Kamis, 13 Januari 2011

Tulisan Yang Terpendam Untuk Alm.Om Bastian Tito

Enjoy this post

Sebelumnya ucapan terimakasih ku ucapkan untuk Bang Vino G Bastian   yang sudah membalas tweet ke-14ku hari ini untuknya, jujur gematar rasanya saat aku memberanikan diri untuk menuliskan kisah ini.  Jemariku kaku, dingin yang cukup merasuk di tulang jemari ini rasanya tak mampu menggambarkan kebahagiannku.  Berlebihan memang, tapi sudahlah ini aku dan beribu perasaan yang berkecamuk malam ini.

Sudah lama aku ingin sekali membaca postingan di blog pribadi milik  Kak Upi kekasihnya Bang Vino, terutama postingan tentang ayahnya Bang Vino, temanku yang mengatakan bahwa ada satu tulisan dimana aku bisa mengenal lebih jauh sosok Almarhum Om Tito, tapi rasanya aku belum siap, dan akhirnya ku putuskan untuk membacanya malam ini.

Selain Pak Habibie, Almarhum Om Dono Warkop, aku juga mengidolakan Om Bastian Tito, atau yang akrab dipanggil Om Tito.  Om Tito lahir empat hari lebih cepat dari ayahku,23 Agustus, namun dengan jarak usia yang lebih jauh, Om Tito kelahiran persis Indonesia masih orok sedangkan ayahku menyusul 14 tahun kemudian.  

Sebelumnya mungkin tidak banyak yang tahu sosok Bastian Tito,  pada awalnya yang kalian tahu adalah Vino G Bastian, tapi bagiku Om Tito maupun Bang Vino 2 lelaki yang berbeda yang memiliki segala perbedaan dan satu kesamaan, kesamaan bahwa mereka sama-sama terlahir sebagai sosok besar di era masing-masing.

Dulu aku masih ingat, ayah dan ibu tidak pernah mengizinkanku menonton drama apalagi sinetron, kecuali 2, yakni Keluarga Cemara dan Wiro Sableng.  RCTI, ya, hari Minggu tiap pukul 10.00 setelah kenyang dengan kartun-kartun yang tak kalah hebohnya di era tahun 1997, tontonan wajib yang diperbolehkan ayah ibuku adalah Wiro Sableng.

Dengan gaya yang khas dan jenaka, ketololan yang tidak dimiliki oleh Super Hero mana pun selalu menjadi bahan tertawaan kami bertiga saat menyaksikan Wiro Sableng beraksi, bahkan ibu pernah membelikanku sandal gunung yang dipakai oleh Wiro Sableng, yang pada saat itu sangat populer di kalangan masyarakat.

Aku yang sangat jarang memiliki waktu bersama ayah, sangat merasakan aku punya begitu banyak waktu saat ayah mendampingku menyaksikan si Wiro beraksi.  Dengan sabar ayah duduk di samping, bahkan terkadang mempraktekan jurus-jurus sinting nan gendeng yang sering dikeluarkan oleh Wiro Sableng.

Beranjak meninggalkan era-90an, Wiro Sableng pun ikut meninggalkanku dan jutaan pecintanya.  Sampai aku beranjak di usia 13 tahun, tepatnya kelas 3 SMP, aku mulai mencari tahu siapa sosok di balik kekuatan Wiro.  Pasti ada orang yang lebih kuat dari Wiro ataupun gurunya Sinto, dan ya sosok itu adalah om Bastian Tito.

Aku ingat sewaktu duduk di bangku SD, saat itu guru seni rupaku bertanya siapakah super hero yang terkenal di dunia ini?  Teman-temanku menjawab, Superman, Batman, bahkan ada yang menjawab dengan bodohnya P-Man (Super Heroo kartun jepang) tidak salah memang jika temanku menyebutkan nama P-Man, tapi anehnya dia menyebutku dungu saatku menyebutkan nama WIRO SABLENG.  Kontan aku yang terlahir sebagai anak perempuan yang berlebih (lebih garang, lebih sangar, lebih sableng) langsung menarik rambutnya yang kala itu panjang seperti tokoh Bang Poltak, dan berkata " Kamu yang dungu, P-Man super hero, dia tuh kartun! Super Hero tuh Wiro Sableng! (tanpa ingin merusak citra kartun P-Man, maklum dulu aku masih bocah).  Lalu temenku menjawab "Apa buktinya si Wiro super hero?" . Aku diam sebentar, dan kuceritakan salah satu adegan ketika Wiro sedang menumpas kejahatan di salah satu scene yang ku lihat, dan mereka akhirnya berkata "Wah iya bener Wiro Sableng super Hero!"  akhirnya teman sekelasku memanngilku si Gendeng, bukannya marah aku malah senang, entahlah nama Gendeng enak didengar, ketimbang Gila, tolol, atau apalah.

Beruntunglah dalam diriku bercampur senyawa-senyawa kimia yang tertumpuk di dalam gen, mungkin tulisan kode genetiknya gen DOYAN BACA, akhirnya aku memutuskan untuk mencari beberapa buku karya Om Tito.  Setengah budek hampir dibuatnya, mencari sepanjang emperan kuitang (saat ini sudah pindah di Senen), tapi hanya 1 buku yang sudah compang-camping namun masih layak dibaca, ya buku dengan judul Serikat Candu Iblis berhasil ku dapat dengan harga 15.000, itu pun harus adu mulut dengan abangnya yang saat itu menawari dengah harga 30.000 (maklum masih SMP, belum punya banyak uang).

Rasanya tak cukup untukku membaca buku yang tebalnya kurang lebih 125 halaman, ku cari kembali dengan semangat 45, namun tak ada hasil, entahlah sulit kudapati.  Tapi tenang, sekarang aku mulai bisa membacanya  karena beberapa buku sudah berhasil ku unggah melalui Internet (ini dia SI Sableng di era gegap gempita, tapi tidak gagap).

Menginjak tahun 2006, tepatnya saatku memulai awal hidup menjadi anak SMA, aku kembali dirundung duka saat aku mengetahui Om Tito meninggal, aku pun mengetahuinya dua bulan sesudahnya, karena memang tak banyak media yang mengekspos kepergiannya.  Aku yang hobi dengan primbon asal-asalan kembali memutar otak saat ku melihat angka kepergian Om Tito 2-1-2006, lihat!! persis dengan tato yang terpampang di tubuh Wiro yang sudah melekat dan menjadi ciri khasnya 212.  Mungkin ini yang disebut selalu ada ikatan cinta, dimana ada Om Tito yang dengan sabar menghidupkan tokoh Wiro, dan  tokohWiro yang telah menghidupkan Om Tito seperti yang dituturkan bang Vino dalam tulisan Dari Seorang Super Hero,  tanggal ini ada sebagai kenangan terakhir bagi Almarhum Om Tito.
Oh iya, aku pun juga suka dengan anaknya Om Tito, hehe.  Bukan karena ketampanannya,  tapi karena ketotalitasannya dalam bekerja yang mungkin menjadi satu kemiripinnya dengan almurhum. dan kadang kesintingannya yang tergambar dalam penokohan yang dilakoninya (kalo pun aslinya begitu, aku padamu lah bang *minta ditimpuk kak upi* )  Bagaimana pun tidak ada seorang anak yang bisa membuang sifat orangtuanya, beruntunglah bang, sifat totalitas Om Tito ada di dalam diri abang.

Om Tito, jika Om Tito membaca tulisanku dari Surga sana (amin), aku hanya ingin berterimakasih karena telah engkau jadikan aku, seorang anak yang sableng nan gendeng selalu bisa tertawa dengan lepas saat melihat Sang Wiro.  Terimakasih berkat karya Om, aku sang pengemis waktu dari ayahku sendiri bisa merasakan banyak memiliki waktu saat ayahku bisa menemaniku bahkan mengajariku jurus-jurus gendeng.  Terimakasih, berkat kegendengan tokoh Wiro, telah kau jadikan hidupku yang penuh kekangan karena tidak boleh menonton drama menjadi hidup yang paling berharga, karena ku tahu ini adalah 1 dari ribuan tontonan yang layak ditonton meski untuk anak kecil sekali pun.

Bang Vino...
Tetep jadi abang yang selalu mengingat pesan papa yah bang!
Ada papa yang selalu akan mendukung abang,
Bukan abang sebagain anak dari seorang Bastian Tito,
Tapi sebagai VINO GIOVANI BASTIAN yang dengan kelebihan dan ketotalitasan abang.
Jadilah Vino yang melegenda layaknya Wiro Sableng dalem diri seorang Bastian Tito

*buat anak jaman sekarang yang cuma kenal Bang Vino tapi gak kenal Papanya apalagi siapa itu Wiro Sableng, ini dia fotonya*
Bastian Tito dan Wiro Sableng.


Om Bastian Tito yang lumayan ganteng nih kayaknya pas muda, sama si sableng Wiro!!!  Yeaah  Rock and Roll ye bang Sableng!




 









SALAM SABLENG NAN GENDENG BERPADU ROCK AND ROLL

Bekasi, 13 Januari 2011
(1:22 waktu laptopku)

6 comments:

Zanck mengatakan...

salam Ukhuwah.. inget betul sama wiro sableng. waktu kecil tu gak pernah ketinggalan deh buat nonton terus. kOcak. niCe posting..

berknjung ya.. Thanks..

Ziah Muharam mengatakan...

sama2, makasih yah !

fresli Cie Juntax mengatakan...

jadi ayah nya Vino G Bastian Pengarangnya Y???
bukan Pemeranya si Wiro Sableng???

dapur muslihat mengatakan...

iyaaa bukan pemain tapi pengarang

Lana Lubis mengatakan...

mbak ada ngak tulisan" yang menarik lagi yang bisa di ambil dari kehidupan om tito
atau pun dari kehidupan vino g sbastian.??

Sucy Bayu mengatakan...

jadi ikutan ingat masa2 dulu yang suka banget nonton wiro sableng,,,jadi terharu,,,

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting