Minggu, 23 Januari 2011

Tidak mudah menjadi ayah!

Enjoy this post

Menjadi orangtua itu sulit. Entah sebagai seorang ayah maupun ibu kedua-duanya sama-sama sulit. Tapi kali ini biarkanlah saya memberikan ruang pikiran saya tentang tidak mudah menjadi ayah.

Saya terlahir sebagai anak gadis yang mungkin dibilang abnormal. Disaat semua anak gadis lebih memilih dekat dengan ibunya, saya cenderung lebih memilih dekat dengan ayah. Percaya atau tidak saya lebih memilih menceritakan segala hal, termasuk urusan tentang kewanitaan dengan ayah ketimbang ibu. Bagi saya untuk apa malu, toh saya hidup dari ayah, bukan dari orang lain, yang salah jika saya lebih memilih bercerita dengan lelaki lain yang tidak ada garis mahramnya.

Kembali ke pokok pembicaraan tidak mudah menjadi ayah. Saya rasa memang sangat tidak mudah. Jika seorang ibu yang normal (tidak bekerja), bisa menghabiskan kebersamaannya dengan anak-anaknya, mungkin tidak dengan seorang ayah.

Saya merasa bahwa betapa bodohnya saya karena pernah menghujat kesibukan ayah. Padahal itu semua beliau lakukan untuk saya. Mungkin jauh dalah lubuk hati seorang ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, tidak pernah sama sekali ingin melewati kebersamaannya dengan anak istrinya.

Ketahuilah bahwa orang pertama yang akan menangis ketika anaknya akan menikah adalah ayah. Ayah akan merasa sangat kehilangan, terlebih jika dia melepaskan seorang anak gadis kesayangannya.

Tidak mudah bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarganya. Mudah atau sulitnya saya nilai dari mudah atau tidaknya seorang ayah mencari nafkah yang halal namun besar bagi anak istrinya. Terlintaskah di benak kalian bahwa ayah anda mungkin mengalami stress yang termat ketika kebutuhan hidup mendesak, namun cara yang halal sulit untuk ditempuh?

Ayah adalah yang menentukan prilakumu. Pernahkah kalian dengar, bahwa halal haramnya nafkah yang diberikan seorang ayah akan memperngaruhi prilaku anaknya? Saya rasa pernah, meski ayah tidak 24 jam membentuk karakter anaknya, tapi sesungguhnya sari pati yang tumbuh dari nafkah yang beliau berikanlah yang menjadi faktor penentu prilaku kalian.

Tahukah bahwa ayahmu terkadang menjadi pemerhati rahasiamu? Tahukah kalian disetiap perbincangannya dengan istrinya, bahwa anaklah yang pertama kali ditanyakan oleh seorang ayah.

Jika kalian bernasip sama seperti saya, dengan segala kekurangan waktu jumpa dengan ayah, maka perhatikanlah ketika ayahmu sedang terbaring lelah di kasur, perhatikan bahwa sesungguhnya dalam tidur lelap itu masih ada satu perasaan yang tersimpan, perasaan dimana ingin kembali bermain bersama anaknya, jauh sebelum kamu menjadi dewasa, dan perlahan menjauhkan diri darinya karna dirimu merasa bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk lepas dari dirinya.

Tidak mudah menjadi ayah, karena saya paham itu setelah saya kehilangan banyak waktu dengannya. Kehilangan banyak kesempatan untuk hati saya menilai bahwa prasangka jahat saya tentang ayah tidak benar adanya.

Sayangi ayah, karena sesungguhnya ayah pun ikut andil dalam kehidupanmu, sejauh apa pun dia denganmu sekarang.

Dan saat ini saya hanya berpikir, bisakah Allah ciptakan satu orang lagi yang baiknya seperti ayahku untuk anak-anakku kelak? Seperti ayahku yang dengan sabar berdoa , yang dengan susah payah bekerja, dan yang dengan sangat hati-hati membenarkan selimutku tiap malam di saat lelap menyelimuti.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting