, dia ayahku.  Di sekeliling banyak orang yang ku kenal menangis, datang menyibak tutupan kerudung putih yang membaluti wajah pucatku.  Aku melihat sahabatku, temanku, saudaraku, guruku, bahkan kekasihku.  Meraka menangis mungkin bersedih untukku, atau hanya tangis sekedar tangis karenakehilanganku.

Pagar rumahku saat ini berhias bendera kuning.  Ah rasanya aku ingin teriak, tapi mereka tak akan mendengarku.  Isak tangis berbalut lantunan Surat Yasin menggema di rumahku, kesibukan yang ku lihat menyedihkan mulai memasuki pekarangan rumahku.  Kurung Batang, Kain Kafan, Bunga-Bungan, ah mereka hanya berujar itu, aku terperangah dalam ruang yang sangat membuatku begitu asing.  Ya Rabb, aku benar-benar mati.

Hujan yang tadi mengguyur berubah kering, mentari kembali bermain bersama awan yang mulai cerah.  Ku lihat dengan isak tangis tak terbendung ayahku dan beberapa kerabatku mulai membawa jasadku ketempat periistirahtanku.

Pesan terakhir berupa ucapan maaf terlontar dari mulut ayahku.  Ya Rabb, aku mati.  Aku mati dalam keadaan aku masih punya salah terhadap sekelilingku.  Mulutku sering berujar kata yang mungkin menusuk relung hati seseorang, langkahku terkadang membawaku terkapar pada tempat yang tak seharusnya ku datangi, tanganku hanya sibuk dengan kesenanganku terhadap dunia maya tanpa pernah aku menyentuh tasbih.  Ya Rabb, aku takut!!

Jasadku mulai diletakkan, ya ini rumah baruku.  Rumah yang berpondasi amal ibadahku selama ini.  Entah cukup atau tidak.  Perlahan kumandang Adzan bergema di telinga, jasadku tak bisa mendengar tapi aku mendengar.  Aku ingin berteriak rasannya, berteriak agar jangan tutupi jasadku dengan tanah, jangan tinggalkanku pada ketakutanku.  Aku takut gelap, aku takut gelap.  

Entah seperti apa hidupku setalah kematianku, yang aku rasa dari kejauhan ada balada kematianku yang dirasakan sangat kuat oleh ayah ibuku.  Maafkan adinda jika aku harus pergi terlebih dahulu, doakan aku agar bisa menjadi anak yang memberikan syafaat berupa syurga untukmu ayah ibu.

Bekasi, 8 September 2010




Senin, 05 Juli 2010

DUA HATI UNTUK SATU MIMPI

selamat membaca
Tak terasa sudah hampir 2 tahun aku berada di kota ini,dan tidak terasa aku akan pergi meninggalkan kota ini. Melbourne kota impianku sejak kecil. Butuh perjuangan untuk aku bisa sampai ke kota bahkan benua tempat kota ini berada. Ada banyak hal yang aku dapat di kota ini, yang pada awalnya aku rasa ini hanya sekedar mimpiku di masa kecil yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Tapi Tuhan berkata lain, aku mewujudkan mimpi ini perlahan satu demi satu, menerjang segala batas yang ada di dalam diriku.

Putri Nafizha namaku, orang biasa memanggilku Fizha. Aku hanya perempuan biasa yang berjuang menjadi perempuan luar biasa dengan cara yang tidak biasa. Saat ini aku berumur 22 tahun, aku baru saja menyelesaikan pendidikan S2ku di Melbourne University. 22 tahun untuk menyelesaikan gelar master memang terlalu muda, tapi itulah faktanya karena aku memulai sekolah pertamaku tepat di usiaku baru beranjak lima tahun. Aku lulus dengan IP yang tidak terlau besar hanya 3.62 dari fakultas teknik perminyakan.

Awalnya aku hanya mahasiswa biasa yang tidak memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, namun semangat yang ada dalam diriku yang sebenarnya adalah amarah dalam diri menghantarkan aku menjadi satu dari sekian banyak orang yang beruntung mendapatkan beasiswa ke Australia.

Ayahku hanya seorang teknisi biasa di sebuah pengeboran minyak, beberapa kilo meter dari rumahku dengan gaji yang hanya cukup untuk menafkahi satu orang istri, dan dua orang anak yakni aku dan adikku Farraz. Bagiku, ayah, ibu, dan Farraz adik lelakiku adalah segalanya. Farraz 4 tahun lebih muda dariku, mungkin Farraz bukan anak yang kata orang-orang adalah anak normal, ya, Farraz satu dari sekian banyak anak penderita syndrome autis. Di dalam keautisannya Farraz memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah kecerdasan dan kelapangan hati untuk menerima keadaannya, bahkan jika dibandingkan dengan diriku Farraz lebih bersemangat untuk menjadi orang yang berhasil.

Aku kecil tidak banyak berbeda dengan anak kecil lainnya,lebih senang bermain ketimbang belajar. Ibuku yang hanya seorang penjual gado-gado sering memarahiku karena susahnya aku untuk disuruh belajar. Sampai pada satu ketika di usiaku yang baru beranjak 6 tahun tepat ketika aku baru duduk di kelas dua SD ibuku menyeretku ke kamar mandi, lalu disiramnya aku dengan air berulang-ulang kali.


“Dasar anak nakal!!! Mau jadi apa kamu kalo dari sekarang saja kamu main terus kerjaannya!!! Ingat kita ini orang susah, kamu itu harapan orang tua, jangan main terus kerjaannya” ucap ibuku sambil terus menyiramkan air ke sekujur tubuh ku.
Bibirku hampir membiru kedinginan aku hanya dapat berkata,

“Ampun ibu!! Ampun ibu!!”

Mungkin naluri keibuan ibuku mulai muncul, ibuku berhenti menyiramiku. Aku sangat merasa kedinginan, rasanya aku ingin sekali keluar dari kamar mandi ini, namun ibu justru mengurungku di kamar mandi yang hanya berukuran dua meter kali satu meter ini.
“Kamu pikirkan apa yang kamu rasakan hari ini, dan ingat ketika kamu kelak menjadi seorang ibu yang sangat berharap pada anaknya.” Ucap ibuku dari balik pintu.

Tubuhku gematar, hanya ada irama dari gigiku yang saling beradu dan sesak akibat tangis. Entahlah, saat itu ada satu pemikiran yang aku rasa tidak semua anak seusiaku memiliki pemikiran yang sama. Meski bibirku tak mampu berujar satu patah kata pun karena kedinginan, hatiku seolah mendendam dalam hati.

“Aku akan ingat hari ini ibu, hari di mana aku akan mengawali hidup ku menjadi apa yang kau inginkan. Hari di mana aku merasa aku anak paling beruntung yang punya ibu seperti dirimu, dan hari di mana akau bersumpah aku akan menjadi kebanggaan bagimu karena telah memilikkiku”

Hampir setengah jam ibuku mengurungku di kamar mandi, ibu langsung menyuruhku untuk membersihkan badanku, dan aku menemukan sosok ibuku yang berbeda saat ia dekap aku dengan desahan nafas seperti menahan tangis yang dapatku dengar saat ia dekap aku.
“Maafin ibu ya dek, ibu cuma mau kamu tidak seperti mereka. Kita memang orang kampung yang tidak punya apa-apa, tapi kita tidak boleh selamanya seperti itu. Kamu harapan ibu dan ayah!! Belajarlah, dan jadikan hidupmu kelak lebih dari apa yang kau punya hari ini!!”

Sejak hari itu, aku menjalani hidupku dengan semangat yang ibuku ucapkan padaku. Ketika aku berusia Sepuluh tahun, Tuhan memberiku kepercayaan untuk menjadi seorang kakak, dan kepercayaan itu semakin beratku rasa manakala aku mengetahui adikku adalah penderita syndrome autis.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa memiliki seorang adik penderita autis. Semua bisa ku lalui dengan baik karena ayah ibuku bisa menerimanya dengan ikhlas. Tapi ada satu hari yang membuatku merasa marah dengannya, satu hari dimana aku kembali memandangnya sebagai anak yang tidak lebih sebagai anak yang tidak berguna dalam keluarga ini.

“Hey apa yang kamu lakukan dengan buku ku!!! Kembalikan bukuku!!!” teriakku sambil menarik buku yang ada di tangan Farraz adikku.

“Aku mau pinjam kak, aku mau pinjam!!!” Farraz merengek sambil menarik buku yang sudah berhasil aku rebut darinya.

Kami pun saling tarik menarik, sontak adikku Farraz yang saat itu baru berusia empat tahun terjatuh dengan posisi tangannya menggenggam beberapa lembar sobekan buku.

“Dasar anak idiot!!! Lihat apa yang kau lakukan dengan bukuku!!! Kau merusaknya!!!” teriak aku sambil mengarahkan tanganku seraya ingin memukulnya.
Adikku kontan berteriak, dari kejauhan ibuku pun melihat kejadian tadi, ibuku langsung memeluk adikku dan berkata

“Fizha!!! Apa yang kau lakukan terhadap adikmu? Tidak sadarkah kau bahwa dia adalah adikmu yang seharusnya kamu lindungi!! Ibu tahu dia tidak seperti dirimu, tapi sayang ternyata hatimu tidak lebih dari hati seorang kakak yang tega terhadap adiknya sendiri.”

“Tapi ibu, dia merobek bukuku!!!” balasku dengan nada memelas.

“Coba kamu pikir seandainya kamu tidak melarang dia untuk melihat bukumu, pasti bukumu tidak akan rusak!!” balas ibu dengan nada yang kembali meninggi.

Sejak kejadian itu aku sadar bahwa adik ku juga manusia normal yang butuh diperhatikan. Betapa takjubnya aku terhadap Farraz adikku, dia sering mengambil buku bacaanku dan belajar untuk belajar membaca disela waktu yang ibuku punya. Alhasil di usianya yang baru empat tahun untuk anak dengan berkebutuhan khusus dia sudah bisa membaca. Bahkan pemilik yayasan di samping rumahku, bersedia membiayai adikku bersekolah di sekolah luar biasa bertaraf internasioanal yang sungguh kami pun tidak akan sanggup membayarnya.


Hari demi hari berlalu, tidak terasa aku sudah berada di kelas 3 SMA dan adikku Farraz tiga tingkat di bawahku. Saat itu ayah berada dalam dilema besar, disisi lain ayah menginginkanku untuk melanjutkan ketigkat perguruan tinggi, namun disisi lain ayah tidak punya cukup biaya untuk membiayaiku.

Sampai satu malam ayah berkata di depanku, ibuku dan Farraz satu perkataan yang membuatku tidak mengenal sosok itu sebelumnya ..

“Fizha, ayah tahu kamu ingin kuliah di perguruan tinggi sebagai seorang tenaga ahli di bidang perminyakan!! Tapi kamu lihat ayah, apa yang bisa ayah andalkan sebagai seorang teknisi!! Apa yang sudah ayah berikan pada kalian selama menjadi teknisi perminyakan ? “ ucap ayahku dengan nada tidak mengenakan.

“Mengapa ayah berkata demikian?” Tanya ibu yang saat itu sedang memotong sayuran untuk olahan gado-gado.

“Ayah tidak ingin saja Fizha bermimpi untuk menjadi tenaga teknisi sebuah perusahaan minyak. Sudahlah Fizha, kamu perempuan terima saja kodratmu. Setinggi apa pun kamu bermimpi tetap saja perempuan itu buntutnya di dapur!!! Kita orang susah, untuk makan saja pas-pasan apalagi untuk kuliah!!!.” Jelas ayah sambil mengarahkan telunjuknya kearah ku.

“ Apa maksud ayah berkata bahwa perempuan hanya akan duduk manis di dapur? Ayah menyuruhku untuk segera menikah?” Tanya ku ketus.
“Iya sepertinya kamu sudah paham!!” Jawab ayah sambil melenggang ke arah meja makan.

“Ayah, seumur ibu bersama ayah, ibu tidak pernah menemui ayah seperti malam mini!! Kalo ayah tidak ingin membiayai Fizha biar ibu yang membiayainya!!” Jawab ibu dengan nada emosi.

“Fizha, Farraz!!! Lupakan mimpi kalian untuk bisa menjadi apa yang kalian mau!!! Sekolah setinggi-tingginya, bahkan pergi ke Austalia!!”

“Ayah lupa, ayah yang pertama kali menyemangati kami untuk meraih mimpi kami ke Australi ayah!!!” Jelasku dengan mata yang sudah mengembang.

Ayah langsung meninggalkan kami dalam suasana hati yang penuh amarah namun bingung. Kami tidak pernah menemui sosok ayah seperti yang kami temui tadi.

Esok paginya saat aku hendak pergi untuk melihat pengumuman beasiswa penerimaan mahasiswa baru di ITB, ayah menghampiriku. Jujur hatiku masih sedikit enggan berbicara padanya, namunku lihat muka ayah sangat pucat. Ayah seketika bersandar di bahuku, tak lazim saat ituku rasa. Ayah tak pernah bersikap seperti itu.

“Nak, maafkan ayah atas kata-kata ayah semalam. Tak seharusnya ayah patahkan semangat mu. Sebagai ayah yang tidak bisa memberikan apa-apa, seharusnya semangatlah yang ayah berikan, bukan malah mematahkan semangatmu!! Pergilah nak, semoga hasilnya adalah yang terbaik bagimu!! Semoga itu adalah rizkimu nak!!”

“Terimakasih ayah!! Aku bangga punya ayah sepertimu!!” ucapku sambil memeluk ayah.

Aku pun bergegas melihat pengumuman itu, ya aku berhasil mendapatkannya. Aku berhasil sebagai mahasiswa baru di ITB jurusan perminyakan. ITB, kampus yang berjuta orang inginkan. Aku segera bergegas pulang, di ubun-ubunku hanya ada ucapan aku berhasil. Tak sabar rasanya aku ingin memberitahukan kepada ayah, ibu, dan adikku.

Belum sempat kakiku masuk ke rumah, langkahku terhenti manakala di depan rumahku terpasang bendera kuning, dan beberapa orang keluar dari rumahku dengan wajah bersedih. Hatiku bertanya ada apa ini, aku pun memberanikan diri menapakan langkahku perlahan. Tubuhku melemah seketika, kitaku sadari seonggok tubuh tak bernyawa itu adalah ayahku. Ayah yang tadi pagi dengan manjannya menyemangatiku kini telah pergi tanpa melihat hari-hariku menjadi mahasiswa perminyakan ITB. 22 November 2000 , ayahku pergi bersama mimpi-mimpiku yang tak sempat ia lihat.

Setelah kepergiaan ayahku, ibuku masih terus berjuang untuk membiayai kebutuhan keluarga kami. Bersyukur aku dan adikku masih bisa mengenyam pendidikan gratis. Saat ini tak terasa aku sudah ada di tingkat tiga, tepat pula setahun mendiang ayah ku pergi.

Aku membaca pengumuman di mading kampusku, ternyata ada satu info mengenai beasiswa terusan ke Victoria University, kampus impianku. Adri teman dekatku menyemangatiku untuk meraih beasiswa itu. Adri teman dekatku, dia yatim piatu dari seorang pengusaha kaya di Bandung. Saat itu Adri memberiku kemudahan untuk meraih mimpiku ke Australia. Dia selalu mengantarku ke Jakarta tepatnya ke kedutaan besar Australia di Kuningan.


Suatu malam aku bersama Adri menikmati indahnya Jakarta di malam hari. Tapi seketika aku tersadar bahwa aku tidak mungkin ke Australi sendiri, Farraz di benakku hanya ada dia dan mimpinya yang sama sepertiku bisa bersekolah di Australia. Keesokan harinya aku pergi menemui bagian kepengurusan pendidikan, aku mulai berbicara padanya bahwa aku ingin adikku mendapat beasiswa. Namun setelah aku menceritakan kondisi adikku orang itu justru berkata

“You and your brother have a dream to far!! And it’s impossible for your brother who has autistic syndrome can get a scholarship to go there!! Even if your brother can attend, it just with your money!! And I think you will not be able do!!”

Sakit rasanya aku mendengar kata-kata itu. Aku pun pulang dengan perasaan sedih dan dendam bahwa aku pasti bisa membawa adikku ke Australia. Tapi disisi lain hari itu aku senang, karena aku lagi-lagi terpilih menjadi orang yang beruntung untuk mendapatkan beasiswa itu.

Tiba-tiba langkahku bersama Adri terhenti tepat di depan rumahku. Astaga apa lagi ini Tuhan, akankah sama kisahku seperti setahun lalu mana kala beberapa saat ketika aku masuk ke dalam rumahku temui seonggok tubuh tak bernyawa adalah orang yang aku sayang?? Tubuhku gemetar hebat, Adri pun merangkulku. Ternyata benar firasatku, ya aku harus kembali kehilangan satu penyemangatku saat aku membawa kabar tentang kepastian mimpiku. Ibuku, ya mayat yang tertidur tenang itu adalah lbuku. Ada apa ini Tuhan, mengapa ibu kuharus pergi sama seperti ketika ayahku pergi? Pergi dengan mimpi yang telah kudapat, pergi dengan segala mimpi yang tiap hari ibuku doakan namun tak sempat ia saksikan.

Jenazah ibuku pun sudah dimakamkan. Aku hanya duduk merenung bersama adikku. Kepergian ibu menambah dilema dalam hatiku, saat ini tidak mungkin aku meninggalkan adikku pergi tanpa ada orang yang bisa menjaganya. Tapi sejenak aku teringat kata-kata ibu ku bahwa aku harus selalu bersama dengan adikku, harus bisa meraih semua mimpi-mimpiku. Malam itu juga aku bawa adikku menuju hotel tempat kongres Indonesia-Australia Educational Relation.
Kutarik adik ku, kami menyusuri dinginya malam di Bandung. Aku dan adikku terus menerobos sampai akhirnya aku bertemu dengan Mrs. Angela. Kukatakan padanya bahwa adikku orang yang cerdas, adik kupun pantas meraih beasiswa seperti orang normal lainnya. Saat itu Mrs. Angela memintaku untuk membuktikan ucapanku, nampaknya adikku pun paham apa yang sedang kami bicarakan, karena adikku justru lebih fasih berbahasa inggris ketimbang diriku.

Tanpa aku pinta adikku menjelaskan tentang Australia. Sungguh di luar logika, dia bisa menjelaskan budaya, bahkan letak geografis secara terperinci diikuti dengan pendapat beberapa ahli. Kontan semua orang yang ada di dalam gedung itu terperangah dengan kecerdasan adikku.
Melbourne, 22 November 2006 tepat enam tahun ayahku meninggal, dan tepat pula aku meneyelesaikan kuliahku di kampus tercinta.

“ Kakak!!!”

“Farraz!! Aku sudah menyelesaikan mimpiku saat ini!! Sekarang giliran mu!!” ucapku sambil merangkulnya.

Farraz berhasil mendapat beasiswa bahkan sampai dia menyelesaikan gelar Bachelornya untuk jurusan Geologi di universitas yang sama. Selama di Australia kami tinggal bersama paman dan bibinya Adri. Dan sepulangnyaku dari sini aku sudah diterima diperusahaan minyak terbesar di Amerika, menjadi perempuan sukses seperti yang diharapkan ibuku, didampingi Adri suamiku dan satu pangeran kecilku Farhanzy.

Ini adaah perjuanganku, perjuangan seorang perempuan miskin yang dapat membuktikan bahwa mimpi adalah semangat untuk menjadikannya nyata. Ini adalah bukti bahwa perempuan juga dapat berkarir, perempuan bukan bisanya hanya duduk manis di rumah, bekerja di dapur, dan menuggu suami tiap harinya.

Semua mimpi untuk dua hati yang telah mengadakanku di bumi ini, mimpi untuk duahati, mimpi untuk satu janji bahwa aku bisa menjadikan dua hati itu bangga denganku. Ayahku dan ibuku.

Kamis, 25 Februari 2010

Sajak Dalam Pengharapan

selamat membaca
aku meluncur seperti es yang jatuh dari reruntuhan longsor
menerjang segala yang ada dalam kebekuaan es yang menjulang angkuh
aku percaya bahwa aku akan bertepi pada satu pencairan yang entah berantah akan ku tepikan
aku menemui mu sang matahari, yang telah menenggelamkan bulan ku di atas kabut pagi
aku terpaku menatap sekeliling ku berujar kata cinta,
menggelamkan ku pada tawa yang tak bisa ku beritakan pada hari yang telah menepikan jam
wahai mentari,
beritakan pada bulan yang telah menyamarkan segalanya bahwa aku cinta dia
tenggelamkan aku pada satu hati yang aku mau
tenggelamkan aku pada tawa yang membuat ku malu
pada tawa yang membuat ku cinta setengah mati
aku hanyalah pujangga yang kemarukan cinta,
pujangga yang berlebih menanti inta
dan pujangga yang mengagungkan cinta
padahal setapak pun aku belum menemui cinta..
(ziah muharam)

Minggu, 26 Oktober 2008

ketika sebuah mimpi terlupa

ketika sebuah mimpi harus kembali terabaikan...harus kembali terlupakan...seketika sakit ini kembali terasakan.....
hidup memang pilihan...harus memilih meski pilihan iu menyakitkan....
tapi ada begitu banyak rahasia indah yang melayang di langit kehidupan yang harus aku gapai dalam perjalan mimpi yang menyulitkan..
aku memang berjuang untuk mimpi yang bukan mimpi ku...tapi aku berjuang untuk mimpi dari orang yang sangat mengharapkan mimpi itu nyata...
hidup ini bukan hanya mengejar keinganan hati,,tapi mengejar keikhlasan jiwa,keridaan orang tua...
semoaga mimpi yang aku pilih menjadi nyata untuk orang yang menginginkan mimpi itu ada

Sabtu, 12 Juli 2008

the end of first love

Jam menunjukan pukul 10.30, mentari di Minggu pagi pun nampak bersahabat untuk menikmati akhir pecan untuk sekedar santai sejenak. Tapi tidak bagi Alan, Joe, dan Helena. Mereka masih mabuk karena pengaruh alcohol, dan berbagai macam drugs yang mereka gunakan semalam di rumah Joe.

Alan : “ Joe,gw denger sekarang Gadis ada di Jakarta. Bener Joe? “(Tanya Alan dengan nada masih setengah mabuk).
Joe : “ Mana gw tau!!!” (tersenyum dengan sejuta dendam dalam dirinya).
Helena : “ Alan?? Kenapa sih kamu masih mikirin dia yang emang udah jelas-jelas…..”
Alan : “ Jelas-jelas nyakitin gw? Asal loe tau ya Na, gw gak suka kalo ada orang yang ngejelek-jelekin Gadis!” (menatap tajam ke arah Helena dan meninggalkan Helena dan Joe).
Helena : “ Alan…..” (berteriak)
Tanpa menghiraukan teriakan Helena,Alan pergi meninggalkan rumah Joe. Helena menangis dengan seribu dendamya .
Helena : “ Joe, kenapa sih dia mesti taiu kalo Gadis udah kew Jakarta? Terus gimana? Gw gak mau Alan ketemu GAdis, dan loe pasi gak mau kan keilangan Gadis buat ke dua kalinya? “
Joe : “ Ya, gw juga lagi pusing! Percuma kan usaha kita buat ngancurin fikiran Alan kalo buntutnya dia bakal ketemu Gadis!!!”
Helena : “ Gini aja kalo tar mereka bener-bener ketemu kita kasih aja Alan dping yang banyak supaya dia mabok dan gak ketemu Gadis!!!” (tersenyum licik).
Joe : “ okey gw setuju !!! “

@ tHE café,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Dubrag,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Alan : “ sory-sory gw gak sengaja…..”
Gadis : ” Iya gak apa….”
Alan : “Gadis????” (menatap dengan penuh keheranan).
Gadis : “ Alan? “(salah tingkah).
Alan : “ Dis apa kabar? Kamu kemana aja? “
Gadis : “Aku baik-baik aja, aku baru tiba seminggu yang lalu dari Singapura.”
Alan : “ Jadi selama ini kamu ke Singapura? Terus kenapa kamu gak telepon aku kalo kamu ada di Jakarta? “
Gadis : “ maaf aku buru-buru Alan. “(sambil berusaha lari).
Alan : (Alan menarik tangan Gadis )
“ Dis aku gak akn lepasin tangan kamu kalo kamu gak mau cerita ke aku kenapa kamu ninggalin aku tanpa sebab. “
Gadis : “ Please lepasin aku Lan.” (sambil berusaha melepaskan pegangan Alan).
Alan : “ Aku akn lepasin kamu kalo kamu mau jawab kenapa kamu ninggalin aku tanpa ada kepastian. “
Gadis : “ Okey, aku akan certain itu semua ke kamu nati malm di taman kota!! Tapi tolong sekarang kamu lepasin tangan aku please . “(menangis).
Alan : “ Kamu gak boong kan? Okey nanti malam kita ketemu di taman klota jam 19.00!! “
Gadis : “ okey aku janji!! “

@ The garden……..
Gadis terlihat dalam kegelapn malam yang terhiassi lampu taman kota. Terlihat anggun denagn baju putihnya, terlihat bersahja dengan buku yang sedang dibacanya
Alan : “ Love story? “
Gadis : “Ya, buku yang sejak dulu tidak pernah kamu suka bukan ?”
Alan : “ Ya, dan Buku yang akan terus kamu baca sampai orang yang kamu cintai menyukai buku itu?”
Gais : (terdiam)
Alan : “ kamu kelihat kurus, bahkan sangat kurus. “
Gadis : “ Munkin hamny firasat kamu.”
Alan : “ Ya firasat seorang pria yang masih menati kepastian cinta sang gadis.”
Gadis : “ Tapi itu kan dulu Lan!! “
Alan :” Dan kamu berfikir iti cinta moyet ank SMP? “
Gadis : “ Kamu betul !!”
Alan : “ enam tahun aku menati kamu. Menanti kepastian cinta aku kamu bilang itu hanya cinta monyet? Liat diri kamu? Kamu kalah oleh kebohongan mu.”
Gadis : “ Kebohongan apa? “
Alan : “ Aku tau klamu mencintai aku!! “
Gadis : “ aku agak pernahpunya persaan itu!!! Dan gak akan!!”
Alan : “ Kenapa kamu ngomong seperti itu?? “
Gadis : “ Karena Allah telah menakdirkan aku untuk tidak akan pernah bias mencintai lelaki manapun!!”
Alan : “ Apa maksud kamu? “
Gadis : “ Aku ODHA!! Aku gak akan pernah bias hidup lebih lama lagi!!”
Alan : “ Apa? “
Gadis : “ aku seoramg ODHa!!”
Alan pergi meniggalkan Gadis dikesendirian malam. Gadis pun pingsan dan dibawa ke RS




@ the HOSPITAl………….

Dr.Dian : “ Keadaan gadis begitu keritis. Bukan hanya sistim imunya yang bertamabh turun. Tapi
Kedaan jiwanya juga mulai menurun. Mungklin ia hanya dapat bertahan beberapa jam saja.”
Ayah : “ Apa dok?”
Dr. Dian : “ dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi!!”

Seketika suasana rS begitu sendu,,,,,disisi lain…….

Dr. Ari : “ siapkan peralatan!! P[asien ini OD!!!”
Ibu : “ ya ampun Yah, Alan??
Ayah :” Sejak kapan Bu, Alan ??”
Dr. Dian : “ Pak, Bu,,,, Gadis..”
Ayah :” kenapa Gadis Pak?”
Dr. Dian :” Gadis meninggal!!!”
Ibu : “ TIdak…………………………..”

Gadis meniggalkan semua orany yang ia cintai dalam akhir ketersiksaanya. Sementara kondisi Alan membaik pasca OD. Dr. Dian yang sejak lama mencari sosok Alan yang selama ini diceritakan oleh Gadis akhirnya menemui Gadis dan memberikan sepucuk surat unutk Alan yang ditulis Gadis sebelum ia meninggal.




Created By: ULil,,-cw tmpanz-



Rabu, 18 Juni 2008

hari ini aku mengakui kekalahan aTAs keangkuhan ku TUHan...
tuhan aku hanya memohon kembalikan aku yang dulu...
tolong Tuhan... tolong...

Sabtu, 31 Mei 2008

aku hanyalah aku yg tak daat mendeskripsikan siapa aku, kerena terlalyu rumit tuk ku merangkai kata hanya untuk sekedar mendeskripsikan keagungan Allah yg tersirat dalam hidup ku...allah terlalu sempurna untuk ku agungkan dan terlalu nai rasanya jika aku mengeluh atas apa yg Allah berikan untuk ku..

Rabu, 07 Mei 2008

cinta telah bersandaar dipelukan ku tanpa meminta satu dari apa yg ku punya,,,,


tapi mengapa aku tak dapt menopang ketulusan cinta yg telah menjadi milik q..


tuhan.. andai aku boleh meminta kutkan kanlah hati ku untuk tidak menjadi penghianat dalam cinta yg ku miliki
 

Template by Best Web Hosting