Kamis, 30 Desember 2010

Testimoni untuk Pakcik

Enjoy this post

Pakcik nenek moyangku bilang bahwa negeri kita dulu serumpun, tapi nenekku tak pernah beri tahu aku mengapa akhirnya kita berbeda.  Oh iya aku adalah anak asli negeriku Indonesia tercinta.  Ku panggil Pakcik karena aku tak tahu harus panggil negeri pakcik apa.

Oh iya selamat yah pakcik atas kemenangan negeri pakcik dalam pertarungan melawan negeriku tadi malam.  Meski nyatanya pakcik menang, aku lebih bangga dengan negeriku karena mereka kalah dengan sangat terhormat, dan bermain sangat lepas dan bahagia nah yang seperti itulah pakcik yang disebut PEMENANG SEJATI.  Pakcik, tak perlu khawatir meski ubun-ubunku masih mengingat jelas sinar hijau yang membayangi raut cemas abangku Markus, tapi tak sedikit pun niatku untuk membalas.  Terbuktikan pakcik, tak ada yang buat onar saat final tadi malam digelar.  Bagiku anak pakcik yang sengaja menyorot abangku Markus dengan laser sedang belajar mengenai arti sebuh sportifitas.  Ya sudahlah pakcik, negeriku sudah memaafkan dan lagi-lagi memaafkan.

Pakcik, selain serumpun bukankah kita masih saudara?  Saudara karena Allah menakdirkan negeri kita sebagai negeri dengan mayoritas penghuninya muslim?  Tapi mengapa ada saja api yang menyulut kebencian diantara kita?

Dulu negeri pakcik belajar dari negeriku, entah mengapa seolah-olah pakcik lupa dengan siapa negeri pakcik dibangun.  Bukankah saat belajar pakcik tahu sejarah kemerdekaan negeriku?  Lantas mengapa anak-anak pakcik dengan seronok mencaci kemerdekaan yang kami perjuangkan selama tiga abad lebih sebagai suatu kemerdekaan yang didapatkan dari hasil mengemis?  Sungguh pakcik aku memang marah, tapi marahku terlebur oleh kesedihan yang sangat teramat karena anak pakcik tak pernah tahu arti sebuah pengorbanan.

Orang bilang negeriku negeri paling kaya, bahkan saat ini dunia meletot ketika mereka sadar bahwa negeriku merupakan pusat peradaban dunia.  Mungkin pakcik iri sehingga pakcik selalu menginginkan apa yang negeriku punya.  Mulai dari dua pulau elok sipadan dan ligitan, reog yang dengan gagahnya menyambut para turis, lagu rasa sayange yang kami ciptakan atas rasa sayang di antara beribu perbedaan yang kami miliki, dan sekarang pakcik ingin rebut kami punya Ambalat.  Tapi kami mengucapkan terimakasih pada pakcik, karena pakcik telah membuat negeri kami kembali bersatu dan menunjukkan pada negeri pakcik bahwa kami tak akan membiarkan pakcik kembali mengambil apa yang telah menjadi hak negeri kami.

Pakcik, pakcik, pakcik, 
Tahukan pakcik si Upin Ipin?  Mereka diterima dengan sangat baik oleh negeriku.  Tapi aku sedih pakcik ketika adikku bertanya mengapa Upin Ipin harus bertengkar dengan unyil anak kecil yang sudah lebih dahulu ada di negeriku.  Mereka tak tahu pakcik maksud Upin Ipin bertengkar dengan Unyil, yang mereka tahu sekeliling mereka hanya berkata demikian.  Apakah pakcik masih punya hati melihat kepolosan wajah adikku dan anak - anak di negeri pakcik agar mereka tak selalu bertanya makna kalimat tersebut?  Apakh pakcik masih akan membiarkan anak-anak pakcik menghujat negeriku dan membiarkan pertumpahan darah seperti di Palestina mengalir di teluk ambalat?  

Jangan Pakcik, jangan!

Aku menulis testimoni ini untuk pakcik, dan negeriku.  Lelah dan miris manakala kita sesama negera muslim bertengkar.  Tolong ajarkan anak-anak pakcik tentang bagaimana seharusnya kita menjaga hubungan, begitupula dengan negeriku, kami semua selalu belajar bagaimana seharusnya kami berhubungan.  Pakcik jual kami beli, tapi ada baiknya kita berdamai dan jangan adalagi saling sindir, hujat menghujat, yang akan membuat negeri kita sama-sama angkat senjata.


Salam Sayang dariku

Bekasi, 30 Desember 2010



0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting