Jumat, 03 Desember 2010

Gerbong tanpa cahaya

Enjoy this post

Kaki pun tiba di stasiun transitan Jakarta Kota. Ku langkahkan kakiku keluar menuju gerbong KRL tujuan Bogor-Jakarta. Di luar sana kerumunan orang sudah siap menyerbu memasuki gerbong demi gerbong. Suasan hiruk pikuk Jakarta Kota pun terdenging di telinga. Aku tertawa kecil melihat segerombolan wanita tapi pria tapi bukan pria alias waria sedang asik tertawa.

Mataku saat itu tertuju pada peron nomor 4 yang terletak di sebelah utara tempatku turun yang kebetulan berada di peron nomor 11. Aku pu berlari tatkala melihat rangkaian kereta tujuan Bekasi samar-samar terlihat. Mataku memang sudah tidak terlalu apik melihat objek yang letaknya jauh dariku. Tapi aku yakin itu adalah rangkaian gerbong KRL Ekonomi tujuan Bekasi.

Entah setan apa yang merasuki pikiran dan hatiku, sampai aku tega untuk tidak membeli tiket kereta. Meski aku sering menggunakan kereta ekonomi, tapi tak sampai hati aku untuk tidak membeli tiket. Hal ini dikarenakan aku tak tega meilhat nasip para masinis.

Setelah memastikan ini adalah kereta tujuan Bekasi, aku pun mulai memasuki gerbong yang sudah sesak dengan sekumpulan manusia yang hendak berjuang merebahkan dirinya di rumah, sama seperti yang aku inginkan.

Ah, aku merasa sangat kesulitan menyusuri gerbong demi gerbong. Bagaimana tidak, tidak ada satu pun lampu yang menyala di dalam gerbong. Bahkan hanya ada sekitar 3 gerbong dari 8 gerbong di rangkaian kereta ini yang memiliki lampu.

Aku pun terhenti di satu gerbong, entah ada di gerbong berapa aku berada. Tak ada kursi untuk duduk, bahkan cela untuk berdiri pun sangat sulit. Atmosper yang ku rasa sejuk saat gerbong KRL Bogor mengtarku, seketika berubah menjadi engap. Bahkan untuk bernafas pun sulit. Bau keringat mengampar, keringat tak henti bercucuran, bahkan aku pun tersadar tubuhku mulai mengeluarkan bau yang tak sedap.

Ahh sial !!
Aku sadar bahwa sekali pun kereta ekonomi, petugas kereta api tujuan Bekasi selalu memeriksa karcis. Tubuhku gemetar. Saat ini aku duduk di atas tumpukan barang orang yang berbaik hati untuk meminjamkanya padaku. Aku pun mulai mengeluarkan trik licik orang-orang yang sering tidak membeli karcis. Aku pura-pura tidur, tapi rupanya petugas itu memilih untuk membangunkan tidurku. Ah tubuhku langsung gemetar, aku keluarkan trik licik yang ke dua. Yakni berpura-pura mencari karcis dengan mengubek-ngubek sisi tas.

Petugas itu pun terus berjalan, menjauh dariku. Ku tarik nafas dalam-dalam, keringat semakin bercucuran, dan aku pun memtuskan untuk melanjutkan bercerita di jurnal onlineku ini.

Kepalaku seperti ditimpa berkarung-karung beras. Sakit rasanya, mual menyeruak di kerongkongan, bahkan aroma dari minyak kayu putih yang selalu menemaniku tak cukup ampuh. Ingin pingsan rasanya, geram ku rasa teramat pada satu sumber suara. Suar yang berasal dari kerumunan anak-anak muda, tepatnya ABG.

Aku pun tersentak saat seorang wanita cantik di belakangku berbisik dan berkata "Handphonye masukin aja dek". Aku pun spontan memasukan handphoneku ke dalam tas. Mungkin mba itu melihat gelagat aneh dari orang yang berada di dalam.

Baiklah, setelah ku copy tulisan ini, aku langsung memasukan handphone ke tas. Lalu ku keluarkan kembali buku bacaan yang ku bawa.

Tak terasa gerbongku pun sudah tiba di stasiun pemberhentianku. Aku langkahkan kakiku menuju peron. Ku lihat gerbong yang masih berhenti sesat masih penuh sesak dengan kerumunan orang. Padahal hanya tinggal satu stasiun lagi kereta itu mengakhiri perjalanannya.

Aku pun tergiur untuk mampir sebentar di pusat perbelanjaan yang jaraknya tidak jauh dari stasiun. Ah Tuhan, setan belanja kembali merasuki peredaran darahku. Aku pun memutuskan untuk membeli beberapa helai baju. Ya Ya Ya, aku tau apa yang akan dikatakan ayah dan ibuku nanti. Hanya tertawa kecil dan berkata dalam hati "Dasar bodoh! Matamu terlalu rapuh untuk digoyahkan baju-baju itu".

Setelah puas membeli beberapa baju, aku pun mulai menyusuri jalan raya yang sesak dengan kendaraan, menyebrang untuk kemudian menaiki angkot yang menjadi kendaraan pengantarku untuk sampai di mulut jalan menuju rumahku. Setibanya di depan gang, ku panggil dengan penuh semangat satu buah ojek untuk mengantarkanku ke depan pintu gerbang rumah.

Di depan gerbang nampak laki-laki paruh baya dengan perawakan kecil berdiri dengan sepuntung rokok di tangan kananya. Dia ayahku. Setiap kali dia pulang dan aku pun pulang, ayah selalu menungguku di depan gerbang dengan sigapnya.

Ku cium tanganya, seperti biasa saat seorang anak gadis pulang malam, seorang ayah pun akan bertanya dengan gelisahnya.

Aku pun hanya menjawab santai
"Insya Allah aku akan selamat dengan doa dari ayah ibuku. Usiaku kan baru bertambah menjadi 18 tahun, jadi ayah tak perlu mengkhawatirkanku terlalu berlebih".

Ayahku hanya tersenyum kecil, menyium keningku dan berkata "Ayah hanya takut kehilangan putri ayah saja".

Dan kini aku merebahkan kepalaku tepat di antara dua orang yang paling aku sayangi. Ayah, dan ibuku.

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting