Jumat, 03 Desember 2010

Postingan di atas gerbong

Enjoy this post

Malam baru saja menyapaku, baru bergulir mentari dari pelupuk mata beberapa saat yang lalu, kaki pun baru terenggangkan di kursi panjang di dalam gerbong remang-remang yang saat ini membawaku pulang.

Aku masih mengingat wajah-wajah kecil penerus masa depan yang ku ajar bebepara jam yang lalu, tapi seketika pikiranku melanglang buana saat si roda besi perlahan membawaku dari satu stasiun ke stasiun lain.

Aku membuka lembaran buku bacaan yang belum sempat aku selesaikan. Mataku terus berusaha memaksakan untuk dapat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di dalamnya. Hanya ada satu lampu yang terpasang di dalam gerbong ini, letaknya pun sangat jauh dariku, jadi kalian bisa membayangkan betapa susahnya aku harus berjuang untuk dapat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di dalamnya.

Hari ini aku memiliki rencana pertemuan dengan sahabat dekatku. Kami berencana untuk makan malam bersama dan saling bertemu di stasiun Tebet. Namun sayang seketika janji itu harus sirna manakala aku menyadari hujan datang dengan derasnya tanpa berpamitan dengan terik yang sejak siang tadi membahana di seantero Jakarta.

Aku lirik bapak-bapak yang duduk persis di sampingku. Tadinya aku tidak beruntung karena harus berdiri, tapi lelaki berusia sekitar 30 tahunan mungkin iba melihatku, lalu dia mempersilahkanku untuk duduk. Kembali pada lirikanku terhadap bapak-bapak itu. Bapak itu nampak sibuk setelah bergegas bangkit dari duduknya. Aku pun menoreh ke arahnya yang berada persis di sebelah kiriku. Nampaknya bapak itu sedang sibuk menurunkan jendela yang terlatak di samping. Berusaha dengan sekuat tenaga agar jendela itu bisa tertutup dan kami terlindungi dari derasnya hujan yang seolah-olah sedang memaki.

Aku pun mengarahkan pandanganku ke arah samping kanan, aku pun melihat seorang bapak-bapak sedang membantu seorang ibu yang nampaknya terlihat sangat kesulitan untuk menutup jendelanya.

Sektika gerbong yang ku naiki berubah seperti pasar malam yang becek. Cahay yang remang-remang, sorak sorai para pedagang yang berjualan, serta alunan lagu dangdut dari pengamen jalanan mulai memantul ke arah dinding-ding gerbong. Persis sekali dengan pasar malam yang becek sehabis diguyur hujan, bedanya tak ada permainan apa pun di dalamnya.

Aku seketika berpikir bagaimana bisa di negeri sekaya ini kami para rakyat masih terlantarkan dengan keadaan transportasi yang seharusnya memberikan kenyamanan saat lelah menerjang pasca mencari nafkah atau pun menuntut ilmu untuk sama-sama membangun negeri ini.

Angin malam yang berhembus dari pintu gerbong yang tak pernah tertutup pun membawaku pada rasa kantuk yang teramat. Aku tergiur untuk merebahkan kepalaku di atas kursi keras ini. Dan ku lihat dari serbang rel yang berlainan arah kereta dengan gerbong yang sama meluncur dengan pelannya. Pelan karena penuh sesak dengan manusia yang sehabis pulang bertarung. Aku pun tersenyum kecil dan berkata " Aku lebih beruntung dari mereka karena aku masih bisa duduk saat ini dan menulis sebuah kisah kecil di catatan lain kehidupan nyataku"

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting