Sabtu, 04 Desember 2010

Pagi yang mencekam !

Enjoy this post

Matahari belum muncul dari perawakan bumi, bulan pun masih sigap meyala dengan bulatnya, jarum jam di kamar menunjuk ke arah angka 03:12.

Suasana mencekam kembali ku rasa.

Sepekan sudah suasana ini menghiasi rumahku. Tepatnya saat adikku mulai dipulangkan ke rumah dengan terpaksa oleh pihak sekolahnya, aku yang sepakan ini berada jauh dari rumah pun tidak mengetahui hal ini. Baru aku ketahui tadi malam saat tubuh lelahku memasuki istana kecil yang sudah beberapa tahun ini kami tempati.

Adikku tiba-tiba menjerit, memanggil nama ayahku. Meraung-raung kesakitan. Badannya kurus, tulangnya nampak kelihatan bersembunyi di balik tubuh cokelatnya. Adikku terus merintih kesakitan, tangan kirinya memagang erat perutnya. "Ayah, Ayah tolong Qori ! Saki ayah, sakit ! Ada yang nusuk perut Qori ayah " Teriaknya histeris penuh kesakitan.

Aku pun terbangun dengan kagetnya. Melihatnya denga penuh iba, dia tidur persis di sampingku. Beberapa saat kemudian ayah ibuku masuk ke kamar. Didukinya tubuh kurus adikku. Ah betapa kagetnya kami semua, saat kedelapan pasang bola mata tertegun melihat seekor kelabang besar yang mati. Kelabang itu ada di belakang tubuh adikku. Entah mati karena tertindih atau apa, aku selalu memastikan kasurku selalu bersih. Aneh rasanya jika tiba-tiba ada kelabang yang datang, merayap dan kemudian mati.

Ayahku pun langsung menelpon seorang kiyai yang kebetulan menjadi guru ngaji bagi keluarga kami. Sambil membacakan Ayat-ayat Al-Quran adekku masih meraung kesakitan. Tak berapa lama Pak Kiyai pun tiba, dipegangnya perut adikku. Adikku langsung menjerit kesakitan, lebih kencang dari sebelumnya. "Ayah!! Sakit ayah" . Ya Rabb jeritan itu membuat hatiku tercabik, sakit perih penuh tangis berbalut kesakitan. Aku memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, menangis dengan sesaknya. Rasanya malam itu berlangsung sangat lama bagiku.

Aku pun masuk kembali ke kamar saat memastikan diriku sudah cukup tenang, tapi adikku masih merintih kesakitan. Pak Kiyai itu pun berkata "Kejam bener ini orang sampe tega ngirim uler gede gini! Dia masih bocah belom tau apa-apa!" Aku lihat wajah pesimis penuh amarah di wajah ayah. Aku paham ayah orang yang kuat, tapi ayah akan melemah secara tiba-tiba jika sudah meihat anak-anaknya menderita.

Pak kiyai pun langsung menyuruh kami berwudhu dan shalat, membaca beberapa ayat di depan segelas air. Berharap ada karomah yang diberikan oleh Allah. Air itu pun diminumkan ke adikku. Sakitnya pun hilang beberapa saat kemudian, dan adikku tertidur dengan lelahnya. Lelah menahan sakit yang dilandanya tiap malam.

Paginya tubuh adikku penuh dengan bentol kemerahan, seperti gidu. Ibuku langsung membawanya ke rumah sakit setelah mengantarkanku ke tempat les.

Di tempat les pikiranku hanya tertuju pada adik adik dan adik. Aku memang kakak yang cuek, tapi jujur aku sangat menyayanginya jauh dari apa yang merka tahu.

Aku pun telah selesai les. Kembali ke rumah dengan rasa penasaran tentang bagaimana keadaan adikku sekarang. Ku lihat dia tertidur pulas di ruang TV persis di samping adik sepupuku.

Aku pun langsung menanyakan pada ibu tentang bentolnya. Ibu hanya menjawab "Cukup dikasih salep kata dokter!".

Nampaknya ibu tidak mau banyak cerita. Aku pun bergegas ke kamar. Ku miringkan badanku menghadap tembok, dan seketika air mataku meluncur diiringi sesak.

Aku berpikir, kehidupan macam apa ini! Orang macam apa dia! Di tengah kehidupan modern seperti ini, dan orang yang nampaknya punya pendidikan yang cukup tinggi tega melakukan hal keji pada keluargaku.

Apa yang orangitu inginkan!! Harta?? Kami tak punya banyak harta untuk dipamerkan. Kalau pun ada semua hasil usaha yang dirintis keluarga kami, bukan pendapatan ayah dari gaji kantor. Ilmu??? Aku rasa ayahku mau berbagi ilmu dengannya, ayah bukan orang yang pelit ilmu. Apa Ya Rabb, apa yang dia inginkan dari keluargaku!!!

Aku tahu ini ujian kesabaran dan peningkatan keimanan bagi keluarga kami. Jika keadaan ini masih lama harus kami jalani, berikan kesabaran serta kekuatan yang berlebih untuk menghadapinya.

Bukakanlah mata hati orang yang telah mendzolimi kelyargaku Ya Rabb. Dan jadikan adikku seorang anak pemaaf yang bisa memaafkan kejahatan atas dirinya.

Kakak sayang kamu dek,

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting