Kamis, 02 Desember 2010

Akhir Yang Menyesakkan

Enjoy this post

Bagian II
(Bom Waktu)

Setelah selesai makan aku pun bergegas masuk kamar, mengambil handphone yang sudah lama menamaniku.  Aku merasa sangat nyaman dengan handphoneku ini, meski banyak orang di sekelilingku berkata handphone ini sudah sangat jadul.  Aku pun mulai mengetikan sms yang hendak ku kirimkan untuk Dandi.

"Aku udah kelar makan Ndi!"

Tidak berapa lama handphoneku bergetar, Dandi menelponku.  Ku tutup pintu kamarku, dan ku baringkan kepalaku di atas kasur, ku letakkan handphoneku di telinga kanan lalu kutindihnya dengan bantal guling, dan mulai percakapan dengan sangat hati-hati, mengecilkan suara seperti segerombolan tentara yang sedang bersembunyi di balik semak belukar bertahan dari musuh yang hendak menyerangnya.

"Halo"
"Iya halo ! Kok lama banget sih cantik makannya!"  Rengek Dandi dengan  manjanya.  "Ya kayak gak tahu aja pacar kamu kan kalo makan emang lama!"  jawabku ketus.  "Iya yah, maunya kamu kalo makan tuh pake sekop, biar cepet abis! Heheh!"  Jawabnya sambil tertawa kecil. " Kenapa nelpon aku pagi-pagi?  Biasanya jam segini kamu masih ngelantur di alam mimpi!" ejekku.  "  Besok kan tanggal merah, kita jalan yuk!" .  Aku pun berpikir sejanak, terdiam beberapa saat tanpa kata.

"Emmm, kayaknya enggak bisa! Ayah kan di rumah !"  Jawabku dengan nada memanja.  "Lupa kalo kamu punya ayah yang super sibuk yang tanggal merah pun kadang masih harus kerja!".  Mendengar perkataannya membuatku merasa tersindir dan agak tersinggung, lebih tepatnya seketita bersedih.  Aku pun hanya diam tanpa kata.  

"Hey kok diem?  Aku salah ngomong yah cantik ? "  Nampaknya Dandi menyadari jika perkataannya membuatku tersinggung.  Dia paham betul karakterku yang lebih memilih diam ketika hatiku merasa tersinggung dengan kata-kata yang terlontar dari mulut orang lain.  Aku tidak ingin mempermalukan diriku apalagi ayahku sendiri di hadapannya, gengsiku terlalu besar.  Jika dia benar-benar sadar aku merasa tersinggung. itu berarti aku mengiyakan perkataannya bahwa memang ayahku adalah ayah paling sibuk di dunia.  

"Enggak kok Ndi, aku cuma lagi mikir aja bisa atau enggak besok!" jawabku dengan suara memelas.
"Ya udah kalo bisa kamu sms aku yah ! Hari ini aku mau konsultasi skripsi dulu, mungkin aku jarang sms kamu ! Kalo udah selesai aku telepon kamu yah !  Nanti siang jangan lupa makan !" Ujarnya dengan penuh rasa perhatian. "Iyah kamu juga yah! Kalo udah sampe sms aku !".  "Iya aku pasti sms kamu!".

Percakapan diantara kami pun berakhir.  Belakangan ini Dandi memang sibuk mengurusi skripsinya.  Bahkan dia sangat sibuk karena saat ini pun dia menjalankan  kuliah untuk dua jurusan yang berbeda.  Keinginan orangtuanya untuk melihat dia menjadi seorang sarjana ekonomi perlahan dia selesaikan dengan baik meski dia tidak pernah menyukainya, dan keinginan hatinya untuk mendalami segala hal yang berhubungan dengan fotografi perlahan dia masuki dengan semangat yang mengebu-gebu dari hatinya.

Hubungan kami pun tak seperti pasangan pada umumnya.  Kami jarang sekali ber-smsan untuk saling bertelepon pun hanya untuk sesuatu yang kami aggap penting saja.  Bahkan dalam setiap minggunya aku bisa menghitung pakai jari berapa kali kami ber-smsan.

Aku masih memikirkan kata-kata Dandi di telepon tadi.  Sesak rasanya saat aku sadari kebenaran kata-katanya bahwa aku memang memiliki ayah yang sangat sibuk nyaris waktu yang ayah punya untukku hanya beberapa jam saja di hari Minggu.  Ayah sangat mobile, selalu dipindah tugaskan kesana kemari untuk menghandle satu masalah ke masalah lain.

Aku tak ingin lama-lama menyadari kata-kata itu, aku pun keluar kamar, dan duduk persis di samping ayahku yang sedang sibuk membaca kata demi kata dari buku bacaan karya Quraish Shihab.  Aku terus memandanginya tanpa bosan, tiba-tiba ayah membetulkan letak kacamatanya, dan melihat ke arahku sambil berkata " Pandangan kamu tidak sopan!  Jangan pandang orang lain yang baru kamu kenal dengan pandangan seperti itu" lukas ayahku.  Aku pun tersenyum dan menghampirinya, sambil memijitkan pundaknya dengan lembut " Tapi yang aku pandang saat ini kan ayahku sendiri, bukan orang asing!".  Ayahku hanya bisa terdiam dan melanjutkan membaca kata demi kata yang tertulis di buku itu.

"Besok ayah kerja?" Tanyaku padanya.
"Iya besok ayah ke kantor buat ngurusin dokumen yang harus dibawa ke Surabaya!"  Jelasnya
Sungguh penjelasannya membuat air mataku  seketika meleleh, tapi air mata itu hanya sanggup meleleh dalam hati.  
" Ayah ingin ke Surabaya lagi? Berapa lama?"  Tanyaku kembali dengan penasaran.
"Seminggu kok putri !  Sabtu ayah juga balik lagi ke sini !"  

Aku pun pergi meninggalkan ayah yang masih asik dengan bukunya.  Aku kembali memasuki kamar, kurebahkan kepalaku dia atas bantal, dan ku miringkan tubuhku ke arah tembok kamar, dan kali ini aku benar-benar menangis.  Aku merasakan hidupku benar-benar dikejar oleh bom waktu.  Aku benar-benar harus memanfaatkan setiap waktu yang sangat singkat yang dimiliki ayahku.  Aku merasakan betapa asingnya diriku di mata ayahku, tapi terkadang aku merasakan ayahku sangat dekat denganku.

Baiklah, karena besok ayahku bekerja aku pun harus memberikan kepastian pada Dandi jika besok kita bisa menghabiskan waktu bersama.  Tapi tanganku enggan sekali memencet tuts keyped handphone, jika aku menelponnya dia pasti tahu aku menangis, dan tandanya aku sudah siap mengiyakan kata-katanya bahwa betapa sibuknya ayahku.

BERSAMBUNG **

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting