Rabu, 01 Desember 2010

Akhir Yang Menyesakkan

Enjoy this post

Saat itu usiaku baru beranjak 16 tahun, usia yang masih terbilang sangat belia untuk mengenal dan mendalami cinta aku telah mengalami kisah yang teramat menyesakkan. Saking sesaknya aku pun sering tertawa kecut ketika waktu membawaku ke dimensi terdahalu saat aku mulai merasakan perihnya cinta.  Saat ini aku merasakan hadirnya masa laluku sungguh sangat menyesakkan.

Pagi itu mataku tertuju pada sehelai daun yang dibasahi embun, tak bisa singgah untuk memandang objek lain selain sehelai daun itu.  Bagiku tiada yang indah di pagi hari selain duduk menekuk kedua kaki, lalu meletakkan kepalaku di dengkul dan memandang lurus ke arah taman kecil milik ayah yang ada persis di depan rumah.

Bagiku Minggu adalah hari untuk bermalas-malasan, bermalas-malasan bukan berarti tidak bangun pagi, dan terus berkutat di atas empuknya kasur sambil bermimpi dari satu cerita ke cerita lain.  Bagiku Minggu adalah waktu bermalas-malasan dimana pagiku diisi dengan duduk manis di depan jendela, memandang taman kecil, terkadang membantu ibu menyiapkan sarapan, atau bermain air bersama ayah saat ayah memandikan mobil kesayangannya.  Setalah itu menoton kartun-kartun kesukaan, dan memanjakan diri dengan berimajinasi yang terbentuk dari rangkaian kalimat yang terurai indah dari tangan penulis yang bukunya setia ku baca.

Namaku Nazhirah Mardzuki.  Nazhirah dalam bahasa arab amiah (halus) artinya yang menjadi pusat perhatian, sedangkan Mardzuki sendiri diambil dari nama ayahku.  Sapaan kecilku adalah Zhira, aku terlahir sebagai anak tunggal.  Bukan keinginanku, ayah atau ibuku sekali pun melahirkan aku sebagai anak tunggal.  Mungkin belum dikasih percayaan atau aku terlalu lemah untuk berbagi.

Ayahku hanya seorang karyawan biasa yang dipandang luar biasa oleh teman-temannya.  Bagiku ayah memang sangat luar biasa, ayahku ayah terhebat nomor 1 yang ada di dunia.  Sanjungan ini ku rasa tidak berlebihan, sebab seorang anak yang membanggakan ayahnya pasti akan berkata demikian pula.

Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang menjelma menjadi pengusaha butik kecil-kecilan.  Usaha yang dirintis dari sekedar iseng dan hobi membuat ibuku terlihat sangat sempurna di mataku.  Ibuku cantik, kuat, cerdas, meski rada bawel.  Hal bawel pun ku rasa sangat wajar dimiliki seorang ibu, karena wujud perhatian dan kepedulian ibu hanya bisa diungkapkannya melalui kebawelannya.

Aku kini duduk dibangku SMA kelas 2.  Usia yang terlalu muda untuk menapaki bangku sekolah setinggi itu.  Menurutku dan menurut beberapa orang yang berkata demikian, karena faktanya teman-temanku yang terlahir hanya beda beberapa bulan masih duduk di bangku SMP kelas 3.

Mataku yang sudah sejam menoreh ke luar jendela terpaksa berpindah arah manakala aku mendengar suara tegas lelaki dewasa memangilku dari dalam rumah.  " Putri, sarapan dulu sayang!".  Itu suara tegas ayahku.  Ayahku selalu menyapaku dengan sapaan Putri.  Ayah masih menganggapku seorang putri kecil yang masih harus sangat dimanjakannya.  " Siap meluncur bos!" jawabku.

"Wah enak  nih cuminya!" Ujarku sambil mengambil sepotong kepala cumi pedas manis buatan ibuku.
Plak !! Tanganku dipukul
"Kebiasaan ngambil makanan pake tangan, belum cuci tangan lagi!" kesal ibuku.
"Hehe, ampun madam!"

Ku cuci tangaku dengan sabun beraromakan lemon.  Aku suka wangi ini, karena seketika bisa memperbaiki selera makanku yang tiba-tiba menghilang.  Aku hampiri meja makan, dan melahap semua yang ada di atas meja seperti orang kesetanan.

"Pelan-pelan putri makannya!" tukas ayahku.
"Hehe, lapar bos!"  jawabku dengan mulut tersumpal makanan.
"Kapan nih putri ayah mau benar-benar berkerudung?" tanya ayahku sambil menyenggol tangan kananku yang bersebelahan dengan tangan kirinya.  Seketika mulutku terhenti mengecap, dan memasang senyum memelas ke arah ayahku sambil berkata
"Heeeh nanti ya yah kalo aku udah siapa mental, jiwa dan raga!  Haha!"
Membalas senyum dan ucapkanku sambil mengelus rambut hitamku yang tebal berelombang
"Ayah tunggu sampai kamu benar-benar menemukan jawaban betapa pentingnya berjilbab!"

Ayah memang sudah lama menginginkanku untuk berjilbab tidak hanya di sekolah.  Saat ini aku bersekolah di sekolah menengah atas islam yang cukup baik dalam membimbing muridnya untuk lebih memahami islam baik dari akademis mau pun non akademis.

Dari ruang tengah terdengar suara telepon berdering, ibuku yang saat itu sedang tidak ikutan makan kemudian berjalan menghampiri telepon tersebut dan mengakatnya, tak lama aku mendengar ibu memanggil namaku "Zhira, ada telepon!" Aku pun bankit dari dudukku, menghampirinya "Telepon dari siapa?" Ibuku membisikkan satu informasi yang cukup rahasia agaknya " Dandi yang menelpon, suruh dia telepon ke handphonemu saja!"

Dandi adalah pacarku, kami sudah hampir dua tahun menjalin hubungan ini.  Ibuku sudah tahu, tapi ayahku? Jangan sampai dia tahu, karena ayah sangat tidak rela jika ada yang mengambilku dari dirinya.  Ayahku sangat pencemburu, lebih cemburu dari seorang suami terhadap istrinya.

"Halo, aku lagi makan Ndi, telepon aku 10 menit lagi yah! Tapi ke handphone ada ayah soalnya!"
" Pantes aku telepon ke handphone kamu gak diangkat! Sms aku kalo udah kelar yah cantik!"

Namanya Dandi Rusdian, usianya lima tahun lebih tua dariku.  Dia seniorku di SMP sekaligus pelatih footsalku.  Aku sangat suka dengan olahraga yang baru dikenal ramah di Indonesia di awal tahun 2000.  18 Oktober adalah hari jadi hubungan kami, hampir dua tahun menjalin hubungan diam-diam.  Main kucing-kucingan dari ayah hampir setiap menit, hubungan kami sangat sempurna, bahagia bahkan nyaris mebuat semua orang yang mengetahuinya rela mengecaskan air liur mereka.

Orang bilang aku beruntung mendaptkan lelaki sepertinya.  Dengan tampangku yang pas-pasan aku bisa mendapatkan seorang lelaki dengan perawakan tinggi, bersih dengan ornamen hidung mancung dan bibir tipis merah delima yang menghiasi altar wajahnya.  Dia persis sekali dengan artis papan atas Indonesia Her Junot Alie.  Fisik yang sangat lumayan pun didukung dengan keberadaan materi yang melimpah.  Ayahnya seorang duta besar untuk Timur Tengah.  Sejak SMP dia memutuskan untuk jauh dari orangtuanya, dan lebih memilih tinggal di Jakarta bersama seorang perempuan tua yang sudah mengabdi di keluarganya selama berpuluh-puluh tahun tepatnya saat usia kakak pertamanya yang terpaut 4 tahun lebih tua darinya lahir.  Bibi adalah sapaan hangat bagi perempuan tua itu.  Tapi sudah hampir setahun ini dia ditemani adiknya bernama Ririn.  Dan dari sinilah hubungan kami mulai diuji.

BERSAMBUNG ****

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting