Jumat, 07 Juni 2013

Bibit Bebet Bobot

Enjoy this post

"Kalau cari pasangan itu yang jelas mahramnya, bibit bebet bobotnya harus jelas"

Di umur yang udah gak muda lagi dan di jenjang pendidikan yang tinggal di ujung gelar sarjana membuat saya lebih berpikir keras untuk urusan jodoh, dan untuk urusan ini saya mulai belajar mengedepankan logika ketimbang hati.

Kalimat ini membuat saya berpikir keras selama lebih dua tahun bersama dia, ya dia yang sering saya ceritakan di dalam jurnal online saya ini.  Sampai tiba saatnya saya berada di titik paling menyakitkan karena  menyadari betul bahwa wejangan orangtua tentang pentingnya mengetahui bibit bebet bobot pasangan hidup itu penting.

Seems like karma, or ?

Di titik ini pun pikiran saya kembali dibawa oleh kalimat orang di masa lalu yang juga membawa kami ke jenjang yang disebut perpisahan sama dengan apa yang saya rasakan saat ini bersama pasangan (read: mantan) saya  saat ini, kurang lebih demikian " Orangtua pasti menginkan hal yang sejajar untuk anaknya, orang kaya ya hanya untuk orang kaya, orang miskin ya hanya untuk orang miskin".  Ironis memang mendengar perumpaman ini, tapi kenyataannya memang demikian.

Ayah juga pernah berkata carilah pasangan yang sejajar, sejajar imanya, sejajar akidahnya, sejajar ilmunya, dan sejajar hartanya, untuk harta boleh berbeda tapi jangan terlalu jauh, ini bukan FTV dimana si miskin bisa hidup bahagia dengan si kaya.  Kalau memang cinta itu tak bersyarat, toh itu bagi pelakunya bukan bagi keluarga si pelaku.  Maksudnya?  Maksudnya gini, misal si A cinta sama si B, si A itu kaya dan si B itu miskin, si A bisa menerima si B dalam kondisi bagaimana pun tai keluarga si A belum tentu, dan yang namanya orang jika sudah di atas di akan susah untuk menengok ke bawah faktanya demikian.

Komitmen pernikahan itu dibangun dari kedua keluarga bukan sekedar individu. Bukan saya tidak bersyukur, saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini, keluarga yang utuh dan harmonis, kecukupan rizki tapi kalau saya lihat keluarga pasangan saya? Akan sulit untuk kami bersatu, mau teriak tidak adil juga tidak, karena saya percaya Allah sudah memberikan kehidupan umat-Nya sesuai kadarnya, tapi kalau untuk dipersatukan rasanya sulit.  Keluarga kami hanya berasal dari keluarga yang sederhana, ayah hanya seorang pekerja biasa dengan penghasilan tunggal dari gajinya sebagai seorang karyawan, sementara keluarganya berasal dari keluarga kaya raya, ayahnya seorang pengusaha sukses dengan penghasilan dimana-mana dengan nominal yang bisa berkali-kali lipat dari penghasilan ayah.  Rasanya sangat tidak seimbang, bahkan nyaris jomplang.  Meski selama kurang lebih dua tahun ini keluarganya sangat baik, dan tidak sombong, rasanya tidak pantas saja untuk saya dengan segala apa yang dimiliki oleh keluarganya.

Saya jadi teringat kisah kakek nenek saya dulu.  Kakek saya dulu berasal dari keluarga miskin, sedangkan nenek berasal dari keluarga kaya yang namanya termahsyur di lingkungan kami bahkan sampai saat ini.  Kakek saya hanya mandor (buruh tani) untuk buyut saya, sedangkan nenek anak tercantik di dalam kelaurganya dan sangat dimanjakan oleh buyut saya, tapi karena ulet, jujur, shaleh dan pintar akhirnya buyut saya pun menikahkan beliau dengan anaknya yang tidak lain adalah nenek saya.  Yaaah tapi ini hanya sekelumit kisah si miskin dan si kaya yang pada akhirnya bersatu, bisa hidup bahagia sampai saat ini, dan ini dulu jauh sebelum dunia melebelkan segalanya dengan prestigious, kalau sekarang? rasanya tidak mungkin.

Andai kalau saya tau dari awal siapa dia sebenarnya, mungkin saya akan lebih memilih mundur ketimbang harus menjalani hubungan ini, yaaa meski di mata saya dia masih bukan apa-apa karena belum bisa berdiri sendiri dari orangtuanya tapi tetap saja hubungan itu bukan hanya menyatukan hati, tapi menyatukan keluarga.  Andai saja saya lebih peka terhadap kalimat "Cari pasangan yang bener, kalo bisa pacarin anak bupati" yang pernah dia lontarkan saat masa penjajakan dulu, mungkin saya gak akan sesakit ini. Tapi sudahlah, jangan mengandaikan apa yang sudah terjadi, toh pada akhirnya tidak ada hal yang kebetulan yang terjadi di dunia ini, dan mungkin ini salah satu petunjuk Allah agar saya bisa lebih peka.

Suatu hari nanti saat kamu tau dan membaca tulisan ini, kamu akan mendapatkan alasan mengapa dengan mudah aku bisa berkata ingin melepasmu,
Suatu hari nanti saat kamu tau dan membaca tulisan ini, kamu akan mendapatkan alasan mengapa dengan mudah aku berkata tidak ada alasan untuk perpisahan ini,
Karena dengan mudah aku telah mengikhlaskanmu, hubungan ini, cerita di masa lalu, dan impian di masa depan,
Karena dengan mudah aku bisa menghapus air mata ini, meski harus dengan dada yang di dalamnya tergumpal sesak dengan penjelasan yang tidak sedikitpun sanggup aku utaran padamu,
Karena dengan mudah kamu melepasku, hubungan ini dan impian kita, maka dengan mudah pula aku bisa melepasmu

Lovelill
H+2 dengan air mata yang sesakali masih terjatuh di tengah sesaknya dada yang mencoba menahan, dan dengan tubuh yang ringkih untuk segara bangkit dan memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik.

1 comments:

antara mengatakan...

bagus dan keren...

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting