Rabu, 22 Desember 2010

Luka yang menganga

Enjoy this post

Seperti apa kau menyanjung sebuah cinta wahai lelaki tak berkuda dan tak betopeng?  Apakah kau memberiku sebuah cinta yang kau ibaratkan seperti celana dalam yang begitu cepat kau campakkan ketika kau anggap sudah tak layak untuk kau kenakan??

Mengapa bisa dengan tega kau memberiku sebuah harapan yang tidak pernah aku pinta?  Dan mengapa bisa dengan tega engkau mentertawakan kepolosanku??  Ah, berlebihan jika aku menyebutnya kepolosan, bukan kepolosan melainkan kebodohan yang teramat.

Bagaimana bisa engkau mentertawakan ku dengan tawa yang begitu menghujam mebahana sampai ke lubang semut sekali pun ?

Dan bagaimana bisa engkau meninggalkanku dengan luka yang menganga seolah diam dan tak tahu pedih yang menghujam dan hampir membuatku tersungkur dan menuliskan namaku di atas nisan yang nista???

Dan untukmu lelaki yang ku puja dengan diam-diam, bisakah engkau tak menyiram air garam di atas luka ku yang menganga dan hampir penuh dengan belatuung ???

Dan akankah kau tersungkur dengan indah di lubang hatiku dan menuliskan dongen indah tentang lelaki berkuda yang membawa kebahagian untuk sang puteri yang tertidur sepanjang penantian cintanya??

Atau engkau hanya akan menuliskan sebuah dongeng panjang tentang seorang puteri kumuh dengan luka yang lebih menganga??


Bekasi,22 Desember 2010

0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting