Kamis, 23 Desember 2010

Di Balik Dinding Pesantren

Enjoy this post

BAGIAN I

Gemericik terdengar dari air yang  jatuh di tampiasan yang  perlahan memenuhi kendi kerdil dari tanah liat yang memerah dan menghitam bekas bakaran jerami.  Bicara burung pada mentari yang meredupkan bulan, dan menyapa angin yang mengibaskan embun di dedaunan yang menghijau.

Pesantren Al-Amani yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota besar dan terletak persis 4 Km dari kaki gunung Maha Meru.  Pesantren yang didirikan oleh alim ulama yang tersohor namanya dan diduki hampir 200 santri lelaki dan 150 santri wanita dari berbagai kota di sekitarnya.  Kiyai Haji Mustafa Awaluddin adalah pendirinya, beliau seorang alim ulama yang termahsyur dan memiliki garis keturunan seorang ulama besar pula.  Kiyai Tofa panggilan akrabnya.

Melalui tangan dingin keluarganya pesantren ini masih bisa bertahan di tengah peradaban islam yang mulai terkikis dengan zaman.  Kiyai Tofa di bantu oleh kelima anaknya.  Empat orang anaknya adalah wanita dan seorang lagi adalah lelaki.  Asma, Syarifah, Maryam, dan Hanifah membantu Kiyai Tofa mengurusi santri wanita, sedangkan Abyan adalah putra bungsu Kiyai Tofa yang juga membantunya mengurus santri lelaki.

Setiap pagi lantunan shalawat dan suara yang membulat dari para santri membahan di dinding pesantren.  Terlatak 4 Km dari kaki gunung membuat dingin yang menghujan ke tulang seolah sirna.  Mondar-mandir santri menuju majelis hingga singgah di kursi ilmu di bawah naungan atap jerami yang masih berdiri kokoh bilik bambunya.

Inas Sulastri, gadis dengan perawakan kecil dengan lesung pipit menghias di wajah kemayunya sedang sibuk merapikan kitab-kitab yang berceceran di ranjangnya.  Kitab-kitab yang semalaman suntuk dipelajarinya, menghapal dari satu hadits ke hadits lain sampai longlong ayam membangunkannya dan seluruh penghuni pesantren lainya.

Lastri begitulah teman-temannya memanggil.  Nama depannya seolah hanya figura untuk mempercantik nama belakangnya yang sangat kental dengan peradaban Jawa.  Seperti Maha Meru yang tak bisa lepas dari kisah memilukan pejuan muda Soe Hok Gie.

"Las, kata Kiyai Tofa mau ada perlombaan Musabaqoh Tilawatil Qutub tingkat kabupaten yang Insya Allah akan di laksanakan di Lumajang."  Ucap Arfiyah sahabat dekat Sulastri yang juga teman sekamarnya.
"Iyah betul, aku sudah dengar dari Ustadzah Maryam"  Jawab Sulastri dengan senyum segaris.
"Wah itu artinya kita bakal bisa sering-sering ketemu sm Mas Abyan dong Las.  Wah semoga aku bisa yah Las lolos seleksi.  Ya kalo kamu sih udah pasti masuk Las !"  Gerutu Arfiyah sambil menyenggolkan sikutnya ke arah Lastri.

Lastri berjalan ke arah jendela dan menatap lurus sambil berkata

"Kamu ini ya gak berubah toh Ar.  Niatkan semua itu hanya untuk Allah, lomba Tahfizul Quran itu adalah jihad ilmu bagi kita.  Alangkah baiknya kamu meniatkan untuk beribadah pada Allah, bukan untuk mendekatkan diri sama Ustadz Abyan."

Arfiyah pun menjawab dengan lukasnya

"Ya wajar toh aku kayak gitu.  Wong lanang yang ganteng di sini cuma Mas Abyan!"

Lastri pun menoreh ke arah jam kecil yang berdiri tegak di atas lemarinya

"Sudah sudah kamu gak ngaco ngomongin Ustadz Abyan.  Sudah jam 6 kita harus bergegas ke kelas.  Nanti kena marah ustadzah Asma."

Mereka pun bergegas ke ruang kelas yang letaknya lumayan jauh dari asrama mereka.  Dengan berseragamkan kemeja putih dan rok hitam panjang dibalut dengan jilbab hitam yang senada dengan rok.  Tak lupa di pegangnya Al-Quran dengan erat di tangan kanan serta beberapa kitab lainnya.

"Assalammualaikum ustadz"  Sapa Arfiyah kepada lelaki tampan dengan perawakan tinggi, kulit kuning langsat dan lesung pipi yang membulat.

"Waalaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh !"  Jawab lelaki itu yang tidak lain adalah Abyan, lelaki yang sangat dikagumi Arfyah.  Lalu di lanjutinya salam itu dengan pertanyaan yang membuat wajah Arfiyah dan Lastri memerah seperti jambu air.  "Kaliah hendak ke kelas ?  Jam segini? Bukankah pelajaran akan dimulai 10 menit lagi???"

Lalu dengan muka pucat pasinya Lastri menjawab "Afwan Ya Ustadz kami memang hendak ke kelas, namun rupanya pandangan teman saya ini tak terlalu kuat untuk menguatkan imannya supaya tidak menhampiri ustadz dan dengan sengaja mengawali perbincangan ini.  Kami akan segera ke kelas ustadz."  Arfiyah pun menyenggol sikut Lastri dan berkata "Ah terlalu kau Las."  Mereka pun berlari meninggalkan ustdaz Abyan.

"Sungguh aku menetapkan hati dan beristighfar pada-Mu Ya Rabb.  Wanita itu ...  Ah... Dia hanya muridku, Astaghfirullah."  Gerutu Abyan dalam batinnya.

Sampailah mereka di kelas dengan nafas terengah-engah.  Berdiri di hadapan mereka Ustadzah Asma.  Posturnya kecil dengan badan gempal, beda sekali dengan ustadz Abyan, dan ketiga saudaranya yang lain.  Ustadzah Asma merupakan anak Kiyai Mustofa dengan Istri pertamanya yang merupakan gadis asli Mojekerto.  Berbeda dengan istri keduanya yang memang berasal dari Suriyah.  Ustadzah Asma pun lebih tegas, dan terkesan galak di hadapan para santri.

"Dari mana kalian sampai telat masuk?"  Tanya utadzah Asma dengan raut muka yang masam.
"Gini Ustadzah Si Lastri tadi tiba-tiba kebelet buang air besar, jadi terpaksa harus balik lagi ke asrama." Jelas Arfiyah dengan muka ketakutan.
"Betul Itu Las???"  Tanya ustadzah Asma sambil menaikan alisnya.
Dengan gugup Lastri menjawab "Benar Ustadzah."
"Yasudah silahkan duduk!"

Ustadzah asma kembali melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda karena kehadiran Lastri dan Arfiyah.  Dengan tangan berlumur serpihan kapur pasca menulis beberapa pengumuman di papan tulis hitam yang hampir mengelabu karena serpihan kapur yang telah tertumpuk usang.

"Begini, di papan tulis ini adalah nama-nama santri di kelas ini yang telah lolos seleksi untuk mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qutub di Lumajang bulan depan.  Karena kalian saat ini berada di tahun terakhir sebelum kelulusan, saya sangat berharap kalian bisa memberikan kenang-kenangan berupa kemenangan untuk pesantren ini."

Dengan mata terperangah Arfiyah menemukan namanya menjadi Khalifah (Perwakilan) dalam Musabaqoh tersebut.  Namanya masuk ke dalam 5 orang nama yang berhak mengikut Musabaqoh tersebut.  Arfiyah yang sangat jago membuat kaligrafi berhasil menduduki posisi sebagai khalifah kaligrafi, sedangkan Lastri dengan senyum pasinya menemukan namanya sebagai khalifah untuk Tahfidzul Quran.  Ya, Lastri memang pandai dalam hal menghapal ayat demi ayat yang tertulis dalam Kallamullah.

"Jika kalian menemukan nama kalian di depan, setelah ini kalian pergi ke Masjid untuk mendengarkan informasi-informasi yang akan disampaikan oleh Ustadzah Maryam.  Ingat di sana kalian akan dipertemukan oleh santri lelaki, jadi jaga pandangan kalian dari mereka.  Dan yang lain tetap di kelas belajar bersama saya."

Lastri, Arfiyah dan ketiga santri lainnya bergegas ke masjid.  Dengan nada berbisik Arfiyah berkata "Enak yah jadi kamu, dua tahun masuk ke Tahfidz, dan aku masih saja di kaligrafi.  Padahal aku kepingin bisa sering-sering ketemu Mas Abyan."

Dan dengan senyum mengguntai di pelupuk bibir, Lastri menjawab "Syukuri saja posisimu Ar, bukankah Allah telah memberikan rizky pada umat-Nya menurut kadarnya.  Bagiku Ustadz Abyan tetaplah ustadz bagiku.  Meski usianya hanya terpaut empat tahun lebih tua dari kita.  Tapi tetap saja di adalah ikhwan yang harus kita jauhkan dari pandangan kita."

"Ya sudah, panjang urusannya jika sudah berbicara dengan mu Las."

Di masjid pun beberapa santri yang sudah pasti menjadi khalifah dalam musabaqoh tersebut pun sudah berkumpul.  Di tengan duduk dengan bijaknya Ustadzah Maryam, dan Ustadz Abyan.  Tak nampak Kiyai Tofa karena memang beliau sedang memenuhi undangan ke salah satu pesantren di daerah Jombang.

Lastri dan Arfiyah pun duduk di belakang.  Sekiranya ada 15 santri dari tingkat 2 dan 3 yang akan menjadi khalifah dalam Musabaqoh kali ini.  Semua mendengarka instruksi dengan baik, sampai tiba saatnya mereka berkumpul ke masing-masing bagian.  Ada 6 kategori mata lomba yang akan di lombakan.  Tahfidzul Quran sebagai mata lomba utama, Kaligrafi, Adzan, Sejarah Kebudayan Islam, dan terakhir adalah Pidato Bahasa Arab.

Saat itu hanya Lastri dan Malik khalifah untuk Tahfidzul Quran.  Mereka di bimbing oleh Ustadz Abyan.  Ustadz Abyan merupakan Tahfidz terbaik dan termuda di Jawa Timur.  Usianya baru menginjak 21 tahun.  Sejak duduk di bangku SMP kiyai Tofa telah mengirinya ke Yaman yang merupakan pusat peradaban Tahfidz atau penghapal Al-Quran.

Tahfidzul Quran merupakan seni menghapal Al-Quran.  Selain menghapal, juga dituntut untuk paham setiap kata dan perubahan penggunaan kata dalam penterjemahannya.  Tahun lalu Lastri adalah pemenang kedua di Musabaqoh Tilawatil Qutub masih kalah dengan pesaingnya.  Sedangkan Malik adalah pendatang baru di dunia pentahfidzan di Jawa Timur.

Bagaimanakah kisah Lastri selanjutanya???  Apakah yang akan terjadi di balik dinding pesantren milik Kiyai Tofa??  

******************************BERSAMBUNG************************************


0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting