Rabu, 15 Desember 2010

Akhir Yang Menyesakkan

Enjoy this post

Bagian III (Sehari Bersama)

Akhirnya aku pun mendapat jawaban yang sangat perih bahwa besok memang benar-benar tidak ada waktu bagiku bersama ayah.  Dandi pun belum menelepon, mungkin dia masih sangat sibuk dengan persiapan skripsinya.  Mendung pun terlihat di balik jendelaku.  Kicauan buruk peliharan ayahku, dan jeritan monyet yang berasal dari teras belakang benar-benar membuat suasana sangat sunyi,  Gemericik air mancur yang ada persis di taman belakang dekat ruang makan semakin membuat perasaanku seolah-olah ingin mengalir bersama tangisan.

Waktu pun terus bergulir, tak terasa senja menghampiriku di pelupuk langit.  Ku tutup jendela kamarku, dan terdengar suara ring tone memanggil dari telepon genggamku.  "Dandi!!"  Ucapku dengan semangat kemudian ku angkat untuk memulai percakapan.  Entahlah tiba-tiba ku merindunya.

"Halo cantik ! "  Sapa Dandi dengan lembutnya.
"Halo Onyet ganteng! Baru selesai yah sayang tugasnya?"  Tanyaku dengan manja
"Apa? Sayang? Kamu manggil aku sayang?"  Ledeknya dengan nada yang sangat terkejut.  Aku memang jarang mengeluarkan kata-kata sayang untuknya, mungkin karena aku terlahir sebagai wanita yang sangat cuek.

"Ndi, besok kayaknya kita bisa deh jalan!"  lanjutku.
"Serius cantik? Oke, aku bakal nganterin kamu kemana aja yang kamu mau!"  Jawabnya dengan suara yang teramat gembira.
"Mending tentuin aja dari sekarang kamu mau kemana" tanyannya kembali.

Kami pun diam beberapa saat, terdiam karena bingung menentukan tujuan yang akan kami singgahi, namun tiba-tiba dengan spontannya Dandi mencetuskan satu ide yang membuatku akhirnya tersenyum

"Kita ke Ragunan aja cantik! Nah kamu kan gak pernah tuh liat uwa aku uwa Gorila! Hahah" Ucapnya sambil tertawa.
"Ah iya, iya aku mau, mau banget!"  Jawabku lukas.

****!!!!****

Keesokan paginya setelah ayahku berangkat bekerja, ku beranikan diri meminta izin untuk pergi bersama Dandi.  Dengan semangat 45 yang cukup menyita tenaga akhirnya ibu mengizinkanku pergi bersamanya asal tidak lewat dari pukul 17:00.  Bagi ayah ibuku pukul 17:00 adalah waktu terlama untukku menghabiskan waktu di luar.

Setelah memastikan kondisi siap aman terkendali untukku jalan bersama Dandi, pukul 10 Dandi pun menjemputku.  Sebelumnya meminta izin kepada ibu untuk mengajakku keluar, dengan gaya selengeannya Dandi selalu membuat ibuku jengkel tapi tetap tersenyum.

"Assalammualaikum calon ibu mertua!"  Ucapnya dengan lenjeh.
"Waalaikumsalam!"  Jawab ibuku dengan memasang muka kecut.
"Ibu, Dandi izin bawa anak ibu jalan-jalan ya! Dijamin pulang masih kinclong, mulus, dan original luar dalam!"  Rengeknya dengan manja.
"Iya, tai inget..."  Belum selesai berbicara, Dandi langsung menyerobot menyelesaikan kalimat yang rupanya sudah tidak asing baginya, "Inget kalo harus sampai rumah jam 5 sore! Iya kan??." "Bagus kalo udah tau!" Jawab ibuku dengan muka tegasnya.

Setalah berpamitan, kami pun berangkat.  Mobil yang dikendarai Dandi pun perlahan meninggalkan rumahku.  Selama berada di perjalanan, kami hanya tertawa dan terlibat percakapan lucu yang hangat.  Ini yang membuatku merasa sangat nyaman bersamanya.  Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa lepas sampai aku pun terkadang bisa melupakan semua beban yang sedang aku alami.  Selalu ada cerita konyol yang dia berikan untukku, selalu ada celotehan manja yang terkadang suka membuatku risih namun jujur aku sangat merasa dia benar-benar ada untukku saat celotehan manjannya hinggap di tengah perbincangan.

Setelah menjalani perjalanan jauh menuju Kebun Binatang Ragunan, kami pun berjalan mengelilinginya.  Sesekali mencoba beberapa wahana permainan seperti kereta-keretaan, atau menaiki gajah.  Tapi ada satu yang belum kesampaian yakni melihat Ggorila.  Aku memang belum pernah melihat gorila secara langsung.  Hanya gambar gorila di TV atau poster-poster yang sering aku lihat.

Setelah sampai di kandang gorila, aku pun langsung terbahak-bahak dengan hebohnya melihat penampakan tubuh gorila  yang besar dengan kelakuannya yang super lucu.  Saat itu Dandi menghentikan tawaku dan berkata " Seneng banget bisa lihat kamu ketawa lepas gini!".  Aku pun menghentikan tawaku dan merubahnya menjadi senyum dan menjawab "Iya, aku seneng banget!  Makasih yah Ndi, selalu bisa bikin aku ketawa."

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto di pinggir kandangnya, kami pun bergegas untuk meninggalkan area kebun binatang.  Kakiku rasanya sangat kaku, pegal karena berjalan sangat jauh.  Aku juga melihat kelelahan yang sama di raut wajah Dandi.

"Ndi capek yah??" tanyaku dengan penuh perhatian
"Enggak kok, malah aku lihatnya kamu yang kecapean."

Tiba-tiba Dandi membungkuk membelakangiku 
"Ayok naek, aku gendong!"  
Aku pun hanya bisa berdiri terpaku dan dengan jengkelnya berkata
"Ah apaan sih!! Gendong segala! Malu ah!!"

"Udah cepetan naik!!"  Lukasnya sambil menarik kedua tangankku dan benar-benar menggendongku.  Namun belum jauh jarak yang ditempuh Dandi sudah mulai menyerah kelelahan.  Dia pun membeli air meneral yang berukaran 1 liter.  Aku pun teheran-heran dan bertanya dengan muka kebingungan "Ih, buat apaan ini beli airnya gede banget!" Dandi pun mejawab dengan gaya selengeannya "Ye, gak apa-apa kan kita bukan onta yang punya penampung air di punduknya, jadi kita beli aja yang gede, perjalanan kita kan masih jauh!!"

Setelah puas mengelilingi kebun binatang, Dandi pun mengajakku makan es krim klasik di Jalan Veteran. Tempat ini menjadi tempat favorit kami berdua untuk menghabiskan waktu sepulangku les.  Tempat yang penuh kenangan manis semanis es krim yang ditawarkan.  Aku pun melahap es krim dengan cita rasa mocca kesukaanku, sepanjang menyantap es krim Dandi benar-benar menghiburku dengan cerita-cerita lucunya ketika harus berhadapan dengan dosen pembimbingnya.

Cerita itu pun harus berakhir ketika aku melihat jam tua yang terpampang membisu di sudut ruangan di tempat es krim itu "Hah, udah jam 4!!" Ucapku dengan penuh ketakutan.  Dandi pun masih dengan santai dan memegang tanganku " Tenang yah cantik, semua akan baik-baik aja.  Percaya sama aku, ayah sama ibu gak akan marah sama kamu cuma gara-gara anak gadisnya telat pulang.  Percaya deh!" 

Aku hanya bisa tersenyum kecil.  Setelah menghabiskan semuanya, kami pun bergegas kembali ke rumah. Suasana Jakarta yang macet membuatku merasa sangat kelelahan dan panik.  Sampai-sampai aku pun tertidur di sepanjang perjalanan.  

Tak terasa aku sudah sampai di depan rumah.  Dandi yang meilhatku tertidur tak sampai hati membangunkanku, sampai akhirnya aku terbangun sendiri saat merasakan AC mobil yang mati.  "Kok gak bangunin aku Ndi??"  Tanyaku yang masih setengah sadar.  "Aku gak tega lihat muka polos kamu yang kecapean."jelasnya.

Mataku pun tertuju ke arah teras rumah.  Ku lihat mobil sedan merah terparkir di depan rumahku.  Nampaknya ayah sudah pulang.  Aku pun langsung di landa kepanikan, karena aku melihat ada beberapa SMS masuk yang dikirimkan oleh ibuku untuk mengingatkanku pulang.  Raut mukaku kembali memucat, Dandi yang menyadari kepanikanku langsung memegang pundakku dan berkata "Kalo aja kamu ngizinin aku buat ketemu sama ayah, aku bakal bilang sama ayah kamu dan minta maaf sebisa aku karena udah balikin putri kecilnya gak tepat waktu.  Tapi aku percaya sama kamu cantik, kamu pasti bisa ngeluluhin hati ayah kamu.  Entar malem kalo aku udah di rumah aku telepon kamu yah!".

Lagi-lagi aku hayna dapat tersenyum.  Ku beranikan diriku keluar dari mobil Dandi.  Tubuhku gemetar.  Ini kali pertama aku pulang telat, kali pertama sejak ayah tidak menegorku karena aku pulang telat akibat terlalu asik bermain footsal saat aku SMP dulu.  Aku pun tak tahu apa yang harus aku katakan, dan hukuman apa yang akan aku dapatkan.  Aku benar-benar berada di titik ketakutanku.

***************BERSAMBUNG************************


0 comments:

Poskan Komentar

Please leave a comment if you have critics for me

 

Template by Best Web Hosting